NovelToon NovelToon
Cinta Posesif Arlan

Cinta Posesif Arlan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Dark Romance / Posesif
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Voyager

"Jangan pernah berpikir untuk melangkah keluar dari bayanganku, Mika. Karena sedetik saja kamu menghilang, aku akan pastikan dunia ini mencarimu dengan cara yang tidak akan pernah kamu lupakan."

Mikaela siswi SMA cantik dari keluarga yang biasa. Suatu malam mengubah segalanya. Menyaksikan dan bertemu dengan Arlan Gavriel—pria berkuasa di Kota Glazy, menghabisi nyawa seseorang dan membuatnya menjadi tawanan yang harus dimiliki Arlan sepenuhnya. Terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan, perlahan ada rasa tumbuh di benak Mika setelah mengetahui sisi lain dari Arlan. Arlan adalah monster berdarah dingin, tapi juga penyelamat bagi Mika.

Ada apa dengan Mika dan Arlan? Kenapa Arlan membuatnya sebagai Tawanan? Apakah hanya karena melihat kejadian malam itu? Atau ada sesuatu yang harus Mika bayar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Voyager, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eksekusi

“Lho ... ini bukannya obatku?”

Kamil berdiri di depan lemari kamarnya. Tangannya memegang sebuah Epipen yang seharusnya sudah ia gunakan tadi.

Keningnya mengerut. “Kalau ini di sini—” gumamnya pelan.

Pikirannya berputar cepat. Wajah Mika tiba-tiba terlintas. Gadis itu yang dengan sigap menolongnya. Bersikeras mencari sesuatu di dalam tasnya.

“Jadi, yang dipakai gadis itu ... punya siapa?” bisiknya semakin pelan.

Detik berikutnya, matanya melebar. Tanpa berpikir panjang, Kamil langsung meraih jasnya.

“Ayo. Kita ke kafe tadi. Sekarang.”

Nada suaranya tegas. Tak bisa dibantah.Para pengawal langsung bergerak.

Sementara itu, di kafe suasana mencekam. Tidak ada suara tawa dan bisikan.

Semua karyawan berdiri kaku. Di tengah ruangan. Arlan duduk dengan kaki disilangkan. Tubuhnya bersandar santai, tapi auranya menekan.

Di depannya, sepiring steak tergeletak di atas meja, dingin dan tentu itu bekas yang dilahap Kamil dan Mika.

Tatapan Arlan terus tertuju ke sana. Rahangnya mengeras, urat di lehernya terlihat menegang.

Tak beberapa lama, langkah kaki terdengar mendekat. Asistennya datang dengan wajah serius. Ia menunduk, lalu berbisik di telinga Arlan.

“Nona Mika sedang dalam perawatan.”

Suasana menghening sejenak. Beberapa detik terasa begitu panjang. Lalu, perubahan itu terjadi. Tatapan Arlan menjadi lebih dingin. Ia tidak berkata apa-apa.

Hanya menggeser pandangannya ke arah steak di hadapannya. Tangannya meraih garpu. Ia menusuk daging itu dan membolak-balik dengan gerakan tenang. Namun, justru itu yang membuat semua orang semakin takut.

Ting!

Garpu itu dihempaskan ke meja dengan keras. Suara logam itu menggema di seluruh ruangan.

Manajer tersentak. Tangannya langsung mengepal kuat, bergetar. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

“Hei.” Suara Arlan rendah, cukup untuk membuat jantung siapa pun berhenti sejenak. “Ke sini.”

Manajer meneguk saliva. Perasaan tak karuan menyeruak dalam benaknya. Langkahnya terasa berat saat mendekat. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Tak berani menatap.

“Be—berikutnya apa, Tuan?” Suaranya gemetar.

“Berlutut.” Singkat Arlan. Satu kata yang menandakan amarah tertahan.

Manajer langsung menjatuhkan diri ke lantai. Belum sempat ia mengatur napas.

Buk!

Sebuah tendangan keras menghantam kepalanya. Tubuhnya terhuyung ke samping. Rasa sakit menjalar cepat.

“Gimana rasanya?” Suara Arlan tetap datar. Kini, mengandung sesuatu yang lebih kejam.

“Sa—sakit, Tu—”

Buk!

Tendangan kedua mendarat sebelum kalimat itu selesai. Tendangan itu lebih kuat dari sebelumnya. Manajer terjatuh sepenuhnya. Darah mengalir dari pelipis.  Tubuhnya gemetar, tak berani melawan. Bahkan staf yang lain tercengang melihat keadaan manajernya.

“Siapa bos kafe ini?” tanya Arlan sambil berdiri.

“Tu—Tuan Marse—” jawab manajer terbata.

Arlan mengeluarkan ponselnya. Menatap layar beberapa detik. Kemudian, nada sambung terdengar.

Klik.

“Datang ke kafemu, sekarang!” Arlan tidak ada basa-basi bahkan penjelasan. Seolah ia mengenal bos dari kafe tersebut.

Telepon langsung dimatikan. Sunyi kembali menguasai ruangan. Namun, kali ini kesunyian itu terasa seperti sebelum badai.

Arlan perlahan mengangkat kepala. Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Satu per satu wajah karyawan tidak ada yang berani menatap balik. Aura membunuh itu, nyata.

“Cek CCTV.” Perintahnya singkat. “Sekarang!”

“Siap, Tuan.” Asisten langsung bergerak cepat. 

Beberapa menit berlalu. Semua staf tidak ada yang berani bergerak, bahkan mereka belum bisa bernapas lega.

Sampai pintu terbuka. Langkah tergesa masuk.

“Arlan! Ada apa ini?” Seorang pria masuk dengan wajah bingung. Itu adalah Marsel, pemilik kafe tersebut.

Belum sempat ia mendekat sepenuhnya, Arlan sudah menodong dengan perkataan yang semakin membuatnya bingung.

“Aku mau semua staf dan manajer di sini dipecat.” Suara Arlan benar-benar membuat orang gemetar. Arlan tak memberi ruang untuk diskusi. Marsel terdiam.

“Apa?” ia mengernyit. “Tunggu dulu, ada apa—”

“Kamu tau karyawan baru mu, Mikaela?”

Marsel mengangguk pelan. “Ya. Aku tau. Bukannya, kamu yang minta aku terima dia kerja di sini?”

Deg.

Kalimat itu jatuh seperti bom. Seluruh staf membeku. Wajah mereka berubah pucat. Bisik-bisik panik mulai terdengar pelan.

“Ja—jadi, dia masuk karena Tuan Arlan?”

“Gawat!”

“Kita habis!”

Arlan tidak peduli. Tatapannya tetap tertuju pada Marsel.

“Kamu tau apa yang mereka lakukan ke dia?”

Marsel mulai merasa ada yang tidak beres. “Arlan, jelasin dulu—”

“CCTV.” Arlan memberi isyarat pada asistennya. Layar monitor dinyalakan. Rekaman mulai diputar. Semua orang dipaksa melihat. Dari saat Mika tersandung. Hingga, saat Mika dipaksa memakan steak itu.

“Kalian pikir, aku nggak lihat?” kata Arlan. “Meskipun CCTV ini nggak ada, semua terekam di mataku!” lanjutnya.

“Gimana bisa?” bisik beberapa staf.

Asisten Arlan maju beberapa langkah. “Tuan Arlan sengaja datang dan bersembunyi di ruang sebelah untuk melihat bagaimana kerja dari Nona Mika, tanpa sepengetahuan kalian semua!” jelas Asisten.

Marsel menatap layar dengan rahang mengeras. Ekspresinya tajam melihat semua karyawannya. Namun, sebelum ia sempat berkata apa-apa. Suara Arlan kembali terdengar.

“Sekarang kamu udah lihat!” Ia melangkah mendekat. “Jadi, aku ulangi.” Tatapannya tajam. “Aku mau mereka semua dipecat!”

Ia berhenti tepat di depan Marsel. Jarak mereka sangat dekat.

“Aku belum selesai bicara!” Kalimat itu membuat udara terasa semakin dingin. Beberapa staf mulai gemetar. Ada yang hampir menangis. Karena mereka tahu, ini bukan sekadar pemecatan.

Arlan menoleh sedikit. Tatapannya kembali menyapu ruangan. Berhenti pada chef dan manajer yang masih tergeletak di lantai. Senyum tipis muncul di bibirnya. Senyuman itu sangat menyeramkan.

“Tadi kalian menikmati pertunjukannya!” Ia berhenti sejenak. Lalu, melanjutkan. “Sekarang giliranku!”

Mereka semua membeku. Satu langkah pun tak berani mereka lakukan. 

“Bawa parasit ini menjauh! Aku harap dia nggak ada di sini lagi!”

Manajer yang setengah sadar itu digeret menjauh. Lalu, Arlan duduk kembali di kursi meja makan Mika.

Marsel yang sudah emosi menampar satu per satu stafnya. Sabotase mereka lakukan tersebut membuat nama kafe tercemar. Di tambahkan lagi Kamil dan Arlan bukan orang sembarangan.

“Aku nggak mau lihat kalian ada di sini lagi!” kata Marsel.

“Pak … ampun, Pak. Aku cuma disuruh sama dia, Pak!” kata salah satu staf sambil menunjuk chef.

Chef itu tersentak. Ekspresinya panik. “Eh, kurang ajar! Kamu yang nyenggol dia!” Membela diri.

“Iya, Pak aku yang nyenggol Mika, tapi rencana itu dia yang minta, Pak!” jelas staf tersebut sambil menunduk memohon.

Arlan mendengar pembelaan diri dan saling menuduh mereka, tersenyum tipis sambil menghisap rokoknya. 

“Tuan Arlan, aku mohon ampun!” Staf tersebut berusaha meminta maaf.

Tak beberapa lama asisten datang membawa bekas pakaian milik manajer.

“Tuan semua udah beres!” katanya.

Arlan memegang pakaian itu dan melempar di depan para staf.

“Kalian lihat! Aku nggak butuh polisi untuk menangani hal seperti ini!”

Saat mereka melihat hanya tersisa pakaian si manajer. Staf bahkan Chef yang berusaha membela dirinya, mereka semua menunduk memohon ampun. 

Tapi hal itu percuma mereka lakukan. Arlan tetaplah Arlan seperti biasanya. Tidak ada ampun bagi orang yang mengusik miliknya.

“Marsel, mereka udah bukan stafmu ‘kan!”

Marsel menyilangkan tangan, dengan murka. “Iya. Sekarang aku nggak peduli kalau mereka menghilang selamanya!”

Deg.

Mereka semua membeku. Tidak ada lagi suara memohon terdengar.

“Marsel, aku udah carikan staf yang lebih profesional,” katanya. “Untuk Mika biarkan dia tetap bekerja di sini!” lanjutnya berbicara.

“Kamu nggak kasih tau dia soal ini?”

Arlan terdiam sejenak. “Nggak perlu.”

1
Moon
ak jdi mika langsung ku tonjok itu
Voyager: sabar bro jangan emosi ah, nggak jelas kali kau. ayo serbu yang di sebelah
total 1 replies
Moon
model!????
Moon
entah kenapa Arlan ini aku bingung sama sifatnya. lanjut Thor. apa nanti si Mika ketemu lagi dg Arlan ? soalnya Arlan itu kn sangat berkuasa! eh iya Thor sepertinya belum di Spil perlkerjaab Arlan pngen tau
Moon
hm, knp ya orang kyak Mika gini selalu digituin dlm novel cba Thor karakter Mika jadi tangguh aj gtu biar nggk di tindas orang. sih Kamalia juga cewek lenje 😤😤😤
Moon: haha GG bxa sbr ak. tau NDRI kesabaranku setipis tisu
total 2 replies
cleo lara91
lanjut lg dong kak , seruu😍
Moon
Rekomendasi banget ini cerita. tokoh pria bikin mengubah emosi pembaca, greget, sifatnya bener" bikin geleng kepala. tokoh wanita pun bikin kita iba, apalagi ketika penyakitnya kambuh. oh ya keluarga tokoh wanita ih bikin emosi parah apalagi dengan saudara tiri yang mokondo
Moon
up 5 bab sehari thor
Voyager: busett haha nanti ya. ayo nulis juga
total 1 replies
Voyager
Arlan gila. anak SMA dibuat nggak berkutik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!