Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Renata yang galau # Davin yang terpukau
Renata meraih ponselnya, mencari nama Davin di dalam riwayat panggilan. Lalu menekan nama tersebut. Panggilan pertama berakhir sia-sia, begitu juga yang kedua, ketiga dan seterusnya sampat tak terhitung.
"Aah... Kenapa ponselnya nggak aktif, sih?" Ia menggeram kesal.
"Gimana nasibku setelah ini?" Renata mengacak rambutnya frustasi.
Ia membutuhkan backingan Davin karena posisinya yang berpengaruh di rumah sakit tempatnya bekerja saat ini. Jika ia bisa dekat dengan Davin tentu orang tidak akan memandangnya sebelah mata dan akan segan padanya, setidaknya itulah yang ada dipikirannya.
Dan semua itu memang benar adanya. Sikapnya yang ceria sedikit manja, membuat Davin tertarik, menjadikannya prioritas. Namun, sekarang hal itu tidak akan terjadi lagi.
Merasa gagal menghubungi Davin, Renata pun mengalihkan panggilan pada temannya mengajaknya bertemu.
Di sinilah Renata berada setelah jadwal prakteknya selesai. Di sebuah kafe modern dengan interior yang kekinian. Ia menunggu dengan gelisah sambil sesekali melirik jam tangannya.
"Duuhh... Mana si Popy, sih? Lama amat itu, anak?!" gumamnya tak sabar, netranya terus menatap ke pintu masuk.
Hingga tak lama kemudian seorang gadis berambut coklat sebahu memasuki kafe sambil tersenyum saat melihat Renata, sahabatnya.
"Sori, Ren. Kerjaan aku banyak banget dan dikejar deadline," ujarnya, merasa bersalah.
"Ya udah, nggak pa-pa, yang penting kamu sudah datang," jawab Renata.
"Ada apa nih, kamu ngajak ketemuan? Apa ada sesuatu yang serius?" tanya Popy sambil mengangkat sebelah alisnya menatap Renata.
"Gawat, Pop. Davin tahu apa yang kita obrolkan waktu itu." Wajah Renata tiba-tiba berubah sendu.
"Lah, kok, bisa?" Popy membelalakkan matanya, terkejut. "Gimana ceritanya? Apa ada yang nguping pembicaraan kita waktu itu?"
Renata menggeleng. "Rupanya saat itu dia datang, pas kita lagi ngobrolin dia. Mungkin dia mendengar semuanya."
Mata Renata berkaca-kaca hampir tumpah, lalu menunjukkan rekaman CCTV berhasil ia kopi.
Popy menutup mulutnya, mata membelalak. Ada rasa bersalah di sudut kecil hatinya, tetapi ada juga rasa lega. Setidaknya Davin tidak menjadi korban keegoisan sahabatnya itu.
"Sori deh, Ren. Kita nggak tahu kalau dia bakalan datang ke ruangan kamu," kata Popy, wajahnya menampakkan keprihatinan.
"Beberapa hari ini sikapnya berubah padaku. Dia terkesan menghindar dariku." Renata mendesah pelan. "Bahkan dia nggak pamit padaku, pada saat mau berangkat menjadi relawan."
Popy menyandarkan punggungnya seraya melipat kedua tangannya di atas perut, menatap Renata serius. "Bukankah kamu nggak cinta sama dia dan hanya menjadikan dia sebagai backingan? Lalu kenapa sekarang jadi kamu yang panik setelah dia berubah? Kamu aneh, Ren?"
"Entahlah." Renata menggeleng. "Aku hanya tak biasa dengan sikapnya yang mengabaikan aku, itu saja?"
"Ooh, benarkah? Jadi, kamu galau sekarang? Atau jangan-jangan kamu mulai jatuh cinta sama dia?" Popy menyipitkan matanya ke arah Renata.
"Entahlah, aku nggak tahu dengan perasaanku sendiri," jawab Renata.
"Ingat, Ren. Kamu jangan plinplan," lanjut Popy. "Bukankah kamu bilang sudah punya kekasih? Memangnya siapa dia? Apa dia lebih baik dari Davin?"
Renata menarik napas. " Namanya Calvin. Dia itu anak dari rekan bisnis Papa. Anaknya keren habis," ucapnya sembari tersenyum tipis.
Ia membuka ponselnya lalu membuka folder galeri dan mencari foto dirinya bersama Calvin saat dinner. Begitu menemukannya ia langsung menunjukkannya pada Popy. "Ini dia orangnya, tampan, kan?"
Popy mengambil ponsel Renata, menatap foto dengan seksama, lalu menatap sahabatnya. "Sudah berapa lama kamu menjalin hubungan sama dia?"
"Enam atau tujuh bulan mungkin," jawab Renata.
"Kamu sudah benar-benar yakin sama dia?" Popy memastikan.
"Iyalah, bahkan hubungan kami sudah disetujui oleh orang tua masing-masing," jawab Renata bangga.
Popy tidak menjawab, ia menatap sahabatnya itu dengan pandangan tak terbaca.
.
.
.
Di tenda darurat, Davin tampak duduk bersila, di hadapannya layar laptop menyala di atas meja lipat kecil. Wajahnya tampak serius, tangannya menari lincah di atas keyboard, entah apa yang dikerjakannya. Sesaat kemudian dia menutup laptopnya, lalu berbaring menggunakan kedua lengannya sebagai bantal. Netranya berkedip-kedip pelan, menatap atap tenda. Tarikan napasnya terdengar berat. Entah apa yang menjadi beban pikirannya kali ini.
Meraih ponselnya yang dari seharian tadi dinonaktifkan, kini Davin mengaktifkannya kembali. Dia mengernyit sambil mencebik kala mendapati puluhan panggilan tak terjawab dari Renata.
"Ngapain dia hubungi aku? Kurang kerjaan aja," sungutnya lirih.
Tak ada niat bagi Davin untuk menghubungi balik atau membalas pesannya. Dia justru memblokir nomor Renata, lalu menekan nomor maminya. Begitu sambungan terhubung suara sang ibu langsung terdengar nyaring hingga memekakkan telinga. Serta-merta Davin menjauhkan ponsel dari telinganya demi menjaga kesehatan pendengarannya.
"Halo, Adik. Gimana kabarmu di sana, Sayang?"
"Alhamdulillah, adik baik-baik saja, Mi. Maaf, bisa tolong dikecilkan suaranya. Adik nggak mau gendang telinganya rusak." Si mulut cabe mulai beraksi.
"Heh, Apin! Dasar nggak sopan sama orangtua loe, ya!" hardik Danish yang kebetulan sedang bersama Mami Mia.
"Apaan sih, loe! Nyamber aja?Nggak sopannya di mana coba?" kesal Davin. "Sudah sana-sana minggir, gue mau ngobrol sama Mami."
"Loe, ngusir gue...?" Danish tak terima.
"Stop...!!!" Mami Mia berteriak. "Kalian ini apa-apaan, sih! Nggak ada akur-akurnya, heran, deh. Bikin mami stres aja."
"Diihh... Mami nggak bisa bercanda. Ntar cepat tua, loh! Kayak nenek-nenek." Danish langsung kabur ke kamarnya sambil tertawa cekikikan.
"Mas... Berhenti, nggak!" Mami Mia tampak sewot jika di bilang tua, padahal cucunya sudah lima. Namun, dirinya memang menolak tua.
Mami Mia ingin kembali bicara dengan Davin, sayangnya sambungan telepon sudah terputus. "Nah, kan? Ini bagaimana konsepnya baru sebentar telepon sudah terputus? Aahhh... punya bujang dua pada sontoloyo semua, sukanya ngerjain orangtua." Ibu lima orang anak laki-laki semua itu mengomel sendiri.
Sementara Davin tertawa sendirian, membuat salah seorang rekan relawan menoleh heran.
"Dokter Davin, kelihatannya bahagia sekali?" tanyanya, membuat Davin menghentikan tawanya.
"Oh, maaf. Itu tadi habis telepon sama keluarga saya, Pak," sahut Davin, dia menggaruk kepalanya salah tingkah.
Dia tak ingin dikatakan tidak memiliki empati malah tertawa di tengah musibah.
.
Esok hari kala matahari baru saja menampakkan dirinya, mengintip di balik awan yang pagi itu sedikit mendung. Davin yang terbiasa olahraga pagi, memanfaatkan waktunya jogging sekaligus melihat-lihat keadaan sekitar Desa Sukun.
Sambil bersenandung lirih, dia mulai menyusuri jalanan beraspal yang rusak akibat terjangan banjir. Hingga di tikungan jalan netranya melihat seorang wanita tengah berjalan kaki sambil menuntun sepeda.
"Itu kan, gadis yang kemarin? Kakaknya Alvian? Mau ke mana dia pagi-pagi begini?"
Dia langsung menghampiri gadis itu. "Eh, Mbak. Kakaknya Alvian, kan?" tanyanya sok akrab sok dekat.
Gadis itu tersenyum yang membuat Davin terpukau. "Manisnya... Astaghfirullah, Vin. Kondisikan matamu, woi...!" teriaknya pada diri sendiri di dalam hati.
"Benar, Pak Dokter. Nama saya Melodi," jawab gadis masih dengan senyum manisnya.
"Maaf, Mbak. Senyumnya jangan manis-manis nanti saya diabetes," kelakar Davin, walaupun terdengar garing dan tidak ada lucu-lucunya.
Namun, berbeda dengan Melodi, gadis itu justru tertawa lebar sambil menutup mulutnya, entah apa yang lucu, membuat Davin melongo dengan mulut sedikit terbuka.
.
(Awas Vin, mingkem kamu. Ntar ngences, loh🤭)
.
.
.
Selamat menunaikan ibadah puasa 🤗