NovelToon NovelToon
Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Membangun Kerajaan Yang Menentang Hukum Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

Kelanjutan Dari Novel Pangeran Sampah Yang Menyembunyikan Kemampuannya.

Di dunia yang terpecah oleh kebencian antar ras, perdamaian hanyalah mimpi yang dianggap mustahil.

Ferisu—mantan pangeran yang diremehkan—kini bangkit sebagai Raja Kerajaan Asterism. Sebuah kerajaan baru yang berani menentang hukum dunia dengan satu gagasan gila: kesetaraan bagi semua ras.

Manusia, elf, beastmen, dwarf, dan ras lainnya hidup di bawah satu panji yang sama.

Namun dunia tidak tinggal diam. Ancaman datang dari segala arah. Pengkhianatan mengintai dari dalam. Dan perang besar yang pernah menghancurkan peradaban perlahan kembali menunjukkan tanda-tandanya.

Mampukah Ferisu mempertahankan mimpinya?
Ataukah Asterism akan menjadi percikan yang membakar dunia dalam perang yang lebih dahsyat?

Sebuah kisah tentang ambisi, persatuan, dan perjuangan melawan takdir dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11 : Aturan Kosmis, Ga Boleh Nawar Titik

Ruang kelabu itu tidak memiliki langit.

Tidak memiliki tanah yang jelas.

Ferisu berdiri di atas permukaan yang terasa padat, namun tidak berbayang. Udara di sekitarnya sunyi, seperti dunia yang belum diberi suara.

Lalu cahaya hangat muncul di kejauhan. Bukan cahaya menyilaukan. Melainkan lembut. Keemasan.

Dari dalam cahaya itu, sosok seorang wanita melangkah perlahan.

Rambut pirangnya panjang, jatuh seperti aliran sutra yang memantulkan kilau matahari. Mata emasnya bersinar lembut, dalam, dan terlalu indah untuk disebut sekadar manusia.

Wajahnya rupawan tanpa cela.

Namun yang paling mencolok bukan kecantikannya—melainkan aura hangat yang menyelimuti seluruh ruang kosong itu.

“Sepertinya kau hampir kehilangan semua kekuatanmu, yah?” ucapnya ringan, berjalan mendekat.

Suaranya lembut.

Namun langsung menekan bagian terdalam jiwa Ferisu.

Ia berhenti tepat satu langkah di hadapannya.

“Jiwamu juga sudah mulai rusak,” lanjutnya pelan, hampir berbisik. “Kau pasti selalu menahan rasa sakitnya, kan?”

Ferisu menatapnya tanpa terkejut.

Ia sudah mengenali sosok itu sejak cahaya pertama muncul.

“Ya…” jawabnya jujur. “Aku seharusnya tahu ini akan terjadi jika memakai kekuatan penuh dari kehidupan sebelumnya dengan tubuh ini.”

Tubuh barunya bukan tubuh seorang kaisar perang. Ia hanya manusia biasa yang memaksakan daya tampungnya melebihi batas.

Dewi itu tersenyum tipis. Bukan senyum mengejek. Lebih seperti seseorang yang sudah tahu jawabannya sejak awal.

“Tapi—” Ferisu hendak melanjutkan.

“Aku tahu,” sela sang Dewi lembut. “Aku tidak akan menyalahkanmu.”

Ia mengangkat tangannya, menyentuh dada Ferisu tepat di atas jantungnya.

Sentuhannya tidak terasa fisik.

Namun hangat.

“Sebenarnya aku senang.”

Ferisu sedikit mengernyit.

“Sebelumnya kau sangat menderita,” lanjutnya. “Kau terus bertarung tanpa henti. Dunia memanggilmu pahlawan, tapi kau hidup sebagai senjata.”

Matanya melembut.

“Tapi sekarang… kau membangun kerajaan untuk menyatukan dunia.”

Ferisu terdiam. Kenangan lama berkelebat. Medan perang. Jeritan. Langit merah.

Dewi itu menarik tangannya perlahan. “Aku akan membantu memulihkan kekuatanmu.”

Ferisu mengangkat wajahnya.

“Dengan syarat,” lanjutnya, menggantung kalimat itu dengan ekspresi yang tiba-tiba berubah nakal.

“Syarat?” tanya Ferisu datar.

Dewi itu berjalan mengelilinginya perlahan, rambut emasnya bergoyang lembut.

“Segel kekuatanmu terkunci pada jiwa.”

Ia berhenti tepat di belakangnya.

“Dan segel itu hanya bisa dibuka melalui resonansi emosional yang murni.”

Ferisu memutar kepala sedikit.

“Langsung ke intinya.”

Dewi tersenyum lebar.

“Setiap ras akan membuka segel kekuatanmu. Seperti elemen sihir… dan kekuatan roh.”

Ferisu memproses kalimat itu.

“Kau sudah punya empat orang,” lanjutnya santai. “Tapi segelnya belum terbuka.”

“Kenapa?”

Dewi itu mencondongkan wajahnya mendekat.

"Karena kalian belum pernah melakukan hal itu.”

Ferisu mengernyit.

“Hal itu?”

Dewi itu tersenyum sangat lebar.

“Ciuman.”

Hening.

Ruang kosong itu tetap sunyi.

Ferisu menatapnya tanpa ekspresi. Tatapan kosong. Seolah mencoba memastikan ia tidak salah dengar.

Dewi mengangguk mantap.

“Yap. Ciuman. Kontak langsung yang memicu sinkronisasi jiwa.”

Ia mengangkat jari telunjuknya.

“Dan harus dengan perasaan yang tulus. Ga boleh setengah-setengah.”

Ferisu memijat pelipisnya pelan.

“Tidak ada metode lain?”

“Tidak.”

“Tawar-menawar?”

“Tidak.”

“Ritual alternatif?”

“Tidak juga.”

Dewi menyilangkan tangan di dada.

“Aturan kosmis. Ga boleh nawar titik!”

Ferisu menghela napas panjang.

Ah… aku lupa kalau dia ini Dewi cinta yang rada sableng.

Dewi itu menyeringai, seolah bisa membaca pikirannya.

“Oi, jangan panggil aku sableng.”

“Kau memang begitu.”

“Gini-gini aku tetap Dewi.”

Ia kembali mendekat, kali ini ekspresinya sedikit lebih serius.

“Waktumu tidak banyak.”

Ruang kelabu di sekitar mereka mulai retak halus.

“Kekuatanmu bocor setiap kali kau memaksakan diri. Jika satu segel tidak terbuka sebelum fase berikutnya dimulai… jiwamu bisa hancur.”

Ferisu mengangkat wajahnya.

“Fase berikutnya?”

Dewi itu terdiam sejenak.

Untuk pertama kalinya, senyumnya memudar.

“Pengamat itu bukan musuh utama.”

Udara menjadi lebih dingin.

“Apa yang bergerak di baliknya… jauh lebih kuat dariku.”

Retakan di ruang semakin melebar.

Cahaya emas mulai meredup.

“Kau akan kembali sekarang,” ucapnya lembut. “Dan ingat—”

Ia mengangkat dua jarinya membentuk huruf V dengan santai.

“Ciuman. Minimal satu untuk buka segel pertama.”

Ferisu menatapnya datar.

“Ras apa dulu?”

Dewi tersenyum misterius.

“Terserah, kau bebas memilih.”

Cahaya meledak. Ruang kosong runtuh. Dan sebelum semuanya hilang—sang Dewi berbisik terakhir kali.

“Jangan terlalu lama, Ferisu… sebelum dunia ini kembali meminta darahmu.”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Cahaya emas menghilang.

Ferisu kembali berdiri di tengah lingkaran tanah yang kini berubah pola. Simbol-simbolnya tidak lagi tersusun seperti ritual manusia. Garisnya lebih liar. Lebih organik. Seolah sesuatu dari luar sistem dunia ini ikut menulis ulang bentuknya.

Udara terasa berat di paru-parunya.

Namun rasa sakit di jiwanya—sedikit berkurang.

Noa berlutut beberapa langkah darinya, napasnya tidak stabil.

“Barusan… apa yang terjadi?” tanyanya pelan.

Eliza berdiri di sisi lain, energi rohnya masih terpancar, matanya menatap langit yang mulai retak.

Retakan itu belum besar.

Hanya garis tipis bercahaya kelabu yang membelah kanopi pepohonan.

Namun dari sana—mana mengalir turun seperti hujan tak kasat mata.

Anor berdiri paling belakang.

Wajahnya pucat.

“Itu bukan portal biasa…”

Ferisu menatap ke atas.

Retakan itu tidak stabil seperti gerbang teleportasi. Ia lebih mirip luka. Luka di langit. Dan dari luka itu—sesuatu mulai terbentuk.

Awalnya hanya gumpalan kabut hitam bercampur cahaya kecil seperti serpihan bintang. Mana di sekitar mereka tersedot perlahan, bercampur dengan sesuatu yang lebih halus.

Jiwa.

Noa langsung menyadarinya.

“Ini bukan hanya sihir,” bisiknya. “Energi spiritual ikut terseret.”

Ferisu terdiam.

Retakan dimensi menyatukan sihir dan jiwa yang tidak seharusnya bercampur secara mentah. Dan ketika dua unsur itu dipaksa menyatu—maka lahirlah sesuatu yang bukan makhluk… tapi juga bukan konsep.

Sebuah dewa palsu.

Bentuknya berubah-ubah di udara. Kadang menyerupai burung besar. Kadang seperti manusia tanpa wajah. Kadang seperti bayangan naga.

Namun perlahan—Ia stabil.

Kabut hitam mengendap. Kilauan kecil seperti bintang menyebar di permukaannya. Dan akhirnya—Ia mengambil wujud yang hampir familiar.

Seekor domba.

Berbulu hitam pekat seperti langit malam tanpa bulan.

Di antara bulunya, cahaya kecil berpendar seperti rasi bintang yang bergerak pelan. Tanduknya melengkung elegan, namun garisnya tidak sempurna—terlalu simetris untuk makhluk alami.

Matanya terbuka.

Kosong.

Tidak ada pupil.

Hanya pusaran cahaya galaksi kecil yang berputar perlahan.

Tekanan mana langsung melonjak.

Anor mundur setengah langkah.

“Aries…” ucapnya tanpa sadar.

Semua menoleh padanya.

Eliza mengerutkan kening. “Aries?”

Anor menatap makhluk itu dengan tatapan campur aduk antara takut dan bingung.

“Dalam kitab kuno yang pernah kubaca… ada simbol domba hitam sebagai permulaan siklus. Awal dan kehancuran.”

Noa menggigit bibirnya pelan.

“Itu bukan roh elemen. Bukan iblis. Bukan dewa sejati.”

Ferisu menatap makhluk itu tanpa berkedip.

“Dewa palsu.”

Domba hitam itu melangkah satu kali.

Tanah di bawah kakinya retak tipis.

Bukan karena berat tubuhnya.

Melainkan karena eksistensinya tidak sepenuhnya cocok dengan dunia ini.

Ia tidak mengaum. Tidak menyerang. Ia hanya berdiri… dan memandang.

Lalu suara terdengar.

Bukan dari mulutnya.

Melainkan langsung di dalam kepala mereka.

“Pengamatan dimulai.”

Noa memegangi kepalanya.

“Dia… berbicara dalam frekuensi jiwa.”

Eliza mengangkat pedangnya sedikit lebih tinggi.

“Kalau begitu kita hancurkan sebelum dia selesai mengamati.”

Ferisu mengangkat tangan menghentikannya.

“Jangan.”

Eliza menoleh tajam. “Kenapa?”

Ferisu tidak langsung menjawab.

Ia bisa merasakan sesuatu.

Makhluk itu belum sepenuhnya stabil.

Tubuhnya masih tersusun dari mana dan serpihan jiwa yang terseret dari retakan.

Jika mereka menyerang sekarang—ledakannya bisa menghancurkan separuh hutan. Atau lebih buruk. Membuka retakan lebih besar.

Domba hitam itu menundukkan kepala sedikit.

Kilauan bintang di bulunya bergerak membentuk pola seperti rasi yang sedang dihitung.

“Subjek inti terdeteksi.”

Mata galaksi kecil itu berhenti tepat pada Ferisu.

Tekanan meningkat. Tanah bergetar halus.

Anor gemetar.

“Dia… melihatmu.”

Ferisu melangkah maju satu langkah.

“Biarkan ia melihat.”

Eliza menahan napas.

Noa menatapnya khawatir.

Domba itu kembali bersuara. “Anomali.”

Kilauan bintang di tubuhnya menyala lebih terang. Retakan di langit melebar satu garis lagi. Dan dari celah itu—cahaya kelabu mulai menetes turun seperti hujan lambat.

Ferisu menyadari satu hal.

Makhluk ini bukan datang untuk menghancurkan.

Ia datang untuk menilai.

Dan jika penilaiannya selesai—maka sesuatu yang jauh lebih besar mungkin akan turun menggantikannya.

Eliza berbisik pelan.

“Jangan bilang ini cuma perwakilan…”

Ferisu menatap domba hitam itu.

“Ya.”

Domba itu mengangkat kepalanya tinggi. Tanduknya mulai memancarkan cahaya tipis.

“Fase inkarnasi… hampir stabil.”

Udara di sekitar mereka mulai terdistorsi. Pohon-pohon berderit.

Dan tepat saat kilauan bintang di tubuh makhluk itu menyatu menjadi satu garis cahaya—Ferisu merasakan sesuatu di dadanya.

1
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
kli ini kalajengki ya? bner2 deh...
Frando Wijaya
next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
hmph 🙄....elf jg sama ternyata
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya: iya Thor
total 2 replies
Frando Wijaya
elf td....blg manusia pembawa mslh...tpi kenyataan elf jg sama aja
Frando Wijaya
ekhem! next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
awal Dr konflik? gw punya firasat yg sgt buruk
Luthfi Afifzaidan
lanjutkan
Luthfi Afifzaidan
up
Luthfi Afifzaidan
lg
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
boneka Bru? atau robot Bru??
Frando Wijaya
mata 1 raksasa itu apa sih???
K_P
😓
angin kelana
visual keren👍
angin kelana
karakter baru
angin kelana
wah kemaren2 op.skarang lemah..
Frando Wijaya
btw next Thor 😃😆🤩
Frando Wijaya
cih 😒...msh blom berakhir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!