NovelToon NovelToon
Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Jadikan Aku Pelabuhan Terakhirmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berondong / Aliansi Pernikahan
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan seorang celebrity chef terkenal bernama Devina Maharani yang harus menerima kenyataan bahwa pertunangannya dengan Aris Wicaksana harus kandas karena Aris ketahuan masih belum bercerai dengan istri sahnya. Devina begitu shock dan terpukul setelah acara pertunangan itu batal. Di saat terendah dalam hidupnya ia bertemu dengan Gavin Wirya Aryaga seorang pengusaha muda di bidang pembuatan alat memasak. Perlahan kedekatan intens dan cinta pun datang membuat Devina ragu bisakah Gavin menjadi pelabuhan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabur Dari Penjara

Kembali ke dalam sel isolasi yang gelap dan lembap, Aris tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan. Sebaliknya, ia duduk bersila di atas dipan semennya, menatap sebuah sobekan kertas kecil yang ia selundupkan lewat sol sepatunya saat di pengadilan tadi.

Kertas itu berisi denah rute pergantian shift sipir dan sebuah kode koordinat. Aris telah menggunakan sisa-sisa koneksi gelapnya—orang-orang yang pernah ia suap di masa kejayaannya—untuk mengatur pelariannya. Ia tahu bahwa vonis penjara seumur hidup atau bahkan hukuman mati sedang menantinya. Maka, tidak ada jalan lain selain menghancurkan sistem dari dalam.

"Sedikit lagi..." gumam Aris sambil meremas kertas itu dan menelannya bulat-bulat. "Satu malam lagi, dan Jakarta akan kembali merasakan apiku."

Ia menyandarkan kepalanya ke dinding sel, membayangkan ekspresi wajah Gavin dan Devina saat mereka menyadari bahwa mangsa yang mereka sangka sudah terkurung, kini sedang mengasah taringnya di kegelapan malam.

****

Sementara itu, di sebuah taman pribadi yang menghadap ke arah laut, Gavin dan Devina berdiri bersisian. Angin laut yang membawa aroma garam meniup lembut rambut Devina yang terurai. Setelah berbulan-bulan hidup dalam ketakutan dan ruang sidang yang menyesakkan, momen ini seharusnya menjadi sebuah pelarian yang tenang.

Gavin menoleh ke arah Devina. Ia melihat kelelahan yang luar biasa di mata wanita itu, namun ia juga melihat kekuatan yang tak terhingga. Tanpa banyak kata, Gavin meraih tangan Devina, menggenggamnya dengan sangat lembut namun penuh kepastian.

Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru biru kecil dari saku jasnya. Saat kotak itu terbuka, sebuah cincin berlian dengan desain klasik yang elegan berkilau tertimpa cahaya senja yang kemerahan.

"Devina..." suara Gavin rendah dan emosional. "Aku tahu ini mungkin bukan waktu yang paling ideal. Kita baru saja keluar dari neraka yang diciptakan pria itu. Tapi selama ini, aku menyadari satu hal: aku tidak ingin melewati satu malam pun tanpa memastikan bahwa kamu adalah bagian dari hidupku selamanya."

Gavin berlutut dengan satu kaki di atas rumput yang hijau. "Maukah kamu menikah denganku? Menjadi pendampingku, bukan hanya di saat badai seperti ini, tapi di saat kita membangun kembali apa yang sudah hancur?"

Devina tertegun. Jantungnya berdegup kencang, sebuah perasaan hangat mengalir di dadanya, namun seketika bayangan Aris yang menyeringai di pengadilan tadi melintas di pikirannya. Ia teringat sumpah Aris yang mengatakan bahwa semua ini belum berakhir. Ketakutan itu masih ada, mengakar jauh di dalam sanubarinya.

"Gavin..." Devina berbisik, air matanya mulai menggenang. "Kamu tahu betapa berartinya kamu bagiku. Kamu sudah menyelamatkan hidupku, orang tuaku, bahkan Bu Imroh. Tapi..."

Devina menarik napas dalam-dalam, menatap cincin itu dengan perasaan campur aduk. "Aku belum bisa memberi jawaban sekarang, Gavin. Hatiku masih terlalu penuh dengan sisa-sisa trauma ini. Aku tidak ingin menikahimu karena rasa terima kasih, aku ingin menikahimu saat jiwaku benar-benar sudah merdeka dari bayang-bayang Aris."

Gavin tersenyum tipis, sebuah senyum penuh pengertian. Ia berdiri dan menutup kembali kotak cincin itu, lalu mengecup kening Devina dengan penuh kasih sayang. "Aku akan menunggu, Dev. Sebanyak apa pun waktu yang kamu butuhkan. Aku akan tetap di sini, menjadi tamengmu sampai bayangan itu benar-benar hilang."

Mereka tidak menyadari bahwa di saat yang sama, di sebuah sel gelap di penjara kota, Aris Wicaksana sedang menghitung detik demi detik untuk memulai pelariannya yang berdarah. Ketenangan senja itu hanyalah jeda singkat sebelum badai yang lebih besar datang menerjang.

****

Suara sirene meraung membelah kesunyian malam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Cipinang. Lampu sorot raksasa berputar liar, menyapu dinding-dinding beton tinggi yang dipagari kawat berduri. Sipir berlarian dengan senjata laras panjang, sementara anjing pelacak menyalak galak di setiap sudut lorong yang dingin.

"Blok C kosong! Tersangka Aris Wicaksana melarikan diri lewat saluran udara!" teriak seorang petugas melalui radio panggil yang statis.

Kepanikan melanda seluruh penjara. Bagaimana mungkin seorang tahanan dengan pengawasan super ketat bisa menguap begitu saja seperti embun pagi? Aris telah merencanakan ini dengan presisi seorang arsitek kehancuran. Ia memanfaatkan celah waktu saat pergantian shift malam, menyelinap di antara bayang-bayang, dan menghilang ke dalam labirin kota Jakarta yang luas dan gelap.

Pengejaran dilakukan secara masif. Polisi memblokade jalan-jalan utama, memeriksa setiap kendaraan yang melintas, namun Aris seolah ditelan bumi. Pria itu tidak lagi memiliki wajah yang dikenal dunia; ia kini hanyalah hantu yang digerakkan oleh satu tujuan tunggal: balas dendam yang murni.

****

Pagi harinya, di sebuah rumah sederhana di pinggiran kota yang asri, Bu Imroh sedang mencoba memulihkan jiwanya. Cahaya matahari pagi menyusup di antara celah daun mangga, memberikan kehangatan yang selama ini ia rindukan. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar akibat sisa cedera dari jurang, ia memegang selang kecil, menyiram deretan tanaman melati dan mawar di halaman depannya.

"Segar ya, Salsa... Ibu siram bunga kesukaanmu," bisiknya lirih, seolah putrinya masih ada di sana, memperhatikan dari balik jendela.

Suasana begitu tenang, hingga suara kicau burung gereja tiba-tiba terhenti. Bu Imroh merasakan bulu kuduknya meremang. Udara di sekitarnya mendadak terasa dingin, membawa aroma parfum yang sangat ia kenali—campuran bau kayu cendana yang mahal dan sisa mesiu yang tajam.

Belum sempat ia menoleh, sebuah lengan kuat dan kasar melingkar di lehernya. Sebuah kain yang telah dibasahi cairan kimia menyengat menekan hidung dan mulutnya dengan brutal.

"Mati itu mudah, Imroh. Tapi penderitaan... itu butuh waktu," sebuah bisikan dingin merayap di telinganya.

Bu Imroh meronta, namun tenaganya yang renta tak sebanding dengan kegilaan pria di belakangnya. Dunianya berputar, warna hijau daun melati memudar menjadi abu-abu, hingga akhirnya kegelapan total merenggut kesadarannya. Tubuh kecilnya terkulai di atas tanah yang basah oleh air siramannya sendiri.

Aris berdiri di atas tubuh wanita tua itu, menatapnya dengan pandangan kosong tanpa empati. Ia tidak membunuhnya—belum saatnya. Ia ingin Bu Imroh menjadi pembawa pesan. Dengan gerakan tenang, Aris menyelipkan secarik kertas ke dalam genggaman tangan Bu Imroh yang lemas, lalu menghilang di balik tembok pagar sebelum tetangga sempat menyadari kehadirannya.

****

Beberapa menit kemudian, Bu Imroh mulai siuman. Paru-parunya terasa terbakar saat ia menghirup udara segar kembali. Ia terbatuk-batuk, berusaha bangkit sambil memegangi dadanya yang sesak. Matanya membelalak ketakutan saat menyadari ia baru saja diserang di rumahnya sendiri.

Ia merasakan sesuatu di telapak tangannya. Secarik kertas kusam yang robek kasar. Dengan tangan gemetar hebat, ia membuka lipatan kertas itu. Tulisan di dalamnya miring dan tajam, digoreskan dengan kemarahan yang meluap:

"Penjara hanya tempatku beristirahat. Keadilanmu hanyalah lelucon. Katakan pada anak kesayanganmu, Devina, bahwa aku sedang menghitung mundur detik-detik napas terakhir kalian. INI BELUM SELESAI."

Bu Imroh menjerit histeris, sebuah teriakan pilu yang memecah keheningan pagi. Ia merangkak menuju teras, air matanya tumpah membasahi kertas terkutuk itu. Syok yang luar biasa menghantamnya; kenyataan bahwa Aris telah bebas dan berada sangat dekat dengannya membuat seluruh tubuhnya lumpuh oleh ketakutan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!