"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"
"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."
"Hentikan! Jangan sentuh aku!"
"Jika aku tak mau?"
"Kau tidak waras!"
Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.
Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.
Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Kita belum selesai!
"Valeria, apa kau baik-baik saja?"
Valeria tersentak, ia sedang berdiri didepan meja kasir miliknya.
Mengingat kejadian yang baru saja terjadi, perseteruan pagi itu dengan Rodrigo membuat pikirannya selalu berputar. Ingatan lama bersama pria itu melintas begitu saja.
"Aku, baik-baik saja Anne." ia berusaha tersenyum, seperti biasa, untuk menutupi kegelisahan yang gadis itu rasakan.
"Apa Rodrig membuatmu sedih lagi?"
"Kau tidak perlu khawatir Anne, kau—" ucapnya tertahan.
Anne memeluk Valeria dengan erat. Ia mengusap punggung gadis itu.
Valeria tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya, air mata menetes membasahi pipinya.
"Anne, apa aku terlihat lemah dan menyedihkan."
Anne menggeleng pelan, lalu mengusap pipi Valeria. Gadis itu menunduk, isaknya kecil, nyaris tak terdengar.
"Tidak Valeria, aku memahami, Rodrig sedikit banyak ia memikirkanmu Valeria. Itu karena ia tidak bisa melupakanmu. Kau terlalu kuat Valeria."
"Sejujurnya, aku masih mencintainya Anne. Tapi masalalu itu terlalu menyakitinya. Aku tau, mungkin di hatinya sudah tak ada ruang lagi untukku Anne."
"Aku tahu itu Valeria, jika kalian ditakdirkan bersama. Pasti suatu saat takdir akan menyatukan kalian."
Valeria menggeleng, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Tidak Anne. Dia....dia sudah tunangan dengan Seraphine," ujar Valeria dengan mata berair.
"Apa kau yakin? Apa kau tidak salah lihat, Seraphine?"
Valeria mengangguk. "Ya, karena aku yg mengantarkan sendiri kue itu ke acara perjamuan mereka."
Anne menelan ludah susah payah. "Baiklah, tenangkan dirimu Valeria. Apa kau mau pulang untuk beristirahat?"
Valeria menggeleng, "Tidak Anne."
"Kau yakin?"
Valeria mengangguk mantap.
"Baiklah jika begitu, aku akan memanggang kue-kue lagi dan kau jangan menangis Valeria. Kau sahabatku yang kuat."
"Terimakasih Anne kau baik sekali."
Sebelum Anne membantu memanggang kue-kue itu, mereka saling berpelukan.
Pagi itu, London diselimuti udara dingin yang lembut. Kabut tipis masih menggantung di antara bangunan batu tua ketika Valeria & Co. Patisserie membuka pintunya. Aroma mentega hangat dan gula karamel segera menyebar ke trotoar, menarik langkah para pejalan kaki yang melintas.
Di dalam toko, etalase kaca dipenuhi aneka kue, croissant berlapis renyah, tart buah berkilau, dan cupcake berhiaskan krim lembut. Lonceng kecil di atas pintu berdenting nyaring setiap kali pelanggan masuk.
Valeria berdiri di balik meja kasir dengan celemek krem, senyum ramah menghiasi wajahnya.
"Selamat pagi," sapanya hangat. "Silakan dilihat-lihat."
Seorang wanita paruh baya mendekat ke etalase.
"Croissant-nya terlihat menggoda sekali," ujarnya.
"Baru keluar dari oven," jawab Valeria ringan. "Masih hangat."
"Baiklah, saya ambil empat. Dan satu lemon tart, ya."
"Tentu." Valeria mengambilkan pesanan dengan cekatan. "Apakah ingin dibungkus atau dimakan di sini?"
"Dibungkus saja."
Tak lama kemudian, seorang pria muda dengan mantel panjang ikut mengantre.
"Valeria, seperti biasa?" tanyanya sambil tersenyum.
Valeria terkekeh kecil. "Chocolate eclair dan kopi hitam?"
"Benar. Kau benar-benar hafal, kesukaan pelangganmu."
"Toko kue ini hidup dari kebiasaan kecil seperti itu," jawab Valeria sambil menyerahkan pesanan.
Seorang anak kecil menarik lengan ibunya, menunjuk cupcake warna-warni.
"Mommy, yang pink itu!"
Valeria berjongkok sedikit agar sejajar dengan si anak. "Yang stroberi. Rasanya manis, tapi tidak berlebihan."
Anak itu mengangguk antusias. 'Mau!"
Ibunya tersenyum malu. "Satu cupcake stroberi, tolong."
"Dengan senang hati."
Suasana toko semakin ramai. Tawa kecil, suara kertas pembungkus, dan dentingan cangkir berpadu dengan aroma kue yang hangat. Di tengah hiruk-pikuk itu, Valeria tetap tenang, melayani setiap pelanggan dengan sabar.
Bagi orang-orang London pagi itu,Valeria & Co. Patisserie bukan sekadar toko kue, melainkan tempat kecil yang menghadirkan kehangatan di antara dinginnya kota.
***
Di balik meja kerja yang dipenuhi berkas dan cahaya layar monitor, Rodrigo menatap dua map terbuka di hadapannya. Pena bergerak cepat, menorehkan tanda tangan satu per satu, kertas berdesir pelan di ruang kerja yang sunyi. Di luar jendela kaca, London tenggelam dalam malam, lampu kota berkilau samar di balik gerimis tipis.
Namun fokusnya retak.
Bayangan Valeria menyusup tanpa izin. Tatapannya yang menantang, suaranya yang tak pernah gemetar, sikapnya yang selalu berdiri tegak seolah dunia tak pernah berhasil merobohkannya. Rahang Rodrigo mengeras, otot wajahnya menegang.
"Terlalu kuat.... terlalu berani." gumamnya pelan
Pena itu berhenti.
Dengan satu hentakan keras, telapak tangannya menggebrak meja. Getarannya membuat layar monitor berkilat sesaat, berkas-berkas bergeser tak beraturan. Napas Rodrigo memburu, dadanya naik turun menahan amarah yang nyaris meluap.
"Bagaimana bisa?" gumamnya rendah, nyaris tenggelam oleh dengung kota di luar. "Kau menjadi perempuan sekuat dan setegar itu."
Ia menatap pantulan dirinya di balik kaca jendela dan di sana, seperti bayangan yang tak mau pergi, Valeria kembali berdiri menantangnya.
"Aku tahu," lanjutnya lirih, rahangnya kembali mengeras. "Sebenarnya aku tahu. Kau juga masih mencintaiku."
Rodrigo menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Ia meraih gelas kristal di sudut meja, cairan amber di dalamnya bergetar saat jemarinya menutup kuat. Seteguk whisky mengalir di tenggorokannya, pahit dan membakar. Namun, tak cukup untuk meredam gejolak di dadanya.
Ia bangkit dari kursi, langkahnya mantap menyusuri ruangan. Jas hitamnya bergesek halus saat ia berhenti di depan jendela tinggi.
Di bawah sana, mobil-mobil berderu, melintas di jalan basah, lampu-lampu kota memantul di aspal, seolah tak peduli pada konflik yang berkecamuk di kepalanya.
Ponsel di sakunya bergetar.
Rodrigo melirik layar. Nama yang sama. Nama yang sejak tadi ia coba singkirkan.
Jemarinya terhenti beberapa detik sebelum akhirnya menekan panggilan itu. Namun, tak ada suara yang keluar dari bibirnya. Ia membatalkannya. Rahangnya kembali mengeras.
"Selalu kau, kau mengacaukan segalanya," gumamnya pelan.
Ia kembali ke meja, merapikan berkas-berkas yang tadi berserakan. Kali ini gerakannya lebih terkontrol, lebih dingin. Pena kembali diambil, tanda tangan terakhir dibubuhkan dengan tekanan kuat, seakan setiap goresan adalah bentuk perlawanan.
Sebuah ketukan terdengar di pintu.
"Masuk," ucap Rodrigo datar, tanpa menoleh.
Pintu terbuka, memperlihatkan asistennya yang berdiri ragu. "Tuan, rapat di Westminster dipercepat. Mereka menunggu Anda."
Rodrigo meraih jam tangannya, mengenakannya dengan satu tarikan tegas. Tatapannya kembali kosong, tertutup lapisan profesionalisme yang dingin.
"Katakan pada mereka," katanya pelan namun tajam, "aku tidak pernah terlambat."
Ia melangkah keluar ruangan, meninggalkan meja kerja yang kembali rapi. Namun, bayangan Valeria tetap tertinggal, berdiam di sudut pikirannya, menunggu saat yang tepat untuk kembali mengoyak pertahanannya.
Rodrigo menyusuri lorong gedung dengan langkah panjang dan mantap. Lantai marmer memantulkan bayangannya, dingin dan tegak, seolah tak menyisakan celah bagi keraguan. Di luar, gerimis kembali turun, mengetuk kaca jendela dengan ritme pelan.
Mobil hitam sudah menunggu di depan. Ia masuk tanpa menoleh, pintu tertutup rapat di belakangnya. Mesin menyala, membawa mereka menembus lalu lintas London yang padat dan berkilau oleh lampu malam.
Di dalam mobil keheningan menggantung , Rodrigo membuka kembali berkas tipis di tangannya. Namun satu nama kembali menarik perhatiannya.
Valeria. Huruf-huruf itu terasa lebih berat dari yang lain.
Ia menutup map itu perlahan.
Tatapannya lurus ke depan, suara rendahnya memecah sunyi.
"Kita belum selesai!" ujarnya, sambil mengepalkan tangan.
Lampu kota berlalu di balik kaca, sementara di dadanya, konflik itu justru semakin mendekat.