Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐
baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaket geng thunder
Sepulang sekolah....
Selena langsung ke markas geng thunder.
Suasana di markas Thunder sore itu terasa lebih intens dari biasanya. Meskipun candaan soal "PLN" masih membuat Axel senyam-senyum sendiri setiap kali melihat saklar lampu, wajah Zeus tetap tidak bisa santai. Ancaman dari Red Snake bukan main-main, apalagi setelah mereka terang-terangan mengincar Selena.
Zeus berdiri di depan loker besarnya, mengeluarkan sebuah bungkusan plastik hitam yang masih rapi. Ia menghampiri Selena yang lagi asyik mencoba membongkar radio tua di pojok ruangan.
"Pake ini," ucap Zeus singkat sambil melempar bungkusan itu ke pangkuan Selena.
Selena mengernyit. "Apaan nih? Jangan bilang isinya seragam teknisi listrik ya?"
"Jangan ngaco! buka aja!," potong Zeus, berusaha tetap terlihat dingin meski sebenarnya ia sedikit gugup menunggu reaksi Selena.
Selena merobek plastiknya, dan matanya langsung membelalak. Di tangannya kini ada sebuah jaket kulit hitam berkualitas tinggi, persis seperti yang dipakai oleh Zeus dan inti Thunder lainnya. Di bagian punggungnya terdapat bordiran besar The Thunder Chain, lengkap dengan simbol petir dan rantai berduri yang mengkilap.
"Ini... jaket geng kalian?!" teriak Selena histeris. Ia mengangkat jaket itu. Jaketnya terasa berat, tebal, dan aromanya khas kulit baru bercampur parfum maskulin milik Zeus.
"Itu ukuran paling kecil, tapi kayaknya tetep bakal kebesaran di badan lo yang kecil itu," celetuk Damon dari arah samsak. "Itu jaket khusus anggota inti, Sel. Nggak sembarang orang bisa pegang, apalagi pake."
Selena langsung memakainya dengan semangat. Benar saja, jaket itu terlihat sangat besar di tubuh mungilnya. Lengan jaketnya menutupi seluruh telapak tangannya, dan panjang jaket itu hampir mencapai paha. Selena terlihat seperti anak kecil yang sedang memakai baju ayahnya, tapi auranya... benar-benar beda.
"Gila! Gue berasa jadi pimpinan mafia beneran!" Selena bergaya di depan cermin besar markas. Ia menyibakkan rambutnya, lalu pasang muka sangar. "Gimana? Udah cocok belum gue jadi wakil ketua?"
Axel langsung ngakak. "Gk boleh leon number one wakil ketua lo jadi Wakil ketua bagian logistik seblak, ya?"
Zeus berjalan mendekati Selena yang masih sibuk bergaya. Ia merapikan kerah jaket yang dipakai Selena, membuat jarak mereka kembali menipis. Selena bisa melihat pantulan dirinya di mata Zeus—seorang gadis kecil dengan jaket kebesaran yang tampak sangat dilindungi.
"Jaket itu bukan cuma buat gaya," bisik Zeus sambil menarik ritsleting jaket itu sampai ke dada Selena. "Itu pelindung lo. Kalau lo pake itu, nggak akan ada yang berani macem-macem di jalanan. Red Snake bakal mikir dua kali kalau mau nyentuh orang yang pake jaket dengan simbol ini."
Selena tertegun. Dia menyentuh bordiran di dadanya. "Tapi Zeus... ini kan berarti gue beneran jadi bagian dari kalian? Gue kan cuma babu yang udah dapet pesangon gelang."
"Babu yang pake jaket inti?" Zeus menaikkan satu alisnya. "Anggap aja ini seragam keamanan. Biar lo nggak diculik lagi dan bikin gue repot."
Selena tersenyum lebar, ia merasa sangat keren (walaupun Zeus tadi bilang jangan sok keren). Ia lalu memasukkan tangannya ke dalam saku jaket yang dalam, dan menemukan sesuatu. Sebuah kartu akses berwarna silver.
"Ini apa?"
"Kunci buat buka pintu rahasia di markas ini. Jadi kalau ada apa-apa, lo bisa masuk kapan aja tanpa harus nunggu gue," jelas Nathan yang sedari tadi memperhatikan.
Selena merasa hari ini benar-benar gila. Dari ditabrak geng donat gula, dituduh diculik, dapet gelar pahlawan santan, dicap agen PLN, sampai sekarang... resmi punya jaket kebesaran Thunder.
"Oke!" Selena menepuk dadanya dengan bangga. "Mulai sekarang, panggil gue... The Little Thunder! Tapi tetep ya, tagihan listrik kalian gue yang urus!"
Zeus cuma bisa menepok jidatnya sendiri. "Terserah lo, Sel. Terserah."
"Kita bukan PLN, Selena."
Suara berat dan datar itu muncul dari pojok ruangan. Leon, yang sedari tadi cuma diam fokus mengelap mesin motornya, akhirnya angkat bicara tanpa menoleh. Nada suaranya yang tenang tapi tegas itu biasanya sanggup bikin nyali orang ciut, tapi bagi Selena, itu malah terdengar seperti tantangan baru untuk menggoda mereka.
Selena yang lagi asyik muter-muter pake jaket barunya langsung berhenti. Dia menoleh ke arah Leon dengan muka polos yang dibuat-buat.
"Oh, bukan ya? Tapi barusan Leon bilang gitu aja auranya kayak ada setrum-setrumnya lho," goda Selena sambil mendekat ke arah motor Leon. "Kalau bukan PLN, berarti kalian tim pemburu hantu yang pake alat kejut listrik? Ngaku deh!"
Leon berhenti mengelap mesin. Dia menghela napas panjang—sesuatu yang jarang dia lakukan—lalu menoleh menatap Selena dengan tatapan 'capek tapi pasrah'. "Simbol petir ini artinya kecepatan dan kekuatan. Rantai ini artinya kesetiaan. Nggak ada hubungannya sama kabel listrik."
"Iya, iya, Leon... bercanda doang!" Selena nyengir, lalu dia sengaja menyibakkan lengan jaketnya yang kepanjangan. "Tapi jujur ya, pake jaket ini emang bikin gue ngerasa lebih kuat sih. Padahal isinya cuma gue yang berat badannya setara satu ban motor lo."
Zeus yang sedari tadi memperhatikan perdebatan kecil itu cuma bisa geleng-geleng kepala. "Percuma, Yon. Mau lo jelasin pake teori fisika pun, di otak dia kita tetep tukang servis gardu."
"Nah, tuh Zeus pinter!" Selena menunjuk Zeus dengan jempolnya. "Lagian, kalau kalian ngerasa keren banget jadi petir, kenapa nggak takut pas gue bilang PLN? Kan PLN yang ngatur petir biar masuk ke rumah-rumah!"
Axel kembali meledak tawanya. "Gila! Selena bener juga! Kita ini 'kekuatan' yang dijinakkan sama 'pawangnya'. Berarti Selena ini Direktur Utama PLN kita, guys!"
Damon yang tadi lagi asyik mukul samsak ikut nimbrung, "Wah, kalau gitu gaji gue mana, Bu dirut? Minimal traktir seblak lah buat peresmian jaket baru."
Selena langsung pasang gaya bos besar, memasukkan tangan ke saku jaketnya yang dalam. "Tenang, gaji kalian aman selama listrik di hati gue nggak padam! Tapi sekarang, mending kalian anterin gue balik dulu. Gue nggak mau nyokap gue mikir gue beneran kerja di lapangan pasang kabel karena pake jaket item gede begini."
Zeus mengambil kunci motornya di meja. "Ayo. Sebelum lo makin ngaco dan mulai nawarin jasa pasang token ke tetangga lo."
Meskipun mereka semua masih ngerasa harga diri geng motor mereka agak "korslet" gara-gara julukan itu, ada senyum tipis di wajah mereka masing-masing. Markas yang biasanya cuma berisi suara mesin dan bau oli, sekarang jadi lebih hidup karena ada satu gadis kecil yang berani mengubah "Thunder" yang menyeramkan menjadi "PLN" yang bikin ketawa.
Duluar markas...
Momen yang seharusnya keren—Zeus sudah memegang helm, Leon sudah siap dengan motor sportnya, dan Selena sudah gagah memakai jaket kebesaran Thunder—tiba-tiba hancur berantakan karena suara notifikasi HP Selena yang sangat nyaring.
Ting! Ting! Ting! Ting!
Selena merogoh saku jaketnya, dahinya berkerut membaca rentetan pesan WhatsApp dari Mamahnya. Tanpa rasa berdosa, dia langsung mengetik sesuatu dengan cepat sambil senyum-senyum sendiri.
"Bentar, bentar! Ada interupsi negara!" seru Selena.
Zeus menaikkan alisnya. "Apa lagi? Red Snake kirim ancaman lewat WA?"
"Bukan! Ini lebih ngeri dari Red Snake!" Selena menunjukkan layar HP-nya ke depan muka Zeus. "Nyokap gue baru inget kalau sabun cuci piring, kecap manis, sama obat nyamuk bakar di rumah abis. Katanya kalau gue pulang nggak bawa itu, gue nggak boleh masuk rumah!"
Zeus terdiam. Axel yang mengintip dari belakang langsung tepok jidat. "Sel, kita ini mau konvoi perlindungan VIP, bukan mau jadi kurir belanjaan online!"
"Yah, gimana dong? Tadi kan kalian bilang gue 'Ibu Dirut'?" Selena mengedipkan matanya dengan jahil. "Sebagai anak buah yang setia, kalian harus bantu Dirut memenuhi keperluan logistik rumah tangga. Lagian, markas kalian kan deket sama grosiran depan?"
Leon yang tadinya sudah di atas motor hanya bisa menghela napas pasrah, tangannya yang tadi memegang kunci pas kini harus bersiap memegang kantong plastik. "Jadi kita harus beli kecap manis... pake jaket ini?"
"Iya dong! Biar kecapnya ngerasa aman karena dikawal geng motor!" balas Selena semangat.
Sesampainya di toko....
Pemandangan sore itu benar-benar nggak masuk akal. Lima motor sport paling ditakuti di kota ini berhenti di depan sebuah toko kelontong madura yang buka 24 jam.
Zeus turun dari motornya dengan wajah yang ditekuk habis-habis, masih memakai jaket kulit hitamnya yang sangar. Dia masuk ke toko diikuti Selena yang sibuk mengecek daftar di HP-nya.
"Zeus, ambilin sabun cuci piring yang bungkus hijau itu dong, yang ada tulisan 'Ekstra Jeruk Nipis'-nya. Yang itu tinggi banget, gue nggak nyampe," perintah Selena santai.
Pangeran Mafia itu, yang biasanya memerintah ratusan anak buah, sekarang harus mengambil sabun cuci piring pesanan emak-emak.
"Kecapnya yang mana?" tanya Zeus dengan suara rendah dan dingin, bikin penjaga toko kelontong itu gemetaran karena dikira mau dirampok.
"Yang refill aja, Zeus! Lebih hemat!" teriak Selena dari lorong sebelah.
Sementara itu di luar, Axel, Damon, Nathan, dan Leon berjaga di depan toko dengan pose sangat sangar. Orang-orang yang lewat mengira mereka lagi nunggu musuh buat tawuran, padahal mereka lagi jagain satu bungkus obat nyamuk bakar dan dua botol kecap manis di atas jok motor sport seharga jutaan(karena gak bawa recehhan jadi di kasih segitu).
"Gue ngerasa harga diri gue menguap bareng bau oli," gumam Damon sambil melihat kantong belanjaan yang digantung di setang motornya.
"Sabar, Mon. Demi Ibu Dirut," sahut Nathan sambil menahan tawa.
Setelah semua keperluan lengkap, mereka mengantar Selena sampai depan pagar rumahnya. Selena turun dari motor Zeus sambil menenteng kantong belanjaan dengan jaket Thunder yang masih melekat di tubuhnya.
"Makasih ya, tim PLN-ku! Belanjaan aman, nyawa aman!" Selena melambai dengan ceria.
Zeus hanya menatapnya datar, tapi ada kilat lega di matanya. "Masuk sana. Jangan lupa jaketnya dicopot kalau mau tidur, keberatan jaket ntar lo nggak tumbuh-tumbuh."
"Dih, ngeledek! Dadah Bos Kulkas!"
Selena masuk ke rumah dengan perasaan menang banyak. Dia merasa jadi cewek paling keren sedunia: dapet jaket eksklusif, dapet perlindungan mafia, dan yang paling penting... belanjaan rumah tangga dibeliin (dan dibawain) sama cowok-cowok paling ganteng se-kecamatan.
Bersambung...