"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 : Terlalu Banyak Memberi Perhatian?
Bulir-bulir air menetes cukup keras, membasahi karpet merah tebal yang membentang hampir menutupi setiap sudut lantai kamar. Prabujangga menggendong istrinya, mendaratkannya tepat di tepi tempat tidur yang empuk.
"Sekarang, kamu akan mendengarkan saya," tegasnya, mengurung Kharisma dengan tangannya yang menampak di sisi-sisi tubuh perempuan itu.
Kharisma memberengut, sengaja mengalihkan pandangan untuk menghindari mata Prabujangga. "Aku kan memang selalu mendengarkan. Memangnya kapan aku tidak mendengarkan?" gerutunya pelan, menciptakan cemberut kecil di bibirnya yang mungil.
"Tapi kamu tidak benar-benar mendengarkan saya," balas Prabujangga, mendekatkan wajahnya hingga Kharisma terpaksa mundur. "Saya selalu memaksa kamu mendengarkan karena kamu lebih memilih untuk merajuk seperti anak kecil."
"Bagaimana tidak merajuk?" Kharisma menjawab sengit. "Mas saja tidak mau menjelaskan apa-apa dan kerjaannya menuntut saja. Mas kira aku tidak lelah?"
Nada bicara Kharisma naik satu oktaf.
"Pertama-tama Mas datang ke rumah untuk melamarku, lalu menikahiku dengan pesta mewah itu. Tapi sampai di sini? Mas kejam sekali mengatakan bahwa hanya ingin memanfaatkan aku, menginginkan bayi, menginginkan anak laki-laki." Kharisma melototkan matanya kesal, dadanya naik turun dengan ritme yang cepat.
"Lalu kemarin itu, Mas Prabu mengancam akan menikah lagi kalau aku tidak hamil dalam waktu satu bulan ini. Kenapa Mas tidak lakukan kalau begitu? Bukankah aku sudah mengizinkan Mas untuk menikah lagi?" imbuhnya, meluapkan segala kekesalan yang mengganjal di hati. "Mas pasti ingin agar aku seperti Kak Ivana, ya? Mas ingin menendang aku seperti itu juga?"
Prabujangga memperhatikan saja saat istrinya itu mulai mengomel. Dia dengan santai membuka tiga kancing teratas kemejanya, seakan-akan gerutuan Kharisma hanyalah angin lalu yang tidak perlu dianggap serius.
"Masih ingin melanjutkan?" Alih-alih menjawab, Prabujangga justru menantang Kharisma untuk melanjutkan protesnya. "Kebetulan sekali saya memiliki cukup banyak waktu untuk berdebat dengan kamu di sini," ucapnya, dengan nada sarkas dingin yang membuat Kharisma langsung menelan kalimatnya bulat-bulat.
"Saya sudah menjelaskan bahwa ini memang hal yang harus kamu hadapi sebagai istri saya. Bahkan jika kamu menikah dengan pria lain pun, kamu tetap harus menghasilkan anak untuk mereka," ujarnya, semakin mendekatkan wajahnya dengan niat memperingati. "Karena itu memang sudah menjadi tugas seorang wanita—"
"Lalu tugas pria apa? Menuntut dan menganggap semuanya bisa selesai dengan uang?" pungkas Kharisma tajam, ikut-ikutan memajukkan wajahnya hingga hidungnya nyaris menyentuh hidung Prabujangga. "Aku sudah lelah sekali berdebat dengan Mas Prabu, aku mau tidur."
Tapi tepat saat Kharisma hendak menarik selimut dan merebahkan diri, mengabaikan tubuhnya yang hanya terlilit handuk, dengan gerakan cepat Prabujangga mencegahnya. Lengan kokohnya lagi-lagi menarik pinggang Kharisma.
"Tidak ada tidur sebelum masalah ini selesai," tegasnya, tanpa menerima bantahan. "Saya tidak ingin tidur saya terganggu lagi hanya karena masalah seperti ini."
"Mas Prabu!" Kharisma meronta-ronta, merasa sesak saat tarikan itu membuat wajahnya menubruk dada padat Prabujangga.
Tangan Prabujangga menahan belakang kepala Kharisma, sementara lengannya yang lain berada di pinggang perempuan itu seperti ular yang melilit erat.
"Kamu terlalu banyak berpikir akhir-akhir ini, makannya berubah menjadi begitu menyebalkan." Suara rendah Prabujangga bergetar tepat di telinga Kharisma.
"Bukan aku yang menyebalkan! Tapi Mas!" ronta Kharisma, memukul-mukul dada Prabujangga dengan kepalan-kepalan kecilnya.
Prabujangga dengan sigap menangkap tangan Kharisma yang terus memukul-mukul dadanya, decakan kekesalan lolos dari bibirnya.
"Baiklah, baiklah, saya yang menyebalkan," akuinya dengan enggan. "Berhenti memukul. Itu tidak akan membuat saya melepaskan kamu."
Prabujangga sedikit memundurkan wajahnya, mencari-cari ekspresi kekesalan di wajah sang istri. "Kamu hanya cemburu, makannya seperti ini."
Kharisma mendelik tak suka. "Cemburu? Aku sama sekali tidak cemburu," gerutunya. "Lagipula untuk apa cemburu?"
"Lalu kalau tidak cemburu, kenapa seperti ini?" Prabujangga menghela napas lelah, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. "Tadi tiba-tiba menangis di Mall, sengaja mempermalukan saya?"
Untuk itu, Kharisma terdiam. Kenapa Prabujangga senang sekali mengungkit-ungkit?
"Sepertinya masalahnya ada pada perkataan saya waktu itu." Prabujangga mengukur reaksi Kharisma, mencari pembenaran apakah benar itu yang menjadi sumber masalah. "Saat saya mengatakan bahwa saya akan menggunakan wanita lain untuk tujuan saya ini."
Kharisma menunduk, bibirnya sedikit mengerucut menghindari Prabujangga.
"Saya tidak berniat berbohong. Saya benar-benar akan menggunakan wanita lain jika kamu tidak bisa memberikan saya keturunan secepatnya," Prabujangga menyatakan dengan tegas, namun sorot matanya sedikit melunak. "Namun saya mengatakan hal seperti itu kemarin karena saya merasa terdesak. Saya belum mengetahui apa jenis kelamin anak Indra."
"Jadi tadi Mas senang karena bayi itu jenis kelaminnya perempuan?" Kharisma bertanya tanpa menoleh, sungguh tak mau menatap Prabujangga.
"Tentu saja saya senang." Pengakuan Prabujangga datang tanpa sedikitpun keraguan. "Saya senang karena bayi itu bukan laki-laki, setidaknya sekarang saya bisa sedikit—"
"Tapi bagaimana jika nanti aku hamil tapi mengandung anak perempuan juga?"
Hening.
Diamnya Prabujangga membuat Kharisma tertawa getir. Tubuhnya sedikit melemas, pasrah akan nasibnya.
Prabujangga juga pasti akan melakukan hal yang sama jika ia tidak bisa memberikan apa yang laki-laki itu mau. Ia pasti ditentang seperti Ivana yang menyedihkan.
"Mas Prabu tidak menjawab..." gumamnya lirih, kepalanya bersandar tanpa tenaga di dada Prabujangga.
Bayang-bayang Ivana yang berlutut di kaki Indra membuat Kharisma ingin menjerit dalam hati. Melihat Ivana yang berjuang menahan kaki suaminya, terseret di lantai dengan perut membesar membuat Kharisma membayangkan. Bagaimana jika itu adalah ia dan juga Prabujangga di masa depan?
"Kamu butuh istirahat."
Kharisma sangat membenci saat Prabujangga mengalihkan topik pembicaraan. Laki-laki itu menuntut, namun mundur saat tidak bisa menangani keadaan.
Prabujangga menarik tubuh Kharisma lebih dekat, seolah-olah mencoba untuk merekatkan tubuhnya dengan perempuan itu. Tangannya tetap tak mengendur di pinggang Kharisma, sementara tangannya yang lain mulai menyusuri surai basah sang istri.
"Saya akan menemani kamu untuk bertemu dengan ayah dan ibumu besok."
...***...
"Papa tidak melarang jika kamu ingin membawa istrimu berkunjung ke rumah orang tuanya."
Pada balkon tinggi rumah besar Wimana, tepat di sayap bagian barat, lagi-lagi Batra dan Prabujangga terlibat dalam ketegangan malam yang terasa kian dingin dan mencekam.
Prabujangga tidak datang untuk meminta izin, tapi dia hanya memastikan apakah keputusannya tepat untuk membawa sang istri berkunjung ke keluarga asalnya. Itulah mengapa ia berakhir di sini, menemui sang ayah.
"Tapi apa kamu tidak merasa bahwa perempuan itu cukup banyak mempengaruhimu, Prabu?" tutur Batra, dengan suara tenang yang sama sekali tidak menciptakan kenyamanan. "Pada awal-awal pernikahan Papa rasa kamu banyak memegang kendali. Tapi semakin lama..." Dia perlahan-lahan memutar tubuh menghadap putranya. "Justru kamu yang terlihat seperti dikendalikan."
Dikendalikan. Satu kata itu membuat Prabujangga ingin menyembur tawa.
"Tidak ada yang bisa mengendalikan saya kecuali diri saya sendiri," balasnya tenang, jelas tidak ingin buang-buang energi. "Saya hanya butuh bantuan untuk mengendalikan perempuan itu yang akhir-akhir ini banyak menyusahkan saya."
Batra terkekeh, tawa rendah bergemuruh di dadanya. "Dia terlihat menyusahkan karena kamu memberikan banyak perhatian, Prabu," ujarnya santai. "Wanita tidak akan rewel jika diacuhkan."
"Lihat saja Mama kamu." Batra mengendikkan dagu ke arah kamarnya yang berada tepat di seberang. Tempat Nada berada. "Sejak dulu Papa tidak pernah memperdulikan ocehannya. Karena itu dia menganggap bahwa protes pada Papa tidak akan ada gunanya. Hingga saat ini dia berhenti mengoceh pada Papa."
Prabujangga mengerutkan keningnya, berusaha mencerna ucapan sang ayah yang entah mengapa terdengar masuk akal.
Selama ini ibunya memang jarang mengoceh tidak penting pada ayahnya, kecuali jika benar-benar kesal. Itupun Batra tidak akan mendengarkan dan memilih untuk melenggang pergi entah ke taman atau ke ke balkon untuk sekedar menyesap cerutunya.
"Dengarkan ucapan Papa, Prabu."
Prabujangga kembali menatap ayahnya.
"Papa tidak melarang kamu untuk membawa perempuan itu berkunjung ke rumah orang tuanya. Hanya pikiran saja, bagaimana jika dia menggunakan kesempatan ini untuk mengadu dan merusak segalanya?" Batra memiringkan kepala, senyum tipis terukir di wajahnya. Senyum yang entah mengapa terlihat begitu jauh dari ketulusan.
"Hubungan persahabatan Papa, kerja kerasmu untuk mendapatkan seorang pewaris, semuanya akan hancur jika istrimu itu membuka mulut," imbuhnya, kini melangkah mendekati Prabujangga dan meletakkan satu tangannya di pundak laki-laki itu. "Berhentilah memberikan perhatian-perhatian yang berlebihan. Itu adalah kunci utamanya."
Prabujangga terdiam. Matanya yang tajam menatap tangan sang ayah yang bertengger di pundaknya. Pikirannya terpacu, memikirkan ulang apakah benar perhatiannya yang tanpa sengaja ia berikan membuat Kharisma seperti ini.
Bersambung...