Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 1. BCS
Sebuah mobil berhenti tepat di depan seorang perempuan yang menghadang jalannya. Seorang pria turun mendekati perempuan tersebut.
"Singkirkan motor bututmu itu, nona," perintahnya dengan acuh.
"Kamu pikir jalan punya nenek moyangmu, tuan ?" balasnya menatap sinis .
"Aku tidak punya waktu meladeni kata-katamu, cepat singkirkan motormu itu," usirnya sambil mengibaskan tangannya.
Perempuan itu menatap tidak suka menghampirinya hendak memukul namun tangan pria itu lebih cepat menangkap tangannya, keduanya saling menatap
"Jangan kotori tanganmu yang mulus ini, nanti kalau terluka akan terasa sangat sakit," ucapnya melepaskan tangan perempuan dan berjalan masuk ke dalam mobil.
Perempuan itu mencebik kesal menatap pria tersebut. "Beraninya ngancam memangnya aku takut dengan ancamanmu," ucapnya dengan suara keras.
Pria itu membunyikan klakson dengan suara keras beberapa kali dan perempuan itu menepikan motornya dengan malas.
Sementara mobil melaju dengan kecepatan penuh, perempuan itu menyalakan motornya hendak mengejar mobil tersebut, terdengar ponselnya berdering, mengangkatnya
"Sebentar lagi aku datang," jawabnya kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku jaketnya.
Sore itu di sebuah rumah mewah sedang mengadakan acara resepsi pernikahan. Seorang pria datang dengan langkah tegap masuk ke dalam rumah sambil tersenyum bahagia.
" Sayang, akhirnya kamu datang juga. Semua sudah menunggu kedatanganmu," sambut Khasanah ibunya dengan wajah bahagia.
"Maaf terlambat," katanya kemudian bergabung dengan keluarga besar.
"Sepertinya ada yang berubah atau karena sudah lama tidak bertemu," sahut seorang pria tak lain adalah Alba.
"Kembaranku kok tua, ya. Apa aku salah lihat?" canda Albi menyambut Alba dalam pelukan.
”Enak saja tua, kamu aja kali yang lahir belakangan," kata Alba tidak terima dikatakan tua oleh Albi.
Semua yang mendengar tertawa melihat mereka berdebat masalah usia.
" Hai, Albi. Apa kabar ?" sapa seorang perempuan dengan wajah malu-malu.
"Aku baik," jawabnya singkat dan cuek.
Perempuan itu sedih Albi mengacuhkannya. "Albi ayo kita foto bersama pengantin siapa tahu nanti kita segera menyusul mereka," Ajaknya menarik tangan Albi berjalan ke pelaminan bertemu dengan pasangan pengantin.
“Jangan menarik tanganku, aku bisa jalan sendiri," Albi melepaskan tangan Dania.
Perempuan itu menyembunyikan rasa malunya tetap berjalan disamping Albi. Mereka memberi ucapan selamat kepada pasangan pengantin.
"Hai, Albi apa kabar, oh iya semoga kalian nyusul ya," kata Ria sahabat sekaligus saudara sepupu dari kedua orang tua mereka.
"Kabarku baik, semoga kalian menjadi keluarga samawa dunia akhirat," jawab Albi menjabat tangan pengantin pria dan wanita.
"Oh iya, kapan kalian akan menikah ?“ tanya Dasa sahabat Albi sekarang menjadi suami saudara sepupunya sambil melirik Dania yang berdiri disamping Albi.
"Secepatnya," jawab Dania dengan antusias.
"Nanti kalau malam pertama jangan lupa bagi ilmunya," bisik Albi ditelinga Dasa.
"Makanya segera menikah biar sama-sama tahu rasanya malam pertama," sahut Dasa dengan nada bercanda.
“Albi kapan kamu melamarku, orang tuaku sudah menunggu kamu datang ke rumah,” kata Dania sambil menggandeng tangan Albi dengan manja.
Albi mengabaikannya sambil melepaskan tangan Dania berjalan menuju tempat prasmanan.
Brukk
Albi menabrak seseorang membuatnya terkejut dan mengumpat. Sedangkan perempuan itu memekik sambil membenahi pakaiannya.
“Bisa tidak kalau jalan lihat-lihat ?" katanya dengan kesal.
Perempuan itu terkejut melihat seseorang. "Kamu, orang yang tadi kan. Pantas saja dingin seperti batu es, bisa tidak menghormati perempuan," balasnya tak kalah sengit.
"Kamu, perempuan tidak punya sopan santun apa perlu aku ajari," kata Albi mendekatkan wajahnya pada perempuan tersebut.
“Prasasti," panggil mempelai pengantin perempuan.
Prasasti menoleh mencari suara yang memanggil namanya kemudian melambaikan tangannya.
"Urusan kita belum selesai," katanya meninggalkan Albi dengan wajah terkejut.
“Prasasti," gumam Albi penasaran dengan perempuan yang baru saja berdebat dengannya menatap kepergian perempuan bernama Prasasti.
Mata Albi tidak berkedip melihat paras cantik Prasasti, ia teringat waktu pertama kali bertemu dan berpisah dengan meninggalkan luka dan amarah.
Di panggung pelaminan Prasasti berbicara dengan mempelai perempuan sementara pengantin pria bergabung dengan para tamu undangan.
“Akhirnya kamu datang juga , aku senang sekali," kata Ria mempelai perempuan.
“Pasti datanglah, sahabat sendiri menikah masa tidak memberi ucapan selamat," sahut Prasasti dengan perasaan senang.
“Kamu kenal sama Albi?" tanya Ria.
Deg
Nama itu pernah mengisi hari-harinya dulu namun karena pertemuan singkat itu membuatnya melupakan seseorang. Dalam hatinya nama Albi tidak hanya satu orang sejenak ia menyadari sesuatu.
Prasasti mencari Albi namun tidak menemukannya membuatnya kecewa. Ia menyembunyikan rasa penasarannya.
"Mungkin," jawab Prasasti sambil mengangkat bahu.
"Gimana perjalanan kemari jauh kan?' tanya Ria.
"Lumayan sih demi kamu apa sih yang enggak," kata Prasasti.
Menjelang malam Albi pulang dari tempat pernikahan mengantar Dania ke rumah orang tuanya lebih dulu.
Dari dalam Prasasti melihat sosok Albi tiba-tiba jantungnya berdegup sangat cepat. Ada perasaan cemburu ketika melihat seorang perempuan menggandeng tangannya dengan mesra.
Prasasti berjalan menuju motornya dan menyingkap gaunnya lalu menyalakan mesin meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan tidak menentu.
Albi melihat Prasasti tersenyum tipis. "Apakah kamu merindukanku ?"
Dania melihat Albi yang diam saja kesal karena sedari tadi diajak bicara justru cuek tidak menanggapi kata-katanya.
Sampai di depan rumah Dania tidak segera turun justru mencium bibir Albi sekilas membaut Albi terkejut dan mengusap bibirnya dengan tisu basah.
Dania marah melihat sikap Albi terkesan sombong padanya. "Kamu kenapa jadi acuh sama aku, Albi. Apa kekuranganku dan apa salahku biar aku ubah diriku agar kamu tidak cuek sama aku," bentak Dania.
"Dengar ya, Dania. Aku tidak pernah memaksamu mencintaiku dan aku tidak berharap jatuh cinta sama kamu, kamu sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri," sahut Albi menekan kata saudara.
Dania turun dari mobil berjalan masuk ke dalam rumah, Albi melanjutkan perjalanannya menuju rumah.
Selama dalam perjalanan pulang Albi teringat Prasasti. Ia pergi ke suatu tempat dimana pertama kali bertemu dengan perempuan yang membuat hatinya merasa bersalah.
Di sebuah tempat makan Albi memesan makanan dan minuman yang dulu Prasasti pesan untuk mereka berdua.
Albi tersenyum tipis mengingat kejadian dulu.
“Sudah lama tidak kesini, rasanya kangen juga," kata seseorang di belakang Albi.
Albi seperti pernah mendengar suara tersebut menoleh kemudian berbalik seolah tidak melihat orang yang duduk dibelakangnya.
"Kamu terlalu sibuk dengan studymu sih," sahut seorang teman yang bersamanya.
“Iya, Jes. Tapi sekarang sudah selesai dan aku sudah dapat pekerjaan yang mapan, perjalanan yang tidak mudah sampai dititik sekarang," Prasasti menghembuskan napas panjang.
"Lalu, apa kamu tidak memberitahu pacar kamu kalau kamu sudah kembali ?" tanya Jesika.
"Jadi, sekarang sudah punya pacar," batin Albi meyakinkan pendengarannya.