Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lagi-lagi tidak percaya
Acara makan malam di kediaman Tuan Wiles berlangsung tegang. Suasana yang beberapa waktu terasa santai bagi Nyonya Vivian dan Emilie kini tidak ada lagi.
"Ayah senang kau mau tinggal disini, Annette," kata Tuan Wiles. Annette hanya mengangguk sebentar tanpa melihat kearah orang-orang yang berada di meja makan. Tangannya sibuk mengambil buah anggur yang tersaji.
"Sejak menikah sepertinya kau tidak memiliki sopan santun ya," sindir Nyonya Vivian.
"Vivian, biarkan saja. Mungkin Annette sudah lapar," kata Tuan Wiles membalas ucapan Nyonya Vivian. Mendengar itu, Nyonya Vivian hanya bisa menggerutu dalam hati.
Annette menatap Tuan Wiles dan Nyonya Vivian secara bergantian. Apa ibu tirinya itu benar-benar mencintai ayahnya atau tidak. Entah mengapa ia menjadi curiga.
"Iya aku memang lapar. Apa bisa kita mulai acara makan malam ini ?" tanya Annette dengan suara anggun seperti seharusnya.
"Baiklah ayo kita makan," ujar Tuan Wiles. Lalu dua orang pelayan mulai mengambilkan makanan untuk keempat majikan tersebut. Tidak ada drama dalam hal ini. Mereka makan dengan pelan dan sangat sopan.
"Aku ke kamar mandi dulu," ujar Annette setelah memakan beberapa suapan. Nyonya Vivian melihat itu dengan senyumnya yang misterius.
Di kamar mandi Annette sengaja memasukkan jarinya ke dalam mulutnya agar makanan yang baru saja ia telan bisa keluar lagi.
Ia muntah berkali-kali hingga matanya berair dan dadanya terasa nyeri dan sesak.
"Kurang ajar. Dia ingin melenyapkan ku lagi dengan cara yang sama," kata Annette penuh kemarahan. Dihisapnya ujung bibirnya yang basah. Ia juga membasuh wajahnya agar menyamarkan matanya yang sembab.
Annette tau bahwa makanan yang baru saja ia makan mengandung racun sebab baunya begitu menyengat. Dan rasa sakit ini sama seperti yang ia rasakan ketika jiwanya pertama kali hadir dalam tubuh Annette.
"Tadinya aku ingin bermain cantik dengan kalian. Tapi rupanya kalian lebih dulu memulai permainan kotor," kata Annette lagi. Matanya tampak berapi-api. Benaknya mulai menyusun rencana apa yang harus ia lakukan.
Annette tersenyum kecil saat ia ingat sebuah botol kecil berisi serbuk bagian dalam bunga mawar liar yang mengandung bulu-bulu tajam yang juga sering digunakan sebagai bahan pembuat rasa gatal.
Annette mengambil botol tersebut yang masih berada di dalam kantongnya. Ia mendapatkan itu dari rumah Leon tadi. Dan saat ia bertanya pada Leon untuk apa benda itu Leon mengatakan itu untuk menjebak pencuri yang kerap kali mencuri hasil panen. Jika terkena serbuk tersebut maka pencuri akan mengurungkan niat untuk mencuri dan hanya fokus pada rasa gatalnya.
Tapi sayangnya ia tidak sempat bertanya bagaimana cara menghilangkan gatal tersebut. Jadi ia harus berhati-hati jangan sampai terkena tubuhnya sendiri.
Annette kembali ke meja makan dengan wajah sayu yang sengaja ia tampakkan. Tampak senyum kecil yang coba Nyonya Vivian sembunyikan.
Di masa lalu, Annette tidak pernah mengatakan tentang kejahatan ibu tirinya tersebut pada Tuan Wiles. Tapi sekarang, ia akan merubah takdir dengan mengatakan kebenaran yang mungkin susah diterima oleh ayahnya itu.
"Ayah, Vivian mencoba membunuhku dengan menaruh racun di makananku," kata Annette sembari menggebrak meja di depan ayahnya.
Tuan Wiles terkejut. Ia menghentikan sendok yang akan masuk ke dalam mulutnya lalu menatap Annette dengan bingung.
"Apa maksudmu ?" tanyanya masih belum mengerti.
"Istrimu ingin menyingkirkan ku dari dunia ini," ulang Annette. Kali ini suaranya rendah penuh amarah.
"Bohong. Annette, apa yang kau katakan ? Teganya kau menfitnah ibumu sendiri," ujar Nyonya Vivian mulai menangis. Ia menghapus matanya yang belum basah sembari suaranya dibuat seserak mungkin.
"Kau yang tau aku sedang berbohong atau tidak," kata Annette dengan tatapan menusuk.
"Kakak, tidak baik mengatakan hal buruk tentang orang tua kak. Ayolah duduk kembali. Lanjutkan makan mu," kata Emilie berdiri dan mendekati Annette. Ia ingin menjadi pahlawan kesiangan dengan melerai pertengkaran.
"Jangan menyentuhku. Kau pun sama ularnya dengan ibumu," sentak Annette mendorong bahu Emilie dengan keras hingga membuatnya jatuh dan mengenai pinggiran meja.
"Aww.." Emilie berteriak kesakitan. Kali ini bukan akting. Ia memang merasa sakit dibagian perutnya.
"Emi..." Nyonya Vivian panik. Ia menghampiri Emilie yang berteriak kesakitan diatas lantai.
"Sakit, Bu. Perutku terkena meja," rengek Emilie. Tuan Wiles pun ikut membantu menolong Emilie. Setelah Emilie duduk kembali di kursinya Tuan Wiles berdiri di depan Annette dengan tidak suka.
"Kau kenapa, Annette ? Tadi menuduh Vivian meracuni mu lalu sekarang kau mendorong Emilie. Kenapa aku merasa kau berubah ?" tanya Tuan Wiles mencoba tidak marah. Ia tau jika Annette tidak bisa diajak bicara keras.
"Dia hanya pura-pura baik. Aku tidak suka," kata Annette marah. Ia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Mulutnya selalu ingin berteriak dan mengatakan hal buruk tentang Vivian juga Emilie.
Tuan Wiles mengambil nafas panjang. Ia juga sama pusingnya. Apa Annette masih belum bisa memaafkan nya karena pernah memaksa Annette untuk menikah dengan putra temannya.
Tapi bukankah sekarang Annette sudah menikah dengan Leon. Pria yang katanya dicintainya. Dan Tuan Wiles sendiri pun sudah merestui itu. Lalu mengapa dalam diri Annette seperti masih tersimpan kebencian.
"Duduklah. Kenapa kau mengatakan Vivian meracuni mu ?" tanya Tuan Wiles. Ia pun mendudukkan Annette di kursinya semula.
"Aku tidak mau banyak bicara. Suruh dia memakan makanan ku," kata Annette dingin. Ia rasanya malas mengatakan banyak hal jika ayahnya meragukannya. Dan firasatnya juga mengatakan jika Nyonya Vivian kali ini lolos.
"Baik, aku akan memakan makanan mu" kata Nyonya Vivian tanpa takut. Ia memakan makanan Annette yang terlihat masih utuh sebab Annette hanya memakanya dua suap saja.
Nyonya Vivian tersenyum sambil memakan makanan di piring Annette. Ia bahkan menyuapi Emilie dan Emilie menerimanya tanpa membantah hingga makanan di piring Annette gabisa tanpa sisa.
"Bagaimana sayang ? Aku masih hidup kan ? Kami memakan makanan mu dan masih baik-baik saja. Itu artinya kau berbohong pada ayahmu. Kau sengaja menfitnah ku ?" kata Nyonya Vivian dibuat sesedih mungkin.
Annette hanya menatap mereka bertiga satu persatu tanpa mau mengatakan apapun lagi. Sudah jelas jika Nyonya Vivian dan Emilie pasti sudah minum penawar racun terlebih dahulu. Pikir Annette.
"Annette.." kata Tuan Wiles mencoba menasehati Annette.
"Baiklah kalau ayah masih belum bisa membuka mata. Tunggu saja waktunya tiba maka ayah akan menyadari kebusukan itu," sergah Annette cepat bahkan sebelum Tuan Wiles selesai mengucapkan kata-katanya. Kemudian Annette bangkit berniat meninggalkan meja makan yang penuh tipu daya tersebut.
"Kau tidak mau meminta maaf padaku, Annette ?" tanya Nyonya Vivian dengan nada angkuhnya.
"Dalam mimpi mu," sentak Annette tanpa menoleh lagi. Ia benar-benar meninggalkan meja makan dan tujuannya kali ini ke kamar Emilie.
Tuan Wiles menatap Nyonya Vivian dan Emilie kemudian mengingat kembali wajah Annette yang penuh amarah.
'Apa aku sudah salah ?' tanya Tuan Wiles pada dirinya sendiri.
....
Banyakin dukungannya. Jangan lupa jadiin favorit ya man teman😍
Kalau ada yang typo mohon dikoreksi. Sudah othor periksa sih tapi takutnya keselip🙏😁
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
❤❤❤💪💪💪
🤣😄😄❤💪💪
😍❤❤❤💪💪💪💪
🤣😄❤❤💪
❤❤😍😍💪