lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 23
Sore itu, gairah yang membara perlahan mereda, menyisakan keintiman yang tenang di tengah ruangan yang mulai diselimuti bayang-bayang panjang. Mira berbaring di dada Romano, merasakan ritme napas pria itu yang kini telah teratur, selaras dengan suara laut yang menjilat dinding tebing di bawah mereka.
"Aku mulai berpikir," bisik Mira, jemarinya menggambar pola abstrak di permukaan kulit Romano yang masih terasa hangat. "Bahwa puncak mercusuar itu adalah tempat untuk melihat dunia, tapi di sini, di dalam pondok ini, adalah tempat untuk kita melihat diri sendiri."
Romano mengecup puncak kepala Mira, tangannya melingkar erat di bahu wanita itu. "Dan apa yang kau lihat?"
Mira terdiam sejenak, menatap cahaya matahari yang mulai berubah warna menjadi oranye kemerahan di lantai kayu. "Aku melihat seseorang yang tidak lagi takut akan hari esok. Dulu, setiap fajar adalah ancaman—masalah baru, sabotase baru, atau pengkhianatan baru. Sekarang, aku hanya takut jika aku bangun dan kau tidak ada di sampingku untuk memperbaiki atap yang bocor."
Romano terkekeh pelan, sebuah getaran yang terasa menenangkan di dada Mira. "Atap itu benar-benar harus selesai besok, Mira. Aku tidak ingin gairah kita terganggu oleh air hujan yang menetes tepat di dahi saat aku sedang menciummu."
Mira tertawa kecil, ia sedikit mendongak untuk menatap mata Romano yang kini tampak lebih jernih dan damai. "Kau sudah berubah, Romano. Sangat jauh dari pria yang pertama kali kutemui di ruang rapat korporat yang dingin itu."
"Kita berdua berubah," sahut Romano serius. "Dunia menuntut kita menjadi monster untuk bertahan hidup di Sektor Tujuh. Tapi laut ini... laut ini menuntut kita menjadi manusia. Hanya manusia biasa."
Tiba-tiba, cahaya di luar jendela kembali berubah. Pendar biru elektrik yang mereka lihat tadi pagi muncul kembali, namun kali ini lebih terang, memantul di langit-langit pondok mereka seperti aurora yang terperangkap di bawah air.
Mira bangkit perlahan, menyelimuti tubuhnya dengan kain sambil berjalan menuju jendela. Di kejauhan, di garis cakrawala di mana matahari mulai tenggelam, laut tampak seolah-olah sedang terbakar oleh cahaya dingin yang indah namun asing.
"Lihat itu, Romano," gumam Mira. "Sesuatu sedang terjadi. Ingatan kolektif itu... mungkin bukan hanya milik orang-orang di Sektor Tujuh. Mungkin bumi sendiri yang sedang mengingat kembali kekuatannya."
Romano berdiri di sampingnya, memeluk Mira dari belakang untuk memberikan kehangatan di tengah angin sore yang mulai mendingin. "Apa pun itu, kita akan menghadapinya bersama. Bukan sebagai penguasa, tapi sebagai saksi."
Mereka berdiri di sana, menyaksikan dunia yang mereka kenal perlahan bertransformasi menjadi sesuatu yang baru dan tak terpetakan. Kali ini, tidak ada rasa takut. Hanya ada rasa ingin tahu yang tenang, dipayungi oleh mercusuar tua yang terus berputar, memberikan cahaya di tengah ketidaktahuan yang indah.
"Sepertinya makan malam kita akan ditemani pertunjukan cahaya paling mahal yang pernah ada," gumam Romano, matanya tak lepas dari ombak yang kini memancarkan cahaya biru neon, menerangi pasir pantai seolah ada ribuan bintang yang jatuh ke dalam air.
Mira tersenyum, lalu beranjak menuju dapur kecil mereka. "Mahal karena tidak bisa dibeli dengan uang Nusantara Group, kan? Aku akan membakar ikan tangkapan nelayan tadi. Kurasa rasa manis dari ikan segar jauh lebih cocok dengan pemandangan ini daripada wine impor yang biasa kau minum."
Romano mengikuti Mira, bersandar pada meja kayu sambil memperhatikan wanita itu bergerak dengan lincah. "Kau tahu, ada sesuatu yang aneh. Cahaya itu... getarannya terasa sampai ke sini. Bukan suara, tapi seperti dengungan rendah yang membuat kulitku merinding."
Mira berhenti sejenak, pisau di tangannya terhenti di atas talenan. Ia memejamkan mata, mencoba merasakan apa yang dikatakan Romano. Benar saja, ada resonansi halus yang muncul dari bawah tanah, seolah-olah fondasi tebing karang ini sedang ikut bernapas.
"Ingatan itu bukan hanya berupa gambar, Romano," bisik Mira. "Ini adalah frekuensi. Ibuku pernah menulis tentang 'nyanyian bumi' dalam jurnalnya yang disensor. Aku dulu menganggapnya sebagai metafora puitis karena dia sedang depresi, tapi sekarang... aku sadar dia sedang membicarakan data teknis yang dibungkus dalam bahasa perasaan."
Romano mengambil alih pisau dari tangan Mira, mulai membersihkan sisik ikan dengan gerakan yang semakin terampil. "Jika frekuensi ini sampai ke sini, bayangkan apa yang terjadi di Sektor Tujuh. Mereka berada tepat di atas sumbernya. Mereka tidak hanya melihat cahaya, Mira. Mereka merasakannya di dalam tulang mereka."
"Mungkin itu alasan nelayan tadi memberikan radio itu," sahut Mira sambil menyalakan api di tungku kecil. "Bukan untuk meminta bantuan kita, tapi untuk memastikan bahwa ada orang lain yang menyaksikan bahwa dunia lama telah benar-benar berakhir."
Asap beraroma kayu mulai memenuhi ruangan, bercampur dengan bau gurih ikan yang terkena panas api. Di luar, laut semakin terang, mengubah malam menjadi senja abadi yang bernuansa elektrik.
Mereka makan dalam diam di teras, duduk bersila di atas lantai kayu sambil menikmati hidangan sederhana dengan tangan telanjang. Tidak ada sendok perak, tidak ada pelayan yang menunggu di sudut ruangan. Hanya ada mereka, pendar laut, dan frekuensi purba yang terus berdenyut.
"Setelah ini," ucap Romano sambil menatap sisa-sisa api di tungku, "aku tidak yakin kita bisa menyebut diri kita 'sembunyi' lagi. Dunia sedang berteriak, Mira. Dan kita adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu mengapa dia berteriak."
Mira menyandarkan kepalanya di bahu Romano, menatap mercusuar yang kini tampak pucat dibandingkan dengan cahaya laut. "Kita tidak sembunyi, Romano. Kita hanya sedang menunggu di tempat yang tepat untuk melihat akhir dari satu cerita, dan awal dari cerita yang lain."
Malam itu, frekuensi yang berdenyut dari dasar laut mulai merambat masuk ke dalam mimpi Mira. Saat ia terlelap di pelukan Romano, ia tidak melihat kegelapan, melainkan aliran data organik yang meluncur di balik kelopak matanya. Ia melihat ibunya, Rahayu, sedang berdiri di sebuah laboratorium yang tidak pernah ia kenal—tempat itu dipenuhi oleh tanaman yang berpendar, persis seperti laut di luar sana.
"Mira, ingatannya tidak disimpan di otak," suara ibunya bergema, seolah-olah Rahayu sedang berdiri di sudut kamar pondok mereka. "Ingatannya disimpan di dalam air. Dan air adalah pengantar yang paling jujur."
Mira terbangun dengan napas tersengal, tubuhnya berkeringat meskipun angin laut yang dingin menyelinap masuk melalui celah dinding. Romano langsung terjaga, tangannya secara insting merangkul bahu Mira.
"Mimpi lagi?" tanya Romano, suaranya parau namun penuh perhatian.
"Bukan sekadar mimpi," Mira menyeka keringat di keningnya. "Aku melihat apa yang mereka lihat di Sektor Tujuh. Romano, struktur di bawah sana... itu bukan mesin. Itu adalah sistem pemulihan. Penawar yang kita masukkan ke dalam air bukan hanya obat untuk genetik mereka, tapi kunci untuk mengaktifkan kembali memori bumi yang tersimpan di dalam air tanah."
Romano terdiam, menatap cahaya biru yang masih berpendar di balik jendela. "Itu menjelaskan mengapa laut ini bereaksi. Semua air di planet ini saling terhubung. Apa yang terjadi di Sektor Tujuh sedang menyebar ke seluruh samudera."
Mira bangkit dari tempat tidur, berjalan perlahan menuju meja tempat jurnal ayahnya tergeletak. Ia membukanya di halaman yang sebelumnya kosong, namun di bawah pendar cahaya laut yang masuk ke ruangan, tulisan-tulisan baru mulai muncul—tinta tak terlihat yang hanya bereaksi terhadap frekuensi tertentu.
"Ayah tahu," bisik Mira. "Dia menulis koordinat mercusuar ini bukan karena ini tempat yang aman, tapi karena di bawah tebing ini terdapat titik akses kedua. Kita tidak sedang bersembunyi dari peradaban, Romano. Kita sedang menjaga salah satu simpul pusatnya."
Romano berdiri di belakangnya, membaca baris demi baris instruksi kuno yang kini terlihat jelas. "Jadi, mercusuar ini tidak hanya menuntun kapal, tapi juga menyeimbangkan frekuensi itu agar tidak menghancurkan pikiran orang-orang yang belum siap."
Mira menoleh, matanya berkilat dengan kesadaran baru. "Kita tidak akan kembali ke Sektor Tujuh, tapi kita punya tugas di sini. Kita harus memastikan cahaya ini tetap stabil."
Ia menarik tangan Romano, membawa pria itu kembali ke tempat tidur, namun kali ini bukan untuk tidur. Ada gairah baru yang muncul dari kesadaran bahwa hidup mereka memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar pelarian. Di tengah dunia yang sedang bermutasi, mereka adalah dua jangkar yang menjaga kewarasan.
"Besok kita tidak hanya memperbaiki atap," kata Mira sambil tersenyum tipis. "Kita akan menghidupkan kembali sistem di bawah menara ini."
Romano membalas senyum itu, menarik Mira ke dalam pelukan yang erat. "Selama aku melakukannya bersamamu, aku siap menghadapi sejarah apa pun yang ingin dibangkitkan oleh bumi ini."
Lampu mercusuar terus berputar, namun kini ritmenya berubah, seolah-olah sedang menyanyi bersama ombak yang bercahaya di bawah sana.