NovelToon NovelToon
Fated Across Borders: Shared Wounds

Fated Across Borders: Shared Wounds

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiano R

Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.

Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Suatu pagi yang cerah, burung-burung berkicau merdu di luar jendela. Cahaya matahari menembus masuk ke dalam kamar melalui ventilasi, berpadu dengan suasana hening yang terasa begitu menenangkan.

Amayah membuka kedua matanya perlahan, terbangun dari tidurnya. Pandangannya sempat menangkap sosok seseorang yang tertidur tepat di hadapannya—berada di ranjang yang sama. Namun rasa kantuk masih menguasai dirinya, membuatnya kembali memejamkan mata tanpa banyak berpikir.

Beberapa detik kemudian, kesadaran itu menghantamnya.

Mata Amayah terbuka lebar.

"Brian?!" teriaknya dalam hati. Ia sontak bangkit dengan tubuh sedikit terhuyung, keterkejutan terpampang jelas di wajahnya.

Di hadapannya, Brian masih tertidur lelap, napasnya teratur seolah tak menyadari apa pun yang terjadi.

"Kami… tidur bersama…? Bahkan satu ranjang?!" batin Amayah dengan wajah yang seketika memerah.

Ia terduduk kaku di ranjang, menarik selimut, dan menatap Brian dengan gugup. Jantungnya berdegup kencang, seakan hendak melompat keluar dari dadanya. Rasa malu dan bingung bercampur menjadi satu.

"Apa yang sebenarnya terjadi…?" tanya Amayah dalam hati.

"Mengapa kami bisa tidur bersama?"

Dan tiba-tiba, Brian terbangun.

Matanya yang masih setengah terpejam menangkap sosok Amayah yang ternyata sudah bangun lebih dulu darinya. Gadis itu duduk di sisi ranjang dengan wajah memerah.

Brian mengerjap bingung. Dalam posisi masih terbaring, ia bertanya, "Ada apa?"

"M-Mengapa kita tidur bersama?! Jangan-jangan kau melakukan sesuatu yang aneh padaku, ya!" ucap Amayah kesal sekaligus malu.

Mendengarnya, ekspresi Brian yang semula datar langsung berubah tegas. "Hah? Aku tidak berbuat macam-macam padamu! Jangan menuduhku sembarangan!"

"Lalu mengapa kita tidur bersama? Ini kamarmu. Bagaimana aku bisa tidur di sini?" tanya Amayah penuh kebingungan.

Belum sempat Brian menjawab, pintu kamar terbuka.

"Paman dan Kak Amayah sudah bangun, ya? Selamat pagi!" sapa Sophia dengan ceria.

"Sophia...?" Amayah menoleh kaget.

Brian bangkit dari tempat tidurnya. "Kau tidak mengingatnya?"

"Mengingat apa?" balas Amayah.

Brian menghela napas ringan. "Tadi malam..."

Kemarin malam, seusai makan malam...

"Paman, Kak Amayah, ayo tidur bersama!" seru Sophia ceria.

Mendengarnya, Amayah langsung tersipu. "Eh...? Tidak bisa..."

"Kenapa? Sophia takut tidur sendiri..." ujar Sophia dengan wajah ketakutan.

Ibunya sedang ada pekerjaan di luar kota selama libur akhir pekan. Karena itu, Sophia harus bermalam hanya berdua dengan pamannya, membuatnya merasa takut tidur sendirian.

Amayah menoleh ke arah Brian dengan wajah ragu, seolah meminta keputusan darinya.

"Kita turuti saja," kata Brian datar.

Mendengar itu, jantung Amayah berdetak lebih cepat. Ini adalah kali pertama ia tidur bersama orang lain—dan langsung bersama Brian.

"B-Baiklah..." ucapnya gugup. "Tapi sebelum itu, ayo gosok gigi dulu," tambahnya, mencoba mengalihkan rasa malunya.

Mereka bertiga pun menuju kamar mandi, berdiri di depan cermin sambil menggosok gigi. Suasana yang semula canggung berubah ringan ketika Sophia tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang putih bersih.

"Gigi Kak Amayah juga bersih!" kata Sophia senang.

"Jelas," balas Amayah singkat dengan senyum bangga.

"Paman, sekarang paman!" pinta Sophia.

Brian berkumur cepat, lalu memperlihatkan giginya dengan santai. Namun di sela-sela giginya terlihat selaput biji cabai yang tersangkut.

"Hahaha!" Sophia tertawa keras.

Amayah pun ikut tertawa. Brian yang bingung langsung bercermin, lalu menyadarinya.

"Ah..." Brian tersenyum canggung.

Di kamar, Sophia dan Amayah langsung berbaring di ranjang. Sophia tampak sangat senang, sementara Amayah terlihat kaku, pipinya memerah.

"Tenang, Amayah... ini hanya tidur bersama layaknya keluarga," batinnya mencoba menenangkan diri.

Tak lama kemudian, Brian masuk setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci. Lampu dimatikan, dan ia pun ikut berbaring.

Sophia yang berada di antara mereka berkata pelan, "Sebelum tidur, ayo kita berdoa."

"Ya," jawab Amayah dengan senyum lembut.

"Ya Tuhan, aku bersyukur atas penyertaan-Mu hari ini. Peliharalah kami sepanjang malam, jauhkan dari yang jahat, dan bimbing kami untuk bangun dengan semangat baru besok. Amin," ucap Sophia tenang.

"Selamat malam, Paman. Selamat malam, Kak Amayah."

Brian dan Amayah tersenyum.

"Selamat malam," balas mereka bersamaan.

"Rasanya seperti punya anak sendiri," batin Amayah.

Ia langsung tersipu. "Kalau aku ibunya, maka..."

Amayah segera memejamkan mata, berusaha menghentikan pikirannya. Sophia bahkan sudah tertidur pulas.

"Dia sudah tidur saja?!" bisik Amayah kaget.

"Wajar," bisik Brian. "Seharian dia aktif."

"Tapi kau sering tidur padahal bermalas-malasan setiap hari," balas Amayah mengejek.

"Berhenti menghinaku terang-terangan," bisik Brian kesal.

"Sssttt!" desis Amayah.

Brian terdiam dan membelakangi Amayah. Mereka pun mencoba tidur.

Beberapa jam berlalu, namun Amayah masih terjaga. Jantungnya tak kunjung tenang, apalagi mengetahui Brian tidur di belakangnya.

"Kau tidak bisa tidur?" bisik Brian pelan.

"Kau juga belum tidur," balas Amayah.

"Ini pertama kalinya aku tidur bersama orang lain," ujar Brian datar. "Aku selalu tidur sendirian sejak kecil."

Amayah terdiam. Perasaannya tersentuh.

"Banyak hal yang terjadi sejak aku bertemu denganmu," lanjut Brian. "Banyak hal yang baru pertama kali aku rasakan. Itu keistimewaannya."

Hati Amayah menghangat.

"Terima kasih, Amayah, karena telah menjadi temanku..."

"Aku juga merasa senang," jawab Amayah lirih. "Aku bersyukur bisa bertemu denganmu. Kalau saja kau tidak menolongku saat itu..."

Namun ia terhenti.

Beberapa detik berlalu, dan ternyata Brian sudah tertidur.

Amayah terdiam, lalu menutup wajahnya.

"Apa yang barusan aku katakan...?" gumamnya malu.

---

Setelah mendengar seluruh penjelasan dari Brian, Amayah akhirnya menyadari kesalahannya. Raut wajahnya melunak, sedikit menunduk.

"M-Maaf karena menuduhmu..." ucapnya pelan.

Sebelum suasana berubah canggung, suara ceria tiba-tiba memecah keheningan.

"Paman, Kak Amayah, ayo pergi jalan-jalan!" usul Sophia dengan mata berbinar.

Mendengarnya, Amayah tersenyum. "Wah, ide bagus. Supaya paman tidak bermalas-malasan di rumah," katanya sambil melirik Brian dengan nada menyindir.

"Bagaimana kalau kita ke Zplish-Zplash? Waterpark yang baru saja grand opening beberapa minggu lalu," lanjut Amayah penuh semangat.

"Sophia ingin berenang!" seru Sophia ceria, melonjak kecil.

Namun, reaksi Brian justru bertolak belakang. Wajahnya langsung tampak lesu, seolah semangatnya terkuras seketika.

Amayah yang menyadarinya segera menyeringai. "Jangan-jangan kau malu karena tidak bisa berenang, Brian."

"Aku bisa berenang," balas Brian singkat dan datar.

Amayah tak berhenti memprovokasi. "Kalau begitu, kenapa kelihatan lesu sekali? Jujur saja, sebenarnya kau memang tidak bisa, kan?"

Brian mendengus kecil. "Baiklah, kalau begitu aku ikut. Kita lomba saja untuk membuktikan siapa yang terbaik dalam hal renang," katanya serius.

Reaksi Amayah mendadak berubah aneh. "Eh...?"

"Kenapa?" Brian menyunggingkan senyum tipis. "Apa jangan-jangan kau sendiri yang tidak bisa berenang?"

Tentu saja Amayah tidak terima mendengar itu. Ia langsung menegakkan badan.

"Baiklah! Aku terima tantangan itu!" katanya dengan penuh percaya diri.

---

Satu jam kemudian...

"Zish-Zash!" seru Sophia dengan penuh semangat.

"Zplish-Zplash, bukan Zish-Zash," balas Amayah sambil tertawa kecil.

Sophia mengangguk cepat, lalu mengulanginya dengan wajah berseri. "Zplish-Zplash! Ayo!"

Amayah dan Sophia tampak bersemangat, seolah api antusiasme menyala di mata mereka. Berbanding terbalik dengan Brian, yang justru memasang wajah lesu.

"Panas sekali…" keluhnya sambil mengipas wajah dengan satu tangan, sedangkan tangannya yang lain membawa tas besar milik Amayah.

Melihat kondisi Brian yang sekarat di bawah terik matahari, Amayah mengejeknya singkat. "Kau seperti zombie."

"Tidak ada zombie yang peringkat satu di sekolahnya sejak taman kanak-kanak," balas Brian datar.

"Hanya itu kelebihanmu? Jangan merasa hebat hanya karena pintar," kata Amayah tanpa basa-basi. "Di kolam nanti yang dipakai itu otot, kau tahu."

Brian menepuk tangannya pelan beberapa kali. "Wah, hebat sekali kata-kata hari ini dari sang juara olimpiade renang," ujarnya sarkastis.

Amayah menaruh kedua tangannya di pinggang dengan ekspresi tidak senang. Ia memejamkan mata sejenak. "Dasar keras kepala…" gumamnya.

Di saat seperti itu, pandangan Brian justru tertuju pada pakaian renang yang dikenakan Amayah—sesuatu yang belum pernah ia lihat selama mereka berteman. Tatapannya bergerak dari atas ke bawah tanpa sadar, terlihat begitu serius.

Pakaian renang Amayah bergaya feminin dengan dominasi tema ruffle. Atasan bikininya berwarna biru muda yang lembut, dengan lapisan ruffle tebal di bagian bawah cup. Tali tipisnya menyilang di dada, memberi kesan elegan. Bahu kirinya dihiasi sleeve ruffle kecil yang terpisah dari atasan, menambah sentuhan manis dan estetik.

Bagian bawahnya berupa rok pendek ruffle berwarna senada, memberikan tampilan yang lebih sopan sekaligus imut. Rok tersebut melingkari pinggul dengan lipatan kain yang rapi dan mengembang ringan. Ia juga mengenakan anting kecil berwarna biru serta kalung dengan liontin senada. Di tangannya, Amayah membawa tas jinjing krem yang terlihat cukup tebal, seolah berisi banyak barang.

Amayah membuka sebelah matanya, lalu menyadari Brian sedang menatap dirinya. Seketika ia membuka kedua matanya, terkejut sekaligus malu. Pipinya langsung memerah.

"A-Apa yang kau lihat?!" tanyanya gugup.

"Tidak ada," jawab Brian singkat dan datar, lalu segera mengalihkan pandangannya ke depan.

Amayah membalasnya dengan tatapan tajam. "Mesum," katanya kesal.

Namun jauh di dalam hatinya, Amayah justru merasa sedikit kecewa. Brian sama sekali tidak memberi pendapat tentang pakaian renang baru yang ia beli khusus untuk hari ini. Padahal, ia sudah bersusah payah memilihnya, berharap sesuai dengan selera Brian. Sayangnya, pria itu tidak mengatakan apa pun.

Tiba-tiba, Sophia menarik salah satu tangan Amayah dengan penuh semangat. "Ayo coba perosotan itu, Kak Amayah!" serunya ceria.

Secara mendadak, Amayah menyerahkan semua barang bawaannya—dua tas dengan isi yang berbeda—kepada Brian. "Jaga barang-barang ini. Aku akan menghukummu kalau sampai ada yang hilang!" katanya tegas.

Brian menghela napas panjang. "Baiklah…"

Amayah tersenyum kecil, lalu mengikuti langkah Sophia menuju wahana air.

---

Tak lama kemudian, Amayah dan Sophia menaiki sebuah perosotan air. Amayah memangku Sophia sambil memegang pundaknya erat. Keduanya tampak sangat antusias menunggu giliran berseluncur. Begitu dilepas, mereka meluncur cepat dan berakhir di sebuah kolam yang tidak terlalu dalam.

Sementara itu, Brian hanya menatap mereka dari kejauhan. Ia duduk santai di tempat yang teduh, di sebuah kedai kecil, sama sekali tidak basah.

"Hahaha, seru sekali!" teriak Sophia dengan tawa lepas.

Amayah tertawa kecil. "Mau coba yang lain?"

"Sophia mau!"

Mereka pun mencoba satu per satu seluncuran air yang ada, mulai dari yang paling rendah hingga yang lebih tinggi. Setiap kali meluncur, tawa mereka tak pernah berhenti. Kebahagiaan sederhana itu terasa begitu nyata.

Hingga akhirnya, mereka berdiri di depan seluncuran yang paling tinggi. Tangga yang harus dinaiki tampak menjulang, membuat siapa pun sedikit gentar.

"Kita pasti bisa!" ujar Amayah penuh percaya diri.

Sophia membalas dengan senyum tak kalah yakin. "Ya!" katanya serius.

Mereka mulai berseluncur. Awalnya, jalur terasa landai dan pelan. Seluncuran itu tertutup rapat, membuat mereka tak bisa melihat langit atau dunia luar. Namun tiba-tiba, lintasannya berubah menjadi curam dan melaju kencang.

"Aaaa!" teriak mereka bersamaan.

Byur!

Mereka berhasil melewatinya.

"Yeay!" seru Sophia sambil mengangkat satu tangannya dengan penuh kemenangan.

Mereka akhirnya berhasil menaiki perosotan tertinggi di tempat itu. Di sisi lain, Brian masih duduk santai, meneguk minuman soda dari kalengnya, tampak sama sekali tidak terpengaruh oleh hiruk-pikuk wahana air.

Tak lama kemudian, Amayah dan Sophia menghampirinya.

"Sophia dan Kak Amayah berhasil naik perosotan yang paling tinggi, Paman!" ujar Sophia dengan nada bangga.

"Aku melihatnya kok. Itu memang benar-benar tinggi," balas Brian santai.

"Katanya Paman dan Kak Amayah mau balap renang. Jadi, apakah jadi?" tanya Sophia tiba-tiba.

Mendengar itu, reaksi Brian dan Amayah langsung berubah. Brian yang sedang minum tersedak, sementara Amayah buru-buru memalingkan wajah.

Sophia mengernyit bingung. "Hmm?"

"Sepertinya lain kali saja. Aku sedang kurang enak badan," kata Brian datar.

"Y-Ya, aku juga..." sahut Amayah lirih.

Suasana mendadak hening. Ada sesuatu yang jelas mereka sembunyikan. Sophia hanya bisa menatap bergantian, kebingungan melihat Amayah dan pamannya yang sama-sama menghindari tatapan.

"Sebenarnya... aku tidak bisa berenang. Jadi maaf karena telah membohongimu," ucap Brian pelan.

Amayah akhirnya memahami alasan Brian. "Begitu... kau memang payah," katanya pelan juga, kini berani menatap Brian.

"Memangnya kau bisa?" tanya Brian datar.

Amayah terdiam sejenak, lalu menghela napas kecil. "Maaf... aku juga membohongimu."

Padahal mereka sempat saling menantang untuk lomba renang. Nyatanya, keduanya sama-sama tidak bisa berenang. Semua kebohongan itu hanya demi mempertahankan harga diri.

Melihat suasana canggung di antara mereka, Sophia tiba-tiba berseru dengan penuh semangat.

"Sophia ingin naik itu!"

Ia menunjuk ke sebuah wahana seluncuran berbentuk mangkuk raksasa. Tempat itu tampak ramai, dipenuhi antrean pengunjung.

"Ayo mengantre. Itu terlihat seru," ujar Amayah sambil tersenyum.

"Seriusan? Aku malas mengantre," balas Brian malas.

"Kau bahkan jarang bergerak. Jangan bermalas-malasan," balas Amayah.

Brian akhirnya menyerah dan menuruti keinginan Sophia. Setelah menunggu cukup lama, giliran mereka pun tiba. Mereka menaiki pelampung raksasa itu dan duduk melingkar, bersiap untuk meluncur bersama.

Tak lama kemudian, mereka mulai berseluncur. Mula-mula mereka memasuki terowongan besar, suara gema terdengar di sekeliling.

"Aaa~" kata Sophia senang.

Tak lama setelah itu, mereka keluar dari terowongan dan berputar kencang di lintasan melingkar.

"Woah!!!" teriak Sophia ceria.

Amayah dan Sophia tampak menikmati setiap detiknya. Sementara itu, Brian hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi tegang. Ia sebenarnya sedikit takut menaiki wahana seperti ini.

"Paman, Kak Amayah. Sophia hari ini sangat bahagia bisa bermain bersama kalian! Sophia menyayangi kalian!" ucapnya tulus dengan senyum manis.

Mendengarnya, Brian dan Amayah sama-sama tersenyum.

"Mau datang lagi ke sini?" tanya Amayah santai.

"Sophia mau!" jawabnya ceria.

"Tapi nanti Sophia yang paksa Paman Brian, ya, supaya kita bisa datang bersama lagi," kata Amayah nakal.

Brian menghela napas ringan. "Aku tidak bisa menolak kalau Sophia yang meminta."

"Baik!" jawab Sophia mantap.

Setelah satu kali putaran, mereka kembali memasuki terowongan. Tak lama kemudian, mereka akhirnya keluar dan mendarat di sebuah kolam besar.

---

Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)

---

Setelah bersenang-senang—menemani Sophia berenang dengan ban pelampung, membiarkannya naik di punggung Brian, bermain voli air di kolam, dan berbagai permainan lainnya—mereka akhirnya memutuskan untuk makan siang di sebuah tempat yang teduh.

Amayah membuka salah satu tasnya dan mengeluarkan beberapa kotak bekal. Jumlahnya membuat Brian dan Sophia terpukau.

"Ternyata ini alasan mengapa kau membuatku lama menunggu," kata Brian dengan nada datar.

"Kau saja yang terlalu cepat," balas Amayah dengan ekspresi dan nada yang sama datarnya.

Tiba-tiba Brian berdiri. "Aku mau ke toilet dulu."

Mendengar pamannya hendak pergi, Sophia langsung berseru, "Sophia juga ingin ikut!"

Brian dan Sophia pun berjalan menuju toilet, meninggalkan Amayah yang mulai menata dan menyiapkan makan siang mereka.

Sesampainya di sana, Sophia masuk sendiri ke toilet wanita, sementara Brian menuju bagian pria.

Beberapa menit kemudian, Sophia keluar dan hendak mencuci tangannya. Namun, wastafel itu terlalu tinggi untuk dijangkaunya. Ia berjinjit, tetapi tetap tidak berhasil.

Tiba-tiba, seorang wanita menghampirinya dan bertanya dengan ramah, "Butuh bantuan?"

Sophia sempat kebingungan sejenak, lalu tanpa ragu mengangguk. "Ya!"

Wanita itu pun menggendong Sophia sehingga ia bisa mencuci kedua tangannya dengan mudah. Setelah selesai, Sophia kembali diturunkan ke lantai.

"Terima kasih banyak, Kak!" ucap Sophia dengan senyum ceria.

"Sama-sama," balas wanita itu dengan wajah senang.

Sophia kemudian keluar dari area kamar mandi dan melihat pamannya sedang menunggu di luar.

"Paman, tadi Sophia mau cuci tangan, lalu Sophia dibantu oleh seorang wanita. Dia baik sekali!" ceritanya antusias.

"Benarkah?" tanya Brian ramah.

Namun sebelum mereka pergi terlalu jauh dari bangunan kamar mandi, wanita yang tadi membantu Sophia keluar dan mengintip ke arah luar—tepat ke arah Brian dan Sophia.

"Brian...?"

Bersambung.

1
Rama Iskandar
end ny gk nikah?
Zildiano R: Ini baru tamat part 1, part 2 nya menyusul, join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini 🙏
total 1 replies
Rama Iskandar
p
Rama Iskandar
sepi amat
Rama Iskandar
p
SaeKanai
Saya puas dengan endingnya🤣🤣
semangat terus bang!!!
Zildiano R: thank you👍
total 1 replies
sakura
...
gralsyah
diam-diam menghanyutkan tuh si amayah ya 😭 gk ketebak wkwk
Zildiano R: wkkwk🤣
total 1 replies
gralsyah
mampir kak author. ihh seruuuu. ceritanya
Zildiano R: terima kasih~
total 1 replies
Marley Howard
keren cuy
Zildiano R: makasih🙏
total 1 replies
Arisell
semangat oi
Zildiano R: makasih, siap🙏
total 1 replies
Khai Dok
udah chat ke editor ya... covernya?
Zildiano R: sudah👍
total 1 replies
Khai Dok
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!