Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Malam itu, suasana di meja makan terasa lebih berat dari biasanya. Kak Pandu tidak banyak bercanda, ia hanya mengaduk-aduk nasi gorengnya dengan tatapan kosong. Rupanya, kabar tentang "insiden" di belakang sekolah sudah sampai ke telinganya lebih cepat dari yang kukira.
Begitu Mama masuk ke dapur, Kak Pandu langsung menaruh sendoknya dengan bunyi denting yang tajam.
"Ra, lo beneran mau mutusin Arkan?" suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang menuntut penjelasan Detik.
Aku terdiam, memainkan ujung ban kapten di pergelangan tanganku. "Gue cuma takut, Kak. Jakarta itu jauh. Dia bakal nemu orang-orang yang lebih... waras daripada gue."
Kak Pandu menarik napas panjang, lalu berdiri dan berjalan mendekat ke arahku. Ia tidak marah seperti yang kubayangkan, tapi sorot matanya penuh dengan kekecewaan yang dalam.
"Lo tahu nggak, Ra? Tadi Arkan telpon gue. Suaranya gemeteran, dia nanya apa dia ada salah yang kelewat batas sampe lo setega itu," Kak Pandu menggeleng pelan. "Gue selama ini tinggal bareng lo, gue yang paling tahu luka lo karena bokap. Tapi itu bukan alasan buat lo jadi 'penghancur' buat orang yang justru lagi bangun fondasi buat masa depan lo."
"Gue nggak bermaksud—"
"Tapi lo lakuin itu, Nara!" potong Kak Pandu tegas. "Enam bulan dia sabar hadepin tembok lo. Enam bulan dia nunggu di depan pager tiap pagi cuma buat dapet balesan 'oke' atau 'ya'. Dan pas dia mau ngejar mimpinya buat Lo —lo malah mau lepas tangan?"
Kak Pandu mencengkeram sandaran kursiku. "Asal lo tahu, Arkan itu satu-satunya cowok yang berani janji ke gue buat nggak bakal ninggalin lo, apa pun kondisinya. Dia bahkan bilang, kalau dia gagal dapet beasiswa di Jakarta, dia bakal tetep di sini cuma supaya lo nggak ngerasa sendirian."
Aku terpaku. Arkan rela melepas mimpinya demi ketakutanku?
"Jangan jadi egois karena trauma, Ra," lanjut Kak Pandu lebih lembut, tangannya kini menepuk bahuku. "Bokap lo pergi karena dia nggak punya nyali buat bertahan. Arkan bertahan karena dia punya nyali yang gede banget buat lo. Jangan samain berlian sama sampah cuma karena warnanya sama-sama gelap di mata lo."
Kak Pandu berjalan melewatiku, tapi ia berhenti sejenak dan menepuk bahuku pelan. "Minta maaf besok. Sebelum lo bener-bener kehilangan satu-satunya orang yang rela jadi benteng buat lo."
Malam itu, aku menatap bunga Daisy di laci. Aku menyadari bahwa menarik diri bukan lagi cara untuk melindungi hatiku, melainkan cara tercepat untuk kehilangan satu-satunya orang yang paling berharga di hidupku.
Aku tidak bisa menunggu sampai besok. Kata-kata Kak Pandu terus terngiang, menghantam telak egoku yang selama ini bersembunyi di balik tameng trauma. Aku mengambil bunga Daisy dari laci, menggenggamnya erat bersama ban kapten yang mulai terasa seperti satu-satunya jangkar di hidupku.
Aku berlari keluar kamar, mengabaikan teriakan Mama dari dapur. "Kak Pandu! Pinjem motor!" seruku sambil menyambar kunci motor di atas meja ruang tamu.
"Jangan ngebut, Ra! Arkan ada di tempat biasanya!" teriak Kak Pandu dari arah tangga.
Aku memacu motor dengan jantung yang berdegup tidak karuan. Dinginnya angin malam 2026 ini menembus kaus tipis yang kupakai, namun rasa takut kehilangan Arkan jauh lebih membekukan daripada udara malam. Aku menuju ke satu-satunya tempat di mana Arkan selalu merasa bebas: markas rahasianya.
Benar saja. Motor besar hitamnya terparkir di sana. Aku melangkah masuk melalui pintu besi yang berderit. Cahaya temaram dari lampu meja menyinari sosok Arkan yang sedang duduk tertunduk di depan maket bangunannya yang berantakan—sebagian hancur karena amarahnya yang tertahan tadi sore.
"Gue bilang gue nggak mau putus, Ra. Lo nggak perlu dateng cuma buat—" Arkan berhenti bicara saat ia mendongak dan melihat mataku yang sembab.
"Gue yang mau minta maaf, Kan," bisikku parau. Aku berjalan mendekat, meletakkan bunga Daisy rajutan itu di atas meja sketsanya. "Gue egois. Gue jahat karena nyamain ketulusan lo sama pengecutnya masa lalu gue."
Arkan terdiam, matanya menatap bunga Daisy itu lalu beralih ke wajahku. "Gue nggak butuh permintaan maaf, Ra. Gue cuma butuh lo percaya kalau gue nggak akan ke mana-mana."
Aku meraih tangannya, menaruh ban kapten itu kembali ke telapak tangannya. "Bawa ini ke Jakarta. Menang di sana, raih beasiswa itu. Gue nggak akan narik diri lagi. Gue bakal nunggu di sini, jadi asuransi yang selalu doain lo dari jauh."
Arkan bangkit dari kursinya, menarikku ke dalam pelukan yang sangat erat. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang perlahan kembali stabil. "Lo beneran nggak akan pergi?"
"Nggak akan," jawabku mantap di pundaknya. "Gue baru sadar, lari dari lo itu lebih nakutin daripada lari dari masa lalu gue."
Malam itu, di tengah puing-puing maket yang rusak, kami membangun kembali janji yang baru. Arkan akan berangkat ke Jakarta mengejar mimpinya sebagai arsitek, dan aku akan tetap di sini, menjadi alasan terbesarnya untuk selalu pulang. Ternyata benar kata Kak Pandu, Arkan adalah berlian yang hampir kubuang hanya karena aku terlalu takut pada kegelapan.