UPDATE SETIAP HARI JAM 12 SIANG.
Nara tidak pernah benar-benar memahami ayahnya.
Baginya, ayahnya hanyalah pria dingin yang hidup seperti bayangan di rumah yang terlalu sunyi. Tidak pernah menjelaskan apa yang terjadi pada keluarga mereka, dan tidak pernah mencoba memperbaiki hubungan yang telah retak.
Suatu malam, setelah pertengkaran lama yang akhirnya meledak, Nara menemukan sebuah jam tua misterius di gudang rumah. Ketika ia memutar jarumnya… Dunia berubah. Nara terbangun di tahun 1995, di kota yang sama namun jauh berbeda.
Di sana ia bertemu seorang pria muda yang santai, karismatik, dan penuh mimpi.
Namanya Raka.
Pria itu menolongnya, berjalan bersamanya di kota malam, dan perlahan membuat Nara merasa nyaman di dunia yang bukan miliknya. Sampai suatu hari Nara menemukan fakta dan menyadari bahwa Raka… adalah ayahnya.
Sekarang Nara harus menghadapi kenyataan yang mustahil, Ia jatuh cinta pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia cintai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TOKOPAIJO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Burung yang Masuk Sangkar
Tiga hari berlalu sejak Nara menyuruh Raka untuk bekerja.
Selama tiga hari pula, Raka menghilang tanpa jejak.
Ia tidak muncul di warung kopi depan kampus, ia tidak terlihat mengamen di perempatan jalan, dan yang paling aneh, tidak ada suara petikan gitar dari arah taman kota pada malam hari.
Sinta tidak pernah menanyakannya secara langsung.
Namun Nara bisa melihat gelagat ibunya itu.
Setiap kali ada langkah kaki di lorong kosan, Sinta akan menghentikan gerakan pulpennya sejenak, telinganya diam-diam menajam.
Namun ketika suara langkah itu berlalu, Sinta akan menghela napas sangat pelan dan kembali menatap buku tebalnya.
Sinta mungkin tidak menyadarinya, tapi Nara tahu.
Perempuan rasional itu mulai kehilangan suara berisik yang selalu mengganggunya.
Siang itu, udara Bandung terasa cukup terik.
Kipas angin kecil di sudut kamar kos menyala putar kiri-kanan, menghasilkan suara dengungan yang monoton.
Nara sedang duduk bersila di atas kasur, melipat beberapa pakaian, sementara Sinta sedang merangkum materi kuliah di meja belajarnya.
Hening.
Hanya terdengar gesekan mata pulpen di atas kertas.
Lalu, keheningan itu dipecahkan oleh sebuah suara dari ujung lorong kosan.
Tuk. Tuk. Tuk. Tuk.
Suara langkah kaki.
Namun bukan suara gesekan sandal jepit karet, dan bukan pula suara sepatu kets kanvas yang ringan.
Itu adalah suara hak sepatu kulit keras yang beradu dengan lantai keramik.
Terdengar Sangat nyaring.
Sangat kaku.
Dan terdengar sangat tidak nyaman.
Sinta menghentikan pulpennya.
Nara menahan napas.
Suara langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar mereka.
Tok. Tok.
Ketukannya terdengar canggung, tidak terburu-buru dan serampangan seperti biasanya.
Sinta berdiri mengernyitkan dahi, ia berjalan ke arah pintu dan memutar kuncinya.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Sinta terdiam.
Nara, yang mengintip dari atas kasur, membelalakkan matanya.
Berdiri di ambang pintu adalah seorang pria.
Atau lebih tepatnya, seseorang yang sedang berusaha keras terlihat seperti pria dewasa kantoran, namun gagal secara estetika.
Itu Raka.
Tetapi bukan Raka yang biasa mereka lihat.
Tidak ada jaket denim usang yang bau tembakau, tidak ada kaus hitam oblong, tidak ada celana jeans yang sobek di bagian lutut, dan tidak ada gitar yang tersandang di punggungnya.
Pemuda itu mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda.
Kemeja itu terlihat terlalu kebesaran pada tubuh Raka, jahitan bahunya jatuh hingga ke lengan atas. Kainnya terlihat sangat kaku, seolah baru saja disemprot pelicin pakaian satu botol penuh.
Celana kain hitam yang ia pakai juga terlalu gombrang.
Dan di kakinya, sepasang sepatu pantofel kulit sintetis yang mengkilap memantulkan cahaya matahari dari luar. Sepatu itulah pelaku utama dari suara berisik tadi.
Namun yang paling parah adalah rambutnya.
Rambut Raka yang biasanya dibiarkan memanjang, acak-acakan, dan tertiup angin... kini disisir paksa ke arah belakang. Terlihat basah, kaku, dan berkilau karena pomade murahan yang dioleskan terlalu banyak.
Raka berdiri di sana, terlihat seperti anak SMA yang meminjam baju bapaknya untuk pergi ke acara kelulusan.
Satu detik.
Dua detik.
Sinta menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Bahu perempuan itu mulai bergetar.
"Pfft..."
Sinta mencoba menahannya, namun pertahanannya runtuh seketika.
Tawa Sinta meledak.
Tawa yang sangat keras, lepas, dan nyaring, sampai matanya menyipit dan berair. Ia memegangi perutnya sambil bersandar pada dinding lorong.
Nara menggigit bagian dalam pipinya kuat-kuat.
Secara visual, Raka saat ini memang terlihat sangat konyol.
Wajah Raka langsung memerah padam, ujung telinganya memanas.
Egonya terluka, tapi ia berusaha mempertahankan raut wajah datar yang terkesan sangat dipaksakan.
"Puas ketawanya, Nona Kalkulator?" sindir Raka ketus, ia menarik kerah kemejanya yang kebesaran dengan canggung. "Orang ke sini mau minta pendapat malah diketawain."
Sinta mengatur napasnya yang tersengal karena tertawa, ia menyeka ujung matanya yang berair.
"Kamu... astaga, Raka. Kamu kayak badut sirkus salah kostum, kamu mau ke mana pakai baju pinjaman begini?"
"Pinjaman dari mana? Ini bajunya Dimas, dia beli waktu..." Raka menghentikan kalimatnya, menyadari bahwa ia baru saja membenarkan ucapan Sinta.
Ia mendengus kesal. "Ini baju keberuntungan Dimas waktu dia ngelamar kerja di pabrik sepatu."
Raka melangkah masuk ke dalam kamar, mengabaikan Sinta yang masih senyum-senyum sendiri, ia menatap Nara yang duduk di kasur.
"Aku ada panggilan wawancara kerja jam satu siang ini," kata Raka tegas, nada bicaranya ditujukan pada Nara dan Sinta, seolah mengibarkan bendera deklarasi perang.
Raka mengangkat dagunya sedikit.
"Sesuai lowongan di koran yang kalian kasih, staf administrasi. Aku ke sini cuma mau ngasih tahu, kalau gembel jalanan ini bisa tembus panggilan kerja kantoran. Jadi, jangan pernah meremehkanku lagi."
Nara terdiam.
Ucapan Raka sama sekali tidak mengandung unsur romantis.
Pemuda ini tidak melakukan transformasi gila ini untuk merebut hati Sinta, ia melakukannya murni karena harga dirinya diinjak-injak tiga hari yang lalu, Raka hanya ingin membuktikan bahwa ia bukan pengecut.
Itu saja.
Sinta yang sudah berhasil meredakan tawanya, melipat kedua tangan di dada. Ia berjalan mengitari Raka, mengamati penampilan pemuda itu dengan tatapan analitis yang sangat mengintimidasi.
"Kamu mau wawancara pakai baju begini?" Sinta menggeleng pelan. "HRD-nya belum nanya apa-apa, kamu udah disuruh pulang duluan, Raka."
Raka mengerutkan kening. "Kenapa? Ini kan udah rapi. Berkerah, celana kain, sepatu juga udah digosok pakai minyak rambut biar mengkilap."
"Minyak rambut?" Sinta membelalakkan matanya. "Kamu gila ya? Pantas baunya nyampur aduk nggak karuan."
Sinta menghela napas panjang.
Ia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Raka.
"Kemejamu kebesaran, bahunya turun. Kamu kelihatan kayak orang sakit yang dipaksa kerja," kritik Sinta tajam.
Tanpa meminta izin, tangan Sinta terulur.
Ia menarik ujung lengan kemeja Raka yang menjuntai hingga menutupi punggung tangannya.
Dengan gerakan cekatan dan efisien, Sinta mulai menggulung lengan kemeja biru muda itu hingga sebatas siku.
Raka tersentak pelan, tubuhnya menegang.
Ia tidak terbiasa dengan sentuhan yang begitu rapi dan teliti, apalagi dari seorang Sinta yang biasanya cuma memarahinya.
"Kalau bajunya kebesaran, gulung lengannya sampai siku. Biar bahumu kelihatan lebih tegap dan nggak tenggelam di dalam kain," Sinta memberi instruksi layaknya seorang dosen kepada mahasiswanya, ia beralih ke lengan yang satu lagi, melipatnya dengan presisi yang sama.
Nara duduk diam di atas kasur, menyaksikan adegan itu dalam bisu.
Jarak antara Raka dan Sinta saat ini sangat dekat.
Sinta menunduk sedikit, fokus merapikan lipatan kain di lengan pemuda itu.
Sementara Raka menatap pucuk kepala Sinta yang berada tepat di bawah dagunya.
Kepanikan kecil mulai terlihat di mata Raka.
Ia tidak pernah berada sedekat ini dengan perempuan mana pun dalam kondisi sadar dan waras, apalagi perempuan yang biasanya selalu mengajaknya berdebat.
Raka menelan ludah, jakunnya bergerak naik turun.
Untuk menutupi kegugupannya, mekanisme pertahanan alami Raka langsung bekerja.
"Kamu kalau mau pegang-pegang bilang aja, Sin. Nggak usah pakai alasan benerin baju," celetuk Raka santai, seringai usilnya kembali muncul.
Gerakan tangan Sinta terhenti seketika.
Wajah Sinta langsung memerah, semburat hangat menjalar dari pipi hingga ke telinganya.
Sinta mendongak, menatap Raka dengan mata melotot marah.
"Pegang-pegang matamu!" ketus Sinta, ia memukul pelan dada Raka. "Ditolongin malah ngelunjak, untung aku kasihan lihat kamu kayak badut!"
Sinta beralih ke bagian kerah, ia membuka satu kancing teratas kemeja Raka yang tadi terpasang mencekik leher.
"Kamu bukan mau disidang skripsi, buka satu kancing atasnya biar kamu nggak kelihatan kayak orang mau dicekik."
Tangan Sinta bergerak sangat dekat dengan leher Raka.
Aroma sabun melati yang lembut dari tubuh Sinta tercium jelas oleh Raka, mengalahkan bau pomade di rambutnya.
"Napasmu kerasa sampai leherku, Sin," bisik Raka sengaja.
Nada suaranya dibuat rendah, penuh godaan usil. "Jangan grogi gitu dong, santai aja."
Sinta benar-benar kehabisan kesabaran.
Ia menarik kerah kemeja Raka dengan sedikit kasar, membuat pemuda itu terhuyung sedikit ke depan.
"Kamu bisa diam nggak? Atau aku suruh kamu berangkat sekarang juga dengan penampilan gembelmu ini?" ancam Sinta galak.
Raka tertawa renyah, tawa kemenangannya.
Ia mengangkat kedua tangannya menyerah. "Oke, oke, Ampun Bu Bos. Silakan dilanjut."
Nara meremas ujung selimut di pangkuannya.
Secara visual, adegan di depannya ini terlihat sangat manis, seperti sepasang kekasih yang sedang bersiap di pagi hari.
Siapapun mungkin akan tersenyum melihat bagaimana Raka menggoda Sinta, dan bagaimana Sinta mati-matian menyembunyikan wajahnya yang merona.
Namun bagi Nara, pemandangan ini terasa sangat menyakitkan.
Nara menatap Raka lekat-lekat.
Lengan kemeja yang digulung rapi.
Kancing atas yang terbuka satu.
Sepatu pantofel hitam.
Dan rambut yang disisir klimis ke belakang.
Dinding kamar kos tahun 1995 itu seolah memudar dari pandangan Nara.
Berganti dengan dinding bercat abu-abu di sebuah rumah besar yang sepi di masa depan.
Sosok pemuda berumur 24 tahun di depannya ini tumpang tindih dengan sosok pria berumur 55 tahun.
Arman Raka Pradipta.
Ayahnya.
Ayahnya selalu menggulung kemejanya hingga siku sepulang dari kantor.
Ayahnya selalu membuka satu kancing teratas saat sedang pusing memeriksa dokumen.
Ayahnya selalu memakai sepatu pantofel yang berbunyi kaku di lantai marmer rumah mereka.
Transisi itu sedang terjadi tepat di depan mata Nara.
Burung liar itu baru saja masuk ke dalam sangkar. Dan Sinta, tanpa sadar, sedang mengunci pintunya dengan merapikan pakaian itu.
Bukan salah Sinta, Sinta hanya melakukan apa yang menurutnya benar.
Ini semua adalah ulah Nara.
Nara yang menunjukkan letak sangkar itu.
Nara yang memanipulasi ego Raka agar mau masuk ke dalamnya.
"Nah, selesai," Sinta menepuk pundak Raka pelan, lalu mundur selangkah untuk melihat hasil karyanya.
Sinta terdiam sejenak.
Raut wajahnya yang tadi kesal, kini berubah menjadi sedikit tertegun.
Dengan kemeja yang sudah disesuaikan agar tidak terlihat tenggelam, bahu Raka yang lebar kini terlihat jelas. Postur tubuhnya yang tinggi tegap ternyata sangat cocok dengan pakaian formal. Garis rahangnya yang tegas, yang biasanya tertutupi oleh rambut berantakannya, kini terekspos sempurna karena rambutnya disisir ke belakang.
Raka, tanpa jaket denim dan gitarnya, ternyata adalah sosok pria yang sangat tampan dan mapan.
Tipe pria yang selalu Sinta idam-idamkan di atas kertas.
Sinta buru-buru memalingkan wajahnya, berdehem canggung untuk mengusir pikiran aneh yang baru saja melintas di kepalanya.
"Yah... mendingan lah, minimal HRD-nya nggak langsung ngusir kamu pakai sapu."
Raka tersenyum miring, ia memutar tubuhnya menatap Nara yang sedari tadi hanya membisu di atas kasur.
"Gimana menurutmu, Nar?" tanya Raka, egonya masih menuntut validasi dari orang yang paling meremehkannya tiga hari lalu. "Aku udah kelihatan kayak orang yang bisa nyaingin kating eksekutif bawa sedan itu belum? Aku udah pantas belum hidup di dunia nyata?"
Nara menelan ludah.
Tenggorokannya terasa seperti disumpal pecahan beling.
Mata cokelat Raka menatapnya, mata yang penuh dengan api pembuktian diri, mata yang belum menyadari bahwa ini adalah awal dari kematian jiwanya.
Nara harus memastikan pemuda ini tidak pernah berbalik arah lagi, ia harus mengunci gembok sangkar itu sekarang juga.
Nara memaksakan sebuah senyuman.
Sebuah senyuman yang paling palsu, paling menyakitkan, dan paling menghancurkan yang pernah ia buat seumur hidupnya.
"Kamu kelihatan..." suara Nara bergetar samar, ia menarik napas pendek. "...sempurna, Rak."
Satu kata itu meluncur.
Sempurna.
Mendengar pujian yang sangat langka dari mulut Nara, raut wajah Raka berubah.
Kekakuan di bahunya mengendur, seringai usilnya digantikan oleh senyum lega yang sangat tulus.
Bagi Raka, pujian Nara adalah bukti bahwa keputusannya membuang gitarnya hari ini adalah hal yang benar. Ia berhasil membuktikan bahwa dirinya bukanlah seorang pengecut.
"Makasih," jawab Raka pelan, ia mengusap tengkuknya dengan canggung. "Oke. Aku berangkat sekarang, doain aja sepatuku nggak bunyi terlalu keras di lorong kantor."
Raka berbalik.
Ia melangkah keluar dari kamar kos Sinta.
Tuk. Tuk. Tuk. Tuk.
Suara sepatu pantofel itu kembali menggema di lorong.
Semakin lama, semakin menjauh.
Sinta berdiri di ambang pintu, menatap punggung Raka hingga pemuda itu berbelok di ujung lorong dan menghilang dari pandangan.
Ada senyum kecil, senyum yang sangat manis dan penuh harap, yang terbit di bibir Sinta. Ibunya itu mulai benar-benar jatuh hati pada pria yang sedang berjuang keras mengubah hidupnya.
Sementara itu di atas kasur, Nara mencengkeram dadanya sendiri.
Napasnya tercekat, air matanya memaksa ingin keluar tapi ia menahannya kuat-kuat.
Misi ini berjalan terlalu sempurna.
Namun, mendengar suara langkah sepatu kaku yang menjauh itu, Nara sadar bahwa ia baru saja mendengarkan suara langkah kaki ayahnya... berjalan perlahan-lahan meninggalkan kebebasannya untuk selama-lamanya.