NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Misteri / Spiritual / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 24: Ketimpangan kutukan [4]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Rakes akhirnya menghela napas panjang, jauh lebih dalam dari sebelumnya. Bahunya turun perlahan, seolah sebuah keputusan berat baru saja diambil. Ia memberi isyarat singkat agar Kale dan Hamu mendekat, lalu menoleh ke arah Saka yang sejak tadi berdiri kaku di dekat ranjang Zack.

Apa yang terjadi setelah itu tidak terdengar oleh Zack yang sudah kembali terlelap. Percakapan berlangsung pelan, terpotong-potong, dan penuh jeda. Rakes berbicara tanpa emosi berlebih, seakan hanya menyampaikan rangkaian fakta yang telah lama menghantam kepalanya sendiri. Tidak ada detail yang berlebihan, tidak ada dramatisasi. Hanya kebenaran yang selama ini ia simpan sendirian.

Waktu berlalu tanpa terasa.

Ketika Rakes selesai, ruangan kembali jatuh ke dalam keheningan yang jauh lebih berat dari sebelumnya.

Kale duduk terdiam, siku bertumpu di lutut, kedua tangannya saling menggenggam erat. Wajahnya menegang, bukan karena takut, melainkan karena berusaha memahami konsekuensi dari apa yang baru saja ia dengar. Pandangannya beralih ke Zack, lalu ke Saka, lalu kembali ke lantai.

“Berarti…” Kale berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. “Semua ini gak berdiri sendiri.”

"Padahal yang salah kan Kartaswiraga yang maruk sama kekuasaan, udah kalah tapi ngasih kutukan lagian kan Demar cuman mau bertahan kalo dia ngga bertahan yang ada dia yang dibunuh abang nya itu, duh... biadab bener. " ucap Rakes kesal.

Hamu menyandarkan punggungnya ke dinding, lengannya terlipat di dada. Ekspresinya tenang, tetapi sorot matanya tajam, hanya begitu lelah. “Reaksinya Saka di sumur. Kondisi Zack sekarang. Itu satu rangkaian.”

Saka menegang mendengar namanya disebut. Ia menatap Rakes, lalu menunduk. Selama ini ia merasa dirinya hanya saksi, hanya yang pertama melihat jasad itu. Namun kini, pemahaman baru perlahan terbentuk di benaknya. Ada benang yang mengikat dirinya dengan Zack, benang yang tidak kasat mata namun terasa semakin nyata setiap detik.

“Ada sesuatu yang nyambung,” ucap Saka pelan. “Sejak malam itu… gue ngerasa kayak ditarik ke arah yang sama. Kayak—”

Ia terdiam, sulit merumuskan perasaan yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.

Kale meliriknya. “Kayak lo sama Zack berdiri di jalur yang sama, tapi beda titik.”

Hamu mengangguk pelan. “Dan Rakes berdiri di tengahnya.”

Ucapan itu membuat Rakes mengangkat kepala. Ia tidak menyangkal. Tidak juga membenarkan. Tatapannya tertuju pada Zack yang masih tertidur, wajahnya tampak tenang untuk sementara, seolah tubuhnya sendiri belum menyadari bahwa ia sedang dikejar oleh sesuatu yang jauh lebih besar.

“Reaksi Zack bukan kebetulan,” kata Hamu lagi, lebih serius. “Dan kondisi Saka juga bukan sekadar trauma.”

Kale menghembuskan napas berat. “Kalo salah satu dari mereka goyah, yang lain pasti kena dampaknya.”

Kesadaran itu membuat ruangan terasa semakin sempit.

Rakes berdiri perlahan. Tubuhnya tegak, tetapi ekspresinya menunjukkan kelelahan yang akhirnya tak lagi bisa disembunyikan. “Makanya,” ujarnya rendah, “mulai sekarang gak ada yang jalan sendiri.”

Ia menatap Kale, lalu Hamu, lalu Saka. “Apa pun yang terjadi ke Zack, Saka bakal ngerasain dampaknya. Dan sebaliknya.”

Saka menelan ludah. “Terus… kita gimana?”

Rakes tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap Zack, lalu mengepalkan tangannya sekali, kuat, sebelum akhirnya berbicara.

“Kita jagain keseimbangannya,” katanya. “Selama itu masih bisa dijaga, kutukan itu belum menang.”

Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang menyepelekan.

Di dalam asrama yang kembali sunyi, mereka semua akhirnya memahami satu hal yang sama—bahwa Saka dan Zack bukan sekadar dua orang yang kebetulan terlibat. Mereka adalah titik-titik yang saling terhubung, dan jika salah satunya runtuh, yang lain tidak akan pernah benar-benar selamat.

Pemahaman itu tidak langsung melahirkan kepanikan, melainkan keheningan yang jauh lebih berbahaya. Bukan karena mereka tidak takut, melainkan karena setiap orang mulai menyadari skala masalah yang sebenarnya mereka hadapi.

Rakes berdiri memunggungi jendela, bayangan tubuhnya jatuh panjang di lantai asrama. Tatapannya kosong, tetapi pikirannya bekerja tanpa henti. Jika Raden Mahaniyan Kartaswiraga adalah kunci terakhir, dan kunci itu telah dihancurkan oleh Evangelin Arkozia, maka seluruh sistem lama telah runtuh sejak awal. Tidak ada jalan kembali. Tidak ada ritual pemulihan yang bisa diulang. Segala sesuatu yang mereka hadapi sekarang adalah sisa dari kesalahan yang diwariskan.

Hamu memecah keheningan lebih dulu. Suaranya tenang, tetapi mengandung keseriusan yang jarang ia tunjukkan. “Berarti kutukan ini bukan sekadar warisan pasif. Ia bergerak karena tidak pernah diselesaikan.”

Kale mengangguk pelan. “Dan Zack itu… titik tekan terbesarnya.”

Saka menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak, bukan karena ketakutan, tetapi karena pengakuan yang perlahan terbentuk dalam dirinya. Ia menatap tangannya sendiri sejenak, seolah mencoba memastikan bahwa tubuhnya masih sepenuhnya miliknya. “Kalau Mahaniyan itu kunci,” ucapnya pelan, “berarti kematiannya ninggalin celah.”

Rakes menoleh. “Celah itu yang sekarang dimasukin kutukan.”

Ia melangkah satu langkah ke tengah ruangan. Nada suaranya terukur, dingin, namun sarat tekanan. “Kutukan ini gak lagi nunggu dilepas. Dia nyari cara buat nyelesain dirinya sendiri. Dan caranya… lewat inang.”

Mereka semua menoleh ke arah Zack.

Tubuh Zack masih diam di atas ranjang, namun ada gerakan kecil yang tidak sepenuhnya wajar. Jari-jarinya berkedut halus, napasnya sesekali tertahan sebelum kembali normal. Tanda-tanda awal bahwa tubuhnya sedang menyesuaikan diri dengan sesuatu yang terus mendorong dari dalam.

“Berarti makin lama,” ujar Kale pelan, “Zack bakal makin kebuka.”

Hamu mengangguk. “Ingatan, refleks, bahkan naluri yang bukan sepenuhnya milik dia.”

Saka menelan ludah. “Dan kalau itu kejadian… apa yang bakal dia liat?”

Rakes tidak langsung menjawab. Jawaban itu terlalu berat untuk diucapkan sembarangan. Ia hanya memejamkan mata sejenak sebelum berbicara.

“Sejarah yang dikubur,” katanya. “Tiga kerajaan. Demar, Kartaswiraga, dan Bharata Jengga. Bukan versi yang dicatat, tapi yang sebenarnya.”

Ucapan itu membuat udara terasa semakin dingin.

Rakes membuka mata. “Dan masalahnya bukan cuma apa yang bakal Zack tau. Tapi apa yang bakal bangkit bareng pengetahuan itu.”

Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Mereka semua paham, ada hal-hal yang jika diingat kembali, tidak akan tinggal sebagai ingatan saja. Ia akan membawa kehendak, konflik, dan mungkin tuntutan balas yang belum selesai.

Malam itu kembali berjalan pelan, seolah dunia di luar asrama menolak ikut campur. Namun bagi mereka yang berada di dalamnya, satu hal menjadi semakin jelas: waktu tidak berpihak. Setiap malam berikutnya akan membawa perubahan kecil, dan perubahan kecil itu akan terus menumpuk sampai titik di mana tidak ada lagi yang bisa pura-pura tidak terjadi apa-apa.

Dan di tengah semua itu, Rakes berdiri sebagai penahan terakhir, menyadari bahwa semakin lama ia menahan kebenaran ini sendirian, semakin besar harga yang harus dibayar ketika semuanya akhirnya pecah.

Pertanyaan Kale menggantung di udara, tidak keras, tidak mendesak, tetapi cukup tajam untuk menusuk pertahanan yang selama ini Rakes bangun rapat-rapat.

Rakes tidak langsung menjawab.

Ia berdiri diam, punggungnya masih menghadap jendela, sementara bayangan malam menempel di wajahnya. Untuk sesaat, asrama terasa terlalu sempit bagi beban yang kembali menekan dadanya. Amarah Kartaswiraga berdesir pelan, bukan sebagai dorongan untuk menyerang, melainkan sebagai penolakan naluriah terhadap masa lalu yang ikut terseret ke permukaan.

Kale menatapnya tanpa berkedip. “Jika Zack sama Saka kebawa sama urusan lama,” lanjutnya, suaranya lebih pelan tapi penuh arti, “gak mungkin kita berdua cuma kebetulan ada di sini. Gue ngerasa… lo juga tau tentang kita, Rak.”

Hamu menoleh perlahan. Ia tidak menyela, namun sorot matanya menunjukkan bahwa pertanyaan itu juga hidup di kepalanya sejak tadi.

Rakes akhirnya berbalik. Tatapannya tidak marah, tidak defensif, melainkan lelah. Sangat lelah. Ia memandang Kale sejenak, lalu Hamu, sebelum akhirnya menghela napas panjang.

“Lo berdua,” katanya rendah, terukur, “bukan bagian dari kutukan itu.”

Nada suaranya datar, tetapi justru itulah yang membuat kata-katanya terasa berat.

“Zack sama Saka terikat karena darah dan peristiwa yang belum selesai. Kalian… terikat karena pilihan.”

Kale mengernyit. “Pilihan gimana maksud lo?”

Rakes melangkah satu langkah mendekat, lalu berhenti. Jarak itu cukup dekat untuk kejujuran, cukup jauh untuk menjaga batas. “Garis lama gak selalu narik lewat darah. Kadang dia narik lewat posisi. Lewat keberadaan.”

Hamu menyilangkan tangan. “Dan posisi kami?”

“Penyeimbang,” jawab Rakes singkat.

Saka yang sejak tadi diam, menatap Kale dan Hamu dengan raut tidak yakin. Ia baru menyadari bahwa sejak awal, keduanya selalu berada di titik-titik krusial. Tidak pernah terlalu jauh, tidak pernah benar-benar di tengah, tetapi selalu ada saat sesuatu hampir runtuh.

“Lo berdua,” lanjut Rakes, suaranya kini lebih tenang, “ada di sekitar Zack dan Saka bukan buat nerusin kutukan, tapi buat nahan dampaknya. Tanpa sadar.”

Kale terdiam. Kata-kata itu tidak terdengar seperti pujian, juga bukan penjelasan yang menenangkan. Justru sebaliknya, ada beban tanggung jawab yang perlahan terasa di bahunya.

“Jadi lo tau dari awal,” katanya akhirnya. “Dan lo tetep diem.”

Rakes mengangguk tipis. “Karena selama lo berdua gak ditarik terlalu jauh, keseimbangannya masih ada. Begitu lo sadar sepenuhnya, lo juga bisa ketarik.”

Hening kembali turun.

Hamu menghembuskan napas perlahan. “Berarti kita semua ada di papan yang sama,” ujarnya. “Cuma perannya beda.”

Rakes menatap Zack yang masih tertidur. “Dan papan itu udah mulai retak.”

Kale mengusap wajahnya kasar. Tidak ada kemarahan di sana, hanya kesadaran pahit bahwa keterlibatan mereka tidak bisa lagi dipungkiri. “Gue gak suka gak tau,” katanya jujur. “Tapi gue lebih gak suka liat orang di depan mata gue hancur pelan-pelan.”

Rakes mengangguk sekali. “Makanya gue jawab sejauh yang aman.”

Ia menatap Kale dan Hamu bergantian. “Selama Zack sama Saka masih berdiri, lo berdua adalah alasan kenapa keseimbangan itu belum runtuh. Tapi kalo salah satu jatuh—”

Ia tidak melanjutkan.

Tidak perlu.

Malam itu, di asrama yang kembali sunyi, Kale dan Hamu akhirnya memahami bahwa mereka bukan penonton. Mereka bukan korban utama, tetapi mereka juga tidak netral. Mereka adalah bagian dari struktur rapuh yang menahan masa lalu agar tidak sepenuhnya menelan masa kini.

Dan Rakes tahu, sejak pertanyaan itu diucapkan, tidak ada lagi jalan untuk berpura-pura bahwa semuanya bisa kembali sederhana.

Keheningan kembali menguasai ruangan, tetapi kali ini sifatnya berbeda. Bukan lagi keheningan karena ketidaktahuan, melainkan karena terlalu banyak hal yang mulai tersusun di kepala masing-masing.

Kale duduk kembali di ranjangnya, tubuhnya condong ke depan, siku bertumpu di lutut. Tatapannya kosong, tetapi jelas pikirannya bergerak cepat. Ia tidak tampak takut, namun ada kegelisahan yang sulit disembunyikan. Sejarah yang disebut Rakes bukan terdengar seperti dongeng atau simbol kosong. Ia terasa terlalu dekat, terlalu relevan.

“Pantesan,” ucap Kale akhirnya, suaranya rendah. “Dari dulu gue selalu ngerasa… tiap ada masalah gede, kita kepental ke tengahnya. Bukan dicari, tapi kayak diseret.”

Hamu mengangguk pelan. Ekspresinya tetap tenang, tetapi sorot matanya mengeras. “Dan tiap kali harus ambil keputusan, rasanya bukan sekadar soal benar atau salah. Tapi soal nahan sesuatu biar gak makin parah.”

Rakes tidak menyela. Ia membiarkan mereka menyusun pemahaman mereka sendiri. Ia tahu, momen seperti ini tidak bisa dipaksa. Jika terlalu diarahkan, jalurnya justru akan menyimpang.

Saka menatap Kale dan Hamu bergantian. Ada rasa bersalah yang menyelinap di dadanya. “Berarti… sejak awal kita semua udah kebawa, ya.”

“Bukan salah lo,” jawab Rakes cepat, sebelum pemikiran itu tumbuh lebih jauh. “Peristiwa ini lebih tua dari keputusan siapa pun di ruangan ini.”

Ia melangkah mendekat ke jendela dan menatap keluar. Langit masih gelap, tetapi garis tipis cahaya mulai muncul di ufuk timur. Waktu bergerak, tidak peduli seberapa berat beban yang mereka bawa.

“Yang perlu lo semua pahami,” lanjut Rakes dengan nada terkontrol, “sejarah itu bukan perintah. Ia cuma dorongan. Yang bikin hasilnya beda adalah keputusan kita sekarang.”

Kale mendongak. “Dan keputusan pertama?”

Rakes menoleh. “Kita jaga Zack.”

Semua pandangan kembali tertuju pada sosok yang terbaring di ranjang. Napas Zack terlihat lebih stabil, tetapi wajahnya tampak tegang, alisnya sedikit berkerut seolah pikirannya tidak benar-benar beristirahat. Tubuhnya bergerak kecil, refleks yang tidak sepenuhnya disadari.

“Kutukan itu gak langsung makan,” ujar Rakes. “Dia buka pelan-pelan. Ingatan, refleks, reaksi tubuh. Selama Zack masih bisa bedain mana yang miliknya, mana yang bukan, kita masih punya waktu.”

Hamu menyilangkan tangan. “Dan kalo dia mulai kehilangan batas itu?”

Rakes terdiam sesaat. Amarah Kartaswiraga kembali bergetar di dadanya, tetapi ia menekannya dengan disiplin yang nyaris menyakitkan.

“Makanya gue ada di sini,” katanya akhirnya. “Dan sekarang… kalian juga.”

Kale menghela napas panjang. “Berarti gak ada yang bisa mundur.”

“Dari awal emang gak ada,” jawab Rakes.

Saka menatap Zack lagi, lalu mengepalkan tangannya. Ia tidak sepenuhnya mengerti sejarah yang dibicarakan, tetapi ia paham satu hal dengan sangat jelas: apa pun yang terjadi pada Zack, ia akan merasakannya. Dan ia tidak berniat membiarkan sahabatnya itu menghadapi semuanya sendirian.

Di luar, malam mulai menyerah pada pagi. Namun bagi mereka yang berada di dalam asrama itu, hari baru bukan berarti kelegaan. Ia hanyalah bab berikutnya dari rangkaian panjang yang telah lama tertunda—sejarah yang akhirnya bergerak kembali, dan pilihan-pilihan yang akan menentukan apakah mereka mampu mengakhiri siklusnya, atau justru menjadi bagian dari kehancuran berikutnya.

Cahaya pagi yang tipis akhirnya menembus sela jendela asrama, memantul di lantai dan dinding dengan warna pucat yang dingin. Tidak ada rasa lega yang menyertai datangnya hari baru. Justru sebaliknya, kelelahan mental terasa semakin berat, menumpuk di bahu masing-masing tanpa sempat diurai.

Zack bergerak pelan di ranjangnya. Alisnya mengernyit, napasnya berubah tidak beraturan, lalu ia terbangun dengan tarikan napas tajam. Dadanya naik turun cepat, seolah sisa-sisa tekanan malam tadi belum sepenuhnya pergi.

Saka langsung berdiri. “Zack.”

Zack menoleh. Matanya fokus, tetapi sorotnya berbeda. Ada kebingungan yang lebih dalam dari sekadar baru bangun tidur. Ia mengusap wajahnya, lalu menatap tangannya sendiri cukup lama, seakan memastikan sesuatu masih berada di tempatnya.

“Gue mimpi aneh,” katanya akhirnya, suaranya serak. “Bukan mimpi juga… lebih kayak potongan.”

Rakes menegang, tetapi ia tidak langsung mendekat. Ia mengamati dari jarak aman, memastikan ekspresi Zack, ritme napasnya, dan nada suaranya tetap terkendali.

“Potongan apa?” tanya Kale.

Zack menggeleng pelan. “Gak jelas. Cuma gerakan. Kayak… berdiri di tempat tinggi. Terus ada nama-nama yang gue gak tau kenapa kedengeran familiar.”

Hamu menatap Rakes singkat, lalu kembali ke Zack. “Lo inget nama apa?”

Zack terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Demar,” ucapnya pelan. “Kartaswiraga. Sama satu lagi… Bharata Jengga.”

Ruangan itu seketika membeku.

Saka merasakan dadanya mengencang. Ia tidak tahu kenapa, tetapi mendengar nama-nama itu dari mulut Zack terasa seperti gema yang berbalik menghantam dirinya sendiri. Ada rasa nyeri samar di pelipisnya, cepat datang dan cepat pula mereda.

Rakes akhirnya melangkah maju. “Lo ngerasa gimana sekarang?”

Zack mengangkat bahu, mencoba terlihat santai, tetapi usahanya setengah gagal. “Capek. Kayak abis lari jauh. Tapi kepala gue… terlalu penuh.”

“Lo jangan dipaksa inget,” kata Rakes tegas. “Apa pun yang muncul, biarin lewat.”

Zack mengangguk, meski jelas tidak sepenuhnya mengerti alasan di balik peringatan itu. “Gue gak nyoba, Rak. Itu dateng sendiri.”

Kalimat itu membuat rahang Rakes mengeras.

Ia tahu, fase itu telah dimulai.

Kutukan Demar tidak lagi hanya menekan tubuh Zack. Ia mulai membuka jalur kesadaran, memunculkan ingatan yang seharusnya terkubur bersama sejarah tiga kerajaan. Setiap potongan yang muncul bukan sekadar memori, melainkan pengenalan. Dan pengenalan selalu membawa konsekuensi.

Kale menyandarkan punggungnya ke dinding. “Berarti ini bakal kejadian lagi.”

“Iya,” jawab Rakes singkat. “Dan bakal makin sering.”

Hamu mengangguk pelan. “Dan kalo satu potongan nyambung ke yang lain…”

“Dia bakal mulai nyari makna,” sambung Rakes. “Dan di titik itu, kutukan bakal dorong lebih keras.”

Saka menatap Zack, lalu tanpa sadar melangkah lebih dekat. “Kalo lo ngerasa aneh,” katanya pelan, “bilang. Jangan ditahan sendiri.”

Zack menoleh ke arahnya, sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. “Santai aja. Gue masih gue.”

Rakes memalingkan wajah sesaat.

Ia tahu, kalimat itu tidak akan bertahan lama.

Di luar, pagi mulai berjalan seperti biasa. Dunia tidak berubah hanya karena satu kutukan bergerak kembali. Namun di dalam asrama itu, mereka semua memahami bahwa garis waktu lama telah menyentuh masa kini, dan sejak saat itu, tidak ada lagi hari yang benar-benar netral.

Zack bangkit dari ranjang, berdiri dengan sedikit goyah sebelum akhirnya menyeimbangkan diri. Ia tidak menyadari bahwa setiap langkahnya kini berada di jalur yang semakin sempit, jalur yang perlahan membawanya lebih dekat pada kebenaran yang pernah dibunuh bersama Raden Mahaniyan Kartaswiraga.

Dan Rakes, yang berdiri mengawasi dari dekat, tahu satu hal dengan kepastian yang menyesakkan. Menjaga Zack tetap hidup mungkin masih mungkin, tetapi menjaga dirinya tetap utuh akan menjadi perjuangan yang jauh lebih kejam.

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!