Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Adrian berdiri tegak beberapa detik, menatap JJ yang masih gemetar di tempatnya. Suasana ruangan terasa menyesakkan, tidak ada satu pun yang berani bersuara.
Perlahan—
Adrian berbalik dan kembali ke kursinya.
Langkahnya tenang.
Terkendali.
Seolah semua yang baru saja terjadi… memang sudah berada dalam perhitungannya.
Ia duduk dengan anggun, punggungnya bersandar, jemarinya bertaut di atas meja. Tatapannya kembali menyapu seluruh ruang sidang sebelum akhirnya berhenti pada JJ.
Setelah itu...
“Petugas.”
Suaranya rendah, namun cukup untuk membuat beberapa petugas langsung siaga.
“Amankan JJ Zhou.”
“Tidak! Saya tidak bersalah!” JJ meronta saat petugas mendekat dan menangkapnya.
Adrian tetap duduk tenang, matanya dingin.
“Berdasarkan pernyataan yang telah diucapkan di persidangan,” lanjutnya tegas, “pengadilan menetapkan JJ Zhou sebagai tersangka baru untuk pemeriksaan lebih lanjut.”
Adrian kemudian mengalihkan pandangannya. “Selanjutnya... Jessica Zhou terbukti berada dalam kondisi tidak sadar saat kejadian berlangsung.”
Ia berhenti sejenak.
“Dengan demikian, Jessica Zhou dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari seluruh tuntutan hukum.”
Jessica menatap Adrian sekilas, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah JJ yang sedang diamankan petugas… dan Jeff yang terduduk lesu tanpa daya.
“Kena…pa JJ harus membunuh papa dan mamaku…?” gumam Jessica lirih. “Apa yang sebenarnya dia inginkan…?”
Suasana di sekitarnya terasa hampa.
Nico dan Catty segera menghampiri.
“Jessica… maafkan kami,” ucap Nico, suaranya penuh penyesalan. “Kami sudah menuduhmu…”
“Jessica…” Catty memeluk adiknya erat, namun pelukan itu terasa dingin… tidak lagi memberi kehangatan seperti dulu.
Perlahan, Jessica melepaskan pelukan itu.
Tatapannya kosong.
“Di saat aku hampir kehilangan segalanya…” suaranya pelan, namun menusuk, “aku baru sadar… siapa yang benar-benar bisa aku harapkan.”
Kata-kata itu membuat Nico dan Catty membeku.
Tanpa menoleh lagi—
Jessica melangkah pergi, mengikuti petugas keluar dari ruang sidang. Meninggalkan mereka tanpa ragu.
Di kejauhan, Adrian memperhatikan semuanya. Ia menghela napas pelan.
Ada kelegaan… tapi juga sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
“Sepertinya dia masih marah pada kita…” gumam Nico, suaranya berat.
“Kita adalah kakaknya…” lanjut Catty lirih, matanya berkaca-kaca. “Tapi kita tidak percaya padanya…”
Max menghampiri mereka dan tersenyum tipis. “Tidak bisa menyalahkan Jessica juga,” ucapnya. “Di saat dia ingin bertemu kalian, kalian menolaknya.”
“Di saat dia menderita dan dituduh sebagai pembunuh… kalian, orang terdekatnya, justru berharap dia dihukum mati.”
Nico mengepalkan tangan.
Catty menunduk.
“Kalau aku di posisinya,” lanjut Max tanpa rasa kasihan, “aku juga akan memutuskan hubungan dengan kalian.”
***
Pengadilan kehakiman
Ruangan Kantor
Adrian berdiri menghadap jendela, punggungnya tegap, tatapannya menerobos kaca seolah masih memikirkan sesuatu yang belum selesai.
Pintu terbuka.
Jaksa Wu dan Max masuk bersamaan.
“Beritahu aku,” ujar Max sambil mendekat, “sejak kapan kau tahu pelakunya adalah JJ… yang selama ini koma?”
Adrian tidak langsung menjawab.
Ia tetap menatap ke luar.
“Masih ingat saat kita ke rumah sakit?” tanyanya tenang.
“Tentu aku ingat,” jawab Max singkat.
Adrian akhirnya berbalik.
Tatapannya tajam.
“Luka di tangannya,” ucapnya pelan, “itu bukan luka lama akibat kecelakaan. Itu luka baru.”
Max mengernyit.
“Dan kau tidak menyadarinya?” lanjut Adrian. “Bekasnya jelas. Seperti luka cakar. Bukan hanya itu. Sandalnya juga kotor… ada pasir.”
Max terdiam.
“Seorang pasien koma,” lanjut Adrian dingin, “tidak mungkin berjalan keluar… apalagi sampai sandalnya kotor. Itu kelalaiannya,” ucap Adrian singkat. “Dan dari situ aku yakin… pembunuhnya bukan Jeff Zhou.”
Jaksa Wu langsung memukul lengan Max dengan map dokumen. “Bukankah kau detektif? Kenapa bisa tidak menyadarinya?”
Max menyeringai tipis, menepis tangan Wu.
“Kau juga jaksa. Kenapa kau tidak curiga?”
Wu mendengus kesal.
"Satu-satunya saksi kuat adalah Jessica Zhou, sayang sekali dia masih belum bisa ingat kejadian itu," ucap Max.
"Benar! kalau ingatannya pulih. Maka Jj bisa langsung dijatuhkan hukuman," ujar Jaksa .
Adrian kembali duduk di kursinya.
Wajahnya serius.
“Mulai sekarang,” ucapnya tegas, “lakukan interogasi terhadap JJ Zhou.”
Ia menatap Jaksa Wu.
“Kumpulkan seluruh laporan medis lengkap. Aku ingin tahu… bagaimana seorang dokter bisa tidak menyadari pasiennya sudah sadar sejak awal.”
“Baik,” jawab Max cepat. “Aku akan ke rumah sakit sekarang juga.” Ia berbalik dan langsung berjalan keluar.
“Aku akan menemui JJ hari ini juga,” sambung Jaksa Wu, menyusul.
Pintu tertutup.
Ruangan kembali hening.
Beberapa jam kemudian—
Adrian melangkah keluar dari gedung kehakiman dengan tas kerjanya di tangan. Langkahnya tenang seperti biasa, wajahnya tetap datar tanpa emosi.
Di sisi lain— seorang wanita sudah berdiri bersandar di samping mobilnya.
Holdie Fu.
Tatapannya langsung tertuju pada Adrian begitu pria itu muncul. Ia pun mengangkat tangannya, melambaikan dengan santai.
Adrian menghentikan langkahnya.
“Sudah lama tidak bertemu, Tuan Muda. Apa kabarmu?” tanya Holdie sambil berjalan mendekat.
“Kabarku baik saja,” jawab Adrian singkat. “Kenapa Nona Fu ada di sini?”
Holdie tersenyum tipis.
“Nona Fu?” ulangnya pelan. “Dulu kau memanggilku Holdie… kenapa sekarang berubah?”
Ia berhenti tepat di hadapan Adrian.
Tanpa ragu— tangannya meraih tangan pria itu. “Aku ingin makan denganmu,” ujarnya santai, seolah itu hal yang paling wajar di dunia.
Adrian menatap tangan mereka yang saling bersentuhan.
Lalu mengangkat pandangannya ke arah Holdie. “Sepertinya kau tidak pernah berubah,” ucapnya datar.
Holdie terkekeh pelan.
“Dan kau juga masih sama,” balasnya, matanya berbinar. “Selalu dingin… tapi sulit ditebak.”