NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 28: Ketimpangan kutukan [8]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Cahaya sore masuk miring lewat jendela ruang tengah. Debu-debu kecil terlihat melayang pelan di udara, seolah rumah ini sendiri sedang bernapas lega.

Zack masih berdiri di tengah ruangan, liontin kecil itu di tangannya. Wajahnya tenang, jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Dan tepat di momen hening yang terasa dalam itu—

Rakes tiba-tiba duduk.

Bukan duduk elegan.

Bukan duduk penuh wibawa.

Tapi duduk langsung di lantai, bersandar ke sofa, wajahnya kosong.

“Gue… pusing,” katanya datar.

Semua menoleh.

Kale mengangkat alis. “Baru sekarang?”

Rakes menatap langit-langit. “Dari tadi. Gue cuma nahan biar keliatan mikir keras.”

Hamu langsung tertawa kecil. “Jadi selama ini lo bukan lagi menganalisis sejarah tiga garis keturunan?”

Rakes menoleh pelan. “Oh gue mikir. Tapi otak gue juga lagi buffering.”

Saka nyaris tersedak napasnya sendiri.

Zack menatap Rakes beberapa detik, lalu untuk pertama kalinya sejak mereka turun ke ruang bawah tanah ia tertawa kecil.

“Kirain lo paling siap mental di sini.”

Rakes mengangkat satu tangan lemah. “Gue siap mental. Fisiknya yang belum tentu.”

Ayah Zack yang sejak tadi serius pun tidak bisa menahan senyum tipis.

“Minum dulu,” katanya santai, berjalan ke dapur.

Ketegangan yang sejak pagi menempel perlahan mencair.

Kale menyandarkan diri ke dinding. “Jadi kesimpulannya hari ini kita ngga ngapa-ngapain, cuma nemuin jangkar, fondasi sejarah, kesepakatan leluhur, dan potensi perubahan besar tiga garis.”

Hamu mengangguk santai. “Iya. Hari biasa lah.”

Rakes menghela napas panjang. “Bisa ngga sih sekali aja hidup kita isinya cuma tugas dosen sama drama kelas?”

Saka langsung menjawab, “Lo kira ini bukan drama?”

Zack duduk di lantai juga sekarang, tepat di atas titik tengah ruangan.

“Kalau ini drama,” katanya ringan, “gue ngga mau jadi karakter yang mati duluan.”

Rakes langsung menunjuk dia tanpa bangun. “Nah itu dia. Jangan sok jadi pusat cerita terus.”

“Lah katanya gue titik?” Zack membalas cepat.

“Ya titik bukan berarti spotlight terus,” jawab Rakes refleks.

Beberapa detik hening.

Lalu mereka semua sadar—

Itu pertama kalinya mereka bercanda tentang semua ini tanpa ada rasa takut di belakangnya.

Saka memperhatikan dirinya sendiri.

Resonansi tetap stabil, bahkan saat mereka tertawa. Itu berarti satu hal penting. Keseimbangan bukan hanya soal serius dan berat, Ia juga bisa bertahan dalam tawa.

Ayah Zack kembali membawa beberapa gelas minum dan meletakkannya di meja.

“Sejujurnya,” katanya santai, “aku senang kamu tidak datang ke sini untuk menghancurkan lantai rumah.”

Rakes langsung menoleh. “Jujur om, tadi saya sempet mikir kita bakal bongkar setengah rumah.”

Zack meliriknya. “Lo doang kali.”

“Gue cuma siapin opsi,” jawab Rakes defensif.

Kale tertawa pelan. “Iya, opsi paling merugikan.”

Ruangan itu terasa lebih ringan sekarang.

Fondasi lama masih ada di bawah. Jangkar masih tertanam. Kutukan, atau apa pun namanya masih melekat.

Tapi hari ini mereka tidak pulang dengan rasa takut.

Mereka pulang dengan arah.

Zack menatap liontin di tangannya sekali lagi. Ia tidak merasa terburu-buru lagi. Ia tidak merasa sendirian.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa perjalanan ini bukan beban yang harus ia pikul sendiri—melainkan sesuatu yang bisa ia jalani bersama orang-orang yang bahkan masih sempat bercanda di tengah sejarah rumit keluarganya.

Rakes akhirnya berdiri pelan, menepuk-nepuk celananya.

“Oke,” katanya. “Kita udah nemu jangkar. Kita udah tau ini bukan musuh. Kita juga udah tau gue butuh kopi.”

Saka langsung menyahut, “Itu poin paling penting.”

Zack tersenyum tipis.

Langkah berikutnya belum jelas sepenuhnya.

Tapi untuk sekarang—

Mereka tidak lagi berdiri di depan misteri dengan panik.

Mereka berdiri di depannya dengan kesadaran…

dan sedikit candaan yang menjaga semuanya tetap waras.

Malam mulai turun pelan-pelan, dan suasana rumah yang tadi terasa berat sekarang berubah jadi… anehnya hangat.

Bukan karena misterinya hilang.

Tapi karena mereka semua masih hidup, masih utuh, dan yang paling penting mereka masih bisa ketawa.

Zack duduk di sofa sambil memutar-mutar liontin di tangannya. Saka rebahan setengah miring di karpet. Kale bersandar di kursi kayu tua yang bunyinya tiap lima detik krek seperti protes ikut diskusi sejarah. Hamu entah kenapa sudah akrab dengan dapur.

Rakes berdiri di depan jendela, memandangi halaman dengan gaya seperti tokoh utama film serius.

Lalu ia bicara dengan nada berat.

“Gue lagi mikir.”

Semua langsung diam.

Zack menoleh. “Mikir apaan lagi?”

Rakes berbalik pelan. “Kalau ini jangkar… berarti rumah lo Bang Jak, ini secara teknis parkiran kapal.”

Sunyi dua detik.

Lalu Kale meledak tertawa.

Saka sampai bangun duduk.

Hamu dari dapur teriak, “MULAI MULAI!”

Zack menatap Rakes tanpa ekspresi. “Serius? Itu kesimpulan lo setelah dimabok sejarah ratusan tahun?”

Rakes mengangkat bahu. “Gue cuma menyederhanakan konsep biar gak stres.”

Saka menunjuk lantai tengah. “Berarti kalau nanti dilepas, kita harus tiup peluit kayak kapal berangkat?”

Hamu muncul sambil bawa gelas. “Atau kita siram air satu ember biar dramatis.”

Zack akhirnya tidak tahan dan tertawa. Bukan tawa kecil. Tawa lepas.

Ayahnya yang memperhatikan dari dapur hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.

“Teman-temanmu… unik,” katanya ringan.

Zack menjawab santai, “Iya Yah, paket lengkap. Ada yang mikir keras, ada yang buffering, ada yang random paling parah si Rakes suka nyabu.”

Rakes langsung protes. “Astaghfirullah, enak aja sholat sana.”

Kale tanpa jeda, “Lo tadi nyebut rumah ini parkiran kapal.”

Rakes diam sebentar.

“…oke sedikit.”

Saka tiba-tiba memandang lantai tengah lagi. “Tapi serius deh, gue masih kagum kita turun ke ruang bawah tanah dan gak ada yang kesandung tangga.”

Hamu langsung menatap Zack. “Gue yakin kalau ini film horor, Zack udah jatuh duluan.”

“Kenapa gue?” Zack protes.

“Karena lo titik pusat cerita,” jawab Kale cepat.

Rakes menambahkan, “Dan hukum tak tertulisnya, tokoh pusat minimal harus hampir mati sekali.”

Zack menunjuk mereka satu per satu. “Gue nyesel ngajak kalian.”

“Terlambat,” jawab Saka santai. “Kita udah tanda tangan kontrak batin.”

Rakes tiba-tiba duduk lagi, tapi kali ini bersandar santai.

“Oke serius bentar,” katanya. “Hari ini kita nemu jangkar, fondasi, dan sejarah keluarga yang ternyata gak sesimpel ‘oh iya itu cuma cerita lama’. Tapi anehnya…”

Ia berhenti.

“Gue ngga ngerasa terancam.”

Saka mengangguk pelan. “Iya. Biasanya kalau bahas kutukan, dada gue langsung kayak kena speaker konser. Sekarang normal.”

Zack memandangi ruang tengah rumahnya.

“Karena mungkin ini bukan musuh,” katanya pelan.

Hamu langsung nyeletuk, “Iya, paling cuma warisan ribet.”

Kale mengangkat gelasnya. “Untuk warisan ribet yang tidak menghancurkan rumah.”

Semua ikut angkat gelas minum masing-masing, meskipun isinya cuma air.

“Untuk jangkar,” kata Saka.

“Untuk kapal yang belum berlayar,” tambah Zack.

“Untuk kopi yang belum diminum,” sahut Rakes.

Mereka tertawa lagi.

Di tengah semua sejarah berat, keputusan leluhur, dan potensi perubahan besar—momen ini terasa sangat biasa.

Dan mungkin itu yang paling penting.

Karena kalau mereka masih bisa bercanda di atas fondasi rahasia keluarga yang umurnya ratusan tahun, berarti mereka tidak lagi dikendalikan rasa takut.

Rakes berdiri lagi dan menunjuk Zack dengan ekspresi dramatis.

“Besok kita balik ke asrama. Tapi satu hal jelas.”

Zack mengangkat alis. “Apa?”

“Kalau tiba-tiba lo mimpi aneh lagi, bangunin gue dulu. Jangan langsung ambil keputusan historis sendirian.”

Saka langsung menimpali, “Iya minimal rapat dulu.”

Hamu mengangguk serius. “Notulen siapa?”

Kale menunjuk Rakes. “Dia. Biar pusingnya ada dokumentasi.”

Rakes menutup wajahnya dengan tangan. “Gue nyesel punya temen.”

Zack tersenyum lebar.

Untuk pertama kalinya, rumah ini tidak terasa seperti beban warisan.

Ia terasa seperti titik awal yang bisa mereka pahami bersama.

Dan mungkin, apa pun yang akan terjadi nanti—

apakah jangkar itu suatu hari dilepas atau tidak—

setidaknya mereka tidak akan menghadapinya dengan wajah tegang dan sunyi.

Mereka akan menghadapinya dengan rencana…

dan kemungkinan besar, dengan celetukan tidak penting dari Rakes di momen paling serius.

Ruang tengah sudah berubah jadi semacam “markas darurat” yang tidak direncanakan.

Gelas-gelas kosong berserakan. Buku tua masih terbuka di meja. Liontin itu sekarang tergeletak aman di tengah, seperti pusat rapat yang sangat tidak resmi.

Rakes berdiri dengan pose serius.

Serius banget.

“Baik,” katanya, suaranya dibuat berat. “Kita harus menyusun strategi.”

Saka langsung melirik jam dinding. “Strategi apa?”

“Strategi bertahan hidup,” jawab Rakes dramatis.

Kale menyilangkan tangan. “Dari apa?”

Rakes menunjuk lantai. “Dari takdir.”

Hening dua detik.

Hamu berdehem pelan. “Lo kebanyakan nonton film.”

Rakes menatapnya. “Gue cuma realistis.”

Zack mengangkat tangan kecil. “Realistis yang tadi duduk di lantai karena pusing?”

“Itu fase introspeksi,” jawab Rakes cepat.

Saka tertawa kecil. “Fase rebahan maksudnya.”

Zack duduk bersandar ke sofa. “Oke, serius dikit. Kita tau sekarang kalau jangkar ini bukan ancaman. Tapi dia bisa bereaksi kalau ada ketidakseimbangan.”

“Artinya,” Kale menyambung, “kita harus stabil.”

Rakes langsung menunjuk Zack. “Nah itu. Stabil. Jadi mulai sekarang lo gak boleh overthinking.”

Zack mengangkat alis. “Lo kira itu bisa dimatiin kayak lampu?”

“Coba aja dulu,” jawab Rakes santai.

Hamu tertawa. “Iya Zack, coba mode ‘tidak kepikiran apa-apa’.”

Zack menatap kosong ke depan.

Lima detik.

Sepuluh detik.

“Gagal,” katanya akhirnya.

Saka tepuk tangan pelan. “Perkembangan bagus. Minimal dicoba.”

Rakes tiba-tiba berjalan mondar-mandir seperti detektif amatir.

“Gue rasa masalah terbesar kita bukan kutukan.”

Semua menoleh.

“Terus apa?” tanya Kale.

Rakes berhenti dramatis. “Kita ini masih sekolah.”

Hening.

Zack berkedip. “...Hah?”

Rakes mengangguk sok bijak, masih sambil meletakkan buku ke rak asal-asalan.

“Kadang justru karena kita gak panik, dia ikut tenang.”

Zack mengangguk pelan.

Lalu tiba-tiba Saka berhenti di tengah jalan.

“Eh.”

Semua menoleh.

“Kenapa?” tanya Kale.

Saka menatap Rakes datar. “Tadi lo bilang kita masih sekolah.”

Rakes mengerutkan dahi. “Iya?”

Saka menyipitkan mata. “Kita tuh kuliah.”

Hening.

Rakes berkedip.

Dua kali.

“Oh iya.”

Hamu langsung ketawa lepas. “Parah. Eksistensi kita aja lupa.”

“Gue lagi overwhelmed!” bela Rakes cepat. “Otak gue kebagi antara leluhur, jangkar, dan tugas metodologi penelitian.”

Kale menimpali santai, “Metodologi aja lo belum kumpulin.”

“Itu fitnah akademik,” jawab Rakes.

Zack duduk lagi sambil tertawa kecil. “Jadi ketidakseimbangan bukan karena kutukan. Tapi karena deadline.”

Saka langsung angkat tangan. “Setuju. Deadline lebih horor.”

Rakes menunjuk liontin di meja. “Coba bayangin. Leluhur ribuan tahun jaga fondasi energi…”

Ia mencondongkan badan dramatis.

“…dan cucunya panik karena dosen killer.”

Hamu langsung nyeletuk, “Kalau jangkar bisa ngomong, mungkin dia juga capek dengerin lo ngeluh soal SKS.”

Kale menambahkan, “Mungkin getarannya tadi bukan resonansi. Tapi malu.”

Zack hampir tersedak minumnya. “Malunya kenapa?”

“Karena garis keturunan segini ribet,” jawab Kale tenang, “eh penerusnya debat siapa yang traktir kopi.”

Rakes langsung berdiri tegap. “Itu debat penting. Keseimbangan finansial juga bagian dari stabilitas.”

Saka menggeleng. “Lo tiap ngomong selalu kayak seminar dadakan.”

“Karena gue visioner,” jawab Rakes tanpa ragu.

Zack menatap liontin itu lagi.

Tidak ada perubahan.

Tidak ada tekanan.

Justru suasananya terasa… ringan.

“Kalau dipikir-pikir,” katanya pelan, “mungkin ini sebabnya jangkar tetap stabil.”

“Karena kita pintar?” tanya Hamu.

Zack melirik Rakes. “Karena kita ngga terlalu pintar.”

Hening sepersekian detik.

Lalu tawa pecah lagi.

Rakes menunjuk dirinya sendiri. “Gue keberatan. Gue tuh aset intelektual.”

Kale langsung menyahut, “Aset yang lagi nunggak revisi.”

“Stop nyerang personal,” protes Rakes.

Ayah Zack yang dari tadi mendengar setengah percakapan hanya menggeleng sambil tersenyum.

“Kalian ini,” katanya ringan, “baru beberapa jam lalu bicara tentang garis keturunan dan fondasi tak terlihat. Sekarang ribut soal kopi.”

Rakes menjawab santai, “Pak, justru itu. Kalau kita terlalu serius terus, nanti yang goyah bukan fondasinya… tapi mental kita.”

Saka mengangguk pelan. “Dan sejauh ini, mental Rakes yang paling duluan goyah.”

“Eh,” protes Rakes.

Zack berdiri, mengambil liontin itu sekali lagi.

Tenang.

Stabil.

“Jadi,” katanya, “kita sepakat?”

“Sepakat apa?” tanya Hamu.

“Kita gak akan lari dari ini. Tapi juga gak akan hidup seolah-olah ini satu-satunya hal di dunia.”

Kale mengangguk.

Saka ikut mengangguk.

Rakes menyilangkan tangan. “Dan tetap kuliah dengan normal.”

Hamu menambahkan, “Walaupun normal versi kita agak… beda.”

Rakes menghela napas panjang. “Gue cuma minta satu hal.”

“Apa lagi?” tanya Zack.

“Kalau nanti ada seminar leluhur atau apa pun itu… jangan jadwalin pas minggu UTS.”

Semua tertawa lagi.

Dan di tengah tawa itu, untuk pertama kalinya—

perjalanan ini terasa seperti bagian dari hidup mereka,

bukan sesuatu yang mencuri hidup mereka.

Liontin itu tetap diam.

Seolah ikut setuju.

Dan Rakes, yang tadi paling dramatis, kini bersandar santai sambil berkata pelan,

“Kalau begini sih… gue bisa hadapin takdir.

Asal ada kopi.”

Malam turun perlahan di luar rumah Zack.

Lampu ruang tengah kini jadi satu-satunya sumber cahaya yang benar-benar terang. Bayangan mereka memanjang di lantai, bergerak setiap kali ada yang berdiri atau sekadar mengubah posisi duduk.

Setelah tawa terakhir mereda, suasana berubah jadi lebih tenang—bukan tegang, bukan juga berat. Lebih seperti jeda yang nyaman setelah terlalu banyak informasi masuk ke kepala.

Zack masih memegang liontin itu.

Ia memutarnya perlahan di antara jari-jarinya, memperhatikan ukiran kecil yang tadi nyaris tak terlihat. Ada pola seperti lingkaran yang saling bertaut, membentuk sesuatu yang tidak sepenuhnya simetris.

“Gue kepikiran sesuatu,” katanya akhirnya.

Rakes yang sedang rebahan setengah di sofa langsung mengangkat tangan tanpa membuka mata. “Kalau itu tentang takdir lagi, tunggu gue duduk dulu.”

“Bukan,” jawab Zack ringan. “Tentang kita.”

Saka berhenti membereskan tasnya.

Kale menoleh.

Hamu menggeser kursinya sedikit mendekat.

Zack menarik napas pelan.

“Kalau jangkar ini aktif karena ketidakseimbangan… berarti dia cuma reaktif. Dia gak pernah mulai duluan.”

Saka mengangguk kecil. “Iya. Dia cuma respon.”

“Artinya,” lanjut Zack, “yang menentukan arah tetap kita.”

Hening beberapa detik.

Rakes membuka satu mata. “Jadi intinya?”

“Intinya,” Zack tersenyum tipis, “kita gak sedang dikendalikan sesuatu.”

Rakes langsung duduk tegak. “Oh. Itu kabar bagus. Karena gue gak cocok jadi karakter figuran dalam cerita sendiri.”

Kale menahan senyum. “Tenang. Lo terlalu berisik buat jadi figuran.”

Hamu terkekeh pelan.

Zack menaruh liontin itu kembali di meja. “Gue sempat takut kalau semua ini udah ditulis. Kalau apa pun yang kita lakukan cuma bagian dari pola lama.”

Saka bersandar ke dinding. “Dan sekarang?”

“Sekarang gue ngerasa,” Zack menatap mereka satu per satu, “kita cuma lagi nerusin sesuatu. Bukan ngulang.”

Rakes mengangkat tangan lagi. “Boleh gue terjemahin biar lebih membumi?”

Kale langsung menyahut, “Silakan, Profesor Plenger.”

Rakes mengabaikan julukan itu dengan anggun palsu. “Artinya… leluhur bikin fondasi. Kita yang nentuin mau bangun apa di atasnya.”

Hamu menunjuk dia. “Nah itu baru masuk.”

Saka tersenyum tipis. “Jarang-jarang lo ngomong jelas.”

“Gue selalu jelas,” bela Rakes. “Cuma kalian yang sering gak siap menerima kecerdasan gue.”

Kale mendengus pelan. “Percaya diri lo stabil banget ya. Harusnya kita ukur itu, bukan resonansi.”

Zack tertawa kecil.

Di luar, angin malam terdengar pelan menyentuh dedaunan. Tidak ada getaran aneh. Tidak ada tekanan yang terasa di dada seperti sebelumnya.

Rumah itu terasa… biasa.

Dan justru itu yang membuat semuanya terasa luar biasa.

Rakes bangkit dari sofa lalu berjalan ke jendela. Ia menatap keluar beberapa detik, wajahnya lebih serius dari biasanya.

“Kalian sadar gak sih,” katanya pelan, “kita tadi turun ke ruang bawah tanah, nemuin rahasia garis keturunan, ngomongin keseimbangan energi… dan sekarang kita cuma berdiri kayak orang lagi nunggu ojek online.”

Saka menyeringai. “Bedanya, ini ojek takdir.”

“Gue harap drivernya gak cancel sepihak,” sahut Hamu cepat.

Kale menambahkan, “Atau salah alamat.”

Zack menggeleng sambil tersenyum.

Mereka memang masih sama.

Masih bisa bercanda bahkan di tengah hal yang seharusnya membuat orang lain panik.

Rakes berbalik menghadap mereka lagi.

“Gue kepikiran satu kemungkinan,” katanya.

Semua langsung waspada.

“Tenang,” katanya cepat, “bukan teori berat.”

“Syukurlah,” gumam Saka.

“Kalau jangkar ini stabil karena kita stabil… berarti kita harus tetap kayak gini.”

“Kita kayak gimana?” tanya Hamu.

“Ya kayak sekarang,” jawab Rakes. “Serius kalau perlu. Tapi gak tenggelam. Ketawa kalau bisa. Dan kalau ada yang mulai overthinking—”

Semua langsung menoleh ke Zack.

Zack mengangkat kedua tangan. “Gue ngga ngomong apa-apa.”

Rakes melanjutkan, “—yang lain narik dia balik.”

Kale mengangguk perlahan.

“Itu bukan strategi konyol,” katanya. “Itu strategi hidup.”

Saka tersenyum kecil. “Dan surprisingly, masuk akal.”

Rakes langsung menunjuk dirinya sendiri bangga. “Karena gue yang ngomong.”

Hamu menyela, “Jangan ke-ge-er dulu. Masuk akal bukan berarti lo jenius.”

“Detail kecil,” jawab Rakes santai.

Zack berdiri perlahan. Ia merasakan sesuatu yang berbeda dalam dirinya—bukan perubahan besar, bukan ledakan kesadaran. Lebih seperti ketenangan yang mengendap pelan.

Ia tidak lagi merasa dikejar oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Ia merasa berjalan berdampingan dengannya.

Dan itu jauh lebih bisa diterima.

“Oke,” katanya akhirnya. “Langkah selanjutnya?”

Rakes langsung menjawab, “Pulang. Tidur. Besok kuliah.”

Kale menatapnya datar. “Gue kira lo bakal bilang meditasi leluhur.”

“Gue realistis,” jawab Rakes cepat. “Keseimbangan juga butuh IPK aman dan kalo bolos bisa-bisa BEM ambruk.”

Saka tertawa pelan. “Akhirnya kita sampai ke motivasi aslinya.”

Hamu berdiri sambil merapikan jaketnya. “Kalau begitu, misi malam ini selesai?”

Zack melihat sekali lagi ke arah meja.

Liontin itu diam.

Ruangan itu tenang.

Teman-temannya berdiri di sekitarnya, bercahaya oleh lampu kuning hangat yang sederhana.

“Iya,” katanya pelan. “Misi malam ini selesai.”

Rakes melangkah ke pintu, lalu berhenti.

“Oh iya,” katanya santai tanpa menoleh. “Kalau besok tiba-tiba ada kejadian aneh lagi…”

Semua menahan napas sepersekian detik.

“…tolong jangan jadwalin sebelum jam sepuluh. Gue ada kelas pagi.”

Hening.

Lalu tawa kembali pecah, lebih ringan dari sebelumnya.

Dan di antara tawa itu, di bawah langit malam yang tenang, lima mahasiswa yang seharusnya hanya sibuk dengan skripsi dan presentasi justru menemukan sesuatu yang jauh lebih besar—

bahwa keseimbangan tidak selalu hadir dalam bentuk kekuatan besar atau ritual kuno.

Kadang ia hadir dalam bentuk teman-teman yang tetap tinggal, tetap bercanda, dan tetap memilih berjalan bersama bahkan ketika cerita hidup mereka mulai terasa seperti novel yang terlalu ambisius untuk ukuran anak kuliahan biasa.

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
Astari ques
🤣🤣🤣
Astari ques
iyalah rakes sangatlah mental baja💪
Astari ques
si rakes di luar angkasa emang🤭🤣🤣
Astari ques
alur ceritanya bagus dan penokohannya keren keren🤗🤗
Astari ques: Siap kak😄😄
total 2 replies
Astari ques
seru banget ceritanya😍
Astari ques
Wow cerita bagus banget mana ganteng2 lagi karakternya😍
Karamellatee Clandestories
lanjutt baca ajaa
Rectoverso
menarique.... /Applaud/
Junet-ssi
Zack punya penyakit mental kah?
Aarmaaa28
hi
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
bagus sih buat cerita nya NIAT banget malah, tapi kurang promosi aja
Karamellatee Clandestories: terimakasihhhn
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!