sebuah keserakahan manusia yang akan membawa petaka dari keluarganya, untungnya Laluna si gadis cantik yang perkasa ini luput dari kekejaman serta keserakahan orangtuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengintai
Luna terus berjalan sambil mengendap endap waspada, di lihatnya empat laki laki duduk di sisi kanan dan kiri pintu, di sebuah kursi kayu panjang yang telah usang, dua di kanan sedang ngobrol sementara yang satu main game yang sisi kiri dua duanya lagi main catur, kelihatannya mereka tak begitu menyadari atas kehadiran Luna, Luna kali ini tak mau licik dengan menjatuhkan keempat pria itu dengan sembunyi, padahal bisa saja itu dilakukannya.
"Hai Abang Abang sekalian, boleh bergabung?" tanya Luna sambil bertolak pinggang dengan kaki jenjangnya yang berdiri tegak tiada anggun anggunnya sebagai seorang gadis, meski usia sudah dua puluh lima tahun tetapi penampilannya yang memang sangat proporsional dengan tubuh padat singset nya, dia kelihatan masih seperti remaja belasan tahun.
Keempatnya menoleh kearah Laluna , dan terperangah melihat wanita di depannya yang cantik jelita bak ksatria Xena the warrior princess dari Yunani, rambut panjangnya yang hitam alami tanpa pernah terkena polesan pewarna rambut di kuncir asal terlihat leher putih jenjangnya dan wajahnya sempurna, dengan penampilan yang sangat sederhana tanpa polesan malah membuat semua lelaki di depannya terpesona.
Yang mereka jumpai selama ini adalah para LC pinggiran LC murahan yang berwajah menor dengan baju ketat dan kaki yang pecah pecah, kadang antara bedak dan kulit wajah tak bisa menyatu hingga membuat mukanya belang , karena hanya itu pergaulan mereka, pergaulan mu menunjukkan siapa dirimu.
"Wah ada mainan baru nih, silahkan neng kami siap melayani neng kok, apa pun yang neng minta asal neng juga bisa menyenangkan kami". Si jangkung dengan gigi over bite mewakili kawan kawannya.
"Kalau aku mau seperti ini, kalian juga izinkan?" tanya Laluna yang tiba tiba sudah mengangkat salah satu dari mereka dengan cara mencekik leher laki laki malang itu dan mengangkatnya ke udara, si preman malang yang tak menyangka atas tindakan Laluna begitu terkejut, dia hampir kehabisan nafas kemudian Laluna melempar pria itu kearah ketiga kawannya yang berdiri berjajar hingga tubuhnya menimpa ketiganya, ketiga preman itu melongo tak percaya.
"Oh ya kenalkan namaku Laluna Khairunisa, dan aku yang diancam oleh pimpinan kalian dan jika kali ini kalian masih mau hidup tunjukkan dimana pimpinan kalian menyekap Dandy sahabatku". ucap Laluna lirih, tapi penuh ancaman.
Ketiga preman itu siap dengan senjata nya masing masing untuk menyerbu Luna, sementara si gadis perkasa hanya diam dengan posisi tangan dilipat didada tapi penuh waspada.
Serentak ketiganya menyerang dan dengan gerakan memutar ketiganya tumbang, sekali pukul tiga tempat , satu kena tendangan di selangkangan satu kena serudukan di dadanya dan satunya lagi kena tinju di kepalanya, ketikannya oleng ke belakang satu yang kena di kepala langsung pingsan yang kena tendangan di selangkangan berguling guling menahan sakit karena mungkin kedua telornya pecah dan yang terkena serudukan kepala Luna di dadanya dia hanya oleng sebentar dan kembali menyabetkan parangnya ke arah Luna, Luna menahan tangan yang memegang parang memelintirnya dan dengan meringis kesakitan parang terlepas dan terjatuh, Luna memegang lengannya kemudian membantingnya begitu saja, dengan serangan nya itu si pria terpelanting menabrak pintu dengan keras, si preman ke empat yang masih kesakitan terbaring tepat di depan pintu sambil mengerang menahan sakit tangannya yang mungkin juga sudah patah.
Dari dalam si Bondet yang setia menjaga Dandy terganggu dengan berisik nya para anak buah yang ada di luar, Bogel dengan marah membuka pintu, dan ketika pintu di buka dia hampir menginjak anak buahnya yang berada tepat di depan pintu dan "haii kamu yang bernama bondet?, ternyata hanya segitu kemampuan anak buahmu ya, lihat". Ejek Laluna sambil menunjuk para korban yang sudah tergeletak.
"siapa kamu?" ternyata si Bondet juga belum tahu dan mengenali wajah Laluna.
"Tadi sudah telephon ternyata belum kenal juga ya, kenalkan namaku Laluna,orang yang selama ini menjadi hantu bagi bosmu, aku sudah tahu sekarang tanpa kamu katakan kamu suruhan Alina kan?" tebak Luna, karena selama ini yang selalu menjadikan Laluna saingan adalah dia, Alina.
"Darimana kamu tahu itu bosku". Tanya si Bogel.
"Karena aku tidak bodoh". Jawab Laluna nggak nyambung dengan pertanyaan lawan.
"Sekarang lepaskan Dandy atau aku yang melepaskan sendiri tentunya dengan memampuskan mu lebih dulu". Ancam Laluna sambil melotot kan matanya.
Bogel tidak menjawab tapi tiba tiba mengeluarkan pistol, entah itu pistol beneran apa hanya rakitan, tetapi tetap saja bahaya karena dalamnya ada peluru yang siap menembus daging para musuhnya.
Laluna dengan lirikan mata yang begitu tajam sekilas sudah tahu kemana arah peluru itu bakal melesat, dia sudah waspada meski hanya sekalian detik, dan 'dorrr' peluru melesat ke arah dada Laluna sebelah kiri, dengan sigap dia memiringkan dadanya ke belakang, peluru melesat ke arah tembok, sekali lagi 'dorr' melesat lagi kali ini sasarannya pelipis Laluna , Laluna melompat menghindari peluru kedua sambil menendang tangan Bogel yang sedang mengacungkan senjatanya, Bogel sungguh tak waspada sehingga tendangan Laluna tepat mengenai sasaran hingga pistol yang di pegang nya terlepas dengan lengan bogel yang seperti retak tulangnya karena kerasnya tendangan Laluna.
"Aku tak akan membunuhmu, karena aku bukan mafia dan aku manusia yang taat hukum, selamat menikmati kesakitan kalian dan laporkan pada bosmu bahwa misi kalian telah gagal". Ucap Luna sambil mengikat tangan Bogel dengan kabel charger hp, sementara dia melihat keluar ruangan keempat lelaki yang tadi mengeroyoknya sudah tidak ada lagi, entah itu melarikan diri atau mencari bala bantuan, Laluna tak perduli.
"Dan, lu baik baik aja kan? Takutnya kamu memakan nya". Laluna masih mengejek.
"Ya enggak lah gila, aku baik baik aja, dan perlu kamu tahu meski tampangku begini aku bukan botti, aku masih suka wanita". Jawab Dandy jengkel sambil melepas ikatan di tangan dan kakinya dan di bantu oleh Laluna.
"Ih udah di bantuin masih saja nyebelin". Ledek Laluna.
"Lu juga nyebelin". Jawab Dandy dan mereka akhirnya ribut, Laluna lari Dandy ketakutan ditangkap lagi oleh geng mereka tadi.
"Lunaaa tunggu, ih jahat deh kamu!" rengeknya dan itu membuat Laluna tertawa terbahak bahak Dandy mengejarnya dengan lari pontang panting, sambil ngos ngosan.
Sesampainya di depan minimarket dimana Laluna memarkir motornya, Dandy yang kelaparan dan kehausan di tambah capek yang tiada tara, mereka masuk mencari sesuatu untuk dimakan sebelum membayar Laluna melihat membawa pisau tajam dibalik jaketnya, pisau itu mengkilat sekilas Laluna tahu dengan sekali melihat, pasti akan ada hal bahaya lagi di depan matanya.
"Bayar Dandy, aku akan mengikuti orang itu". Bisik Laluna sambil menyerahkan beberapa lembar uang merah.
" Uangmu aku nggak perlu aku punya Qris". Jawab Dandy sambil mengembalikan uang pemberian Laluna, Laluna mengambil kembali uang tersebut dan sembarangan memasukkan ke saku celananya sambil terus waspada mengintai laki laki yang membawa senjata ternyata sedang mengikuti seorang wanita tua berhijab syar'i hitam.
@@&@@