NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekhawatiran

Butik Madam Rosaline dipenuhi cahaya siang yang lembut dan bersih, menembus jendela-jendela tinggi berlapis kaca bening yang dihias tirai tipis berwarna gading. Sinar itu memantul di lantai marmer pucat, menyoroti partikel debu halus yang melayang perlahan di udara.

Di tengah ruangan, panggung kecil berlapis karpet krem menjadi pusat perhatian. Di sanalah Lilith berdiri.

Gaun putih gading yang dikenakannya menjuntai ringan hingga menyentuh lantai, dengan potongan garis pinggang yang tegas tetapi tidak berlebihan. Tidak ada renda tebal atau mutiara mencolok. Hanya permainan tekstur halus yang membuat kainnya tampak hidup ketika ia bergerak. Dua pelayan butik berlutut di sisi kiri dan kanannya, merapikan lipatan rok dan memastikan jatuhnya kain sempurna.

“Bagian bahunya mungkin bisa dibuat sedikit lebih tegas,” ujar Lilith lembut, menatap pantulannya di cermin besar berbingkai emas yang menjulang hampir setinggi dinding. “Aku ingin siluetnya terlihat lebih… anggun”

Madam Rosaline, wanita paruh baya dengan rambut perak yang disanggul rapi dan mata setajam jarum jahitannya, tersenyum penuh profesionalisme. “Tentu, Nona Lilith. Kita bisa menambahkan bordir sangat tipis di bagian garis bahu. Benang perak, hampir tidak terlihat dari jauh. Hanya memberi kesan struktur dan wibawa"

Lilith memiringkan kepalanya sedikit. “Tidak terlalu mencolok?”

“Tidak,” jawab Madam yakin. “Hanya cukup untuk membuat orang-orang berpaling pada Anda"

Louis berdiri tidak jauh dari sana, bersandar santai dengan satu tangan di belakang punggungnya. Mantel birunya terpotong rapi, sepatu kulitnya mengilap. Ia mengamati Lilith dengan ekspresi tertarik namun tetap terukur, seperti seseorang yang sedang menilai karya seni sekaligus memikirkan nilai investasinya.

“Pilihan yang bagus,” katanya ringan. “Sederhana, tapi tetap menunjukkan posisi.”

Beberapa teman Lilith, gadis-gadis bangsawan seusianya, berkumpul di dekat meja teh kecil yang ditata dengan porselen bermotif bunga. Mereka berbisik pelan, kipas tangan terbuka setengah, sesekali tertawa kecil dengan nada yang tertahan.

“Gaunnya benar-benar mencerminkan citra Gadis Suci,” bisik salah satu dari mereka. “Putih yang bersih, tanpa kesan berusaha terlalu keras.”

“Memang,” sahut yang lain. “Tidak semua orang bisa membawa aura seperti itu. Jika dipakai orang lain, mungkin terlihat polos. Tapi pada Lilith…”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya, hanya tersenyum kagum.

Lilith mendengar pujian itu. Senyumnya halus, nyaris merendah. Ia menunduk sedikit, seolah merasa tersanjung namun tak ingin terlihat menyambutnya terlalu terbuka.

“Semoga festival berjalan lancar,” ucapnya lembut. “Aku hanya ingin melakukan tugasku sebaik mungkin.”

Madam Rosaline memberi isyarat kepada pelayan untuk menyematkan beberapa jarum tambahan. “Festival Gadis Suci selalu menjadi sorotan. Banyak keluarga akan hadir. Banyak mata yang menilai.”

Louis tersenyum tipis. “Dan banyak keputusan yang dibuat hanya dari satu hari."

Suasana kembali dipenuhi suara gesekan kain dan denting kecil peralatan jahit. Percakapan beralih pada detail kecil, warna pita untuk rambut, panjang sarung tangan yang tepat, pilihan sepatu dengan hak rendah agar terlihat anggun tanpa tampak terlalu tinggi.

Namun, di tengah semua itu, Alberto berdiri sedikit terpisah.

Ia berdiri dekat jendela, cahaya siang membentuk garis terang di sisi wajahnya. Sejak tadi ia lebih banyak diam, hanya sesekali menjawab jika diajak bicara. Pikirannya tidak sepenuhnya berada di ruangan itu.

Ia sempat melihat Elenna keluar sekitar satu jam lalu. Gadis itu mengenakan gaun sederhana berwarna biru pucat, mantel tipis menutupi bahunya. Langkahnya ringan, hampir tak bersuara saat meninggalkan butik.

Saat itu semuanya terasa biasa.

Tetapi kini, Alberto melirik jam saku peraknya. Sudah terlalu lama. Ia melirik ke arah pintu butik untuk kesekian kalinya. Jalanan di luar terlihat ramai, tetapi tidak ada sosok dengan mantel biru pucat di antara kerumunan.

“Apakah kau menunggu seseorang, Tuan Alberto?” tanya salah satu teman Lilith dengan senyum tipis yang sulit dibaca.

“Tidak,” jawabnya singkat. “Hanya memastikan waktu.”

Lilith menoleh sekilas. Tatapannya lembut, seolah baru menyadari sesuatu.

“Elenna memang belum kembali?” tanyanya dengan nada wajar.

“Belum,” jawab Alberto pelan.

“Ah,” Lilith tersenyum kecil. “Mungkin ia kesulitan menemukan toko yang kumaksud. Jalanan kota memang sedikit membingungkan bagi yang jarang keluar.”

Nada itu terdengar santai. Terlalu santai.

Alberto menatapnya sebentar sebelum mengalihkan pandangan. “Seharusnya ada pelayan yang mendampinginya.”

Louis mengangkat bahu. “Ia hanya membeli kue, bukan pergi berperang.”

Beberapa gadis tertawa kecil.

Alberto tidak ikut tertawa.

Waktu berjalan perlahan. Teman-teman Lilith mulai pamit satu per satu, meninggalkan pujian terakhir dan janji akan bertemu lagi sebelum festival. Suara langkah mereka menjauh, lonceng pintu berbunyi beberapa kali, lalu butik menjadi lebih tenang.

Hanya tersisa Lilith, Louis, Alberto, dan para pelayan butik yang kini sibuk membereskan kain.

Alberto berjalan mendekati pintu dan membukanya sedikit. Angin siang menyentuh wajahnya, membawa aroma roti panggang dan debu jalanan. Ia memandang ke kiri dan kanan.

Tidak ada Elenna.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Saat itulah lonceng kecil di atas pintu berbunyi lagi. Seorang pria tinggi masuk dengan langkah mantap.

Kael.

Mantel gelapnya sederhana tetapi berpotongan tajam. Rambut hitamnya sedikit tertiup angin luar. Tatapannya langsung menyapu ruangan, cepat, tajam, menghitung siapa saja yang ada dan siapa yang tidak.

“Maaf terlambat,” katanya singkat.

Louis tersenyum miring. “Akhirnya kau muncul. Kami hampir selesai.”

Kael tidak membalas senyum itu. Tatapannya sudah berhenti pada Alberto.

“Di mana Elenna?”

Pertanyaan itu langsung, tanpa basa-basi.

Alberto berbalik cepat. “Ia pergi membeli kue. Sudah cukup lama.”

Tatapan Kael berubah. Tidak dramatis, tetapi cukup untuk membuat udara terasa lebih berat.

“Sendiri?”

Lilith menjawab sebelum Alberto sempat berbicara. “Itu salahku. Aku yang memintanya. Kupikir jaraknya dekat, jadi tidak perlu pelayan atau pengawal.”

Nada suaranya terdengar menyesal. Sempurna dalam takaran.

Kael menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang sopan. “Tidak ada yang mendampingi?” tanyanya lagi, memastikan.

“Tidak,” jawab Lilith pelan. “Aku tidak menyangka akan selama ini.”

Keheningan jatuh.

Alberto merasakan firasat buruknya kini bukan sekadar bayangan. Ada sesuatu yang salah.

“Aku akan mencarinya,” katanya tiba-tiba.

Louis menghela napas ringan. “Kau terlalu cemas. Kota ini tidak seburuk itu.”

“Sudah hampir satu jam,” balas Alberto tegas. “Ia tidak mengenal jalan kota sebaik kita.”

Kael sudah melangkah ke arah pintu sebelum keputusan benar-benar diucapkan. “Aku ikut.”

Lilith menggenggam ujung gaunnya sebentar. Gerakan kecil. Hampir tak terlihat.

“Semoga ia hanya tersesat…” katanya pelan.

Kael berhenti sejenak sebelum keluar. Tatapannya sekilas menyentuh wajah Lilith.

“Kota ini tidak seaman yang kau kira.”

Kalimat itu menggantung.

Ia dan Alberto melangkah keluar bersama, langkah mereka cepat di atas trotoar batu. Angin siang terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Di dalam butik, Louis menatap pintu yang tertutup, lalu menoleh pada Lilith.

“Kau tampak sungguh khawatir,” katanya pelan.

Lilith turun dari panggung kecil. Pelayan membantu melepas sebagian jarum, tetapi ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar mereka berhenti sejenak.

“Tentu saja,” jawabnya lembut. “Ia adikku. Jika terjadi sesuatu, aku akan merasa sangat bersalah padanya"

“Adik,” ulang Louis perlahan, memperhatikan wajahnya di cermin.

Pantulan Lilith di sana tersenyum.

Namun, matanya terlihat tidak sepenuhnya cemas.

“Aku hanya berharap,” lanjutnya, “tidak ada kesalahpahaman yang lebih besar dari sekadar tersesat.”

Louis memiringkan kepala. “Kau terdengar seperti sedang memikirkan sesuatu yang lebih rumit.”

Lilith menatap pantulannya sendiri beberapa detik.

“Dalam acara sebesar festival, gangguan kecil bisa membesar dengan cepat.”

“Dan kau tidak menyukai gangguan.”

“Tidak,” jawabnya pelan. “Aku menyukai keteraturan.”

1
Ran
up thorr
Ran
cie elena mulai suka 🤭
Ran
Lilith ini keknya punya gangguan jiwa atau kelainan berpikir ya/Speechless/, stress banget jadi orang
Ran
ayo berlayar kapal elena dan tuan pengawal
Anonymous
semangat thor
VanGenZ: Terima kasih atas dukungannya🙏
total 1 replies
Ran
Lilith play victim jir
Ran
up thorr
Ran
itu mah akal akalan Lilith aja
Ran
sakit banget jadi elena
Ran
Lilith sok gatel lagi sama Kael
Ran
yahh, ayang beb udah mau pergi
Ran
mampus dimarahin ga tuh
Ran
kill aja tuh count
Ran
curiga sama lilith
Ran
buat apa dikasih tau kalau sejak awal udh ditentuin perannya, dasar marquess ga punya hati
Ran
semua gada yang bisa dipercaya kecuali elenna sendiri jir
Ran
Lilith sok baik/Panic//Pooh-pooh/
Ran
lumayan sih. walaupun minim dialog, tetap berkarya thor
Ran: sama-sama thor
total 2 replies
Ran
pengen deh bejek2 Lilith manusia ular itu/Panic/
Ran
kasian banget jadi Elenna/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!