Novel ini berkisah tentang kehidupan SMA yang sarat dengan cinta- cintaan, persahabatan, persaingan antar geng di sekolah, dll. dengan latar belakang olah raga bela diri seperti karate, tinju, kick boxing, muathai dsb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Wibawa
28. Di Balik Wibawa
Tonny sudah melupakan dan tidak mempermasalahkan ketidakadilan yang menimpa dirinya saat dituduh menyerang Axel dan diskors selama 3 bulan dari sekolah oleh Pak Sajit, kepala sekolah. Apalagi Axel kini yang gantian menerima skorsing dari Pak Sajit, dendamnya sudah terbayar.
Dan Pak Sajit sudah meminta maaf kepada dirinya secara pribadi dan di grup WhatsApp sekolah sekalian membersihkan namanya.
Tapi yang menjadi pertanyaan besar bagi Tonny, kenapa Pak Sajit sampai melakukan keputusan skorsing itu secara ceroboh, tanpa bukti-bukti yang kuat? Biasanya Pak Sajit adalah seorang pengambil keputusan yang sangat cermat, hati-hati, dan bijaksana, kecuali waktu mengambil keputusan terhadap Tonny.
Dengan mengenakan jaket hijau, kacamata Ray-Ban milik kakaknya, dan mengenakan masker yang dibelinya di minimarket, Sabtu sore itu dia mengendarai motor ke Jalan Bhayangkara, tempat tinggal Pak Sajit, dengan menyamar sebagai pengemudi ojek online.
Dengan sabar dia menunggu, akhirnya Pak Sajit keluar dengan memakai celana pendek dan mengendarai mobil bututnya ke sebuah apotek.
“Apotek?” tanya Tonny dalam hati. “Siapa yang sakit?”
Lalu Pak Sajit pulang ke rumah, dan Tonny terus mengikutinya dari jauh secara diam-diam.
Lama dia menunggu, sayup-sayup terdengar suara rintihan seorang wanita, sepertinya menahan sakit.
Tidak lama, muncul seorang lelaki berpakaian dokter dan seorang perawat yang membuntutinya masuk ke rumah Pak Sajit, dan kurang lebih selama sejam mereka keluar dan pulang. Tonny terus mengamati dengan penuh rasa penasaran. Ingin rasanya dia mengetuk rumah Pak Sajit dan menanyakan siapa yang sakit. Tapi ditahannya, karena rasa tidak enak.
Setelah dua jam menunggu dan hari mulai gelap, dibuanglah rasa tidak enak itu dan diberanikan mengetuk rumah Pak Sajit. “Tok, tok tok…” dia mengetuk pintu.
Dan Pak Sajit yang membuka pintu.
“Selamat sore, Pak,” kata Tonny.
Pak Sajit agak terkejut awalnya, tapi segera menyambut Tonny dan mempersilakannya masuk. “Eh Tonny, selamat sore juga,” kata Pak Sajit ramah. “Mari silakan duduk, maaf berantakan.”
Memang keadaan rumah Pak Sajit sangat berantakan. Buku ada di mana-mana dan sampah-sampah plastik berserakan. Sebagian besar tempat plastik dari apotek atau rumah sakit.
“Sebentar, ya, saya pakai pakaian dulu,” kata Pak Sajit, terus masuk ke kamarnya. Tak berapa lama dia keluar kamar dengan baju rapi dan celana panjang seperti yang biasa yang Tonny lihat di sekolah, bukan kaos dan celana pendek yang barusan dia kenakan.
Tiba-tiba terdengar suara erangan seorang wanita dari dalam kamar. “Tolong, Pak. Sakit sekali.”
Pak Sajit langsung buru-buru masuk ke kamar. “Sebentar, ya, Ton.”
Kurang lebih 15 menit Tonny menunggu, Pak Sajit kemudian keluar lagi.
“Maaf, Ton, istri saya sedang sakit, jadi tadi barusan saya tinggal,” kata Pak Sajit. “Ada keperluan apa? Apa yang bisa saya bantu?”
“Tidak ada apa-apa, Pak,” jawab Tonny dengan sopan. “Tadi saya lihat Bapak pergi ke apotek dan ada dokter yang berkunjung ke rumah ini, siapa yang sakit, Pak? Dan apa yang bisa saya dan teman-teman bantu?”
Seketika wajah Pak Sajit berubah. Dari wajah seorang kepala sekolah yang tegas dan berwibawa menjadi wajah seorang setengah baya yang sedih dan tampak air mata membasahi matanya. Dia diam lama dan menyeka air matanya dengan tisu.
Tonny dengan sabar menunggu dan akhirnya Pak Sajit menjawab, “Sebenarnya saya tidak mau bercerita soal ini baik kepada murid-murid atau guru-guru yang lain, Ton. Tapi karena sudah ke sini dan tahu tentang apotek, dokter, dan mendengar sendiri erangan kesakitan istri saya, Bapak akan ceritakan…”
Belum selesai Pak Sajit bercerita, terdengar lagi suara erangan seorang wanita, dan buru-buru Pak Sajit masuk kamar lagi.
Lima belas menit kemudian dia keluar lagi. “Maaf tadi terpotong,” kata Pak Sajit. “Yang mengerang barusan adalah istri Bapak.”
Tonny diam saja dan hanya bisa memandang Pak Sajit yang tak bisa menahan tangis kali ini. Pak Sajit yang biasa tampak begitu tegas dan berwibawa di sekolah, kali ini tampil sebagai seseorang yang rapuh.
“Istri Bapak menderita kanker usus stadium empat, Ton,” kata Pak Sajit menyelesaikan kalimatnya dan tangisnya makin deras.
Seketika wajah Tonny langsung berubah. “Sudah dibawa ke rumah sakit, Pak?”
“Sudah beberapa kali, tapi yang terakhir dokter menyatakan kondisi Ibu sudah dalam keadaan paliatif, dan rumah sakit menyarankan Ibu agar dirawat di rumah sampai akhir hidupnya,” kata Pak Sajit dengan pelan dan masih menangis. “Menurut dokter, usianya tidak lebih tinggal sebulan dari sekarang.”
“Sudah ada second opinion, Pak?” tanya Tonny.
“Sudah, rumah sakit lain juga menyarankan hal yang sama…” jawab Pak Sajit.
Perkataan Pak Sajit terpotong oleh erangan kesakitan istri Pak Sajit lagi.
“Tolong, Pak, sakit…” erang istri Pak Sajit, dan Pak Sajit buru-buru masuk ke kamar lagi setelah berpamitan kepada Tonny.
Dua puluh menit kemudian dia keluar lagi.
“Beginilah keadaan rumah Bapak, berantakan dan maaf, nggak sempat menyediakan minum,” kata Pak Sajit. “Tapi Bapak mohon keadaan ini jangan diceritakan kepada guru-guru yang lain atau teman-teman kamu. Biarlah masalah Bapak akan Bapak hadapi sendiri, dan biarkan mereka mengenal Pak Sajit sebagai kepala sekolah yang berwibawa, bukan seorang bapak-bapak yang rapuh.”
Tonny hanya mengangguk, kemudian terdengar erangan lagi. Lalu Tonny buru-buru pamitan.
“Ya sudah, Pak. Saya nggak mengganggu Bapak lama-lama.”
“Baik, Ton, maaf Bapak harus buru-buru,” kata Pak Sajit tanpa mengantarkan Tonny ke pintu, namun langsung masuk ke kamarnya.
Di perjalanan pulang, Tonny menemukan jawaban kenapa keputusan Pak Sajit terhadapnya lain dari biasanya dan terkesan buru-buru.
Lalu dia berhenti sejenak dan mengetik pesan kepada Rommy, “Rom, aku sedang jalan ke rumah lu. Mungkin setengah jam lagi sampai. Ada sesuatu yang harus gua bicarakan. Penting!”
Rommy hanya menjawab pendek, “Silakan, bro.”
Tapi di rumah dia tidak mampu menyembunyikan kegundahannya dan bertanya dalam hati, “Ada apa ini? Kenapa sangat mendadak dan katanya penting. Sepenting apa? Soal Axel, Kelelawar Hitam, atau Mauren?”
Kira-kira 40 menit kemudian Tonny tiba dengan motornya. “Sorry, bro, agak terlambat, motor nggak mau diajak ngebut soalnya, hehehe.”
“Nggak apa-apa, Ton,” jawab Rommy. “Ada masalah apa nih, mendadak dan sepenting apa?”
Tonny lalu menceritakan apa yang barusan dia dapat kepada Rommy.
“Sebenarnya Pak Sajit melarang gua cerita ini kepada siapa-siapa termasuk ke para guru dan murid,” kata Tonny.
“Baik. Paling kita besok ke rumah Mauren saja ceritakan ini, biar kita bertiga saja yang tahu,” tukas Rommy. “Dia bisa jaga rahasia, saya kira. Dan kita perlu bantuan dia untuk melakukan tindakan untuk membantu Pak Sajit.”
Tonny mengangguk tanda setuju, dan Rommy segera mengirim pesan kepada Mauren, “Ren besok sekitar jam 9 pagi aku dan Tonny akan ke rumahmu. Ada sesuatu yang penting dan rahasia.”
Mauren segera menjawab, “Silakan. Tapi rahasia apa nih? Kaya misterius amat?”
“Besok aja, biar Tonny yang cerita,” balas Rommy.
Lalu Tonny pamitan dan Rommy mengantarnya sampai pagar rumahnya.
“Sekali lagi ini rahasia, ya, Rom,” kata Tonny dengan suara pelan. “Jangan cerita ke siapa-siapa lagi. Gua hanya cerita ke elu saja demi bagaimana menolong Pak Sajit dalam menghadapi maut istrinya.”
Rommy menghela napas dan terdiam lama, lalu dia menjawab, “Gua janji, Ton.” Lantas dia menepuk-nepuk bahu Tonny, lalu Tonny menarik gas motornya meninggalkan rumah Rommy.
Namun seseorang ber-hoodie hitam dan bermasker hitam ada di balik rimbunnya pohon pucuk merah di depan rumah Rommy berkata dalam hati, “Terima kasih, Ton, atas infonya. Jadi Pak Sajit punya kelemahan? Dendamku akan segera terbayar lunas.”