Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Maaf ya baru up date.
Minal Aidin wal faidzin ya gaess
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Akhirnya Abram tersadar dari kesadaran yang kabur, dan mata Dokter Rahmat segera tertuju padanya. Pipi dokter itu tegang, penuh perhatian tanpa rasa tergesa-gesa, seperti seorang penjaga yang telah menunggu lama.
"Eh, kamu sudah sadar?" tanya Dokter Rahmat dengan suara lembut, sambil menyesuaikan kacamata biru yang selalu dia pakai. Mata coklatnya memeriksa kondisi Abram dengan seksama.
Abram bangkit dari bangku brankar yang empuk dan duduk di sisi ranjang rumah sakit sambil memegang kepalanya yang sedikit berputar dan berat.
Rasa lelah masih terasa setiap sarafnya, seolah dia baru saja berlari maraton perjalanan yang jauh.
"Ah iya dokter, maaf merepotkan. Saya kehabisan energi, makanya langsung pingsan," kata Abram, suara nya serak akibat tidak banyak minum selama dia tidak sadar.
"Tidak apa-apa, saya tidak merasa merepotkan kok. Lagian kamu juga kehabisan energi itu karena menyelamatkan nyawa seseorang, dan seseorang itu sudah sembuh seketika dari sakitnya. Dia ingin berterima kasih padamu. Apa boleh dia masuk?" tanya Dokter Rahmat sambil melihat ke jam dinding. Penunjukannya menunjukkan pukul 11.30, pasien itu sudah menunggu setengah jam.
Abram merasa cemas. Dia tidak pernah meminta balas jasa untuk tindakannya. Hanya ingin kembali dan membersihkan diri, dan mencari pekerjaan sebagai tukang ledeng.
"Baiklah," angguk Abram dengan suara terbata-bata.
Pintu ruangan pun terbuka dengan pelan. Abram terkejut melihat Sinta dan ibunya, ibu Maya, masuk bersama.
Tapi yang lebih mengejutkan, ayah Sinta, Bapak Hidayat, seorang pengusaha properti yang selalu tampil dengan jas rapi, dan dua kakak laki-lakinya, Rian dan Reza, juga ikut datang. Keluarga besar Maya tampak bergegas, baju mereka masih kusam dan rambut acak-acakan, seolah mereka baru saja tiba dari perjalanan jauh.
Sinta berjalan mendekat ke arah Abram yang sedang duduk di pinggir ranjang. Matanya masih terlihat lemah tapi penuh rasa terima kasih. Dia mengenakan baju rumah sakit yang longgar, tapi langkahnya sudah mulai stabil.
"Tuan Abram," kata ibu Maya dengan suara haru, mata nya berkaca-kaca.
"Kami sekeluarga ingin berterima kasih kepada Anda karena telah membuat Sinta, anak kami, siuman. Sudah lama kami keliling rumah sakit mencari dokter terbaik, dari Jakarta sampai Pekanbaru, tapi tidak ada yang bisa menyatakan anak kami sadar. Kami tidak tahu bagaimana harus membalas kebaikan Anda," kata Buk Maya.
Wajah Bapak Hidayat, seorang pria tampan berambut abu-abu dengan tatapan tajam, juga menunjukkan rasa terima kasih yang dalam.
Dia berdiri di samping istri nya, tangan terlipat rapi, osisi yang selalu dia ambil saat ingin menunjukkan keseriusan.
"Saya hanya ingin membantu saja, jadi jangan terlalu dipikirkan," kata Abram sambil gugup menggaruk kepala.
Dia merasa tidak pantas mendapatkan perhatian sebesar itu. Hanya semalam, dia harus menyelamatkan Sinta, tindakan instingtif yang dia lakukan jika ada orang yang membutuhkan.
"Tapi tetap saja, Anda adalah penyelamat anak saya," tegas ibu Maya sambil mengeluarkan amplop warna coklat yang terlihat tebal.
"Jadi kami sekeluarga sepakat untuk memberikan sedikit uang kepada Anda untuk kebutuhan hidup Anda, meskipun tak banyak," kata Bu Maya penuh harapan.
Abram melihat amplop itu. Dia sangat membutuhkan uang. Rumahnya yang kecil di telah terbakar habis oleh orang kampung yang membencinya.
Dia sekarang ia tidak punya tempat tinggal lagi.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya