Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Malam semakin larut ketika mobil berhenti di depan bangunan kos yang sederhana itu. Lampu-lampu di lorong tampak redup, sebagian bahkan berkedip, seolah lelah menemani penghuni yang datang dan pergi silih berganti. Hujan masih turun, meski tidak sederas sebelumnya. Rintiknya kini jatuh perlahan, meninggalkan suara berirama yang menenangkan sekaligus menyimpan kegelisahan.
Arya turun dari mobil tanpa banyak bicara. Tatapannya tajam, rahangnya mengeras, tetapi langkah kakinya justru mantap, seakan sudah yakin dengan apa yang hendak ia lakukan. Rio mengikutinya sampai batas pagar, lalu berhenti. Ia tahu tugasnya hanya sampai di situ.
Di depan pintu kamar kos Nadia, Melia sudah berdiri. Wanita itu tampak sigap seperti biasa, matanya waspada menyapu sekitar. Begitu melihat Arya, ia langsung menegakkan badan.
“Tuan,” sapa Melia pelan.
Arya hanya mengangguk. “Suruh mereka pergi.”
Melia memahami maksud itu tanpa perlu penjelasan. Ia memberi isyarat singkat pada dua orang bawahan yang berjaga di ujung lorong. Mereka segera pergi, langkah kaki mereka menjauh hingga lorong kembali sunyi. Melia lalu menoleh ke arah Arya.
“Nona Nadia sedang tidur,” lapornya singkat.
“Bagus,” jawab Arya. Nada suaranya datar, tetapi ada sesuatu yang bergetar di balik kata itu.
Melia membuka pintu kamar dengan hati-hati. Engsel pintu berdecit pelan, lalu terbuka, memperlihatkan kamar kecil yang hanya diterangi lampu tidur. Aroma sabun dan deterjen bercampur menjadi satu, sederhana, jauh dari wangi mahal yang biasa Arya hirup di rumahnya sendiri. Namun justru kesederhanaan itu membuat dadanya terasa aneh hangat sekaligus sesak.
Arya melangkah masuk. Melia tetap di luar, menutup pintu perlahan dan memilih berjaga di lorong, memberi ruang bagi tuannya.
Di dalam kamar, Nadia tertidur dengan posisi tengkurap. Rambut hitamnya tergerai di atas bantal, sedikit berantakan. Kaos tipis yang ia kenakan tampak kebesaran di tubuhnya, menutupi punggungnya hingga ke pinggang. Selimut tipis hanya menutupi sebagian tubuhnya, seolah ia tertidur tanpa sempat merapikannya.
Arya berdiri beberapa langkah dari ranjang kecil itu. Untuk sesaat, ia hanya menatap, membiarkan pandangannya menyapu sosok wanita yang kini secara hukum adalah istrinya. Dadanya terasa sesak ketika ia melihat wajah Nadia yang sedikit terbalik ke samping. Mata itu terpejam rapat, tetapi kelopak matanya tampak membengkak. Ada bekas air mata yang mengering di pipinya.
“Apakah kamu menangis?” gumam Arya hampir tak terdengar.
Ia mendekat, duduk di sisi ranjang yang berderit pelan saat menahan berat tubuhnya. Tangannya terulur tanpa sadar, jari-jarinya menyentuh pipi Nadia dengan gerakan yang jauh lebih lembut daripada yang biasa ia tunjukkan. Kulit itu terasa hangat, nyata. Bukan mimpi.
Ada dorongan kuat di dadanya sesuatu yang membuatnya ingin memastikan Nadia benar-benar ada di sini, bukan pergi meninggalkannya seperti wanita itu dulu. Ia mengusap pipi Nadia pelan, ibu jarinya menyapu bekas air mata yang sudah kering.
Nadia bergerak sedikit, mengerang pelan dalam tidurnya. Arya tersenyum tipis. Ada perasaan aneh yang muncul, seperti candu, membuatnya ingin terus berada dekat wanita ini. Ia menunduk, mencium dahi Nadia dengan singkat, hampir ragu, seolah takut sentuhan itu akan membangunkannya.
Namun Arya tidak berhenti. Ia kembali mengelus rambut Nadia, jemarinya menyusup di antara helaian hitam yang lembut. Sentuhan itu berulang, pelan, nyaris menenangkan bukan hanya untuk Nadia, tetapi juga untuk dirinya sendiri.
Gangguan kecil itu akhirnya membuat Nadia mengernyit. Alisnya berkerut, bibirnya mengerucut seakan tidak suka tidurnya diganggu. Ia menggeser wajahnya sedikit, berusaha mencari posisi yang lebih nyaman.
Arya menyadari perubahan itu. Dengan suara rendah, nyaris berbisik, ia berkata, “Sudah bangun?”
Mata Nadia langsung terpejam lebih erat, refleks. Tubuhnya beringsut, berusaha mengubah posisi, menjauh dari sumber gangguan yang ia kenali bahkan sebelum membuka mata. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tahu sentuhan itu, ia tahu suara itu.
Arya terkekeh pelan melihat reaksinya. “Jangan pura-pura tidur.”
Nadia akhirnya membuka mata, menatap langit-langit kamar sebelum berani menoleh. Begitu pandangannya bertemu dengan wajah Arya yang berada terlalu dekat, ia langsung menegakkan badan, bersandar di kepala ranjang dengan waspada. Selimut ditariknya lebih rapat, seolah itu bisa menjadi tameng.
“Apa yang anda lakukan di sini?” tanyanya ketus, suaranya masih serak karena baru bangun.
Arya menyandarkan siku di lututnya, menatap Nadia dengan senyum tipis yang sulit diartikan. “Mengunjungi istriku,” jawabnya santai, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Wajah Nadia langsung berubah kesal. “Ini bukan rumah anda. Dan saya tidak mengundang anda.”
“Sejak kapan aku perlu undangan untuk menemui istriku sendiri?” Arya mengangkat alis, jelas menikmati ekspresi kesal Nadia.
Nadia berdecak. “Anda selalu seenaknya saja.”
“Bukankah sejak awal aku memang begitu?” Arya mendekat sedikit, cukup untuk membuat Nadia refleks mundur. “Atau kamu berharap aku berubah?”
Nadia menelan ludah, menjaga jarak sejauh mungkin di ranjang sempit itu. “Pergi. Saya lelah.”
“Lelah menangis?” Arya menatap matanya tajam.
Pertanyaan itu membuat Nadia terdiam sejenak. Ia membuang muka, menolak menjawab. Sikap itu justru membuat Arya semakin yakin dengan dugaannya.
“Kenapa menangis?” tanya Arya lagi, kali ini nadanya lebih rendah, lebih pelan.
“Bukan urusan anda,” sahut Nadia cepat, meski suaranya sedikit bergetar.
Arya tersenyum miring. “Istriku menangis, tentu itu urusanku.”
“Berhenti menyebutku begitu,” bentak Nadia, matanya berkilat marah. “Kita sama-sama tahu ini hanya di atas kertas.”
Arya menghela napas pendek. “Kamu selalu pandai membuatku kesal.”
“Dan anda selalu pandai membuat orang lain menderita,” balas Nadia tanpa ragu.
Ada keheningan singkat di antara mereka. Hujan di luar kembali terdengar jelas, seolah mengisi ruang yang tercipta dari pertukaran kata-kata tajam itu.
Arya akhirnya tertawa kecil. “Aku ke sini bukan untuk bertengkar.”
“Lalu untuk apa?” Nadia menatapnya curiga.
Arya mendekat lagi, kali ini tidak terlalu agresif. Ia duduk lebih nyaman di sisi ranjang, menjaga jarak tipis. “Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja.”
Nadia mendengus. “Anda datang tengah malam hanya untuk itu?”
“Ya,” jawab Arya tanpa ragu.
Kejujuran singkat itu membuat Nadia sedikit terkejut. Ia mengerjap, mencoba membaca wajah Arya, mencari tanda kebohongan. Namun yang ia temukan hanyalah ekspresi yang sulit ia pahami campuran antara kesombongan, kelelahan, dan sesuatu yang lebih gelap.
“Apakah anda tidak punya tempat lain untuk dikunjungi?” sindir Nadia.
“Ada,” Arya mengangguk. “Tapi aku memilih ke sini.”
“Itu bukan keputusan yang bijak.”
“Aku tidak pernah terkenal bijak,” Arya tersenyum. “Kamu baru sadar?”
Nadia memalingkan wajah, berusaha mengabaikan kehadiran pria itu. Namun Arya tidak membiarkannya begitu saja. Ia kembali menggoda, mendekatkan wajahnya sedikit. “Kenapa kamu selalu menjauh dariku?”
“Karena anda berbahaya,” jawab Nadia jujur.
“Berbahaya bagaimana?”
“Anda tidak pernah tahu batas.”
Arya tertawa pelan. “Dan kamu selalu tahu cara memancingku.”
Nadia menoleh cepat. “Saya tidak memancing apa pun.”
“Benarkah?” Arya mengangkat alis. “Tatapanmu, sikapmu, bahkan caramu diam. Semua itu memancing.”
“Jangan mengada-ada,” Nadia semakin kesal.
Arya menikmati reaksi itu. Ia tahu, setiap kali Nadia marah, emosinya menjadi lebih hidup. “Kamu lucu saat marah.”
“Dan anda menyebalkan setiap saat.”
Arya terkekeh. Ia mengulurkan tangan, seakan ingin menyentuh lagi pipi Nadia. Namun Nadia segera menepis tangannya.
“Jangan sentuh saya,” katanya tegas.
Arya berhenti, tangannya menggantung di udara sejenak sebelum ia menariknya kembali. Senyumnya tidak hilang, justru menjadi lebih tipis. “Masih marah?”
“Selalu,” jawab Nadia.
“Bagus,” Arya bersandar sedikit ke belakang. “Setidaknya kamu jujur.”
Nadia mendengus. “Apa mau anda sebenarnya?”
Arya menatapnya dalam-dalam. “Aku hanya ingin kamu berhenti berpikir untuk pergi.”
Jantung Nadia berdegup lebih kencang. “Itu bukan keputusan anda.”
“Sayangnya, untuk sekarang, iya.”
“Anda tidak bisa memenjarakan saya selamanya,” Nadia menantang.
Arya menyeringai. “Aku tidak perlu memenjarakanmu jika kamu tetap di sini.”
“Dengan terpaksa?”
“Dengan pilihan,” koreksi Arya.
Nadia tertawa pahit. “Pilihan macam apa yang anda maksud?”
“Pilihan untuk bertahan,” jawab Arya pelan. “Setidaknya sampai kamu benar-benar mengenalku.”
“Sayangnya saya tidak ingin mengenal anda,” balas Nadia cepat.
Arya menghela napas. “Itu yang kamu pikirkan sekarang.”
Nadia menggigit bibirnya, frustrasi. “Anda selalu bicara seolah tahu segalanya.”
“Karena aku memang sering tahu,” jawab Arya santai.
Keheningan kembali menyelimuti kamar kecil itu. Lampu tidur memancarkan cahaya kuning lembut, menciptakan bayangan di wajah mereka. Nadia akhirnya menguap kecil, kelelahan kembali menyerangnya.
“Jika tidak ada hal penting,” katanya, “pergilah. Saya ingin tidur.”
Arya menatapnya beberapa detik, lalu berdiri. Nadia mengira pria itu akhirnya menyerah. Namun sebelum melangkah pergi, Arya berkata, “Tidurlah. Aku akan pergi setelah kamu tertidur lagi.”
“Itu tidak masuk akal.”
“Aku tidak meminta persetujuanmu.”
Nadia memutar mata, lalu berbaring kembali dengan punggung menghadap Arya. Ia menutup mata, mencoba mengabaikan kehadiran pria itu. Arya duduk kembali di kursi kecil di dekat ranjang, memperhatikannya dalam diam.
Beberapa menit berlalu. Napas Nadia kembali teratur, tanda ia mulai terlelap. Arya bangkit perlahan, mendekatkan diri sekali lagi. Ia menyelipkan selimut lebih rapi, lalu mengusap rambut Nadia dengan lembut.
“Keras kepala,” gumamnya. “Sama sepertiku.”
Arya menatap wajah Nadia yang tertidur, kali ini lebih tenang. Di dadanya, ada perasaan yang tidak ia sukai namun tidak bisa ia tolak—keinginan untuk menjaga, meski caranya selalu salah.
Ia akhirnya berbalik, melangkah keluar kamar dengan langkah pelan. Pintu tertutup tanpa suara. Di luar, Melia menyambutnya dengan tatapan bertanya, namun Arya hanya menggeleng pelan.
Hujan masih turun ketika Arya meninggalkan kos itu. Di dalam kamar, Nadia tidur tanpa tahu bahwa malam itu, untuk pertama
kalinya, Arya memilih pergi bukan karena marah melainkan karena takut, takut jika ia terlalu lama berada di sana, ia akan melakukan sesuatu yang tidak bisa ia tarik kembali.