Delaney Harper ditinggalkan oleh tunangannya tepat di hari pernikahan mereka. Rumor perselingkuhannya menyebar dengan cepat, membuat ayah Delaney murka. Namun, ibu tirinya memiliki rencana lain.
Ia memaksa Delaney menikah dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Seorang pria bernama Callum Westwood.
Callum Westwood, CEO Westwood Corp, adalah sosok yang hampir tidak Delaney kenal, tetapi reputasinya dikenal oleh semua orang. Dingin. Kejam. Tak pernah dekat dengan perempuan mana pun. Dan ironisnya… dia adalah tetangga Delaney, hanya dua blok dari rumahnya—meski mereka belum pernah sekalipun berbicara.
Selain menyelamatkan Delaney dari skandal kehamilan di luar nikah, pernikahan itu ternyata merupakan cara Callum untuk membayar sebuah hutang besar dari masa lalu. Hutang yang ia tanggung sejak sepuluh tahun lalu dan ia simpan rapat-rapat sebagai rahasia.
Namun, apa sebenarnya yang terjadi sepuluh tahun lalu?
Dan bagaimana nasib pernikahan tanpa cinta ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lulaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
“Jadi, kamu membatalkan pernikahan itu?”
Delanay mengangguk. Ia membiarkan rasa malunya diketahui orang lain. Lagipula, mereka tidak saling mengenal.
Menurut Delanay, pria tanpa nama ini pasti akan melupakan rahasianya begitu mereka berpisah. Bahkan sampai sekarang, Delanay tidak tahu siapa namanya, meski sejujurnya ia ingin bertanya.
“Kenapa?” tanya pria itu. Seolah tertarik menggali akar masalah gadis itu.
Delanay menghela napas. “Karena calon suamiku berselingkuh.”
Alasan yang klise di zaman romansa seperti sekarang. Dan ah, Delanay bahkan bisa menggunakan kata aku agar terdengar lebih santai, bukan?
“Jovan itu?” tanya pria itu santai.
“Kamu dengar?” Delanay meringis, merasa malu.
Pria itu mengangguk.
Baginya, perselingkuhan bukanlah hal yang luar biasa. Bahkan, ia tidak benar-benar percaya pada cinta—sesuatu yang menurutnya hanyalah omong kosong.
Cintanya hanya untuk keluarga dan perusahaannya. Tanpa keduanya, ia bukan siapa-siapa. Namun tanpa cinta—yang kata orang jauh lebih penting karena menyangkut masa depan dengan pasangan—ia tetap bisa hidup tanpa kekurangan. Lihat saja.
“Kenapa tidak mencari orang lain?” sarannya ringan. Lebih seperti ia tidak peduli.
Delanay yang duduk dengan asal, tak peduli gaun cantiknya kotor, memilih diam. Ia ingin hatinya melupakan apa yang telah terjadi. Tapi ia tetap manusia.
Berpacaran selama lima tahun membuatnya sulit membayangkan mengubur kenangannya bersama Jovan. Delanay merasa dirinya seolah telah ternodai oleh bajingan itu.
Setiap menit, setiap detik, Jovan selalu hadir—memberinya kebahagiaan, kenyamanan, sekaligus rasa sakit. Terutama sekarang, ketika Delanay menghadapi masalah yang lebih rumit, dan Jovan justru meninggalkannya.
“Itu… sulit,” kata Delanay pasrah.
Pria itu menatap Delanay dengan tenang.
“Waktumu tidak banyak. Aku harus menemukan suami yang bisa mengatasinya, karena ini menyangkut reputasi keluargaku. Begitu dia masuk, tidak ada jalan keluar,” lanjut Delanay, membayangkan betapa paniknya sang ayah mencari solusi atas masalah ini.
“Kamu butuh pernikahan untuk bisnis?”
Tanpa ragu, Delanay mengangguk.
Menyandang nama Delanay Harper adalah tanggung jawab besar. Setiap tindakan yang ia ambil harus benar dan tidak boleh menambah aib keluarga.
Meski ia berteman dengan Elara Westwood—yang keluarganya merupakan konglomerat nomor satu di Indonesia—Delanay tidak berani menumpang ketenaran mereka.
Ditambah dengan masalah yang ada sekarang, Delanay yakin bahkan keluarga Westwood pun tak bisa memberinya solusi.
“Baik. Tinggal cari suami yang punya kedudukan.”
Apa?
Delanay melihat pria itu menatap ke kejauhan. Lalu ia berkata, “Di hotel ini pasti banyak pria lajang berpangkat tinggi. Pilih saja satu dan menikahlah. Anggap saja pernikahan kontrak. Setelah itu, semuanya beres.”
Delanay menyipitkan mata. Apa pria ini waras? Cara berpikirnya benar-benar seperti dunia novel.
Mencari suami berpangkat, katanya? Kedengarannya gila. Dan memang gila. Lagi pula, tuan muda mana yang mau menikahi perempuan dengan latar belakang bermasalah seperti dirinya?
Mungkin sekarang nasib Delanay hanya menunggu keputusan ayahnya. Ia kemungkinan besar akan diasingkan ke luar negeri, seperti saat ia memberontak dan menolak menjadi pebisnis seperti ayahnya.
Suara pintu berderit membuat Delanay menoleh. Ia melihat seseorang berjalan cepat ke arah mereka. Seorang pria.
Pria di samping Delanay berdiri. Secara refleks, Delanay ikut berdiri. Canggung.
“Tuan, ada hal penting.”
Pria tanpa nama itu mengangkat bahu. “Katakan saja.”
Sementara itu, pria bersetelan abu-abu dengan pena di sakunya melirik Delanay. Ia tampak canggung dengan kehadiran orang lain. Delanay pun tersenyum sopan dan berkata, “Kalau begitu, saya pamit dulu, Tuan. Terima kasih sudah menemani saya.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan cepat, mengambil sepatunya, dan keluar ruangan. Ia sempat mendengar kata-kata pria yang mencari pria baik itu. Ah, dalam kondisi linglung, Delanay bahkan tidak sempat menanyakan namanya.
“Anda dipanggil Big Sir, Tuan.”
Tiga kata. Sepertinya dia seorang konglomerat.
Namun Delanay tidak peduli. Hatinya terasa lebih ringan setelah pengakuan spontan tadi. Langkahnya menuju ruang pengantin terasa lebih ringan dibanding saat ia pergi.
Klik.
“Ayah harus mencari suami pengganti untuk Delanay.”
Delanay membeku. Perintah Lauren, ibu tirinya, yang menembus gendang telinganya membuatnya kehilangan kata-kata. Suami pengganti? Itu memang terpikir olehnya. Namun jika Lauren yang memutuskan, Delanay yakin ada maksud lain di baliknya.
“Apa maksud Mom?” tanya Delanay.
Tiga orang di sana menoleh. George Harper, Lauren, dan adik tirinya, Silvy, menatap Delanay dengan ekspresi berbeda.
George tampak terkejut. Dua lainnya saling bertukar pandang dengan wajah santai.
“Siapa yang mencari suami pengganti?” Delanay menuntut.
Ia melangkah mendekat dan berdiri di hadapan mereka.
Lauren tersenyum. Ia meraih lengan Delanay. “Sayang, Mom hanya ingin kamu bahagia. Pernikahanmu dengan Jovan sudah batal. Tapi kita belum mengumumkannya ke publik. Kita bisa menunda pernikahan sampai kamu menemukan suami pengganti, ya?”
“Kenapa?” tanya Delanay tajam.
Lauren menoleh ke George, lalu kembali menatap Delanay—anak tiri yang ia peroleh setelah menikahi George, seorang duda yang istrinya telah meninggal. “Mom takut kamu akan dicemooh, sayang. Apalagi sebagai pewaris Harper, kamu tidak boleh ceroboh.”
Benar. Delanay tidak boleh ceroboh. Termasuk mempercayai bujuk rayu manis Lauren.
“Mom pikir dengan menikah, semuanya akan baik-baik saja?”
“Iya.” Lauren tidak ingin rencananya gagal. “Jika kamu menikah, kamu tidak akan diremehkan. Perusahaan Daddy tetap berjalan lancar. Semua orang akan tahu betapa hebatnya kamu. Dan yang terpenting, kamu tidak akan dicap sebagai aib keluarga Harper.”
Bibir Delanay terkatup rapat. Jadi apa salahnya jika ia dicap aib? Apa itu akan merugikan Lauren?
“Bagaimana menurutmu, Dad?” tanya Lauren.
George menatap Delanay. Ia tidak bisa membiarkan putrinya menikah dengan pria sembarangan, tanpa tahu latar belakang, asal-usul, dan masa lalunya. George menggeleng. “Tidak, Mom. Jangan gila. Dad tidak setuju.”
Spontan, Lauren memasang wajah kecewa, lalu berubah sedih. “Kenapa, Dad? Kita butuh pernikahan ini sekarang.”
“Tidak, Mom. Kita tidak butuh pernikahan.”
“Dad,” bujuk Lauren. “Jika kita menunjukkan kelemahan Harper, kegagalan ini akan dikenang selamanya. Kasihan Delanay, kasihan Silvy juga. Teman-teman mereka pasti akan menjauhi mereka.”
George menatap Delanay, lalu beralih ke Silvy, putri bungsunya.
“Dad, Delanay harus menikah hari ini. Mom juga sedih harus melepaskan anak kita seperti ini. Tapi kita tidak bisa diam saja, Dad, saat begitu banyak musuh di luar sana yang bisa menjatuhkan Daddy. Satu-satunya cara adalah Delanay menikah. Dengan suami penggantinya.”
Pikiran George kacau. Di satu sisi, ia tidak ingin putrinya menikah sembarangan. Di sisi lain, kejadian hari ini bisa berdampak buruk bagi keluarga dan masa depan Delanay.
Melanie—istri mendiangnya, ibu kandung Delanay—pasti akan menyalahkan George. Ia akan dianggap gagal menjaga putri mereka.
“Baik,” akhirnya George memutuskan. Setengah terpaksa.
“Dad!” bentak Delanay.
“Cukup, Dela. Dad tidak butuh penolakanmu. Kali ini, cobalah berpikir logis.”
Wajah Delanay tampak kecewa. Lauren tersenyum. Ia melirik Silvy, yang juga terkejut dengan ide gila ibunya. Bagaimana bisa ia mengorbankan Delanay demi keuntungan pribadi? Jelas saja, ibunya tidak ingin suaminya miskin.
“Siapa?” tanya George. “Siapa yang akan menjadi suami pengganti Delanay?”
Lauren tersenyum lebar. “Seseorang yang aku kenal. Aku sudah bicara dengan orang tuanya di bawah. Sekarang tinggal keputusan dia.”
“Siapa, Mom?” tanya satu-satunya pria di ruangan itu.
Bukan hanya Delanay yang menahan napas. George dan Silvy pun penasaran—siapa yang dipilih Lauren untuk menggantikan Jovan? Jangan-jangan pria kaya botak berperut buncit atau berkumis lele legendaris.
Lauren tersenyum lagi.
“Dia Callum Westwood. Putra Ethan Westwood, pemilik Westwood Corp.”
Seketika, mata ketiganya membelalak. Callum Westwood? CEO yang terkenal itu?
“Lagipula, keluarga mereka berutang budi pada kita, bukan?” tambah Lauren. “Biarkan Callum membalas kebaikan Melanie. Aku yakin Delanay akan bahagia.”
thor sekali2 kasih tau dong siapa yg perkosa delanay? penasaran banget deh😔😂
mantap thor😂
jadi pingin cepet2 ngliat mereka ke pesta🥰
makin seeruuu nih🥰