Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Gemuruh di dada Arlan Mahendra jauh lebih dahsyat daripada kemacetan Jakarta yang baru saja ia tembus. Begitu kakinya menginjak ruang kerja pribadinya, ledakan emosi yang sejak tadi tertahan di depan Adrian dan Hana akhirnya pecah.
PRANGGG !!!
Sebuah vas kristal dari Italia yang bertengger di atas meja konsol melayang dan menghantam dinding, hancur berkeping-keping.
Belum puas, Arlan menyapu semua benda yang ada di atas meja eksekutifnya dengan satu gerakan kasar.
Monitor komputer, tumpukan berkas, hingga plakat penghargaan 'CEO of the Year' jatuh berantakan di atas lantai marmer.
"BRENGSEK!" teriak Arlan parau.
Napasnya memburu, matanya memerah karena amarah yang bercampur dengan rasa malu yang luar biasa.
Dani, asistennya, berdiri mematung di ambang pintu yang terbuka sedikit. Ia tidak berani melangkah masuk.
Ia belum pernah melihat tuannya sehancur ini. Arlan yang biasanya penuh kendali kini tampak seperti binatang buas yang terpojok.
"Hana... kau berani mempermalukanku di depan Adrian? Kau menggunakan tangan pria itu untuk mencekik leherku sendiri?!" gumam Arlan sambil mencengkeram rambutnya frustrasi.
Ia teringat tatapan Hana di restoran tadi. Dingin, tajam, dan sama sekali tidak tersentuh oleh pesona yang biasanya Arlan gunakan untuk meluluhkan istrinya itu.
Yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa Hana - wanita yang selama ini ia anggap sebagai peliharaan yang bisa ia tinggalkan dan ambil kapan saja - ternyata memiliki taring yang sanggup merobek kejayaannya.
Arlan menjatuhkan dirinya di kursi kebesaran yang kini terasa seperti bara api. Ia memandang pecahan kaca yang berserakan di lantai.
Baginya, pecahan itu adalah simbol dari otoritasnya yang mulai retak.
"Kau pikir kau menang, Hana? Kau pikir kau bisa lepas dariku hanya karena kau punya Adrian?" Arlan tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar mengerikan di tengah kesunyian ruangannya. "Aku tidak akan menceraikanmu. Tidak akan pernah. Jika aku harus hancur, kau akan tetap menjadi tawanan di dalam kehancuranku!"
Berbanding terbalik dengan badai di kantor Mahendra Group, suasana di kantor Hana terasa jauh lebih tenang, namun penuh dengan beban pikiran yang berbeda.
Hana baru saja kembali ke ruangannya. Ia meletakkan tas kerjanya, lalu menjatuhkan tubuhnya di kursi sekretarisnya yang empuk.
Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, memejamkan mata, dan menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih bersih.
Keheningan ini terasa mahal.
Pikirannya melayang kembali ke momen di Restoran The Peak tadi. Ia mengingat bagaimana tangan Arlan gemetar saat menandatangani dokumen akuisisi vendor.
Ia mengingat sorot mata Arlan yang penuh luka dan dendam. Ada kepuasan sesaat yang menjalar di hati Hana, namun itu bukan rasa bahagia yang ia cari. Itu adalah rasa pembebasan yang pahit.
"Aku bukan lagi Hana yang akan menangis hanya karena kau tidak pulang, Mas," bisik Hana pada kesunyian.
Hana menyadari satu hal penting hari ini. Mengajukan gugatan cerai secara hukum adalah jalan yang terlalu mudah bagi Arlan.
Jika ia menggugat cerai sekarang, Arlan akan dengan mudah memutarbalikkan fakta, menggunakan kehamilan Maura sebagai alasan penguat, dan Hana akan keluar dari pernikahan ini sebagai pihak yang kalah dan ditinggalkan.
Tidak, batin Hana tegas. Aku tidak akan lagi meminta cerai.
Hana bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan hiruk pikuk kota. Ia menyilangkan tangan di depan dada. Rencananya telah berubah.
Ia tidak akan menjadi peminta-minta kebebasan. Ia akan membuat Arlan sendiri yang merasa bahwa hidup bersamanya adalah neraka yang tak tertahankan.
Ia akan menarik semua kenyamanan Arlan. Ia akan mengambil alih satu per satu aset yang selama ini Arlan banggakan.
Ia akan membiarkan Arlan melihatnya bersinar di samping Adrian, membiarkan pria itu terbakar oleh api cemburu dan rasa rendah diri, hingga akhirnya Arlan sendirilah yang akan memohon untuk melepaskannya.
Hana ingin Arlan merasakan bagaimana rasanya dibuang oleh seseorang yang selama ini ia remehkan. Ia ingin Arlan yang mengucapkan kata talak itu dalam keadaan hancur secara finansial dan mental.
"Pikiranmu sangat jauh, Hana."
Suara bariton itu membuat Hana tersentak. Ia berbalik dan menemukan Adrian berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka.
Adrian sudah melepaskan jasnya, hanya menyisakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku. Tampak sangat dominan dan tenang.
"Adrian... kau tidak mengetuk pintu," ucap Hana sambil mencoba menetralkan ekspresi wajahnya.
Adrian melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang mantap. Ia berjalan mendekati Hana, berdiri cukup dekat hingga Hana bisa menghirup aroma parfumnya yang maskulin dan menenangkan.
"Aku sudah mengetuk, tapi kau terlalu asyik dengan pikiranmu sendiri," Adrian menatap Hana dalam-dalam. "Kau melakukannya dengan sangat baik tadi. Arlan tampak seperti pecundang di depanmu."
Hana tersenyum getir. "Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan, Adrian. Terima kasih sudah memberiku panggung itu."
Adrian menyentuh ujung dagu Hana, mengangkat wajah wanita itu agar menatapnya. "Kau tidak menyesal? Bagaimanapun, dia masih suamimu secara hukum."
"Menyesal?" Hana menggeleng pelan. "Penyesalanku hanya satu, Adrian. Yaitu mengapa aku baru melakukannya sekarang. Selama lima tahun aku memberikan mutiara pada babi, dan hari ini aku baru menyadari bahwa babi itu tidak pantas mendapatkan apa pun dariku."
Adrian tampak puas dengan jawaban itu. Ia mendekatkan wajahnya, suaranya merendah menjadi bisikan.
"Lalu, apa langkahmu selanjutnya? Arlan tidak akan diam saja. Dia akan mencoba mencarimu ke apartemen, atau mungkin ke sini."
"Sandi apartemen sudah kuganti. Dia tidak punya akses lagi," jawab Hana tegas. "Dan soal kantor, aku tahu dia akan meledak. Tapi biarkan saja. Semakin dia marah, semakin dia akan melakukan kesalahan bodoh yang akan menguntungkan kita."
Adrian mengelus pipi Hana dengan ibu jarinya. "Aku suka sisi dirimu yang ini, Hana. Dingin dan mematikan. Tapi ingat, jangan biarkan kebencian padanya menghabiskan energimu. Sisakan ruang untuk dirimu sendiri... dan mungkin, untukku."
Hana terpaku. Ia bisa merasakan gairah dan ketulusan yang sama kuatnya dari Adrian. Namun, ia juga tahu bahwa saat ini ia belum sepenuhnya bebas.
Ia masih memiliki benang merah yang mengikatnya pada Arlan, dan ia harus memutus benang itu dengan cara yang paling menyakitkan bagi sang mantan pusat dunianya.
~~
Di rumah Mahendra
Tepat saat itu, terdengar suara deru mobil Arlan memasuki halaman. Maura segera bangkit, Ia mendengar suara bantingan pintu mobil dan langkah kaki Arlan yang kasar masuk ke dalam rumah.
"Arlan?" panggil Ibu Mira dari ruang tengah. "Kau sudah pulang? Dan kenapa wajahmu..."
"Diam, Ma! Jangan tanya apa-apa!" bentak Arlan yang langsung melangkah menuju kamarnya.
Begitu pintu kamar terbuka, Arlan menatap Maura dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan. Marah, kecewa, dan benci menyatu di sana. Maura yang ketakutan langsung mendekat, mencoba menyentuh lengan Arlan.
"Mas... kamu kenapa? Ada masalah di kantor?" tanya Maura dengan nada manja yang dibuat-buat.
Arlan menepis tangan Maura dengan kasar. "Jangan sentuh aku! Semua ini gara-gara kau! Karena kau, Hana jadi lebih mudah menjauh dariku!"
Maura tak terima dirinya disalahkan. "Tapi Mas, ini demi anak kita..."
"ANAK?!" Arlan tertawa keras, tawa yang terdengar gila. "Ya, anak itu. Satu-satunya alasan aku masih bertahan di rumah ini hanyalah karena anak di rahimmu itu, Maura! Jadi kau lebih baik berdoa agar anak itu lahir dengan selamat, karena jika terjadi sesuatu padanya, kau tidak akan punya nilai apa-apa lagi di mataku!"
Arlan kemudian masuk ke kamar mandi dan membanting pintunya, meninggalkan Maura yang luruh ke lantai. Maura memegangi perutnya.
Ketakutan kini merajai hatinya. Jika Arlan tahu kebenarannya, di tengah emosinya yang sedang memuncak pada Hana, Maura tahu, semuanya pasti akan selesai.
...----------------...
Next Episode ....
~~~
Hay para pembaca setia Miss Ra, pantengin terus kisah Hana dan Arlan sampai bab 45 nya yaa...
Karena Miss Ra akan kembali membagikan hadiah untuk kalian yang selalu setia membaca kisah ini hingga masuk 40 bab terbaiknya, tanpa kalian karya ini bukan apa-apa, jadi Miss Ra mohon, bantu Miss Ra untuk bisa mencapai 40 bab terbaiknya, bagi pembaca kemarin yang sudah menang, selamat yaa... Jika ingin kembali mendapatkan hadiah dari Miss Ra, pantengin terus ceritanya yang membuat emosi kalian naik turun, sekali lagi Miss Ra ucapkan banyak terimakasih buat para pembaca setiaku, sampai jumpa di Up selanjutnya yaa...
See You ....
ya terimasaja jd keset laki lu sm maura trus jd pengasuh sekalian.
ingat jng minta cerai lagi ngisin ngisini wedok an labil.