"Cepat tutup pintu dan jendela, jangan sampai terbuka!"
Semua warga yang ada di desa Bondowoso tidak ada yang pernah berani keluar bila sudah Maghrib datang, mereka hanya berdiam diri dalam rumah sampai nanti pagi menyapa.
Dulu desa ini tidak seperti itu, namun sejak beberapa bulan terakhir maka mereka mendapat teror yang begitu mengerikan sekali, semua ini akibat kematian dari seorang gadis bernama Mirasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Kecemasan Sarmini
"Sudah lengkap semua kambingnya, Dul?" juragan Sarbeni muncul di hadapan Abdul dan dia bertanya.
"Lengkap semua kok, Gan." Abdul menjawab dengan senyum semringah karena memang sore ini kambing dia tidak ada yang hilang.
"Ya sudah kalau memang tidak ada yang hilang Alhamdulillah, kamu bisa pulang sekarang." juragan Sarbeni tersenyum senang.
"Terima kasih, besok saya akan datang lebih pagi karena libur sekolah." Abdul memberitahu kedatangan dia besok.
"Oh iya, tapi ini Iwan mana kok dia tidak pulang sama kamu juga?" juragan Sarbeni baru menyadari bahwa Iwan belum kembali.
"Tadi dia sepertinya mencari salah satu kambing yang menghilang karena masuk ke dalam hutan, jadi mungkin saja agak telat dia pulang." Abdul berkata agak takut.
Jujur saja sebenarnya saat ini Abdul juga cemas memikirkan keadaan Iwan yang masih ada di dalam hutan sana, takut bila nanti teman dia itu tidak selamat karena bertemu dengan sesuatu yang sedang bergentayangan di desa mereka saat ini.
Namun Abdul sendiri tidak berani bilang harus menemani Iwan masuk ke dalam hutan, jadi memang posisi pemuda ini serba salah oleh perasaan dia sendiri, sekarang saat pulang justru merasa bersalah dengan Iwan yang sendirian ada di dalam hutan sana namun tadi ketika akan menemani dia juga memiliki rasa takut yang sangat besar.
Ini malah juragan Sarbeni bertanya tentang keberadaan Iwan sehingga sudah pasti Abdul merasa semakin bersalah saja, rasa ingin menjelaskan bahwa sebenarnya Abdul sedang takut oleh sesuatu tentang gosip yang ada di desa ini namun Abdul menyadari bahwa nanti sang juragan pasti tidak akan percaya dan membantah ucapan dia.
Iwan yang sahabat saja tidak percaya dengan ucapan Abdul Dan menganggap itu semua hanya omong kosong belaka dari mulut para warga, oleh sebab itu Iwan tetap kekeh ingin mencari kambing yang masuk ke dalam hutan dan dia tidak masalah bila sampai pulang malam hari, sebab menurut dia tidak ada arwah yang bergentayangan malam ini.
Abdul sendiri sebenarnya juga ingin tidak percaya dengan omongan para warga itu, namun entah kenapa hati ini merasa yakin sekali bahwa sesuatu yang para warga katakan itu memang benar, sehingga untuk menghindari itu semua maka Dia memutuskan untuk pulang di sore hari agar tidak ada yang dia temui.
Tapi masalah dia sekarang adalah cemas memikirkan keadaan Iwan yang di dalam hutan sana, rasa ingin kembali dan menyusul Iwan karena takut bila nanti ada sesuatu terjadi pada pemuda itu namun Abdul sendiri juga tidak memiliki nyali dan dia bingung siapa yang akan di ajak untuk menemani langkah malam ini.
Sarbeni sendiri juga bingung kenapa mendadak saja Abdul pulang sore begini tanpa bersama dengan Iwan, dia menebak bahwa mungkin saja kedua pemuda itu sedang bertengkar sehingga memutuskan untuk pulang masing-masing tanpa menunggu satu sama lain, padahal biasanya juga selalu pulang bersama dan bila salah satu kambing dari sang teman hilang maka mereka akan saling membantu.
Jadi wajar saja bila juragan Sarbeni menganggap bahwa mereka sedang bertengkar karena sesuatu, sebab di umur segini memang kadang memiliki ego yang begitu keras dan tidak bisa untuk di salahkan satu sama lain sehingga pertengkaran sering terjadi diantara mereka berdua saat sedang bersama.
"Saya pulang dulu kalau begitu, Gan." pamit Abdul karena hari juga sudah mulai malam.
"Iya, hati-hati dan tidak usah keluar malam karena desa kita juga sedang ada sedikit gosip." ujar juragan sarbeni.
"Aduh bahkan dia saja juga sudah tahu tentang gosip itu, jadi wajar saja kan kalau aku sekarang merasa takut." batin Abdul untuk menenangkan hati ini.
Sebab di dalam hati dia ada rasa bersalah yang begitu besar karena telah meninggalkan Iwan, jadi ketika tadi sang juragan berkata demikian maka hati Abdul sedikit merasa tenang dan menganggap ini semua hanya perlindungan diri agar dia tidak terjebak dalam hal yang menakutkan.
...****************...
"Apa Iwan belum pulang juga?" Sarmini bertanya kepada sang suami.
"Belum, ada kambing yang hilang di hutan sana paling jadi dia mencari kambing itu terlebih dahulu." Sarbeni menjawab santai sambil menyulut rokok.
"Kamu jangan terlalu tenang seperti itu karena aku tidak mau bila nanti terjadi sesuatu pada dia." Sarmini berkata dengan wajah serius.
Namun Sarbeni tetap santai saja seolah tidak ada rasa cemas di dalam hati dia, pada saat ini sang istri sudah terlihat begitu menghawatirkan tentang anak buah mereka yang sedang masuk ke dalam hutan, entah mengapa Sarmini terlihat begitu serius dan dia takut ada sesuatu terjadi pada Iwan.
Sedangkan suaminya tetap terlihat santai saja seolah itu bukan masalah besar dan bila ada sesuatu terjadi maka itu adalah resiko Iwan sendiri, terkadang pikiran laki-laki memang begitu jahat dan tidak mementingkan perasaan orang lain lagi, terlebih juragan Sarbeni adalah orang kaya sehingga kadang dia bersikap sangat egois.
Jangan kan orang lain yang merasakan sifat dari juragan Sarbeni, Sarmini saja terkadang dia merasa begitu pusing memikirkan tingkah sang suami dan belum lagi tingkah Jarwo yang selalu ada saja membuat dia naik tensi, Jarwo memang pemuda brandal sehingga membuat orang tua menjadi kesulitan karena selalu saja suka mabuk sampai pagi.
"Apa yang sedang kau cemaskan ini sebenarnya?" Sarbeni bertanya kepada sang istri.
"Loh apa masih harus aku katakan kenapa aku bisa sampai secemas ini?!" Sarmini bertanya balik dengan nada tinggi.
"Jaga nada bicaramu itu dan perlu kau ingat sedang berbicara pada siapa!" Sarbeni langsung berdiri dan membentak sang istri.
"Aku bicara seperti ini tentu saja demi keamanan kita semua, apa kata orang bila nanti Iwan sampai celaka di dalam hutan sana!" Sarmini berusaha menjelaskan bagaimana perasaan dia.
"Lalu Kenapa bila semua warga mengatakan bahwa itu mati karena ulah Mirasih? sedangkan sampai saat ini aku tidak ada sangkut paut dengan kematian gadis itu!" Sarbeni berkata dengan sangat enteng.
"Aku tidak akan cemas seperti ini bila Jarwo tidak ada hubungan dengan gadis itu!" kesal Sarmini.
"Kau tidak usah mengungkit masalah itu kembali karena sekarang Jarwo juga sudah tidak ada di sini." bentak Sarbeni dengan emosi yang sangat tinggi.
"Ya Allah!" Sarmini hanya bisa mengelus dada.
Mau terjebak lagi juga tidak mungkin karena sang suami tidak akan pernah membiarkan dia menang ketika sedang berbicara, jadi daripada membuang tenaga maka lebih baik dia diam saja dan mengatur rencana bagaimana nanti masalah ini bisa selesai dengan baik tanpa ada masalah yang akan datang kembali.
Selamat siang, nyempetin up demi kalian ini jadi jangan lupa like dan komen nya ya.
anak nya slah masih ja di bela
kasihan bgt
nanti pas setan datang mau di ajak nya masak kali ya