Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28 - It's You ++
Suara alarm membangunkanku dari tidur yang terlelap. Perlahan aku membuka mata. Henry sudah lebih dulu terjaga. Tangannya meraih alarm, mematikannya, lalu menatapku dengan pandangan hangat.
“Pagi…” ucapnya.
“Pagi…” balasku lirih.
“Tidurmu nyenyak?” tanyanya.
Aku mengangguk kecil. “Setiap kali tidur di sini, aku selalu tidur nyenyak. Apalagi kalau ada kamu di sampingku.”
Henry tersenyum. “Syukurlah. Sejak kamu ada di sini, aku jadi senang pulang. Aku nggak merasa sendirian lagi.”
Aku menatapnya sejenak. “Mas… kenapa kamu memilih tinggal di apartemen? Kamu bisa aja tinggal di rumah orang tuamu.”
“Aku pengen mandiri.” jawabnya singkat.
“Tapi kamu jadi sendirian.” kataku pelan.
“Mandiri memang berarti sendiri,” ujarnya sambil tersenyum tipis. “Tapi sekarang nggak lagi. Ada kamu di sini.”
Aku ikut tersenyum. “Berarti keputusanku pergi dari rumah itu… nggak salah dong, ya?”
“Nggak,” jawabnya mantap. “Lili… kenapa waktu itu kamu milih dateng ke sini? Kenapa bukan ke rumah Caca?”
“Karena aku pengen sama kamu.” jawabku jujur.
Henry terkekeh kecil. “Karena pengen sama aku, kamu jadi berani ngajak main duluan, ya?”
Aku tersenyum, sedikit malu.
“Cuma kamu,” lanjutnya, “karyawanku yang berani kayak gitu.”
“Karena kamu yang lebih dulu buat aku berani.” ucapku.
Henry tampak bingung. “Aku melakukan apa?”
“Kamu selalu baik dan perhatian. Kamu yang lebih dulu nyatain perasaanmu. Itu yang membuatku berani… dan membuatku nggak mau kehilanganmu.”
Henry mengusap pipiku dengan lembut. “Kamu nggak akan kehilangan aku. Kita akan selalu bersama.”
Aku mengangguk, meski di dalam hatiku masih ada keraguan kecil yang tidak berani kuucapkan.
“Udah waktunya bersiap kerja,” katanya. “Ayo mandi.”
“Mandi bareng?” tanyaku, memastikan.
Henry tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya. “Emangnya boleh?”
Aku mengangguk. “Tapi gendong aku.”
“Baiklah.”
Ia menggendongku dari depan, langkahnya mantap menuju kamar mandi. Tubuhku terasa ringan di pelukannya. Di depan wastafel, ia menurunkanku perlahan.
Tanpa banyak kata, kami saling membantu menanggalkan pakaian. Gerakannya tenang, tidak tergesa, seolah menikmati setiap detik yang berlalu. Kami masuk ke dalam bilik mandi, berdiri di bawah shower yang belum menyala.
Untuk beberapa detik, kami hanya saling menatap. Udara terasa hangat, penuh ketegangan yang manis. Lalu bibir kami bertemu.
Tanganku melingkar di lehernya, sementara lengannya menguat di pinggangku. Ciuman itu pelan, dalam, dan semakin lama semakin sulit dilepaskan. Henry mendorongku perlahan hingga punggungku menyentuh dinding bilik. Ia berhenti sejenak, menarik napas.
“Lili… aku suka keberanianmu.” bisiknya.
“Aku juga suka sentuhanmu.” balasku jujur.
Ia kembali menciumku. Kali ini lebih dalam, lebih mendesak, seolah tak ingin memberiku kesempatan untuk berpikir.
“Mmpphh…”
Bibirnya meninggalkan bibirku, turun perlahan menyusuri leherku. Sentuhannya membuat tubuhku menegang—bukan karena takut, melainkan karena sensasi yang merayap pelan namun pasti.
“Hhh…”
Ia tidak terburu-buru. Kecupannya bergerak semakin rendah, membuat napasku semakin tak teratur.
“Aah…”
Tanganku menyentuh rambutnya, menahannya lebih dekat, membiarkannya tahu bahwa aku tidak ingin ia berhenti.
Ia tak kembali naik. Justru bibirnya bergerak semakin turun, perlahan meninggalkan dadaku, menyusuri lebih rendah lagi. Sentuhannya membuat napasku tercekat—hangat, sabar, dan semakin berani.
“Mm…”
Tubuhku menegang ketika kecupannya semakin mendekati titik paling sensitif, membuatku mencengkeram rambutnya lebih kuat tanpa sadar. Sensasi itu membuat seluruh tubuhku seperti kehilangan penopang, lututku hampir melemas jika saja ia tak masih menahanku.
“Hhh… Mas…”
Ia berhenti sesaat di sana, seolah menikmati reaksiku, sebelum akhirnya perlahan kembali naik. Bibirnya menyusuri jalur yang sama, meninggalkan jejak yang membuatku menggigil, hingga akhirnya ia berdiri sejajar denganku lagi.
“Aku mulai, ya?” suaranya rendah, nyaris berbisik.
Aku hanya bisa mengangguk pelan.
Tiba-tiba ia mengangkat tubuhku. Refleks, kedua kakiku melingkar di pinggangnya. Punggungku tetap bersandar pada dinding, sementara lengannya menopangku dengan kokoh.
Dan ketika akhirnya kami menyatu, napasku terhenti sesaat.
“Aah! Mas…” desahku, lebih jelas, lebih jujur.
Tangannya menahanku dengan hati-hati. Gerakannya tegas namun terkontrol, membuat ruang sempit itu dipenuhi napas yang saling berburu.
“Lili…” namaku keluar berat dari bibirnya, seolah ia juga sedang menahan sesuatu.
Aku memejamkan mata, membiarkan diriku tenggelam dalam kedekatan itu—hangat, intens, dan tak terbantahkan.
“Aah… Mas…”
Kami terus bergerak dalam ritme yang hanya kami pahami, menikmati kedekatan di pagi yang masih terlalu sunyi untuk dunia luar.
Beberapa saat kemudian, ketika tenaga mulai menipis, Henry perlahan menurunkanku hingga kakiku kembali menyentuh lantai. Ia tetap memelukku, memastikan aku benar-benar seimbang sebelum memberi sedikit jarak—meski pelukannya belum sepenuhnya terlepas.
Tatapannya bertemu dengan tatapanku—lebih gelap, lebih dalam.
Ia menggandeng tanganku dan membawaku bergeser ke bawah shower. Setelah memastikan kami berdiri tepat di bawahnya, ia meraih keran dan memutarnya.
Air dingin mengalir dari atas, langsung mengguyur tubuh kami yang masih hangat. Aku terkesiap kecil, lalu menghembuskan napas panjang ketika rasa sejuk itu perlahan menenangkan kulitku.
Henry mengusap wajahnya yang basah, rambutnya mulai meneteskan air. Aku ikut merapikan rambutku yang menempel di pipi dan leher.
Kami mandi tanpa banyak bicara. Hanya suara air yang jatuh dan napas yang perlahan kembali teratur.
Sesekali bahu kami bersenggolan, membuatku menoleh sekilas. Ia membalas tatapanku dengan senyum tipis yang jauh lebih tenang dibanding beberapa menit sebelumnya.
Air dingin itu seperti menghapus sisa panas dan emosi yang tadi membuncah. Yang tersisa hanya rasa lelah yang menyenangkan dan keheningan yang tidak canggung.
Di bawah guyuran shower itu, semuanya terasa sederhana.
Setelah mandi, kami kembali ke kamar. Aku melirik jam di atas nakas. Angkanya membuatku terkejut. Sudah lewat dari waktu biasanya aku berangkat.
Aku segera mengenakan pakaian dengan tergesa.
“Kenapa buru-buru banget sih?” tanya Henry sambil bersiap.
“Udah terlambat,” jawabku. “Tadi kita terlalu lama di kamar mandi.”
“Masih ada waktu.” katanya santai.
“Nggak ada,” bantahku. “Biasanya aku udah di jalan. Kamu enak, bos. Datang terlambat juga nggak apa-apa.”
Ia tersenyum. “Kalau begitu berangkat sama aku aja.”
“Nggak. Nanti malah makin terlambat. Lebih cepet naik ojek.” ujarku.
“Ya udah, sana. Cepat pergi.”
“Kamu marah?” tanyaku ragu.
“Nggak,” jawabnya lembut. “Aku cuma nggak mau kamu terlambat.”
“Oh… kukira.” gumamku.
Aku menyelesaikan riasanku secepat mungkin.
“Aku berangkat dulu.” pamitku.
“Kamu nggak sarapan?” tanyanya.
“Nggak sempat.”
Aku keluar dari apartemen dan menuju lift, meninggalkan pagi yang hangat di belakangku.
Aku tiba di kantor sedikit terlambat. Begitu lift terbuka di lantai divisi kami, aku langsung berlari menuju ruanganku.
“Lia? Kenapa kamu baru datang?” tanya Pak Arman.
“Maaf, Pak. Saya bangun kesiangan. Saya tidak mendengar alarm berbunyi.” jawabku, berbohong.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Lain kali jangan diulangi.” ucapnya.
“Baik, Pak. Terima kasih.” balasku.
Aku segera menuju mejaku dan menyalakan komputer.
Aku membuka laporan performa kampanye bulan ini. Grafik di layar menunjukkan kenaikan kecil, tetapi belum sesuai target yang diharapkan. Aku mencatat beberapa poin penting, menandai bagian yang perlu diperbaiki sebelum rapat evaluasi nanti.
Tanpa terasa, waktu berjalan cepat hingga jam di layar menunjukkan waktu makan siang. Aku dan yang lainnya pun langsung menuju kantin.
Kami memesan makanan dan duduk di meja seperti biasa. Tak lama kemudian, Caca datang—sendirian.
“Hai…” ucapnya sambil duduk di depanku.
“Hai…” jawab kami hampir bersamaan.
“Kok kamu sendirian, Ca? Arvin mana?” tanya Fera.
“Oh, dia nggak masuk. Katanya kecelakaan.” jawab Caca santai.
“Apa?!” seru kami bertiga bersamaan.
“Kok bisa?” tanyaku refleks.
“Entahlah. Dia juga nggak jelasin detailnya,” ucap Caca. “Tapi nanti setelah pulang kerja, anak-anak R&D mau jengukin dia ke rumah sakit.”
“Aku ikut.” kata Fera.
“Aku pengin ikut juga, tapi malam ini ada acara keluarga.” sambung Riki.
Caca lalu menatapku. “Kalau kamu gimana, Li?”
“Ehm… lihat nanti, ya.” jawabku ragu.
Sejujurnya aku ingin ikut. Ada rasa bersalah yang mengganjal di dadaku sejak penolakanku kemarin. Namun sebelum itu, aku harus memberi tahu Henry.
Tiba-tiba Niko lewat.
“Lia… pacarmu lagi di rumah sakit, tuh.” godanya.
“Niko!” seru Caca kesal.
Niko tertawa kecil lalu pergi.
“Sabar ya, Li…” ucap Caca pelan.
Aku mengangguk.
Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Kami makan tanpa banyak percakapan.
“Kalian duluan aja. Aku mau ke ruangan Pak Henry.” ucapku setelah selesai makan.
“Ngapain kamu ke ruangan Pak Henry?” tanya Fera heran.
“Katanya beliau mau nanya soal produk baru,” jawabku cepat. “Aku ke sana dulu, ya.”
Aku langsung menuju ruangan Henry.
“Mas Dimas, Pak Henry ada di dalam, kan? Ada hal yang mau aku bicarain sama Pak Henry.” tanyaku di depan ruangannya.
“Tunggu sebentar.” jawab Dimas. Ia bangkit, mengetuk pintu, lalu membukanya sedikit.
“Pak, Mbak Lia ingin bertemu.” katanya.
“Suruh masuk.” terdengar suara Henry dari dalam.
Aku mengangguk dan masuk, lalu menutup pintu.
Aku duduk di kursi di hadapan meja kerjanya.
“Lili, ada apa?” tanya Henry.
“Ehm… aku mau minta izin.” ucapku ragu.
“Izin apa?”
“Jenguk Arvin.”
“Jenguk Arvin? Memangnya Arvin kenapa?”
“Dia kecelakaan.”
Henry terdiam sejenak. “Seperhatian itu, ya, kamu sama Arvin?”
“Nggak gitu,” kataku cepat. “Aku cuma… ngerasa bersalah.”
“Bersalah kenapa?”
“Soalnya… aku udah nolak dia.”
“Apa?” Henry tampak terkejut. “Jadi kemarin Arvin nyatain perasaan ke kamu?”
“Dia cuma bilang nyaman.” jawabku pelan.
Henry menghela napas.
“Kalau kamu nggak suka aku jenguk dia, nggak apa-apa. Aku nggak akan pergi.” kataku lirih.
“Gini saja,” ucap Henry akhirnya. “Aku ikut jenguk Arvin.”
“Hah?” aku menatapnya kaget.
“Kenapa? Kamu nggak mau aku ikut?”
“Bukan gitu. Rasanya… aneh aja.”
“Aneh kenapa? Aku ini bosnya. Nggak boleh bos jenguk karyawannya?”
“Ya… boleh.” jawabku pelan.
“Nanti kamu ikut mobilku aja.” katanya.
“Tapi Fera ikut juga, ya. Aku nggak mau orang-orang curiga.” pintaku.
Henry mengangguk.
Aku bangkit dari kursiku. “Kalau gitu aku balik dulu ke ruanganku.”
Tiba-tiba Henry menahan tanganku, mencegahku melangkah pergi.
“Ada apa?” tanyaku, berhenti di tempat.
Henry menatapku sejenak, lalu melepaskan pegangannya. Ia menggeser kursinya sedikit dan menepuk pahanya pelan, memberi isyarat tanpa kata.
“Duduk sini sebentar.” ucapnya rendah.
Aku terdiam beberapa detik, lalu akhirnya mendekat dan duduk di pangkuannya.
“Ada apa sih?” tanyaku.
Henry mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“Ada aku yang kangen sama kamu.” ucapnya rendah.
Aku tersenyum, paham betul maksudnya.
“Kamu mau ngajakin aku main di sini?” godaku pelan.
“Nggak sampai sejauh itu,” katanya sambil menyentuh bibirku singkat. “Cuma sampai ini.”
“Tapi pintunya nggak dikunci.” bisikku.
“Tenang. Dimas nggak akan masuk tanpa mengetuk.”
Aku akhirnya menyerah. Tanganku melingkar di lehernya, mengikuti tarikan tubuhnya yang sejak awal memang sudah menginginkanku duduk di sana—di pangkuannya, di ruang yang seharusnya steril dari hal-hal seperti ini.
Bibir kami bertemu tanpa ragu. Jika ciuman pertama kami di ruangan ini dulu terasa seperti kegilaan karena nekat dan tak terencana, maka yang ini adalah kegilaan yang kedua—bukan karena lupa, tapi karena memilih untuk mengulanginya. Henry menciumku dengan lebih dalam, lebih yakin, seolah tahu persis apa yang ia inginkan dan tak berniat mundur.
Tangannya menahan pinggangku kuat, jari-jarinya menekan pelan namun pasti, memastikan aku tidak berpikir untuk menjauh. Ciumannya tidak terburu-buru, justru semakin menekan, membuat napasku tersendat dan dadaku berdesir. Tidak ada lagi rasa kaget seperti sebelumnya—yang ada hanya kesadaran bahwa kami sedang melakukan hal yang sama, sekali lagi, di tempat yang sama.
Ciuman itu berlangsung lama, terlalu lama untuk disebut wajar, terlalu intens untuk dianggap sekadar pelepas rindu. Ruangan kerja Henry kembali kehilangan fungsinya, berubah menjadi saksi kegilaan yang kami biarkan terulang. Aku tahu kami seharusnya berhenti, tapi tubuhku justru semakin melekat padanya, seolah mengakui bahwa kegilaan kedua ini terasa lebih sulit ditolak.
Saat Henry akhirnya menarik wajahnya sedikit menjauh, napas kami sama-sama berat. Dahi kami hampir bersentuhan, tangannya masih menahan pinggangku, seakan kegilaan itu belum benar-benar selesai—hanya ditahan sebelum melangkah lebih jauh.
Aku bangkit perlahan. “Aku balik ke ruangan dulu.”
Henry tersenyum kecil.
Aku melangkah keluar dengan jantung yang masih berdebar.
Hari itu, aku kembali ke meja kerjaku membawa dua perasaan yang bertabrakan—tenang karena mendapat izinnya, dan resah karena semakin dalam melangkah ke hubungan yang seharusnya kami sembunyikan.
Dan aku tahu, semakin aku berusaha menjaga jarak di depan orang lain, semakin sulit bagiku melepaskan Henry.