Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Pintu rumah terbuka perlahan, diiringi suara engsel yang berdecit pelan. Udara pagi yang masih dingin menyusup masuk bersama sosok Evelyn yang terlihat lelah. Rambutnya sedikit berantakan, matanya sembab karena kurang tidur, dan langkahnya terasa berat seolah setiap inci tubuhnya memohon untuk segera beristirahat.
Di ruang tengah, Vega yang sedang melipat pakaian langsung menoleh. Alisnya mengernyit melihat putrinya pulang sepagi itu.
"Kamu darimana? Kenapa jam segini sudah pulang?" tanya Vega dengan nada heran, tangannya berhenti dari aktivitasnya.
Evelyn menguap lebar tanpa berusaha menutupinya. Tasnya dijatuhkan begitu saja ke atas meja, lalu ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan posisi setengah rebah.
"Aku dari rumah sakit, ma… semalam ada pria gila yang terluka," jawabnya lemah, matanya sudah hampir terpejam.
"Pria gila?" Vega mengulang dengan kening berkerut dalam. Ia mendekat, berdiri di depan sofa sambil memandangi anaknya penuh tanda tanya. "Kamu kan dokter bedah, untuk apa mengobati orang gila?"
Evelyn membuka sebelah matanya, lalu mendesah pelan. Ia sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.
"Maksud aku…" katanya sambil mengubah posisi duduk, mencoba menjelaskan meski rasa kantuk menyerang. "Orang gilanya kemarin habis dijahit perutnya karena luka tusuk. Dan semalam dia datang lagi karena jahitan di lukanya terbuka."
Vega mengangguk pelan, akhirnya mulai memahami. Namun ekspresi bingungnya belum sepenuhnya hilang.
"Lagian orang aneh aja sih," gumam Vega sambil kembali melipat pakaian, tapi jelas masih memikirkan hal itu. "Orang gila kok ditusuk. Orang mah nusuk penjahat, bukan nusuk orang gila."
Evelyn spontan menahan tawa. Bibirnya bergetar, dan ia buru-buru menutup mulutnya dengan punggung tangan agar tidak terdengar.
"Mama pasti lebih bingung kalau lihat orang gilanya sangat tampan," batinnya sambil cekikikan pelan.
Bayangan wajah pria itu tiba-tiba muncul di benaknya, tatapan tajam, rahang tegas, dan aura dingin yang sulit dijelaskan. Meski kondisinya saat itu berlumuran darah, tetap saja... wajahnya terlalu sempurna untuk disebut “orang gila”.
Evelyn menghela napas pelan, mencoba mengusir bayangan itu, tapi malah semakin jelas. Bahkan cara pria itu menatapnya semalam terasa berbeda, bukan seperti pasien pada umumnya. Ada sesuatu yang tajam, penuh perhitungan... dan sedikit mengintimidasi.
Ia memejamkan mata sejenak.
"Aneh banget," gumamnya lirih.
"Hah? Kamu ngomong apa?" tanya Vega yang mendengar gumaman itu.
"Enggak, ma… cuma capek aja," jawab Evelyn cepat, mengalihkan.
Vega mendecak pelan. "Makanya, jangan terlalu diforsir kerjaannya. Kamu itu perempuan, bukan robot."
Evelyn hanya mengangguk lemah. Namun pikirannya masih terjebak pada kejadian semalam. Mau bagaimana lagi, sebagai seorang dokter dia harus profesional.
Ia ingat dengan jelas bagaimana pria itu datang lagi ke rumah sakit dengan langkah tenang, seolah luka di perutnya bukan sesuatu yang berarti. Padahal jahitannya terbuka cukup parah. Darah bahkan masih merembes, tapi wajahnya tetap datar.
Dan yang paling aneh…
Pria itu menolak dibius.
“Aku tidak butuh itu,” katanya dingin waktu itu.
Evelyn sampai harus menahan kesal sekaligus kagum. Siapa orang waras yang mau dijahit ulang tanpa anestesi?
Tanpa sadar, sudut bibir Evelyn terangkat tipis.
"Gilanya beneran sih… tapi kok ya…" ia menggantungkan kalimatnya dalam hati.
"Apa?" suara Vega kembali memotong lamunannya.
Evelyn tersentak. Ia buru-buru menggeleng.
"Enggak ada."
Vega menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat dan menepuk bahu putrinya pelan.
"Sudah sana mandi, habis itu tidur. Wajah kamu sudah kayak zombie begitu."
Evelyn tertawa kecil. "Iya, ma…"
Ia bangkit perlahan dari sofa, tubuhnya masih terasa berat. Namun sebelum benar-benar pergi ke kamarnya, langkahnya terhenti sejenak.
Bayangan pria itu kembali muncul.
Tatapan tajam itu.
Sikap dingin itu.
Dan… wajah tampan yang mengganggu pikirannya sejak tadi.
Evelyn menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Semoga aja aku nggak ketemu lagi sama orang aneh itu," gumamnya.
Namun entah kenapa, di sudut hatinya yang paling dalam… justru ada rasa penasaran yang perlahan tumbuh.
Dan itu, jauh lebih berbahaya daripada sekadar rasa lelah.
*
*
“YAK… NGAPAIN KAMU DI KAMARKU?!”
Suara teriakan Evelyn menggema memenuhi kamar yang masih setengah gelap. Tirai jendela belum sepenuhnya terbuka, cahaya pagi hanya menyelinap tipis di antara celah kain, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan ekspresi kesal di wajah wanita itu.
Di atas ranjangnya, yang selama ini menjadi wilayah paling sakral baginya, terlihat sosok kecil meringkuk nyaman di bawah selimut. Rambutnya acak-acakan, satu tangan memeluk boneka kelinci lusuh yang sudah jelas sangat disayanginya.
“Belicik onty Epe… Jula macih ngantuk, ci…” gumam gadis kecil itu tanpa membuka mata, suaranya serak khas anak yang belum sepenuhnya bangun.
Evelyn memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang langsung naik ke ubun-ubun. Tangannya bertolak pinggang, matanya menatap tajam ke arah keponakannya.
“Ngantuk sih ngantuk, tapi kenapa harus tidur di kamarku?” keluhnya kesal, suaranya lebih rendah tapi tetap penuh tekanan.
Perlahan, gadis kecil itu membuka matanya. Bola matanya yang besar dan jernih menatap polos ke arah Evelyn, seolah tidak mengerti kenapa sang tante bisa sekesal itu.
“Daddy cama mommy lagi pelgi… Jula di cini dulu katanya…” ucapnya santai, bahkan sempat menguap kecil di akhir kalimat.
Evelyn mengernyit. “Pelgi? Pergi ke mana lagi sih mereka pagi-pagi begini…” gumamnya, lebih pada dirinya sendiri. Sudah bisa ditebak, kakaknya pasti kembali menitipkan anak tanpa pemberitahuan yang jelas.
Ia menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat ke ranjang. Rambutnya masih sedikit berantakan, wajahnya menunjukkan sisa-sisa kelelahan setelah semalaman bekerja di rumah sakit. Ia benar-benar butuh tidur, bukan drama pagi seperti ini.
“Geser gih… onty mau tidur juga,” ucapnya akhirnya, nada suaranya mulai melembut meski masih terdengar kesal.
Azzura menurut tanpa banyak protes. Tubuh kecilnya bergeser ke samping, memberi ruang cukup untuk Evelyn. Ia kembali memeluk boneka kesayangannya erat-erat, lalu memejamkan mata seolah dunia sudah aman baginya.
Evelyn naik ke atas ranjang dengan gerakan malas. Ia menjatuhkan tubuhnya begitu saja di samping Azzura, menatap langit-langit kamar beberapa detik.
Sunyi.
Hanya suara napas kecil Azzura yang teratur terdengar di sampingnya.
Awalnya, Evelyn mencoba mengabaikan keberadaan gadis kecil itu. Ia memejamkan mata, berusaha kembali terlelap. Namun beberapa detik kemudian, ia merasakan sesuatu menyentuh lengannya.
Ia membuka satu mata, melirik ke samping.
Azzura tanpa sadar sudah bergeser mendekat, wajahnya kini hampir menempel di lengan Evelyn. Bahkan satu tangannya melingkar, memeluknya seperti bantal hidup.
“Anak ini…” gumamnya lirih.
Ia ingin mendorongnya menjauh, ingin kembali merebut ruang pribadinya. Tapi entah kenapa, tubuhnya justru diam. Tidak bergerak.
Sebaliknya, ia malah menghela napas pelan.
“Nyebelin… tapi…” bisiknya pelan, suaranya nyaris tidak terdengar.
Matanya kembali terpejam.
Sejak pulang dari rumah sakit, rasa lelahnya benar-benar terasa. Hangat kecil dari pelukan Azzura, ditambah suasana pagi yang tenang, perlahan membuat tubuhnya rileks.
Beberapa menit berlalu tiba-tiba..
“Onty…” suara kecil itu terdengar lagi.
Evelyn mengerang pelan, matanya masih tertutup. “Apalagi sih… tidur sana…”
“Jula lapel…”
Evelyn membuka mata dengan cepat. “Hah?! Laper?!”
Azzura mengangguk pelan, matanya setengah terbuka. “Mau susu…”
Evelyn menatap langit-langit lagi, kali ini dengan ekspresi putus asa.
“Tuhan… ini anak beneran bikin aku gak bisa tidur…” keluhnya dalam hati.
Ia menoleh ke arah Azzura yang kini menatapnya dengan wajah polos, mata besar yang seolah memohon tanpa dosa.
Hening sejenak.
Lalu Evelyn mendengus pelan.
“Bangun sana minta sama nenek, onty capek baru pulang kerja. Mau tidur dulu sebentar" ucap Evelyn.
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐