Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sepeninggalan suami dan anaknya ke sekolah, Melati duduk di tepi ranjangnya, rasanya ia tidak pernah menyangka dengan kejadian semalam yang mendadak dan tiba-tiba.
Entah kenapa, bayangan wajah Cokro yang tegas tidak bisa hilang dari ingatannya, ia mulai menarik ujung roknya, sebagai luapan kebahagiaan yang seharusnya tidak terjadi.
"Ah, lucu sekali," gumamnya pelan. "Ternyata dia tidak seseram yang aku bayangkan," kata Melati sambil senyum-senyum sendiri.
☘️☘️☘️☘️☘️
Hal itu tidak hanya terjadi pada Melati, namun juga pada Cokro, lihat saja di tengah-tengah tumpukan dokumen yang menggunung pria itu tidak bisa fokus, fokusnya terpecah dengan bayangan wajah Melati, yang menurutnya begitu lucu saat malam kemarin.
"Astaga! Kenapa harus ada dia terus," kata Cokro sambil menariknya bolpoinya. "Ayo Cokro kerja... kerja ...," ucapnya pada diri sendiri.
Waktu seolah melambat, dan entah kenapa pria itu ingin sekali cepat pulang, melihat wajah kedua anaknya dan juga wajah wanita yang saat ini tengah mengganggu pikirannya.
"Kenapa harus dia," ucapnya lagi. "Dia masih kecil, mana mungkin mampu mengimbangiku." Berkali-kali ia meyakinkan hatinya, tapi tetap bayangan itu tidak mau pergi.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sore itu, pagar rumah berbunyi pelan. Bi Sumi yang sedang menyapu halaman depan berhenti. Ia mengangkat wajahnya, melihat seorang perempuan berdiri di luar pagar. Pakaiannya rapi. Kacamata hitam besar menutup sebagian wajahnya.
“Cari siapa, Mbak?” tanya Bi Sumi hati-hati.
Perempuan itu menurunkan kacamatanya pelan.
“Apa ini rumah Pak Cokro?”
Bi Sumi langsung waspada. “Iya… ada perlu apa?”
Perempuan itu tersenyum. Bukan senyum ramah. Lebih seperti senyum yang menyimpan sesuatu.
“Saya temannya lama. Kebetulan lewat, jadi ingin memastikan saja.”
Bi Sumi tidak membuka pagar.
“Pak Cokro lagi nggak di rumah.”
“Oh…” Perempuan itu mengangguk pelan. Tatapannya menelusuri halaman, jendela, pintu utama. Seolah menghitung sesuatu.
“Anak-anaknya sehat?”
Pertanyaan itu membuat jantung Bi Sumi berdegup lebih cepat.
“Mbak ini siapa?” tanyanya lagi, lebih tegas.
Perempuan itu terdiam sebentar. Lalu membuka tasnya, mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto Cokro. Versi muda. Bersama dirinya.
“Saya Rani,” katanya pelan.
Bi Sumi seperti disambar petir, pasarnya nama itu tidak asing. Ia sudah bekerja cukup lama untuk tahu siapa perempuan yang pergi meninggalkan majikannya itu bertahun-tahun lalu.
Bi Sumi langsung menegakkan tubuh. “Maaf, Mbak. Saya nggak bisa kasih info apa-apa.”
Rani tersenyum tipis. “Saya cuma ingin tahu… anak pertama saya sudah sebesar apa.”
Kalimat itu membuat Bi Sumi goyah.
“Saya ibunya,” lanjut Rani pelan. “Apa salah kalau saya ingin tahu?”
Bi Sumi menelan ludah. Ia teringat Mahendra semalam yang meringkuk ketakutan. Teringat wajah Melati yang lembut menenangkan.
“Apa Mbak mau masuk?” tanyanya ragu.
“Belum,” jawab Rani cepat. “Saya nggak mau bikin masalah. Saya cuma ingin tahu jadwal anak-anak sekolah. Jam berapa biasanya pulang?”
Bi Sumi langsung tersadar. Ia menggeleng. “Maaf, Mbak.”
Rani mengangguk pelan, lalu mengeluarkan selembar uang dari tasnya, tidak terlalu banyak, namun cukup untuk membuat Bi Sumi tercengang.
“Saya cuma tanya jam pulang. Bukan minta alamat sekolah.”
Bi Sumi menatap uang itu. Lalu menatap wajah Rani. Ada sesal di sana. Ada penyesalan yang tampak nyata.
“Anak pertama itu… dia masih ingat saya?” tanya Rani lagi, suaranya lebih pelan sekarang.
Pertanyaan itu yang membuat Bi Sumi mulai luluh.
“Masih,” jawabnya tanpa sadar. “Kadang dia bangun malam…”
Rani menunduk. Matanya berkaca.
“Dia sering panggil Papa,” lanjut Bi Sumi pelan. “Takut ditinggal.”
Rani menggenggam tasnya lebih erat.
“Jam pulang mereka?” tanyanya lagi, kali ini hampir berbisik.
Bi Sumi ragu.
Lalu akhirnya berkata, “Sekitar jam tiga.”
Begitu kata itu keluar, Bi Sumi sadar ia telah melangkah terlalu jauh.
Rani tersenyum. Kali ini lebih lembut.
“Terima kasih, Bi.”
Mobil hitam di ujung jalan perlahan bergerak menjauh.
Bi Sumi berdiri lama di depan pagar. Perasaannya tidak enak. Ia tidak tahu harus cerita ke siapa.
Sementara di dalam rumah, Melati sedang menyiapkan camilan sore. Tidak tahu bahwa dari luar, masa lalu sedang belajar cara mengetuk kembali.
Cemilan sudah matang, ia mulai meninggalkan sebentar untuk mandi. "Heeem sisanya biar diurus Bi Sum, lagian aku sudah bau asam ingin mandi," gumamnya sendiri sambil mencium lengan bajunya kanan kiri.
Setelah beberapa menit, Melati sudah selesai dan ia terlihat lebih fresh, rapi dan juga wangi, ia berjalan menuruni anak tangga, di ruang keluarga ia melihat Mahesa tengah bermain bola dengan sendirinya.
"Mahesa, hati-hati Sayang, jangan kencang-kencang ya," tegur Melati.
Anak itu berhenti sejenak, mendengar suara Malati ia langsung berlari dan memeluknya.
"Mama, aku gak kencang-kencang kok, kalau gak percaya, tanya sama Sus," ucap anak itu seolah meyakinkan Melati.
Melati setengah membungkuk, untuk mensejajarkan tubuhnya. "Bagus anak baik."
Mahesa tersenyum lebar, ucapan dari ibu sambungnya benar-benar menjadikan semangat tersendiri untuk anak itu.
"Makasih Mam," ucap anak itu lalu kembali bermain, dan tidak lupa ada pengawasan dari susnya.
Di saat melati menata cemilan dan juga hidangan di ruang makan, dari luar suara langkah terdengar, Cokro dan Mahendra masuk rumah dengan bersamaan, dan dua laki-laki beda generasi itu langsung terhenti karena mencium aroma wangi dari dapur.
"Pa, perut Mahen, langsung lapar," kata anak itu.
"Ganti dulu pakaianmu," tegur Cokro.
Mahen mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamarnya, sementara itu Cokro merasa frustrasi ternyata dia sendiri yang tidak bisa menahan aroma itu, entah kenapa bawaannya pingin ke ruang makan, entah itu untuk mengisi perut atau untuk keperluannya pribadi.
"Ah ... entahlah, kenapa jadi seperti ini.
Disaat Cokro hendak melangkah ke ruang makan, tiba-tiba saja suara anaknya menghentikan langkahnya.
"Pa, mau kemana?" tanya Mahendra menyelidik.
"Mau ke kamar," sahut Cokro gugup.
'Mau ke kamar kok langkahnya ke dapur," celetuk anaknya yang membuat Cokro bingung sendiri.
"I-iya... maaf Papa lupa," sahutnya dengan wajah yang memerah.
Seketika Mahen menahan tawa, ia baru melihat sosok ayahnya terlihat sepert remaja yang ketahuan menyukai seseorang. Bukan seperti Papa yang biasanya tegas dan selalu yakin dengan langkahnya. Cokro berdehem, membetulkan arah kakinya yang memang tadi sudah hampir sampai dapur.
"Sudah sana makan," kata Cokro setengah mengusir.
"Ayo makan bersama, bukannya Papa juga ingin makan juga," ucap Mahen.
"Makan dulu saja, Papa ganti baju dulu," sahut Cokro beralasan.
"Bukannya tadi Papa hampir nyampe dapur, pasti mau nyari Mama ya," canda Mahendra.
Cokro sempat terkejut ia membulatkan mata seketika. "Sudah sana pergi makan," ucapnya setengah mengusir.
Mahen hanya menggelengkan kepala, untuk pertama kalinya ia baru sadar jika dunia sang ayah yang kaku dan tak tersentuh kini perlahan mulai terbuka.
Bersambung ...
siang semoga suka ya