NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan yang Salah

Pintu ruang CEO tertutup rapat ketika Naya tiba di lantai eksekutif. Setiap kaki itu melangkah ke sana, tangannya selalu gemetar sebelum mengetuk pintu.

Ia sempat ragu. Meja Candra kosong. Kursinya tertarik rapi, tapi tablet dan beberapa dokumen masih terbuka.

"Apa mungkin Pak Candra ada urusan di luar? Kalo iya, berarti hanya aku dan CEO itu yang akan di ruangan? Berdua?" tanyanya sendiri dalam ragu.

Pulpen metal hitam masih ada di tangannya, pulpen Candra yang tertinggal di meja pantry saat bersamanya.

Naya menarik napas, lalu mengetuk pintu pelan.

Tidak ada jawaban.

"Tuh kan, biasanya kalo Pak Candra di dalam udah langsung buka pintunya." gumam Naya.

Dia mengetuk pintu itu kembali, tetap sama. Namun pintu tidak terkunci.

Dia membuka sedikit, dia takut kalo tidak langsung masuk CEO itu akan marah.

"Permisi, Pak." ucap Naya.

Candra mendongak dari meja kecil di dekat rak arsip. Ternyata Candra sedang sibuk memeriksa berkas yang baru saja diambilnya.

"Oh, Naya?"

Naya sedikit lebih lega melihat Candra ada juga di ruangan itu.

"Saya sekalian mau mengembalikan ini, Pak. Tadi tertinggal di pantry."

Naya mengulurkan pulpen itu.

Candra langsung tersenyum. "Ya, ampun. Saya bahkan tidak sadar. Terima kasih, ya."

Saat itulah terdengar bunyi pintu lain terbuka. Pintu toilet pribadi di dalam ruangan itu.

CEO keluar sambil menyingsingkan lengan kemejanya. Wajahnya kembali serius seperti biasa. Langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan di depannya.

Naya berdiri cukup dekat dengan Candra. Pulpen itu masih di tangan asistennya.

CEO kembali melangkah tanpa bicara. Berusaha tetap profesional.

Naya dan Candra menyadarinya secara bersamaan.

"Pak," tegur Naya.

CEO itu tak merespon, kembali ke mejanya. Namun tatapannya turun pada pulpen itu.

Asistennya menyadari itu, "Ini tadi dikembalikan Naya, Pak. Tertinggal di meja pantry saat makan siang."

CEO itu tak meresponnya, pertanyaan-pertanyaan hanya ada dalam pikirannya sendiri.

"Selesaikan berkas itu sekarang," pintanya tegas.

Candra kembali ke arah rak arsip, menyelesaikan pekerjaannya sesuai pinta atasannya. Naya duduk tegak di kursi depan meja CEO itu.

"Presentasi pagi tadi diterima."

Kalimat itu sederhana, namun cukup membuat jantung Naya berdebar lebih cepat.

"Seluruh rekomendasi restrukturisasi disetujui."

Naya menunduk sedikit sambil tersenyum.

"Penyesuaian data cabang Surabaya," lanjutnya menatap langsung ke arahnya, "itu bantuan dari pengamatanmu."

Naya tetap menunduk.

CEO itu menutup berkas di depannya.

"Saya akan membentuk tim kecil untuk evaluasi distribusi. Saya ingin kamu ada di dalamnya."

Naya mengangkat wajahnya, "Saya, Pak?" suaranya hampir tak terdengar.

"Kamu memahami data dasarnya. Dan kamu tidak melihat angka secara mentah. Kamu membaca konteksnya."

Naya terdiam beberapa saat.

"Saya hanya staf administrasi, Pak."

"Status jabatan tidak selalu menentukan kapasitas analisis," jawabnya tenang.

Lift berhenti di lantai administrasi. Naya melangkah keluar dengan langkah tenang. Ada perasaan sekaligus bangga pada dirinya sendiri.

Ia kembali ke mejanya, menarik kursi, kembali menyalakan layar komputernya. Beberapa staf masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Belum sempat Naya membuka dokumen di layar, kursi di sebelahnya berderit pelan.

Nadira menggeser kursinya mendekati Naya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

"Gimana?" bisiknya cepat.

Naya pura-pura fokus pada layar, "Apanya?"

"Makan siangnya," Nadira menaikkan alis. "Serius deh, kamu makan bareng asisten CEO. Rasanya gimana, sih?"

Naya tidak langsung menjawab. Ia menyadari maksud pertanyaan itu.

"Biasa saja," katanya singkat.

Nadira tidak puas. Ia menyandarkan dagunya pada telapak tangan.

"Dia seru, ya? Tapi sepertinya aku lihat dia sering bercanda."

Naya tetap menatap layar, " Ya... Biasa aja."

Nadira mendekat sedikit, suaranya makin pelan namun penuh godaan."

"Jangan bilang kamu mulai cocok sama dia."

Kalimat itu seperti menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak disentuh.

Jari Naya berhenti di atas keyboard, "Nadira!"

Suara itu tiba-tiba terdengar lebih keras dan tegas.

Beberapa staf di dekat mereka menatap mereka.

Nadira berkedip, sedikit terkejut. "Aku cuma bercanda.... "

"Jangan bicara seperti itu lagi." tegasnya sambil menatapnya tajam.

Nadira benar-benar diam sekarang, karna Naya sangat jarang menunjukkan nada suara seperti itu.

Nadira benar-benar diam sekarang.

Ada sesuatu di matanya yang berbeda, bukan marah biasa, tapi luka yang tiba-tiba terbuka.

"Aku tidak sedang mencari siapa pun."

Nadira menelan ludah. Ia tahu kalimat itu punya arti lebih dalam.

Nama itu tidak disebutkan, namun bayangan seseorang langsung muncul di benak mereka berdua.

Suasana di antara mereka menjadi canggung.

Nadira menarik kursinya sedikit mundur.

"Maaf. Aku ..... Nggak bermaksud."

Naya menarik napas pelan. Ia kembali menatap layar komputernya, namun huruf-huruf di sana terasa kabur.

Naya menunduk sedikit, menekan jemarinya pada keyboard. Ia memaksa dirinya kembali bekerja.

Sampai jam kerja berakhir, Naya dan Nadira hanya diam setelah perkataan itu. Naya langsung pulang tanpa mengatakan apapun. Biasanya di lorong utama, dia akan berhenti sebentar, menatap langit, memastikan cuaca tetap bagus sampai ia berdiri di depan gerbang masuk sambil menunggu angkot.

Namun kali ini tidak.

Langkahnya terasa lebih cepat dari biasanya, seolah ia ingin segera meninggalkan tempat itu. Naya berdiri di depan gerbang tanpa benar-benar memperhatikan langit di atasnya. Tatapan kosong, pikirannya dipenuhi oleh kata-kata yang masih terngiang.

Beberapa kendaraan lalu lalang di depannya, suara klakson dan mesin bercampur dengan riuh jalan sore. Tetapi semuanya terasa jauh, seperti hanya lewat begitu saja.

Naya mendongak sebentar ke langit. Ternyata hujan mulai turun, sementara angkot yang ditunggunya belum juga datang.

"Aduhhhh......" teriakan itu terdengar jelas.

Beberapa orang berlarian mencari tempat berteduh. Naya sempat menoleh ke arah gedung kantor di belakangnya.

"Mending balik lagi....masih dekat juga," Naya berlari.

Namun langkahnya terhenti. Ia membiarkan rintik hujan mengenai wajah dan bahunya. Seolah-olah dinginnya air hujan bisa meredakan sesuatu yang sesak di dadanya.

1
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!