Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Delapan — Tahap Uji Coba Vaksin
Selamat membaca cerita ku yang baru, semoga kalian suka ya..
Di kejauhan dari tempat mereka, sedang ada pertarungan antara manusia dengan kanihu lainnya, tanpa ada sosok Alpha.
Seorang pemuda–masih sangat muda–bergerak lincah di tengah kepungan Kanihu. Usianya mungkin tak lebih dari lima belas tahun. Tubuhnya tidak besar, namun gerakannya cepat dan terlatih.
Lyno, pemuda berusia 15 tahun, kakinya menghantam dada salah satu Kanihu hingga terjungkal ke belakang. Tanpa memberi celah, ia memutar tubuhnya dan menghantam pelipis yang lain dengan siku keras. Gerakannya bukan sembarang berkelahi–ada teknik di sana. Ada insting bertahan hidup yang sudah terasah.
Namun jumlah mereka terlalu banyak.
Dari sisi lain, seorang pemuda yang lebih tua– sekitar dua puluh tahun– bernama Regan, membantu menahan serangan. Ia memegang besi panjang bekas kaki meja, mengayunkannya tepat ke rahang Kanihu yang menerjang.
“Lyno! Kiri!” teriak Regan.
Lyno langsung menunduk ketika cakar tajam nyaris menyentuh wajahnya. Ia berguling lalu bangkit dan menendang lutut kanihu hingga sendinya berbunyi retak.
Kanihu liar yang tidak terkoordinasi, berbeda dari pasukan Alpha. Mereka menyerang membabi buta, tertarik pada suara dan gerakan.
Lyno dan Regan tidak sendirian. Ada lima orang lainnya bersama mereka, membentuk lingkar pertahanan di depan bangunan yang tampaknya menjadi tempat persembunyian mereka. Mereka menggunakan apapun yang bisa dijadikan senjata–pipa besi, kayu patah, bahkan pecahan papa.
Namun kekacauan membuat formasi mereka goyah. Dua orang di antara mereka– yang sejak awal terlihat paling nekat, menerobos terlalu jauh dari lingkaran.
“Kembali!” teriak Regan, tapi sudah terlambat.
Salah satu Kanihu menerkam dari samping. Gigitan tajam menancap di bahu pemuda itu. Jeritannya memecah udara sore, lalu tubuhnya didorong jatuh ke tanah. Yang satunya lagi mencoba menariknya, tapi kanihu lain menghantam dari belakang. Gigi bertaring menembus lehernya.
Sunyi sejenak.
Lalu tubuh keduanya terkulai. Tidak ada kejang aneh maupun perubahan wujud. Mereka mati.. Sebagai manusia.
Lyno menyadari jumlah mereka tak lagi seimbang. Ia mundur setengah langkah, nafasnya berat namun matanya tetap tajam mengamati sekitar. Dalam sepersekian detik, ia embaca situasi– arah datang kanihu, jarak antara bangunan, dan satu hal yang paling penting.
Pintu darurat di sisi kanan bangunan. Masih terbuka sedikit.
“Regan! Ke kanan!” teriaknya cepat.
Regan langsung menangkap maksudnya tanpa perlu penjelasan panjang. Ia memutar besi panjangnya, menghantam satu kanihu hingga tersungkur, lalu bergerak mundur sambil melindungi tiga orang yang tersisa.
“Kalian di belakang kami! Jangan terpisah!” seru Regan.
“CEPAT! CEPAT!!” teriak Lyno, membuat mereka segera bergerak cepat ke pintu. Lyno maju satu langkah terakhir, menendang dada kanihu yang hampir menerkam salah satu temannya, lalu berbalik.
Mereka bergerak cepat. Bukan lari panik tapi lari terarah. Tiga orang di tengah, Regan menjaga sisi kiri, Lyno di kanan sekaligus paling belakang sesekali berbalik untuk memastikan tak ada yang terlalu dekat.
Salah satu kanihu melompat hampir menyentuh bahu Lyno, namun pemuda itu berputar dan menghantam rahangnya dengan siku keras sebelum kembali berlari. Jarak mereka dengan pintu darurat semakin dekat.
Kanihu semakin banyak yang berdatangan. Dari ujung jalan, dari balik kendaraan terbengkalai. Gerakan mereka tidak lagi acak. Bau darah dan suara benturan memancing mereka seperti magnet.
Namun di tengah kepungan itu, tekad Lyno tidak goyah. Tangannya mencengkeram gagang pintu darurat lebih kuar, rahangnya mengeras. Ia tidak bertarung hanya untuk bertahan hidup. Ia punya tujuan, memastikan sendiri apakah kakaknya selamat.
Apakah sang kakak masih hidup… atau sudah menjadi bagian dari mimpi buruk ini. “Cepat masuk!” teriaknya pada tiga orang dibelakang. Regan menghantam satu kanihu terakhir sebelum ikut mundur. “Lyno, masuk sekarang!”
Namun Lyno menoleh sekilas ke arah jalan yang lebih jauh– arah yang berlawanan dari tempat mereka bertahan. Arah terakhir ia berpisah dengan kakaknya.
Lyno berhasil selamat dari terjangan kanihu, mereka berlima langsung melangkah menuruni tangga bertujuan keluar dari gedung Akasia.
“Kita harus sembunyi. Jangan biarkan mereka mengetahui keberadaan kita dimana.” ujar Regan membuat Lyno mengangguk dan menyuruh ketiga teman lainnya melangkah pelan dan cepat.
Sementara itu, jauh dari kericuhan tempat Lyno dan Regan— Arsya, Jay, dan Niki masih bertahan di rumah kosong lantai tiga yang mereka pilih sebagai titik aman sementara.
Langit perlahan berubah gelap. Jingga di ufuk barat menghilang, digantikan biru pekat yang menelan sisa cahaya. Kota menjadi lebih sunyi saat malam turun–sunyi yang justru terasa lebih berbahaya.
Mereka memutuskan untuk tidak bergerak malam itu. Resikonya terlalu tinggi. Di lantai tiga, di ruangan kosong dengan jendela yang sudah mereka tutup kain gelap, mereka duduk bersandar pada dinding. Hanya cahaya senter kecil yang sesekali dinyalakan seperlunya.
Jay mengeluarkan beberapa roti manis yang ditaruh di tempat bekal oleh Niki dari tas Arsya. “Expirednya sisa dua hari lagi,” gumam Niki pelan saat mengingat kembali bungkus roti yang pernah ia buang. Jay mengangkat bahu tipis. “Masih aman, untuk bekal besok.”
Arsya mengambil satu roti dan memakannya perlahan, aroma roti yang masih wangi, cukup untuk mengisi tenaga mereka.
Ketiganya makan dalam diam, setiap gigitan terasa sedikit hambar, bukan karena rasanya–melainkan karena pikiran mereka terlalu penuh. Udara angin malam berdesir pelan di antara bangunan kosong.
Arsya duduk bersila di lantai, senter kecil diletakan menghadap ke atas agar cahayanya menyebar tanpa terlalu terang dari luar. Ia mengeluarkan tiga map yang tadi mereka ambil secara terburu-buru.
Kertas-kertas itu terlihat resmi. Berstempel. Beberapa bahkan memiliki tanda “RAHASIA”. Ia membaca pelan judul-judulnya. “Respon Agresivitas Pasca-Injeksi”.
“Distribusi Vaksin - Tahap Uji Coba". dan… “Subjek Alpha".
Ruangan menjadi lebih sunyi. “Buka yang mana dulu?” tanya Arsya lirih. Niki langsung menunjuk map kedua. “Distribusi Vaksin - Tahap Uji Coba dulu, Sya. Mungkin itu awalnya.”
Jay mengangguk setuju. “Kalau kita tau penyebarannya mulai dari mana, kita bisa tahu kenapa gedung itu di jaga ketat.”
Arsya membuka map tersebut perlahan. Halaman pertama berisi laporan singkat.
LAPORAN INTERNAL
Subjek: Fenomena Biologis KAN I H U
(Kanibal Humanoid)
I. Latar Belakang
Program vaksinasi nasional GEN-VAX diluncurkan sebagai respons terhadap krisis kesehatan global. Uji klinis menunjukkan keberhasilan 99,13%.
Namun pada tahun ke-2 pasca distribusi massal, laporan sporadis mengenai perilaku kanibalistik, gangguan empati, dan perubahan fisiologis mulai muncul.
Insiden pertama yang terverifikasi terjadi di Kompleks Perumahan Sektor Terbatas [DATA DIHAPUS].
Satu keluarga dinyatakan hilang. Tidak ada evakuasi. Tidak ada laporan publik. Kasus ditutup dengan status: KECELAKAAN DOMESTIK.
Proyek : GEN-VAX
Tujuan: Meningkatkan imunitas populasi terhadap virus X melalui modifikasi sel adaptif.
Status: Uji coba terbatas - Tahap awal distribusi wilayah tertutup.
Ia menelan ludah. Dihalaman berikutnya terdapat daftar lokasi. Beberapa kota diberi tanda centang hijau.
Kota Agung. ✅
Kota Angin. ✅
Kota Sejuk. ✅ / ❎
Kota Aman. ❎
Kota Abadi. ❎
Arsya membeku, Niki ikut mendekat. “Itu… kota kita.” Jay mengepalkan tangannya pelan, “kota Sejuk sebentar lagi akan di buat seperti kota Agung.” gumamnya menahan rasa khawatir yang besar.
“Distribusi awal dilakukan tanpa pemberitahuan penuh kepada publik. Subjek tidak diinformasikan mengenai resiko mutasi agresivitas ekstrem.”
“Tanpa pemberitahuan penuh?” bisik Arsya. Jay membaca cepat halaman selanjutnya. Diagram menunjukkan perubahan pada bagian otak-terutama area yang mengatur kontrol impuls dan insting bertahan hidup.
“Catatan Tahap 3:
7% subjek menunjukan peningkatan agresivitas tidak terkendali.
2% menunjukan mutasi perilaku predatorik terstruktur.
0,3% menunjukan kecerdasan adaptif dan pola kepemimpinan.
Ruangan semakin terasa dingin. Niki mengangkat wajahnya perlahan. “0,3%...” Jay menyelesaikan kalimatnya. “Alpha.”
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa beri tanda jejak ya.. Like & Vote, kita lanjut besok jam 10.00 am.