"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toilet
"Mau ke mana, Lin?" tanya Faiz, yang sejak awal menyukai gadis itu.
Tapi Raline sama sekali tidak merespon. Malah melangkah lebih cepat menuruni anak tangga.
"Shit, dicuekin lo. Hahahah!" Edwin mengejek sembari tertawa.
"Udah biasa sih kalo dia dicuekin," sahut Irfan. "Waktu deketin si Susan juga gitu, kan? Dia emang sial banget kalo deketin cewek!"
"Hahaha!"
Irfan, Aris dan Edwin tertawa bersama. Kebiasaan mereka adalah mengejek Faiz yang memang selalu gagal mendekati perempuan.
Faiz mendengus, tapi tidak menanggapi ejekan teman-temannya karena sudah terbiasa.
Sementara itu, Kaisar yang sejak tadi diam begitu bertatap mata dengan Raline, tidak ikut mengejek Faiz. Tapi ia justru terdiam melamun, tawa teman-temannya bahkan tak benar-benar jelas terdengar di telinganya.
"Oi, Kai. Ngapain lo diem?" tanya Aris heran sambil menepuk pundaknya keras.
Kaisar tersadar dari lamunan. Ia berkedip pelan, lalu menoleh.
"Gue harus balik ke parkiran," katanya.
"Ngapain?"
Kaisar berpikir cepat, mencari alasan.
"Kunci motor kayaknya lupa gue lepas tadi. Gue baru inget."
Irfan mengernyit.
"Lah, tadi bukannya..."
"Bentaran doang," potong Kaisar cepat. "Kalian duluan aja ke kelas. Oke?"
Ia langsung berbalik sebelum mereka sempat bertanya lebih jauh.
Langkahnya cepat menuruni tangga. Niatnya adalah menyusul Raline.
Langkahnya semakin cepat. Hingga berubah menjadi lari kecil.
Sementara itu, Raline sudah sampai di depan toilet wanita.
Menghembuskan napas berkali-kali, berharap bisa menenangkan dirinya setelah bertemu dengan Kaisar kembali.
Namun...
"Raline!"
Suara itu menghentikannya.
Suara yang membuat dadanya langsung terasa sesak.
Ia berusaha mengabaikan pemuda itu. Membuka pintu toilet dan cepat-cepat masuk untuk menghindar.
Namun, tanpa di duga Kaisar justru ikut masuk dan mengunci pintu toilet di belakangnya.
Raline kaget karena Kaisar nekat melakukan sesuatu yang bisa membuat seisi sekolah berpikir negatif jika ada yang melihat mereka di dalam toilet yang sama.
Raline langsung mengeraskan wajahnya.
Tatapannya berubah sengit. Penuh kemarahan dan kebencian.
"Lo ngapain ikut masuk?" tanyanya. Nada suaranya tegas, meski tidak begitu kencang.
"Kalo ada yang tau lo masuk ke toilet cewek sama gue, itu bisa berabe, tau!"
"Gue cuma pengen ngomong sama lo, Lin," jawab Kaisar.
"Gue gak ada waktu buat ngomong sama lo!"
Raline meraih gagang pintu, berusaha membuka kuncinya.
Tapi Kaisar justru menarik lengannya. Mendorong pelan tubuh Raline hingga menempel pada dinding toilet. Kemudian ia menekan kedua lengan Raline di atas kepalanya, mengunci posisi agar gadis itu tidak pergi darinya.
Raline terkejut dalam posisi itu. Matanya membulat menatap Kaisar dengan penuh keterkejutan.
Kaisar mendekat selangkah, membuat Raline menekan belakang kepalanya sendiri ke dinding untuk bisa menjauh.
Wajahnya mereka terlalu dekat. Raline buru-buru memalingkan muka, perasaannya campur aduk.
"Lin, gue cuma mau ngomong sebentar," ucap Kaisar pelan. "Tolong dengerin gue."
"Ngomong soal apa?" tanya Raline, terdengar gugup. Wajahnya tetap berpaling.
"Gue gak mau ngomong lagi sama lo."
"Gue mau ngomongin sesuatu," jawab Kaisar.
"Udah gak ada yang perlu kita omongin. Gue sama lo udah selesai tadi malam."
"Selesai apanya?" tanya Kaisar. "Antara kita masih belum ada penyelesaian apa-apa. Makanya, gue pengen ngomong, biar semuanya cepat selesai."
Jantung Raline berdegup kencang, dadanya naik turun. Ia akhirnya menatap Kaisar yang kini berdiri di hadapannya dengan jarak hanya beberapa senti saja.
Sejenak keduanya saling menatap dalam diam. Perasaan mereka menjadi tak karuan.
"Yaudah, mau lo apa?" akhirnya Raline bertanya.
"Lepasin tangan gue. Gue harus buru-buru keluar. Takut ada orang yang mau masuk toilet."
Kaisar merasa sedikit lega.
Ia pun melepaskan tangan Raline dari kunciannya.
Raline langsung melipat tangannya dan kembali memalingkan muka.
"Gue mau minta alamat rumah lo," kata Kaisar.
"Buat?"
"Nanti malam gue dan nyokap mau datang," jawab Kaisar. "Nyokap mau ngobrol lebih santai sama ortu lo."
Raline membuang napas kasar. Ia lalu kembali menatap Kaisar, tapi kali ini dengan tatapan lelah.
"Udahlah, Kai. Jangan usik keluarga gue. Kita udah ikhlas kok dengan keputusan lo. Bokap gue udah janji gak bakal nuntut lo, atas permintaan gue. Tapi sebagai gantinya, gue pengen lo gak usah ganggu hidup kita. Biar kita urus ini dengan cara kita. Mungkin gue juga bakal keluar dari sekolah saat perut gue mulai gede."
Kaisar menatap wajah gadis itu sembari mendengarkan penuturannya. Terlihat sekali wajah itu lelah dan tak memiliki harapan lagi padanya.
"Gue bakal balik ke kampung dan tinggal di sana," lanjutnya. "Intinya, gue bakal bawa masalah gue ke tempat yang jauh. Supaya ortu gue gak kena masalah di kota ini. Itu aja."
Kaisar tertegun. "Maksudnya... lo bakal tinggal di kampung sendirian?"
Raline mengangguk. "Iya. Gue pengen mereka tetap di sini, jalani hidup sebaik mungkin. Tanpa ada bisik-bisik tetangga tentang kehamilan gue."
Kaisar menelan ludah.
Ia sadar, Raline berkorban demi orang tuanya, bahkan mungkin berkorban untuk dirinya juga, agar nama baik dan masa depannya tidak hancur karena kehamilannya.
"Gue bakal nikahin lo," ucapnya, akhirnya.
Raline menatapnya datar. "Gue udah gak butuh, Kai," jawabnya. "Dari pertama lo nolak gue aja, itu udah bikin gue sadar kalo lo gak akan pernah cocok jadi suami gue. Apalagi jadi ayah dari anak yang gue kandung."
"Gue tau, gue salah karena udah nolak lo. Udah nyuruh lo buat aborsi," sahut Kaisar cepat. "Tapi gue gak mau lepas tanggung jawab. Seenggaknya kalo gue nikahin lo, kita bisa hidup sama-sama sampai anak itu lahir."
Raline memijat keningnya, terlihat pusing dengan pembahasan ini.
"Apa yang bikin lo mendadak mau nikahin gue?" tanya Raline. "Padahal jelas-jelas lo nolak gue, bahkan nyuruh gue aborsi."
Kaisar diam sebentar, mengambil napas dan membuangnya. "Nyokap gue yang minta," jawabnya jujur. "Dia gak mau kalo gue lepas tanggung jawab. Dia takut nanti ortu lo nuntut gue, dan gue masuk penjara. Jadi, nikahin lo adalah jalan terbaik buat tanggung jawab."
Raline menatapnya dalam.
Kaisar.
Pemuda yang dikenal tegas di sekolah, rupanya adalah pemuda yang penurut. Ia selalu menuruti apa yang ibunya katakan, sekalipun itu tidak ia sukai.
Ia menghela napas pelan. Sedikit mendorong tubuh Kaisar menjauh darinya.
"Nanti gue kasih alamat rumah gue di kelas," ucapnya. "Lo bisa datang ke rumah gue. Gue anggap ini usaha terakhir lo, meski gue tau ini bukan niat yang murni dari lo. Apapun jadinya nanti, gue harap itu yang terbaik buat kita."
Setelah itu, Raline berjalan menuju pintu. Ia membuka kunci, menyembulkan kepala untuk melihat situasi di luar.
Setelah memastikan aman, ia cepat-cepat keluar dan setengah berlari meninggalkan toilet.
Kaisar masih di dalam toilet. Tapi tak lama setelah Raline pergi, ia juga segera keluar sebelum ada siapapun datang dan melihatnya di toilet wanita.
*****
Saat jam pelajaran tengah berlangsung, Raline yang duduk di bangku paling belakang melirik ke arah Kaisar yang duduk di barisan tengah, di sisi kanannya.
Jaraknya tidak begitu jauh, tapi cukup membuatnya kesulitan untuk melempar sobekan kertas ke arahnya. Apalagi, saat ini guru tengah mengawasi mereka di depan kelas.
Raline menulis di bukunya dengan satu tangan mengepal, menunggu momen yang pas untuk melempar kertas itu pada Kaisar.
Kaisar sendiri sesekali menoleh ke arah Raline, menunggu gadis itu memberikan alamat rumahnya.
Saat tak sengaja tatapan mereka bertemu kembali, Kaisar sadar Raline akan memberikan sesuatu padanya.
Ia berpikir beberapa saat. Hingga akhirnya ia bangkit dari duduk dan menghampiri bangku Raline.
"Lo bawa stabilo?" tanyanya. "Gue pinjam bentar. Gue kelupaan bawa."
Raline melirik sejenak ke arah guru.
Guru wanita itu tengah memperhatikan mereka sekarang.
Cepat-cepat Raline mengangguk pada Kaisar.
"Gue bawa," jawabnya. "Bentar."
Raline merogoh kolong mejanya, mengambil sebuah stabilo warna hijau dan memasukkan kertas di genggamannya tadi ke dalam genggaman tangan yang satunya bersama dengan stabilo.
"Nih," ucapnya.
Kaisar menerimanya. "Thanks. Nanti gue balikin."
Raline mengangguk.
Kaisar kembali ke bangkunya dengan membawa stabilo serta kertas yang Raline berikan tanpa menimbulkan kecurigaan.
Ia kembali duduk di tempatnya.
Stabilo di letakkan di atas meja, sementara kedua tangannya masuk ke bawah meja dan membuka gulungan kertas yang Raline berikan.
Di secarik kertas itu tertulis alamat lengkap rumah Raline, sesuai janjinya tadi.
Kaisar menoleh pada Raline. Tapi Raline fokus ke depan meski sudut matanya melihat Kaisar tengah menatap ke arahnya.
Kaisar segera mengamankan alamat rumah gadis itu. Lalu ia kembali pada kesibukannya menulis di buku, sebelum jam istirahat tiba.
Bersambung...
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya