persahabatan sederhana dari anak SMA ,yang mulai menumbuhkan benih cinta tapi ego masa muda mereka lebih tinggi dari pada rasa cintanya.ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak mungkin Untuk di utarakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Tentang Parkiran yang Mendung dan Meledaknya Gunung Es
Senin pagi ini langit Bandung tidak sedang ingin bersahabat. Awan hitam bergulung-gulung di atas sekolah, menciptakan suasana remang yang menekan dada. Kabar tentang apa yang terjadi di kafe malam minggu kemarin sudah menjadi rahasia umum. Di grup WhatsApp kelas, namaku dan Arkan disebut-sebut seperti dua gladiator yang sedang menunggu waktu untuk saling hantam.
Saya baru saja memarkir Si Kumbang saat mobil jemputan OSIS itu masuk ke area parkir. Arkan turun dari pintu kemudi, wajahnya tidak lagi memakai senyum panggung. Dia tampak berang, mungkin karena harga dirinya tercoreng akibat kata-kata saya di depan mikrofon tempo hari. Kayla turun dari pintu sebelah, wajahnya sembap, matanya lelah seperti orang yang tidak tidur semalaman.
"Bumi! Tunggu!" Arkan berteriak sambil membanting pintu mobil. Suaranya menggema di area parkir yang masih sepi.
Saya berhenti, tidak berbalik, hanya diam menunggu di samping motor tua saya. Arkan melangkah cepat, sepatunya beradu dengan aspal dengan bunyi yang keras.
"Maksud kamu apa di kafe kemarin, hah? Kamu mau bikin saya kelihatan jahat di depan semua orang?" Arkan mencengkeram kerah jaket denim saya. Nafasnya memburu, bau kopi mahalnya tercium sangat dekat.
"Saya tidak bikin kamu kelihatan jahat, Kan. Kamu sendiri yang melakukannya dengan piagam sampah itu," jawab saya tenang, meskipun jantung saya berdegup kencang.
"Bumi, Arkan, berhenti!" Kayla berlari menghampiri kami, mencoba melerai tangan Arkan. "Jangan di sini, nanti dilihat guru!"
"Biar saja dilihat guru, Kay! Si pengecut ini harus dikasih pelajaran!" Arkan semakin mempererat cengkeramannya. "Kamu pikir kamu siapa, Bumi? Cuma anak ingusan yang hobinya nongkrong di gudang tapi lagaknya kayak pahlawan. Kamu itu tidak level buat Kayla, paham?"
Saya tertawa kecil, tawa yang membuat Arkan semakin naik pitam. "Laki-laki yang beneran punya level tidak akan bicara soal level, Kan. Dia akan bicara soal rasa hormat. Sesuatu yang tidak kamu ajarkan di buku panduan madingmu itu."
Arkan mengangkat kepalannya. Di saat itulah, amarah yang selama ini saya simpan—tentang kursi yang digeser, tentang miniatur yang diinjak, tentang Kayla yang menjauh—meledak seketika. Saya tidak memukulnya, tapi saya menghempaskan tangannya dengan tenaga yang tidak pernah saya duga saya miliki.
"Cukup, Arkan!" suara saya menggelegar, mengalahkan suara gemuruh di langit. "Kamu boleh ambil mading, kamu boleh ambil kursi saya, kamu bahkan boleh ambil waktu Kayla. Tapi jangan pernah berani-berani menghina harga diri saya lagi!"
Saya menoleh ke arah Kayla yang berdiri mematung dengan air mata yang mengalir deras. "Dan kamu, Kay. Kamu lihat orang yang kamu banggakan ini? Ini yang kamu sebut masa depan yang gemilang? Orang yang cuma bisa mengancam saat egonya tersentuh?"
"Bumi, aku... aku gak bermaksud..." Kayla terisak.
"Sudahlah, Kay. Kamu sudah memilih. Dan pilihan kamu adalah orang yang barusan mau memukul sahabat masa kecilmu sendiri," kata saya. Saya mengambil tas saya dari jok motor. "Mulai hari ini, jangan pernah panggil nama saya lagi. Kita selesai. Bukan cuma sebagai teman diskusi, tapi sebagai orang yang saling kenal."
"Bumi, jangan!" Kayla mencoba memegang tangan saya, tapi saya menepisnya dengan dingin.
Guntur menggelegar sangat keras, dan detik itu juga hujan tumpah dari langit seperti air terjun. Kami bertiga berdiri di tengah parkiran, basah kuyup dalam hitungan detik. Arkan terdiam dengan wajah yang pucat pasi, Kayla menangis tersedu-sedu di bawah guyuran air, dan saya... saya merasa sangat hampa.
Nama saya Bumi. Dan hari ini, saya belajar bahwa puncak dari sebuah konflik bukan saat kepalan tangan mendarat di wajah, tapi saat kata-kata terakhir diucapkan dan tidak ada lagi jalan untuk kembali. Gunung es itu sudah pecah, dan serpihannya terlalu tajam untuk disatukan lagi.