Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Pantun Michel
Suara denting pisau yang beradu dengan papan pemotong memecah keheningan dapur mewah itu. Claire bergerak dengan efisiensi yang menakutkan, memotong sayuran dengan presisi yang sama saat ia merakit senjata semalam.
Michel muncul sambil mengucek mata, memeluk boneka beruangnya erat-erat. "Mommy macak? Wahh, ndak benel ini... dunia mau tebalik lupa na."
Claire berhenti sejenak, menoleh dengan senyum tipis yang jarang terlihat. "Oh, kau sudah bangun, Sayang? Duduklah. Mommy sedang menyiapkan sarapan sehat untukmu dan kakakmu."
Michel mendekat dengan ragu, matanya melirik curiga ke arah mangkok. "Mommy ndak macukin yang aneh-aneh ke dalam mangkok, kan?"
Claire terkekeh pelan, nada suaranya lembut namun tegas. "Tidak ada yang aneh, Michel. Hanya sayuran dan cinta. Bukankah kau bilang ingin tumbuh kuat seperti pahlawan? Pahlawan butuh tenaga, bukan rasa takut pada ibunya sendiri."
Pelayan berbisik di sudut. "Apa itu benar-benar Nyonya Claire? Dia sangat lembut pagi ini, "
Claire bicara tanpa menoleh ke arah pelayan. "Kalian semua, jika tidak ada pekerjaan, lebih baik bersihkan ruang makan. Aku tidak suka melihat debu saat anak-anakku makan."
"Mommy... Mommy benelan belubah ya? Mommy ndak akan pelgi ninggalin Micel cama Kael, kan? Ndak akan malah - malah lagi telus pukul Micel, kan?"
Claire berlutut agar sejajar dengan Michel, mengusap kepalanya. "Mommy tidak akan pergi ke mana pun tanpa membawa kalian. Mommy juga tidak akan memukul kalian lagi, maafkan Mommy ya, sayang. Tapi ingat satu hal, Michel... mulai sekarang, kita akan membuat aturan main kita sendiri. Mengerti?"
Tiba-tiba, Mikael berlari masuk dan menarik Michel ke belakang punggungnya, menatap Claire dengan sorot mata penuh permusuhan.
Mikael menatap tajam. "Apa lagi rencanamu? Kau bisa berusaha mendekati Daddy dengan akting jadi ibu rumah tangga yang baik, tapi jangan libatkan adikku dalam permainanmu!"
Claire meletakkan pisau, lalu bersandar di meja dapur dengan tenang. "Mikael, dengarkan baik-baik. Aku tidak butuh perhatian ayahmu untuk memasak makanan yang layak untuk kalian. Jika aku ingin mendekati Julian, aku akan menggunakan cara yang jauh lebih efektif daripada sekadar makanan."
Mikael mendengus."Kau selalu punya niat buruk. Semua orang di rumah ini tahu itu."
Claire mendesah pasrah. "Benar, aku memang punya niat buruk. Niat burukku adalah memastikan kalian berdua cukup kuat untuk ikut denganku saat aku meninggalkan rumah ini nanti. Jadi, duduklah. Atau kau mau melihat adikmu kelaparan hanya karena kau terlalu gengsi memakan masakan ibumu yang jahat ini?"
Mikael terdiam, terpaku melihat ketenangan Claire yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Claire kembali memotong sayur tanpa mempedulikan tatapan tajam putra sulungnya itu. Sementara Mikael sendiri merasa ada makna di dalam kata - kata Claire yang seperti mengatakan 'aku akan membawa kalian keluar dari rumah ini'.
Julian menuruni anak tangga dengan langkah berat, namun langkahnya terhenti seketika saat matanya menangkap pemandangan di ruang makan. Claire—wanita yang biasanya histeris mencari perhatiannya—kini duduk tenang, menyuapkan sesendok nasi goreng dengan telaten ke mulut Michel. Di samping mereka, Mikael diam membeku dengan tatapan tajam yang penuh selidik, seolah sedang membedah apakah sosok di depannya benar-benar ibunya atau bukan.
Julian berjalan mendekat, aroma masakan memenuhi indra penciumannya, namun meja itu tampak hanya disiapkan untuk tiga orang.
"Dimana makananku?" tanya Julian, suaranya terdengar datar meski sebenarnya itu hanyalah basa-basi untuk memecah keheningan yang asing baginya.
Claire hanya melirik sekilas tanpa menghentikan gerakannya menyeka sudut bibir Michel. "Apa karena kejadian semalam saat aku membantingmu membuat letak otakmu sedikit bergeser?" ucapnya dingin, suaranya tidak lagi melengking manja seperti dulu. "Sejak kapan kau sudi makan di rumah ini? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau melihat wajahku saja sudah membuat nafsu makanmu hilang?"
Julian mengepalkan tangannya di samping tubuh. Urat di rahangnya mengeras. Perubahan Claire benar-benar mengusiknya. Dulu, wanita ini akan memasak belasan menu dan memohon-mohon agar Julian mencicipinya meski hanya satu suap. Sekarang, Claire bahkan tidak meliriknya sebagai manusia.
" Macakan Mommy enak... dulu Mommy pelnah macak, tapi yang jadi kolban malah dapul.. bukan macakan na yang matang, dapul nya yang matang," celetuk Michel dengan pipi mengembun berisi makanan, memecah ketegangan sesaat dengan wajahnya yang polos.
Claire tersenyum tipis pada Michel, sebuah senyum tulus yang tidak pernah Julian lihat sebelumnya. "Itu karena dulu Mommy terlalu bersemangat, Sayang. Sekarang Mommy sudah tahu kalau kompor tidak perlu diajak bertengkar."
Julian menarik kursi di hadapan Claire, memaksa wanita itu menatapnya. "Claire, jangan bermain peran. Apa ini taktik barumu? Pura-pura amnesia atau menjadi ibu yang baik agar aku menyukaimu."
Claire meletakkan sendoknya, lalu bersandar pada kursi. Matanya menatap Julian lurus, tidak ada lagi binar cinta atau obsesi yang biasanya memuakkan bagi Julian. "Julian, dengar baik-baik. Kalau kau ingin makan, dapur ada di sana, bahan makanan ada di kulkas, dan asisten rumah tangga bisa membantumu. Aku bukan lagi pelayan pribadimu yang akan menurut hanya karena kau menginginkan sesuatu." Julian kembali tertegun--- dia merasa Claire yang sekarang mulai terasa jauh. Tidak ada lagi nada manja-- hanya kalimat datar yang terucap.
Michel menoleh pada sang Daddy, matanya menyipit jail. "Makan duku di bawah pohon kelapa, daun na jatuh di atas papan. Tumben Daddy mau mampil ke meja, biacanya macakan Mommy dicuekin!"
Ruang makan mendadak hening sejenak sebelum Claire meledak dalam tawa renyah. Suara tawa yang selama ini tidak pernah Julian dengar—tawa yang lepas tanpa beban. Sementara itu, Julian hanya bisa melongo, merasa seperti dipukul telak oleh bocah berusia empat tahun.
"Heh! Dapet dari mana kamu pantun kaya gitu?" tanya Julian dengan nada tak percaya.
"Dali Kang Cule..." jawab Michel santai, kembali membuka mulutnya untuk suapan berikutnya dari Claire.
"Kang Cule siapa?" Julian mengernyit, merasa ketinggalan zaman di rumahnya sendiri.
"Kang Cule yang ada di Global TP itu, Daddy! Awas Ada Cule... Plikitiw!" jawab Michel sambil memeragakan gaya ikonik Sule dengan tangan di dagu.
Suasana pecah seketika oleh tawa Claire yang kencang. Julian hanya bisa duduk mematung dengan mulut terbuka, matanya mengerjap beberapa kali, terkejut.
Claire semakin tertawa keras sambil mengusap kepala Michel. "Anak pintar. Lain kali kita kasih pantun yang lebih pedas buat Daddy, ya?"
Mikael hanya bisa mematung, mulutnya sedikit menganga. Ia membatin dalam hati, 'Sejak kapan adikku jadi jago pantun?"
•
•
•
BERSAMBUNG