Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Belas — Lyno dan Arsya Telah Bertemu Kembali.
Selamat membaca cerita baruku, semoga kalian suka yaa
Seorang pemuda, masih sangat muda. Memegang pipa besi di tangannya dengan posisi siaga. Bukan berdiri patah atau bukan bergerak kaku. Ia duduk setengah bersandar—nafasnya terlihat berat namun teratur.
Jay dan Niki ikut mencondongkan tubuh, mengamati lebih jelas dari celah tangga.
Di lantai bawah, lima orang terlihat berkumpul di dalam ruang gudang yang remang. Salah satu dari mereka sedang duduk bersila, punggungnya membungkuk lelah.
Niki berbisik pelan, “Mereka manusia. Kanihu nggak mungkin duduk bersila, kan?” nada suaranya sedikit lebih ringan. Sedikit, namun tetap waspada.
Arsya merasakan sesuatu bergetar di dalam dadanya. Bukan takut bukan rasa cemas. Melainkan perasaan yang sulit dijelaskan.
Tatapannya kembali ke pemuda dengan pipa besi itu. Ada sesuatu yang familiar. Cara ia memegang senjata, cara ia berdiri menjaga pintu. Cara rahangnya mengeras seperti menahan beban yang lebih berat dari usianya. Tanpa menunggu lebih lama, Arsya langsung melangkah menuruni tangga dengan tongkat baseballnya yang tergenggam erat.
Langkahnya pelan, namun tegas. Jay langsung bergerak menyusul di belakangnya. Niki mengikuti, tetap menjaga jarak dan sudut pandang.
Di bawah, Regan yang pertama menyadari bayangan di tangga. Ia langsung berdiri. “Lyno—” bisik nya tegang. Pemuda dengan pipa besi itu reflek bangkit, memutar tubuhnya cepat ke arah tangga. Pipa terangkat, sorot matanya tajam, siap menyerang.
Arsya berhenti di anak tangga terakhir. Cahaya tipis dari jendela menyentuh wajahnya. Dan untuk beberapa detik— waktu terasa lambat. Tatapan mereka bertemu, pipa besi di tangan Lyno sedikit bergetar.
Tubuh Lyno terasa kaku. Pipa besi di tangannya perlahan turun. Ia menatap wajah di depannya seolah tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Debu, keringat, dan bayangan lelah memang mengubah banyak hal… tapi mata itu, ia mengenalnya.
Dan Arsya langsung tahu, itu adiknya. Adik kecilnya selamat. Beban yang selama ini menekan dadanya seakan runtuh seketika. Nafas yang sejak hari pertama kekacauan terasa berat kini terasa lebih ringan.
Tanpa berpikir panjang, Arsya langsung berlari dua langkah terakhir. Ia menabrakan dirinya ke tubuh pemuda itu, memeluknya erat. “Uhh… Lyno! Akhirnya, kita bertemu kembali!” pekiknya tertahan, suara nya bergetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
Lyno masih terpaku beberapa detik. Seolah otaknya perlu waktu untuk menerima bahwa ini nyata. “Kak..” suaranya serak. Tangannya yang tadi memegang pipa kini perlahan naik, membalas pelukan itu.
Pelukannya kuat, terlalu kuat untuk ukuran pertemuan biasa–seolah takut jika dilepas, sosok itu akan menghilang lagi.
“Kakak beneran…?” bisiknya pelan, hampir tak terdengar. Arsya mengangguk di bahunya. “Aku nyari kamu… aku nggak berhenti nyari kamu..”
Regan dan tiga orang lainnya hanya terdiam, menyaksikan momen itu. Jay dan Niki berhenti beberapa langkah di belakang. Jay menghela nafas pelan—lega yang tak ia sadari ia simpan. Niki menyeringai tipis. “Jadi ini misi besarnya,” gumamnya pelan.
Lyno akhirnya sedikit menjauh, menatap wajah kakaknya. Matanya memerah, tapi ia menahannya. “Kakak selamat…” katanya, masih seperti tak percaya.
Arsya mengusap pipinya cepat, mencoba tersenyum di tengah tangisnya. “Kamu juga.”
Baru saja pelukan itu terlepas—suara itu datang, samar. Namun jelas. Goresan. Seperti kuku panjang yang diseret perlahan di atas permukaan logam.
Srrrkkk…
Semua tubuh membeku. Suara itu berasal dari pintu besi besar di lantai satu. Jari panjang, menggesek dan menguji.
Jay dan Niki langsung bereaksi. Jay mengangkat tangannya cepat, memberi isyarat menjauh dari pintu depan. Niki sudah bergerak lebih dulu, menarik salah satu rak menjauh dari jalur keluar agar tidak menjadi penghalang.
“Bukan satu,” bisik Jay rendah. “Dengar polanya.”
Benar.
Goresan itu tidak sendirian, ada ketukan kecil serta gesekan lain. Regan menelan ludah. “Mereka tahu.” kini mereka bukan lagi lima, bukan lagi tiga, mereka delapan orang. Dan delapan detak jantung berarti delapan aroma manusia yang lebih mudah tercium.
Jay segera mengambil alih kendali. “Kita keluar lewat atap. Sekarang.”
Lyno langsung bergerak tanpa membantah. Tiga orang lainnya mengikuti, wajah mereka pucat namun patuh. Arsya menggenggam tangan kanan adiknya erat. Sangat erat. Seolah jika ia melepaskan lagi, dunia akan memisahkan mereka untuk kedua kalinya.
“Pelan. Jangan lari,” bisik Jay saat mereka menaiki tangga lantai tiga.
Di bawah– pintu logam bergetar.
Duk!
Satu dorongan. Lalu satu lagi, namun belum cukup kuat untuk menjebol nya. Niki berada di barisan paling belakang, memastikan tak ada yang tertinggal. Saat mereka tiba di depan pintu atap— Jay langsung mencoba gagangnya.
Terkunci.
Dari luar.
Suara gesekan di bawah kini berubah menjadi benturan yang lebih keras. Duk! Duk!
Waktu mereka sangat sedikit. Jay menoleh cepat. “Ada yang punya benda keras?” Lyno mengangkat pipa besinya. “Bagus. Hantam engsel nya. Bukan tengah pintu.” benturan di bawah semakin brutal. Logam mulai melengking.
Arsya menarik Lyno sedikit ke belakang, melindunginya dengan tubuhnya sendiri, meski ia tahu adiknya kini bukan lagi anak kecil. “Cepat…” bisiknya.
Karena jika pintu bawah jebol terlebih dahulu, gudang ini akan berubah menjadi kuburan mereka.
BRAK!
Pintu logam di lantai bawah akhirnya jebol. Suara besi terpelintir menggema ke seluruh gudang. Kanihu liar langsung menerobos masuk—bergerak patah-patah namun cepat, kepala mereka terangkat tinggi, hidung mengendus kasar udara yang masih hangat oleh delapan manusia yang baru saja melintas.
Mereka menyebar. Ke kanan, ke kiri, menggesek lantai, menabrak rak, menjatuhkan kardus kososng. Mencari dan menghirup kembali.
Sementara itu di lantai tiga—”sekali lagi!” teriak Jay tertahan. Lyno menghantam engsel pintu atap dengan pipa besinya.
KRAK!
Engsel atas retak. Bentyran terakhir.
BRAK!
Pintu atap terbuka tepat saat di bawah sana terdengar suara jeritan Kanihu yang menemukan jejak tangga. Waktu mereka habis. “Naik!” perintah Jay.
Satu persatu mereka menerobos keluar ke atap. Angin langsung menyambut, lebih dingin, lebih bebas. Namun belum aman. Niki terakhir keluar, menarik pintu dengan keras lalu menahannya sejenak agar tidak terbuka lebar.
Dari dalam, terdengar derap langkah patah yang menaiki tangga dengan cepat. “Mereka naik!” bisik Regan panik. Jay segera mengarahkan. “Formasi! Jangan berkerumun!”
Arsya masih menggenggam tangan Lynoo erat, menariknya menjauh dari akses pintu, bisa merasakan jantung adiknya berdetak cepat— seirama dengan miliknya.
Di bawah pintu atap—sebuah tangan panjang muncul dari celah. Kuku hitamnya mencakar permukaan beton. Mata pucat mengintip dari kegelapan tangga. Lyno mengangkat pipanya, reflek. Namun Jay menariknya sedikit. “Jangan berhenti. Lari ke atap berikutnya!”
Atap gudang lebih rendah dari bangunan di sebelahnya dan jaraknya tidak terlalu jauh, namun delapan orang berarti delapan resiko jatuh. Dibelakang mereka, pintu atap terhantam dari dalam.
DUK!
Retakan mulai muncul di sisi engsel yang sudah rusak. Angin semakin kencang, kanihu pertama berhasil mendorong tubuhnya keluar separuh. Arsya berbalik sebentar. Matanya bertemu dengan mata makhluk itu. Kosong dan lapar. Serta penuh insting.
“Lyno! Lompat!” serunya.
Terima kasih sudah membaca, lanjut jam 16.00pm yaa