NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: suandra

Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.

Sejak saat itu, dunia Arga berubah.

Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.

Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.

Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Perjamuan di Atas Darah

Lantai kayu jati kapal pesiar The Predator terasa stabil di bawah sepatu kulit mahal Arga, namun di batinnya, gejolak energi dari Mustika Macan Kencana terus berguncang seirama dengan deburan ombak yang menghantam lambung kapal. Suasana di atas kapal itu adalah definisi dari kemewahan yang berlebihan: lampu-lampu kristal kecil yang digantung di sepanjang dek, denting gelas sampanye kristal, dan tawa para sosialita yang terdengar renyah namun hambar.

Arga melangkah masuk ke aula utama kapal dengan dagu terangkat. Jas abu-abu metaliknya memantulkan cahaya lampu pesta, menciptakan kesan misterius yang langsung menarik perhatian beberapa wanita bergaun glamor di dekat bar. Sesuai instruksi Clarissa, ia harus memerankan sosok Arga Satria, sang miliarder batu bara yang dingin dan tak tersentuh.

“Lihatlah mereka, Inang. Manusia-manusia yang merasa menjadi penguasa dunia hanya karena tumpukan emas. Mereka tidak tahu bahwa di kegelapan laut ini, hanya kekuatan murni yang bisa menyelamatkan nyawa,” suara Macan Kencana berbisik dengan nada mengejek yang sangat kental.

Arga mengabaikan suara itu. Matanya memindai ruangan dengan tajam. Di sudut ruangan, dekat meja judi roulette, ia melihat Rio Hardianto. Pria itu tampak sedang memegang cerutu besar, dikelilingi oleh beberapa pria berjas rapi yang tampak menjilat setiap kata-katanya.

Arga melangkah mendekat. Ia tidak menunggu untuk diperkenalkan. Ia mengambil segelas wiski dari nampan pelayan yang lewat dan berdiri tepat di samping meja judi tersebut.

"Hitam, dua puluh lima," suara Arga terdengar rendah namun memiliki otoritas yang membuat kegaduhan di meja judi itu seketika mereda.

Rio Hardianto menoleh, matanya menyipit saat melihat sosok yang sangat ia kenal namun dalam balutan pakaian yang berbeda. "Kau? Si penjaga pintu itu?"

Arga menyesap wiskinya perlahan, matanya tidak lepas dari roda roulette yang masih berputar. "Nama saya Arga Satria. Dan saya rasa, di tempat seperti ini, kita tidak membicarakan pekerjaan masa lalu, melainkan peluang masa depan, Tuan Hardianto."

Bola kecil di roda judi itu berhenti tepat di angka dua puluh belas hitam. Riuh rendah kekaguman terdengar dari para penonton. Rio tampak terkejut, namun segera menutupinya dengan tawa sinis.

"Refleks yang bagus semalam, dan keberuntungan yang bagus malam ini, Tuan... Satria," Rio menekankan nama belakang Arga dengan nada meragukan. "Clarissa memberikanmu banyak modal rupanya. Jadi, apa yang membawa seorang 'investor baru' ke kapal saya?"

"Saya mendengar Anda sedang mencari mitra untuk proyek reklamasi yang baru," jawab Arga, suaranya sedingin es. "Keluarga Wijaya mungkin punya nama besar, tapi saya punya modal tunai yang tidak perlu melewati birokrasi perbankan yang rumit. Saya pikir, Anda lebih suka uang yang... 'cepat'."

Mata Rio berkilat mendengar kata 'cepat'. Ia memberi isyarat kepada para penjilatnya untuk menjauh, memberikan ruang bagi Arga untuk berbicara empat mata. "Kau tahu banyak untuk ukuran orang yang baru muncul ke permukaan. Mari bicara di dek belakang, udaranya lebih bersih di sana."

Arga mengikuti Rio menuju dek belakang kapal yang lebih sepi. Hanya ada suara deru mesin kapal dan embusan angin laut yang kencang. Di sini, pengawal pribadi Rio sudah berjaga di setiap sudut.

"Katakan padaku, Arga," Rio berbalik, wajahnya kini tidak lagi ramah. "Kenapa kau mengkhianati Keluarga Wijaya? Clarissa memberimu segalanya, bukan? Kenapa sekarang ingin berpindah pihak?"

“Hati-hati, Inang. Serigala kecil ini sedang mencoba mencium bau jebakan,” peringatan Macan Kencana membuat Arga waspada.

"Clarissa menganggap saya sebagai alat," jawab Arga, mencampuradukkan sedikit kebenaran ke dalam kebohongannya. "Dan saya adalah orang yang tidak suka diperlakukan sebagai alat. Saya ingin menjadi pemilik meja, bukan pion di atasnya. Wijaya Holdings mulai goyah karena ada kebocoran dana internal. Saya tidak ingin tenggelam bersama kapal yang bocor."

Rio tertawa kecil, ia tampak mulai percaya. "Kau memang cerdas. Kebocoran itu memang ada, dan aku tahu siapa yang membocorkannya. Tapi kenapa aku harus mempercayaimu?"

"Karena aku tahu siapa pembunuh bayaran yang menyerang di The Grand Astoria semalam," bisik Arga, melangkah lebih dekat hingga ia bisa melihat pori-pori di wajah Rio yang mendadak tegang. "Aku yang mematahkan lehernya. Dan sebelum dia mati, dia membisikkan satu nama."

"Siapa?" tanya Rio dengan suara tertahan.

Saat Arga hendak menjawab, Mustika di dadanya berdenyut hebat. Sebuah sinyal bahaya yang luar biasa panas menyebar ke seluruh sarafnya. Dari arah laut, Arga mendengar suara desingan halus yang sangat ia kenal.

"Tunduk!" Arga menerjang Rio, menjatuhkan pria itu ke lantai dek tepat saat sebuah ledakan kecil menghantam pagar kapal tempat Rio berdiri tadi.

Bukan peluru. Itu adalah serangan dari arah bawah laut. Beberapa sosok berbaju hitam dengan peralatan menyelam taktis mulai memanjat lambung kapal dengan bantuan tali peluncur. Mereka tidak mengenakan lambang Taring Hitam, melainkan lambang yang lebih mengerikan: Tengkorak Putih.

"Pengkhianatan dalam pengkhianatan!" geram Arga.

Ia menyadari bahwa Rio bukanlah otak utamanya, melainkan target lain yang juga ingin dilenyapkan oleh si pengkhianat di Keluarga Wijaya. Kapal ini sedang diserang oleh pihak ketiga yang ingin mengadu domba Keluarga Wijaya dan Hardianto.

"Siapa mereka?!" teriak Rio panik sambil merangkak mencari perlindungan.

"Musuhmu, atau mungkin musuhku," jawab Arga. Ia mencabut belati taktisnya.

Kekuatan Mustika meledak di dalam tubuh Arga. Matanya berubah menjadi emas murni yang bercahaya di kegelapan malam. Ia tidak lagi peduli dengan penyamarannya sebagai investor. Di atas kapal pesiar yang bergoyang ini, Arga kembali menjadi sang predator.

Ia melesat ke arah penyerang pertama yang baru saja menginjakkan kaki di dek. Dengan satu gerakan rotasi yang cepat, Arga menyayat pergelangan tangan pria itu dan menendangnya kembali ke laut. Penyerang kedua mencoba menembakkan tombak listrik, namun Arga menangkap tali tombak itu dan menariknya dengan kekuatan yang membuat si penyerang menghantam dinding kabin kapal hingga hancur.

“Bunuh mereka semua, Inang! Jangan biarkan satu pun sisa!” raungan Macan Kencana memenuhi kepala Arga.

Arga merasakan haus darah yang luar biasa. Ia bergerak di antara peluru dan senjata tajam seolah-olah ia adalah hantu laut. Namun, di tengah amukannya, ia melihat kilasan memori: Sari yang sedang tersenyum sambil memberikan segelas air putih padanya setelah ia pulang kerja.

“Sari...” batin Arga merintih.

Rasa sakit kepala yang hebat menyerang. Ingatan tentang tawa Sari mulai memudar, digantikan oleh bayangan merah darah dari para penyerang yang ia bantai. Arga berteriak, sebuah teriakan yang lebih mirip raungan binatang buas daripada suara manusia.

Ia menghantamkan tinjunya ke lantai dek kayu dengan kekuatan penuh energi Mustika, menciptakan gelombang kejut yang membuat para penyerang terlempar ke belakang. Rio Hardianto menatap Arga dengan ketakutan yang luar biasa. Pria itu menyadari bahwa orang yang berdiri di depannya bukanlah manusia, melainkan sesuatu yang jauh lebih purba dan berbahaya.

"Bawa aku ke ruang kemudi, sekarang!" perintah Arga pada Rio dengan suara yang bergetar karena menahan amarah Mustika. "Jika kita tidak memutar balik kapal ini sekarang, kita semua akan mati tenggelam!"

Malam itu, di tengah laut yang luas, Arga menyadari bahwa jejak pengkhianat ini jauh lebih dalam daripada yang Clarissa bayangkan. Dan ia, Arga Satria, mulai kehilangan satu hal yang paling berharga demi menyelamatkan orang-orang yang sebenarnya ia benci: ingatan tentang siapa dirinya yang sebenarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!