NovelToon NovelToon
Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Putus Tunangan? Silakan, Duke!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Wanita Karir / Time Travel
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"

Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.

Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.

Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KABAR BURUK DARI IBUKOTA

Minggu kedua di provinsi utara berjalan jauh lebih baik dari yang diharapkan semula. Saluran irigasi hampir selesai sepenuhnya, tanaman yang cepat panen mulai tumbuh dengan subur, dan semangat rakyat terus meningkat dengan sangat nyata. Namun di tengah kemajuan yang sangat membahagiakan itu, sebuah surat datang dengan stempel darurat berwarna merah dari ibukota.

Cassian membuka surat itu di depan semua anggota tim dengan tangan yang sedikit gemetar. Wajahnya yang tadinya cerah dan penuh semangat perlahan berubah menjadi sangat suram.

"Apa isinya?" tanya Seraphina dengan sangat gelisah.

"Raja, ayah kita..." suara Cassian bergetar tidak terkendali. "Kondisinya memburuk sangat drastis. Dokter memperkirakan beliau tidak akan bertahan lebih dari beberapa hari lagi."

Hening sepenuhnya.

Victoria langsung menggenggam tangan Cassian dengan sangat erat. Seraphina menundukkan kepala dengan dalam, menahan air mata yang mulai mengalir.

"Kita harus segera pulang," ujar Cassian akhirnya dengan suara yang terdengar lelah.

"Tapi bagaimana dengan rakyat di sini?" tanya Elder Marcus yang ikut hadir dengan wajah khawatir. "Proyek irigasi belum selesai sepenuhnya."

Cassian berpikir sejenak dengan sangat berat. "Kita tinggalkan tim yang cukup untuk menyelesaikan proyek. Duke Harrison dan beberapa insinyur akan tetap di sini untuk memastikan semuanya selesai dengan baik. Catharina, bisakah kamu mengoordinasikan dari ibukota untuk pasokan logistik?"

"Tentu saja," jawab Catharina dengan sangat cepat dan mantap.

"Bagus. Kita berangkat pagi besok seawal mungkin."

***

Perjalanan pulang terasa jauh lebih berat dan menyakitkan dari perjalanan berangkat. Semua orang diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing yang gelap. Seraphina menyandarkan kepala di bahu Victoria, matanya sesekali basah oleh air mata. Cassian menatap keluar jendela kereta dengan tatapan yang sangat kosong dan kehilangan.

Catharina duduk di samping Lucian, tangannya digenggam dengan sangat erat.

"Kamu baik-baik saja?" bisik Lucian dengan penuh perhatian.

"Aku yang harusnya bertanya itu ke Cassian dan Seraphina," jawab Catharina dengan suara yang sangat pelan.

"Mereka akan baik-baik saja. Mereka punya satu sama lain. Dan mereka punya kita semua."

Catharina menyandarkan kepalanya ke bahu Lucian dengan lemas. Betapa beruntungnya dia punya pria seperti ini di sisinya, terutama di masa-masa yang sangat sulit seperti sekarang.

Saat kereta melintasi perbatasan ibukota, pemandangan yang menyambut mereka terasa sangat berbeda dan mengancam. Ada jauh lebih banyak penjaga dengan seragam Alexander yang berpatroli di jalan-jalan utama. Beberapa spanduk dengan warna keluarga Alexander tergantung di gedung-gedung penting di seluruh kota.

"Dia sudah bergerak sangat cepat," desis Lucian dengan nada yang sangat tidak suka.

"Kita harus bergerak lebih cepat lagi," balas Catharina dengan tekad.

***

Setibanya di istana, mereka langsung dibawa ke kamar Raja. Ruangan itu sunyi dan sangat mencekam, hanya terdengar deru napas Raja yang sangat berat dan terputus-putus menyakitkan. Beberapa dokter berdiri di sudut dengan wajah yang sangat pasrah.

Cassian langsung duduk di samping tempat tidur ayahnya, menggenggam tangan yang sudah sangat lemah dan dingin itu.

"Ayah, aku sudah kembali," bisiknya dengan sangat pelan.

Raja Edward membuka matanya dengan sangat susah payah. Bibirnya bergerak dengan susah mencoba membentuk kata-kata.

"Cassian... kamu sudah kembali..."

"Ya, Ayah. Aku di sini sekarang."

"Provinsi utara... bagaimana keadaan mereka...?"

Bahkan di ambang kematian, Raja masih memikirkan rakyatnya dengan tulus. Catharina yang berdiri di pintu kamar merasakan dadanya sesak melihat pemandangan yang sangat menyentuh itu.

"Semuanya baik-baik saja, Ayah. Rakyat di sana sudah mendapat bantuan yang cukup. Mereka akan bertahan hidup."

Raja tersenyum tipis dengan susah payah. "Bagus... itu sangat bagus..." matanya bergeser mencari seseorang. "Alexander... di mana Alexander?"

Semua orang di ruangan saling berpandangan dengan tidak nyaman. Alexander tidak terlihat sejak mereka tiba di istana.

"Aku di sini, Ayah," suara dingin Alexander terdengar dari sudut ruangan yang gelap. Rupanya dia sudah ada di sana sejak tadi, berdiri di tempat yang tidak terlihat.

Raja Edward mencoba menoleh ke arah suara putra sulungnya.

"Alexander... putraku... aku ingin kalian berdua berdamai..."

"Tentu saja, Ayah," jawab Alexander dengan nada yang terdengar tulus tapi mata dinginnya tidak berubah sama sekali.

"Jaga kerajaan ini dengan baik... jaga rakyat... mereka jauh lebih penting dari kekuasaan..."

"Ya, Ayah."

"Dan Seraphina... jaga adikmu dengan baik..."

"Ya, Ayah."

Raja terdiam sejenak, napasnya semakin berat dan tersengal. Lalu dengan usaha yang terlihat sangat menyakitkan, beliau berbisik sekali lagi.

"Cassian... kamu paling mirip ibumu... dia pasti sangat bangga padamu..."

Air mata Cassian jatuh tanpa bisa ditahan lagi. "Terima kasih, Ayah."

Tidak ada lagi kata-kata setelah itu. Raja Edward tertidur, dan beberapa jam kemudian, beliau menghembuskan napas terakhirnya dengan sangat tenang.

Seraphina menangis tersedu-sedu di pelukan Victoria yang juga menangis. Cassian duduk diam dengan tangan masih menggenggam tangan ayahnya yang sudah sangat dingin. Alexander meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata atau menunjukkan emosi apa pun.

Catharina berdiri di luar kamar, membiarkan keluarga itu berduka tanpa gangguan. Lucian ada di sampingnya, tangannya di punggung Catharina sebagai dukungan.

"Sekarang perang dimulai dengan sungguh-sungguh," bisik Catharina.

"Kita sudah siap," jawab Lucian.

***

Keesokan paginya, Alexander langsung bergerak dengan sangat agresif. Bahkan saat jenazah Raja belum selesai dimakamkan dengan layak, dia sudah mengumpulkan dewan dan mendeklarasikan dirinya sebagai Raja berdasarkan hukum suksesi tradisional.

Berita itu sampai ke Catharina saat dia sedang sarapan pagi. Martha masuk dengan wajah yang sangat panik membawa koran yang baru saja terbit.

"Yang Mulia, Pangeran Alexander memproklamirkan dirinya Raja pagi ini. Dia memerintahkan semua bangsawan untuk hadir di istana siang ini untuk upacara sumpah setia."

Catharina meletakkan rotinya dengan sangat tenang meski dadanya berdegup sangat kencang.

"Di mana Cassian sekarang?"

"Di kediamannya bersama Lady Victoria, Yang Mulia."

Catharina langsung berdiri dengan cepat. "Siapkan kereta. Kita pergi ke sana sekarang juga."

Di kediaman Cassian, suasana sudah sangat ramai dengan para pendukung yang berdatangan dari berbagai penjuru. Semua wajah penuh dengan campuran kekhawatiran dan tekad yang kuat.

Cassian berdiri di tengah ruangan dengan postur yang mengejutkan, sangat tegak untuk seseorang yang baru saja kehilangan ayahnya kemarin.

"Alexander bergerak jauh lebih cepat dari yang kita perkirakan," ujarnya saat Catharina dan Lucian tiba. "Tapi ini bukan kejutan sama sekali. Kita sudah mengantisipasi ini."

"Apa rencana kita sekarang?" tanya Duke Henry langsung ke inti masalah.

"Kita tidak akan hadir di upacara sumpah setia hari ini," jawab Cassian dengan sangat tegas. "Kita akan memberlakukan Pasal 47. Ujian berdasarkan kemampuan belum selesai. Kita masih punya tiga minggu yang tersisa."

"Alexander pasti akan berargumen bahwa dengan Raja meninggal, suksesi berjalan otomatis," ujar Duchess Margaret.

"Maka kita argumentasikan balik bahwa Pasal 47 yang disetujui dewan masih mengikat secara hukum dan mengesampingkan suksesi tradisional dalam situasi ini," jawab Victoria yang sudah menyiapkan argumen hukum sejak semalam.

"Apakah dewan akan setuju?" tanya Seraphina dengan khawatir.

"Beberapa sudah mengirim kabar bahwa mereka mendukung posisi kita," ujar Duke Harrison. "Tapi tidak semua. Beberapa yang tadinya masih ragu mungkin sudah dilobi oleh Alexander semalam."

"Maka kita perlu bicara langsung dengan mereka sebelum siang ini," ujar Catharina. "Kita tidak punya banyak waktu."

Mereka langsung membagi tugas dengan sangat cepat. Catharina dan Lucian akan mengunjungi secara pribadi beberapa anggota dewan yang masih belum memutuskan. Duke Henry akan menghubungi kontak-kontaknya di militer. Victoria akan menyiapkan tantangan hukum formal dan Cassian akan menulis pernyataan publik yang akan disebarkan ke seluruh ibukota.

Mereka bekerja dengan sangat cepat dan fokus. Tidak ada waktu untuk ragu atau takut.

Dan saat lonceng istana berbunyi sebelas kali menandakan waktu upacara sumpah setia yang diumumkan Alexander, Catharina sedang duduk di hadapan Lord Chancellor Edmund dengan dokumen hukum yang sangat tebal di atas meja.

"Pasal 47 masih berlaku, Yang Mulia Lord Chancellor," ujarnya dengan sangat tenang tapi tegas. "Pangeran Cassian secara resmi mengajukan keberatan terhadap klaim Alexander dan meminta dewan untuk menghormati keputusan yang sudah dibuat."

Lord Chancellor menatap dokumen itu dengan wajah yang sangat serius dan penuh pertimbangan.

Di istana, Alexander pasti sudah menunggu para bangsawan yang tidak akan pernah datang.

Dan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai dengan sangat sengit.

***

BERSAMBUNG

1
Dedi Dahlia
lihat saja kemenangan kebaikkan yang menang apa kejahatan yang menang semangat 💪💪
Dedi Dahlia
seandainya lucian tidak bisa percaya yang kamu katakan,tinggalkan dia masih banyak lelaki di dunia ini yang lebih baik dari lucian,up semangat 😁😁💪💪
Dedi Dahlia
jangan biarkan kejahatan menang thorr,buat Lucian ingat bukti kejahatan Elise dan Alexander kejahatan selama ini lanjut semangat./Smile//Smile//Pray//Pray/
Murni Dewita
👣
falea sezi
kapok salah sendiri tergoda ma pembokat gatel
CaH KangKung,
👣👣
Wega Luna
belajar beladiri berpedang,otak boleh maju kalo GK diimbangi bela diri sama saja nyetor nyawa,aku punya feeling kalo nanti si Elise di bebaskan Alexander😌 jangan sampai yh thor
putmelyana
next Thor ceritanya
Ayu Padi
yaaah Thor gimn bisa begitu...mereka minum racun ...GK rela laah Thor masa pelayan menang...
Nabil Az Zahra
baru bab 1 mudah"n seterusnya mnarik,
Ayu Padi
sama Thor ...GK sabar ...hrs putus sama Duke ...payah terkenal kejam dingin tp luluh sama pelayan yg penuh drama...
Wega Luna
boleh kah nonjok Alexander,,,,😒😒😒😒💀💀
partini
mati dua kali weh
Wega Luna
jangan sampai Thor ada korban ,
partini
lah pake cara lama dasar Kunti
Fatur Fatur
bikin eliese yang terkena racunnya sendiri thor
Rina Yuli
mampir thor ✋✋✋✋
Wega Luna
si Elise ini bener bener pick me🤣🤣🤣🤣🤣🤣,entah di novel atau di dunia nyata yg namanya Elise itu bikin naik darah
Wega Luna: bener🤣🤣🤣🤣, karena dari dunia nyata sekitar mangkanya aku berani bilang gitu
total 2 replies
partini
kalau terpuruk dan lari ke pelayanan fixx Duk Duk emang rendahan
partini
good story
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!