Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
"Pegang tangan gue."
"Gak bisa."
"Lo bisa ayo, lo mau jatuh."
Bus yang ditumpangi anak ips tergelincir dan nyaris masuk kejurang karna jalan yang mereka ambil salah, sedangkan bus yang membawa anak ipa yang melihat itu semua berhenti mendadak mereka tak bisa mengambil resiko. Bus anak ips berhasil melewati jalan curam itu namun satu siswa terjatuh karna posisi anak itu berada diambang pintu bus.
"Wah siapa tu yang jatuh?" ucap Anita yang terlihat sangat penasaran
"GALA!" pekik anak Ips
"Wih Gala bro yang jatuh." ujar Irsyad
"Karma gak sih?" ujar Gibran
"Gak boleh gitu doa'in aja semoga cepat mati." timpal Betran
"Wihh, Mulut lo ternyata pedes juga trand. Gak nyangka gua!"
"Gak boleh gitu mending kita keluar mastiin tu bocah mati beneran atau enggak" Raden ikut bersuara
"Buset, lo pada gak ada bedanya." ujar Irsyad
Mereka turun dari bus untuk melihat kejadian itu lebih jelas.
"Eh, itu Gista gak sih?"
Mendengar ucapan Gibran membuat semua memicingkan mata. "Mana?"
"Itu yang bantuin sih Gala."
Rombongan Raden mengikuti arah telunjuk Gibran, benae saja di sana ada Gista yang tenga membantu Gala.
Melihat hal itu membuat tangan Raden mengepal. "Kenapa Gista bantuin tu bocah padahalkan banyak orang lain." gungam Raden pelan
"Hah? Apa den, lo ngomong apaan pelan banget gak kedengaran gua." ujar Irsyad, ia samar-samar mendengar ucapan Raden namun tak jelas.
"Gak ada."
Gista tengkurep di tanah, tangannya memegang erat tangan Gala yang berpegangan di tebing curam. "Ayo raih tangan gue, lo pasti bisa!" teriaknya, suaranya penuh keyakinan. Pakaian Gista kotor dan sedikit robek, tapi dia tidak memperdulikannya.
Mata mereka saling bertemu, dan Gista bisa melihat tekad di mata Gala. Dengan sedikit usaha, Gala mengangkat tangannya yang lain dan meraih tangan Gista. Gista menariknya dengan sekuat tenaga.
"Lo pasti bisa, pegang tangan gue erat-erat."
"Lepasin tangan gue kalo lo gak mau mati konyol disini."
"Enggak, gue pasti bisa selamatin lo." Gista keukeh, ia tak melepaskan tangan Gala.
Gista hampir berhasil menarik Gala naik ke atas, tapi karena licin, dia hampir masuk ke jurang juga. Gista merasakan tangannya terlepas, dan dia sendiri mulai kehilangan keseimbangan. Sebelum Gista jatuh, sebuah tangan kuat menahan lengannya.
Gista merasakan dirinya ditarik ke atas, saat matanya di bukan matanya langsung melihat seorang laki-laki berwajah tampan dengan ekspresi serius, yang menahan lengannya.
"Raden.."
"Lo gak papa sta?"
Gista mengangguk. "Gak papa, Raden tolong bantu dia."
Raden menatap Gala, dengan terpaksa ia membantu adik dari musuh bebuyutannya. Ya , Gala merupakan adik dari Noah ketua geng Lavegas yang sudah mengeroyok Raden tempo hari.
Semua bernapas lega saat Raden dan Gista berhasil menyelamatkan Gala.
"Makasih ya udah nolongin gue." ucap Gala pada Gista
Gista mengangguk. "Sama-sama, tapi yang nyelamatin lo bukan cuma gue tapi Raden juga. Kalo gak ada Raden mungkin kita berdua sudah mati.."
Gala menatap Raden sekilas setelah itu beralih lagi kepada Gista. "Gak minta bantuan dia juga, temen-temen gue banyak kok yang mau bantu." ucap Gala membuat Raden geram
"Gak tau di terima kasih, udah di tolongin gak tau diri."
"Kenalin nama gue Galaksi anak pemilik sekolah sekaligus ketua osis di SMA Galaksi." ucap Gala sembari menyodorkan tangannya pada Gista
Raden memutar bola mata malas. "Sombong amat." gungam Raden
"Gue, Gista." Gista hendak menjabat tangan Gala namun dengan cepat di tarik oleh Raden
"Sta itu kita disuruh berkumpul." Raden membawa Gista pergi dari sana
Setelah kepergian Raden dan Gista, teman-teman Gala datang menghampirinya. "Bos lo gak papa?" tanya Tatang
"Menurut lo?"
"Maaf bos kita gak bantuin, soalnya takut licin." timpal Salsa
"Iya bos, lagian gue sama Tatang tadi udah mau bantu bos tapi keduluan sama cewek itu." timpal Yogi
"Alah alasan, dasar temen gak guna." Gala pergi meninggalkan ketiga sahabatnya dengan perasaan kesal.
Di area camping, suasana sibuk dengan anak-anak yang memasang tenda masing-masing. Anak IPA 1 dan 2 bergabung bersama, tapi tidak boleh gabung dengan anak IPS yang bergabung dengan mereka. Gista, Adara, Anita dan Pipit berempat sibuk memasang tenda, berniat untuk berbagi satu tenda. Mereka berempat terlihat sangat antusias, tertawa dan berbincang sambil bekerja sama.
"Gimana sih cara pasang tendanya kok gak bisa-bisa." keluh Anita
"Iya nih, apa kita minta bantuan sama cowok-cowok aja ya?" ujar Adara yang terlihat sudah putus asa
"Ide bagus dar, lu mending minta bantuan sama Raden pasti dia mau dar." ucap Pipit
Belum sempat Adara pergi menemui Raden, tapi para laki-laki itu sudah datang sendiri menghampiri mereka. "Butuh bantuan gak?"
"Emmm, boleh gak bantu kita pasangin tendanya?" ucap Adara
"Tenda?"
"Iya, dari tadi kita masang gak bisa-bisa." kekuh Anita
"Tapi tenda kalian sudah terpasang." ucap Irsyad membuat ketiga gadis itu menoleh kebelakang
Mata ketiganya melebar saat melihat tenda mereka sudah berdiri kokoh. "Kok bisa?"
Mata mereka menatap pada Gadis yang sedang fokus memeriksa tiap sudut tenda, sebuah senyuman terbit dari bibir Raden saat mengetahui siapa yang memasang tenda itu.
"Gista!"
'Gista memang bener-bener beda dari gadis pada umumnya..' batin Raden
"Sta, lo yang masang tendanya?"
Gista mengangguk. "Iya."
"Kok lo gak ngomong kalo bisa sih."
"Yah kalian gak tanya." ucap Gista dengan cengiran, tadi pada saat teman-temannya memasang tenda Gista memang tidak membantu karena masih syok dengan kejadian yang menimpahnya tadi
"Assalamuaikum."
Kompak mereka menoleh kebelakang saat mendengar salam dari seseorang. Semua memutar bola mata malas saat mengetahui ternyata Gala yang datang.
"Ngapain kesini?" ketus Gibran
"Mau bikin onar?" sambung Irsyad
"Ganggu suasana aja, tadi adem anyem sekarang jadi panas." gungam Raden
"Weh santai bro, gue kesini gak cari ribut cuman mau kasih ini buat Gista." Gala menyodorkan satu buah coklat pada Gista
Gista menaikkan satu alisnya karena tak paham.
"Buat lo karena udah selamatin gue tadi." jelasnya
"Oh itu, kan tadi udah gue bilang bukan gue aja bantuin lo tapi Raden juga jadi gak perlu repot-repot kasih gue coklat."
"Chaha.. di tolak gak tu." ledek Gibran
"Malu gak sih??"
"Kalo gue sih malu bingit..."
Telinga Gala terasa panas mendengar ejekan-ejekan mereka namun ia berupaya untuk menahan diri supaya terlihat baik didepan Gista.
"Iya gue tau sta, tapi tolong terima ya coklat ini gue beli khusus buat lo soalnya gue gak suka coklat kalo dibuangkan mubazir."
Gista mengambil coklat yang berada ditangan Gala membuat teman-temannya melongo. "Makasih Gala."
Gala tersenyum saat coklat pemberiannya di terima oleh Gista. "Sama-sama dimakan ya, kalo gitu gue balik ketenda gue lagi ya sta."
Gista menganggukan kepalanya sebagai jawaban
"Sta, kok lo terima sih coklatnya." ucap Adara
"Iya sta, gimana kalo coklat itu udah di racunin." sambung Anita
Gista terkekeh, "Gak mungkin lah, kalian tenang aja gue yakin ini aman."
"Gala itu adiknya Noah, sta." Raden angkat suara
"Laki-laki pengecut itu? Yang ambil motor gue?"
Raden mengangguk. "Iya Noah yang ambil motor lo itu, Noah dan Gala sebelas dua belas sama-sama tukang bikin onar. Bedanya Noah di jalanan berulah kalo Gala disekolahan."
"Hah? Motor Gista diambil Noah kok bisa?" semua terkejut mendengar ucapan Raden
"Panjang ceritanya, intinya gara-gara Gista tolongin gue pas dikeroyok sama anggotanya nah dari situ dia dendam sama Gista. Karena Gista udah gagali rencana mereka buat celakai gue."
"Wah parah tuh anak bener-bener gila.."
"ANAK-ANAK SINI KUMPUL!" obrolan mereka terhenti saat mendengar suara kepala sekolah yang meminta mereka semua berkumpul