Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 2. BCS
Di ruang kerja Albi sibuk menandatangani laporan dari sekertarisnya. Beberapa hari ia tidak masuk kerja membuatnya sibuk.
Ketukan pintu tidak memberinya peluang untuk menyambut seseorang. Ia masih saja berkutat dengan laporan.
"Sayang, aku bawakan makan siang kita makan bersama ," Dania meletakkan rantang yang berisi makanan di atas meja.
Di ruangan itu hanya ada Albi dan Dania. Albi tidak menyalakan AC membuat Dania merasa kepanasan sambil melonggarkan pakaian bagian atas dan memperlihatkan dua bukit kembar yang tidak terlalu besar.
Dania mengibaskan buku tipis ke arah lehernya yang putih agar keringatnya mengering. "Nyalakan ACnya dong Sayang, aku kepanasan nih," keluh Dania.
Albi melirik sekilas melihat Dania yang sedang kepanasan. "ACnya rusak belum diperbaiki," jawab Albi cuek.
"Sayang, makan dulu yuk nih aku sudah siapin buat kamu," ajak Dania.
"Kalau kamu lapar, makan lah dulu. Aku masih kenyang," sahut Albi.
Dania berjalan menghampiri Albi dan menggoda dengan tubuhnya sambil memamerkan lekuk tubuhnya yang seksi.
Dengan bujuk rayunya Dania melakukan aksinya mencium pipi Albi kemudian turun ke bawah tangannya menelusuri tubuh Albi dengan sentuhan menggoda.
"Kamu pakai parfum apa, kok baunya sangat tidak enak," Albi menutup hidungnya mengusir Dania secara halus.
Dania menjaga jarak mengurungkan niatnya menggoda Albi lalu mencium aroma tubuhnya yang memang sangat wangi membuatnya heran dengan sikap Albi tidak suka dengan parfumnya.
“Wangi begini dibilang tidak enak," gumamnya berjalan menuju sofa dan duduk disana .
Beberapa menit kemudian Albi berjalan keluar membuat Dania marah bukan main. Ia menghentakkan kakinya ke lantai.
“Albi," panggilnya dengan suara keras.
Albi menoleh terkejut mendengar teriakan Dania. "Jaga sopan santun mu ini kantor bukan pasar," ucap Albi menatap Dania.
“Apa kamu tidak melihat perjuanganku selama ini, kenapa kamu masih saja mengacuhkan ku bahkan makanan yang ku bawa pun kamu tidak mau menyentuhnya," Dania mengungkapkan apa yang ia rasakan sambil meneteskan airmata.
Albi mendekat dan melihat makanan yang sudah disiapkan oleh Dania merasa bersalah kemudian duduk, Dania pun duduk disamping Albi dengan senang .
“Makanlah, aku temani," ucap Albi kemudian mengambil makanan di piring yang sudah disediakan oleh Dania.
Dania mengambil piring yang sudah ia isi dengan nasi dan lauk, lalu menyuapkan ke mulutnya .
Albi menyuapkan makanan ke dalam mulutnya namun ketika merasakan sesuatu segera memuntahkan makanannya.
Dania terkejut sekaligus heran melihat Albi memuntahkan makanannya. “Ada apa, Bi ?"
"Kamu ingin meracuniku dengan makanan buatanmu, makan sendiri saja," ucap Albi kemudian melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Dania mencicipi makanannya dan ternyata benar tidak enak sama sekali bahkan keasinan dan keasaman. Ia membuat makanan untuk Albi dengan ketrampilannya justru gagal.
Dania memasukkan kembali makanan ke dalam tempat dan membawanya pulang dengan wajah kecewa dan marah. Ingin meluluhkan Albi justru dibuat malu sendiri.
Beberapa karyawan melihat Dania berjalan keluar merasa heran. Bisik-bisik terdengar ditelinga Dania langsung menoleh melihat karyawan menatapnya kasihan.
“Rasain tuh Dania, paling dia diputusin sama pak Albi, mana mungkin pak Albi suka sama perempuan manja seperti dia," celetuk salah satu karyawan.
"Hei kamu, ngomong apa tadi putus tidak mungkin kamu salah. Albi tidak akan memutuskan aku, camkan itu," bentak Dania berjalan lebih cepat menuju mobil.
Dari ruangannya Albi melihat mobil Dania meninggalkan perusahaannya merasa kasihan. Sebenarnya ia tidak tega pada Dania tapi sikapnya membuatnya jengah.
Ponsel Albi berbunyi sebuah notifikasi chat masuk. Ia membuka dan membaca dengan membuka matanya lebar-lebar.
Albi menelpon orang yang mengirimnya chat.
“Apa-apaan kamu mengirim foto seperti itu, apa kamu ingin membuat reputasiku buruk ?" katanya dengan suara keras.
"Bukan begitu, kamu kan yang menyuruhku mencari informasi tentang Dania," jawabnya dari seberang .
“Tapi tidak harus foto tak senonoh, kamu pikir aku akan bernafsu melihatnya," sahut Albi menutup ponselnya sepihak sambil mengumpat.
Sementara di tempat lain Prasasti sedang berkumpul dengan anak panti asuhan. Mereka sangat senang melihat kedatangan Prasasti.
“Kakak, nanti malam tidur di sini kan ?" tanya salah satu anak berambut ikal.
"Sintya, sini sayang. Malam ini Kakak tidak bisa menginap soalnya Kakak sedang ada acara. Maaf ya," Prasasti merasa berat meninggalkan mereka yang sudah seperti keluarganya sendiri.
"Terus kapan Kakak menginap ?" tanya anak yang rambutnya dikucir kuda.
“Dian, kamu baru ya. Salam kenal dari Kakak, kalian semua dengar ya , kakak akan selalu datang kemari menemani kalian bermain tapi dengan syarat kalian semua harus rajin belajar," kata Prasasti dengan haru.
"Kami akan belajar biar pintar dan bisa naik kelas," kata salah satu anak laki-laki mewakili teman-temannya.
“Bagus sekali, sekarang waktunya makan siang, ayo kita ke ruang makan," ajak Prasasti berjalan ke ruang makan.
Semua anak panti dengan sopan dan teratur duduk di ruang makan bersama-sama. Bu Marla pun ikut makan bersama mereka.
Selesai makan siang, beberapa anak tidur siang, ada juga yang belajar juga bermain. Prasasti duduk bersama Bu Marla di taman.
“Sasti, ibu dengar kamu akan menikah. Apakah calon kamu bernama Albi ?" tanya Bu Marla di sela pembicaraan.
Deg
Lagi-lagi jantung Prasasti berdegup cepat mendengar perkataan Bu Marla. Ia tidak menyangka jika Bu Marla tahu semua tentang dirinya padahal tidak pernah memberitahunya.
"Siapa yang tidak kenal Albi, dia sekarang menjadi pria dewasa dan bertanggung jawab. Ibu dengar dia punya kekasih, apakah kamu kekasihnya ?" tanya Bu Marla ingin tahu kebenarannya .
Bu Marla tidak tahu kalau Prasasti sudah lama tidak bertemu dengan Albi. Sedangkan berita pernikahannya adalah bohong, Prasasti sendiri heran dengan kabar pernikahannya.
Prasasti tidak bisa mengharapkan sesuatu yang tidak bisa menjadi miliknya, tapi ia mempunyai impian menikah dengan orang yang ia cintai dan mencintai dirinya.
"Sudah lama kami tidak saling bertemu jadi kami tidak tahu kabar masing-masing. Kami sibuk dengan pekerjaan," ucap Prasasti meremas jari tangannya.
"Kalau kamu mencintai seseorang jangan diam saja, kamu punya hak bicara mengungkapkan isi hatimu meskipun ditolak daripada dipendam sendiri sakitnya lebih malah," pesan Bu Marla menggenggam tangan Prasasti.
Prasasti menatap wajah Bu Marla yang semakin berkerut namun masih terlihat muda."Terimakasih atas nasehat ibu, aku akan selalu mengingatnya,"
"Jangan bersedih, kalau ada masalah kamu bisa cerita sama ibu. Insya Allah ibu bantu," kata Bu Marla tersenyum.
Prasasti memeluk tubuh perempuan paruh baya dengan erat. Airmatanya tidak bisa dibendung lagi, ia meluapkan rasa sesak di dalam hatinya ke dalam pelukan Bu Marla.
Setelah merasa lega Prasasti melepaskan pelukannya dan mengusap airmatanya dan berusaha tegar.