NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Surat dari Kegelapan

Sisa kepulan asap dari gudang logistik yang terbakar semalam masih menggantung rendah di udara pagi yang membeku, bercampur dengan aroma pinus basah dan bau hangus yang menusuk hidung. Elara berdiri di depan tendanya, menatap barisan prajurit yang tampak lesu saat mereka mencoba membersihkan sisa arang di atas salju. Luka lecet di kakinya terasa berdenyut setiap kali ia menggeser tumpuan berat tubuhnya, sebuah pengingat fisik yang jujur bahwa perjalanan menuju Utara ini baru saja dimulai. Ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya sebelum orang itu sempat mengeluarkan suara, sebuah resonansi familiar dari Kaelen yang selalu menjaga jarak aman namun tetap waspada.

"Panglima Vane memanggil Anda ke tenda utama, Elara," suara Kaelen terdengar rendah, tersamar oleh desau angin yang kian kencang. "Wajahnya tampak terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan hampir setengah pasokan makanannya. Aku tidak menyukai caranya menatapmu saat apel pagi tadi."

Elara tidak menoleh, matanya tetap terpaku pada jelaga hitam yang mengotori hamparan salju putih yang murni. "Dia merasa telah menemukan belati yang cukup tajam untuk mengiris tenggorokanku, Kaelen. Kesombongan adalah satu-satunya hal yang bisa membuatnya tetap merasa berkuasa di tanah yang ingin membunuhnya ini."

"Haruskah aku ikut masuk?" tanya Kaelen, tangannya secara insting menyentuh hulu pedangnya.

"Tidak. Biarkan dia merasa menang di atas angin untuk sejenak. Jika kau ada di sana, dia akan merasa terancam dan mungkin akan menyembunyikan kartu asnya," Elara berbalik, menatap Kaelen dengan mata yang jernih namun sedalam sumur tua. "Tunggu di luar perimeter tenda. Jika aku tidak keluar dalam lima belas menit, kau tahu apa yang harus dilakukan."

Elara melangkah menuju tenda besar di tengah perkemahan, melewati Kapten Harka yang berdiri berjaga di depan pintu masuk. Harka menatapnya dengan seringai meremehkan, matanya memindai jubah sutra Elara yang kini kotor dan robek di bagian bawah. Elara mengabaikannya, menyibakkan kain penutup tenda dan masuk ke dalam ruangan yang pengap oleh aroma asap lilin dan keringat pria.

Vane duduk di balik meja kayu besar yang penuh dengan peta wilayah Utara. Di tengah meja itu, terletak sebuah gulungan kertas perkamen tua yang tampak kontras dengan kerapian peta-peta militer lainnya. Aroma lilin segel merah yang khas—jenis yang hanya digunakan oleh Selir Utama Elena di istana—menguar dari kertas itu, memicu denyut aneh di pelipis Elara.

"Duduklah, Nyonya Elara. Saya rasa kita perlu bicara lebih pribadi mengenai masa depan ekspedisi ini," Vane berkata tanpa mengangkat kepalanya, jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang membosankan.

Elara tidak duduk. Ia tetap berdiri tegak, membiarkan bayangannya memanjang di dinding tenda karena cahaya lampu minyak yang bergetar. "Saya lebih suka bicara sambil berdiri, Panglima. Udara di dalam sini terlalu menyesakkan untuk percakapan yang panjang."

Vane akhirnya mendongak, matanya berkilat penuh kemenangan yang tidak disembunyikan. Ia mengambil gulungan kertas itu dan melambaikannya perlahan. "Saya menemukan ini semalam. Tampaknya, di tengah kekacauan kebakaran yang Anda padamkan dengan cara yang sangat... menarik itu, ada pengintai yang cukup ceroboh untuk menjatuhkan komunikasi pribadinya dengan Ibu Kota."

"Komunikasi pribadi siapa, Panglima?" tanya Elara datar.

"Surat ini ditujukan untuk seseorang di dalam barisan ini, namun isinya berbicara banyak tentang Anda," Vane menyandarkan punggungnya ke kursi, senyumnya melebar. "Elena memberikan rincian yang sangat spesifik tentang identitas Anda yang sebenarnya, serta bagaimana Anda memanipulasi Kaisar Valerius dengan sihir yang melanggar hukum kekaisaran. Jika saya mengirimkan dokumen ini ke dewan militer di perbatasan, Anda tidak akan pernah mencapai benteng pertama. Anda akan berakhir di tiang gantungan sebagai pengkhianat negara."

Elara melangkah satu tindak lebih dekat ke meja, matanya tertuju pada kertas itu. Melalui sirkuit Void-nya yang kini bergetar di level 1.6, ia mulai menganalisis residu mana yang menempel pada serat perkamen. Ia melihat jejak mana berwarna ungu pudar yang familiar—sihir manipulasi Elena—namun di bawahnya, ia juga melihat jejak mana transparannya sendiri yang ia tanam jauh sebelum mereka meninggalkan istana.

"Dan apa yang Anda inginkan sebagai imbalan atas keheningan Anda, Vane?" suara Elara kini sangat lembut, nyaris seperti bisikan kekasih, namun mengandung kedinginan yang membuat Vane tersentak kecil.

"Sederhana. Anda akan memberikan otorisasi penuh kepada saya untuk menggunakan seluruh sisa logistik Asteria demi kepentingan faksi militer saya. Dan yang terpenting, Anda akan berhenti mencampuri urusan taktik saya. Anda hanya akan menjadi boneka cantik yang diam di kereta sampai kita kembali ke istana," Vane bangkit berdiri, mencondongkan tubuhnya melewati meja. "Saya tahu Anda kuat, Nyonya. Tapi dokumen ini adalah hukuman mati yang dilegalisasi. Anda tidak bisa membunuh kertas dengan sihir aneh Anda."

"Kertas memang tidak bisa mati, Panglima. Tapi kertas bisa berbohong," Elara mengulurkan tangannya, telapak tangannya terbuka menghadap surat itu.

"Jangan mencoba merebutnya! Kapten Harka ada di luar, dan satu teriakanku akan membuat seluruh prajurit tahu bahwa kau adalah penyihir terlarang!" Vane mencengkeram kertas itu lebih erat.

"Saya tidak perlu merebutnya untuk membacanya, Vane. Saya yang menulis draf pertama dari surat itu sebelum Elena bahkan sempat menyentuh tintanya," Elara tersenyum, sebuah ekspresi yang tampak sangat asing dan mengerikan di wajahnya yang pucat.

Vane mengerutkan dahi, bingung. "Apa maksudmu?"

"Gunakan mata Anda yang sudah mulai menua itu, Panglima. Lihatlah margin di bawah segel merah itu. Apa yang Anda lihat?"

Vane menurunkan pandangannya ke surat itu. Awalnya, ia hanya melihat coretan instruksi Elena. Namun perlahan, pigmen tinta hitam di atas kertas mulai bergerak seperti cacing kecil yang menggeliat. Di bawah kendali manipulasi molekuler Void Elara, huruf-huruf itu bergeser, menyusun kembali diri mereka menjadi barisan kalimat yang sepenuhnya berbeda. Nama Elara menghilang, digantikan oleh nama Vane sendiri dalam sebuah laporan pengkhianatan yang menyatakan bahwa Panglima Vane telah bersekutu dengan faksi pemberontak Utara untuk menggulingkan Kaisar.

"Ini... ini mustahil! Apa yang kau lakukan pada kertas ini?!" Vane mencoba melempar surat itu, namun tangannya seolah membeku, terkunci oleh tekanan energi yang tidak terlihat.

"Surat itu adalah umpan balik yang saya tanam di meja Elena melalui pelayan yang ia percayai. Saya tahu dia akan mencoba menggunakannya untuk menghancurkan saya melalui tangan Anda. Elena memang licik, tapi dia tidak pernah mengerti bahwa di dunia ini, siapa pun yang menguasai informasi, dialah yang menguasai nyawa," Elara berjalan memutari meja, mendekati Vane hingga pria itu bisa merasakan napas dingin Elara di telinganya.

Vane gemetar hebat, keringat dingin mengucur dari pelipisnya hingga membasahi kerah zirahnya. "Kaisar tidak akan percaya... ini jelas sihir..."

"Kaisar sangat mencintai fakta yang meyakinkan, Panglima. Dan surat ini, dengan tanda tangan Elena dan segel resminya, menyatakan bahwa Anda telah menerima suap dari Sekte Utara untuk membiarkan logistik kita terbakar semalam. Kebakaran yang saya padamkan, sementara Anda hanya berdiri berteriak seperti orang gila," Elara merogoh belati perak kecil dari balik pinggangnya, memainkannya dengan ujung jarinya. "Jika saya membawa surat ini ke hadapan Valerius sekarang, siapa yang menurut Anda akan ia gantung terlebih dahulu? Seorang penasihat yang menyelamatkan pasukannya, atau seorang panglima yang terbukti bekerja sama dengan musuh?"

Vane jatuh terduduk kembali ke kursinya, seluruh keberaniannya menguap habis digantikan oleh rasa ngeri yang absolut. Ia menatap Elara seolah-olah wanita itu adalah entitas dari neraka yang paling dalam. "Apa... apa yang kau inginkan dariku?"

"Kesetiaan yang mutlak, Panglima. Mulai detik ini, Anda bukan lagi pelayan Elena atau faksi militer lama. Anda adalah pion saya. Anda akan menjalankan setiap perintah saya tanpa bertanya, meskipun perintah itu mengharuskan Anda untuk menebas kepala Kapten Harka sendiri," Elara menusukkan belatinya ke atas meja, tepat di tengah-tengah surat yang kini isinya telah kembali normal, namun bayangan pengkhianatan itu telah terpatri di otak Vane.

"Saya... saya mengerti, Nyonya," bisik Vane, suaranya parau dan hancur.

"Bagus. Sekarang, bangun dan bersihkan wajah Anda. Ada laporan bahwa pengintai musuh sedang mengawasi kita dari balik badai. Jika Anda terlihat seperti pecundang yang baru saja kalah judi, prajurit Anda akan mulai memberontak lebih cepat dari yang saya rencanakan," Elara berbalik, bersiap untuk keluar dari tenda.

Sebelum ia mencapai pintu, ia berhenti sejenak di dekat Rina yang sedang berdiri gemetar di sudut tenda, memegang tumpukan kain cadangan. Elara memperhatikan ujung jubah Rina yang jahatannya mulai lepas akibat tersangkut dahan pinus tadi pagi. Dengan gerakan lembut yang mengejutkan, Elara mengambil tangan Rina, menenangkannya sesaat, lalu menarik seutas benang mana tipis untuk merapatkan kembali jahitan itu. Tangannya sedikit gemetar saat melakukannya—sisa trauma api yang terpicu oleh aroma lilin di meja tadi masih menghantuinya—namun ia tidak membiarkan Rina atau Vane melihat kelemahan itu.

"Jangan biarkan jahitanmu lepas lagi, Rina. Di tempat ini, sesuatu yang kecil bisa menjadi celah bagi kematian untuk masuk," kata Elara dengan suara yang kembali manusiawi, meskipun hanya sesaat.

"Baik, Nyonya... terima kasih," bisik Rina dengan mata berkaca-kaca.

Elara menyibakkan tirai tenda dan keluar ke udara terbuka. Kaelen segera mendekat, matanya memindai Elara dari kepala hingga kaki untuk memastikan tidak ada luka baru. "Kau baik-baik saja? Kau berada di dalam sana lebih lama dari yang kukira."

"Aku baru saja menjinakkan seekor anjing yang mencoba menggigit tuannya, Kaelen. Dia tidak akan lagi menjadi masalah bagi kita dalam waktu dekat," jawab Elara sambil menarik napas dalam-dalam, merasakan udara dingin membersihkan sisa aroma lilin Elena dari paru-parunya.

"Kapten Harka baru saja kembali dari perimeter luar. Dia mengatakan ada sesuatu yang aneh dengan jejak kaki yang mereka temukan di dekat tebing," Kaelen merendahkan suaranya. "Jejak itu tidak meninggalkan kedalaman di salju, seolah-olah siapa pun yang melewatinya tidak memiliki berat badan."

Elara menyipitkan mata, menatap ke arah hutan pinus yang gelap di kejauhan. "Sekte Utara. Mereka tidak menunggu kita mencapai celah lembah. Mereka sudah ada di sini, di tengah badai ini bersama kita."

Ia merasakan sebuah tarikan aneh di batinnya, sebuah frekuensi Void yang beresonansi dengan kegelapan di luar sana. Sesuatu yang besar sedang bergerak, dan surat dari Elena tadi hanyalah pembuka dari simfoni kehancuran yang lebih megah. Elara mengencangkan pegangan pada jubahnya, menatap ke arah cakrawala kelabu di mana salju mulai turun kembali dengan intensitas yang lebih tinggi.

"Siapkan pasukan, Kaelen. Jangan biarkan satu api pun padam malam ini. Kegelapan ini memiliki mata, dan ia sedang lapar," perintah Elara.

Di dalam tenda utama, Vane masih menatap belati perak yang tertancap di mejanya. Ia tahu bahwa mulai hari ini, kebebasannya telah berakhir. Ia telah masuk ke dalam jaring yang ditenun oleh seorang wanita yang tidak lagi mengenal rasa takut, seorang ratu tanpa mahkota yang siap membakar dunia demi pembalasannya. Dan yang paling menakutkan bagi Vane adalah kenyataan bahwa ia mulai merasa lega karena berada di pihak Elara, bukan menjadi targetnya.

Kegelapan di dalam tenda utama terasa semakin menyesakkan setelah pengakuan kekalahan mutlak dari Vane. Elara tidak segera melangkah keluar; ia berdiri sejenak, membiarkan keheningan yang berat itu menghancurkan sisa-sisa harga diri sang panglima. Di sudut ruangan, bayangan yang dipantulkan oleh lampu minyak tampak bergoyang liar, menyerupai jemari hitam yang siap mencekik siapa pun yang berani membantah. Elara bisa merasakan denyut ketakutan Vane yang berirama cepat, sebuah frekuensi emosi yang sangat mudah dimanipulasi oleh sirkuit Void miliknya.

"Panglima, jangan hanya menatap belati itu seolah-olah ia bisa memberikan jawaban atas dosa-dosa Anda," suara Elara memecah kesunyian, nadanya tajam dan tidak mengenal ampun. "Gunakan tangan Anda yang gemetar itu untuk melipat kembali surat ini. Simpanlah sebagai pengingat bahwa hidup Anda sekarang adalah pinjaman yang bisa saya tagih kapan saja."

Vane menelan ludah dengan susah payah, tangannya yang kaku meraih perkamen itu. "Anda... Anda benar-benar monster, Elara. Elena mengira dia sedang bermain dengan seorang putri yang dendam, tapi dia tidak tahu bahwa dia telah melepaskan sesuatu yang jauh lebih buruk ke dunia ini."

"Monster hanyalah istilah bagi mereka yang memiliki keberanian untuk melakukan apa yang orang lain takutkan, Vane," balas Elara dingin. "Sekarang, panggil Kapten Harka masuk. Saya ingin dia melihat perubahan kepemimpinan ini dengan matanya sendiri. Pastikan dia tahu bahwa setiap kata yang keluar dari mulut saya adalah hukum di perkemahan ini."

Vane mengangguk lemah. Dengan suara yang masih serak, ia memanggil Harka. Tak lama kemudian, sang kapten masuk dengan langkah angkuh yang segera terhenti saat melihat pemandangan di depannya. Vane, yang biasanya duduk dengan dagu terangkat, kini tampak layu dan pucat, sementara Elara berdiri di tengah ruangan dengan aura otoritas yang menekan udara di sekitarnya.

"Ada apa, Panglima? Kenapa wanita ini masih belum diborgol?" tanya Harka, matanya berkilat penuh kecurigaan saat menatap surat di tangan Vane.

Vane menarik napas dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa martabatnya sebagai pemimpin faksi militer. "Kapten Harka, mulai detik ini, segala instruksi logistik dan pergerakan taktis harus melalui persetujuan Nyonya Elara. Beliau telah menunjukkan bukti bahwa sabotase semalam adalah bagian dari rencana musuh yang lebih besar, dan hanya beliau yang memiliki kapabilitas untuk mendeteksi ancaman semacam itu."

Harka terbelalak, wajahnya memerah karena marah. "Apa Anda sudah gila, Panglima?! Kita tidak tunduk pada seorang tawanan perang! Valerius memberikan mandat ini kepada kita—"

"Dan saya adalah suara kaisar di sini, Kapten," Elara menyela, langkahnya mendekat ke arah Harka hingga ujung sepatunya menyentuh bot militer pria itu. "Jika Anda memiliki keberatan, silakan sampaikan pada pedang Jenderal Kaelen di luar sana. Atau mungkin, Anda ingin menjelaskan pada saya kenapa minyak tanah yang digunakan untuk membakar kereta logistik semalam memiliki aroma yang sama dengan minyak pembersih zirah di unit Anda?"

Harka tertegun, mulutnya terkatup rapat. Keringat dingin mulai muncul di dahinya saat ia menyadari bahwa Elara tidak hanya sedang mengancam Vane, tapi juga sedang memburu setiap pengkhianat di dalam barisan ini dengan ketelitian yang mengerikan.

"Saya tidak suka pengulangan, Kapten. Apakah instruksi saya cukup jelas?" tanya Elara, matanya menyipit, memancarkan kilatan perak redup yang menandakan penggunaan aktif energi Void untuk menekan mental lawan.

"Jelas... Nyonya," gumam Harka sambil menunduk, tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya.

"Bagus. Sekarang keluar dan pastikan perimeter diperketat. Saya tidak ingin ada satu pun prajurit yang tidur malam ini tanpa senjata di tangan mereka," perintah Elara.

Setelah Harka keluar dengan langkah gusar, Elara berbalik menuju Rina yang masih berdiri mematung. Pelayan muda itu tampak sangat rapuh di tengah badai intrik ini. Elara mengulurkan tangannya, menyentuh bahu Rina dengan gerakan yang hampir menyerupai kasih sayang, sebuah sisa kemanusiaan Aurelia yang masih berjuang di balik cangkang dingin Elara.

"Kembalilah ke tenda medis, Rina. Bantu para tabib menyiapkan air hangat. Suhu akan turun lebih ekstrem malam ini, dan aku tidak ingin kehilangan lebih banyak orang karena kedinginan," bisik Elara.

"Nyonya... apakah kita akan selamat sampai ke perbatasan?" tanya Rina dengan suara gemetar.

Elara menatap ke luar pintu tenda, di mana salju mulai turun seperti tirai putih yang tebal. "Keselamatan adalah kemewahan yang tidak bisa kujanjikan, Rina. Tapi aku berjanji bahwa siapa pun yang mencoba menghalangi jalan kita akan membeku sebelum mereka sempat menyentuhmu."

Elara melangkah keluar dari tenda utama, disambut oleh hembusan angin Utara yang langsung menusuk hingga ke tulang. Kaelen segera berada di sampingnya, matanya waspada memantau pergerakan para prajurit yang mulai sibuk memperkuat pertahanan sesuai perintah baru.

"Vane sudah menyerah?" tanya Kaelen pendek.

"Dia sudah tahu posisinya sekarang, Kaelen. Tapi Harka adalah duri yang harus segera dicabut sebelum ia sempat mengadu pada faksi Elena melalui burung pengintai," jawab Elara sambil merapatkan jubahnya. "Bagaimana dengan pengintai berpakaian putih itu? Apa ada tanda-tanda mereka mendekat?"

Kaelen menggeleng. "Mereka bergerak seperti hantu di tengah badai. Aku kehilangan jejak mereka di dekat tebing timur. Namun, ada satu hal yang aneh. Suhu di area tempat mereka terlihat justru lebih hangat dibandingkan di sini. Seolah-olah mereka membawa sumber panas yang tidak terlihat."

Elara menghentikan langkahnya, batinnya bergejolak. Sumber panas di tanah beku ini? Itu bukan sihir elemen api biasa. Itu adalah manipulasi termal tingkat tinggi atau residu dari energi Void yang dikompresi. Ia teringat akan catatan kuno di perpustakaan Asteria tentang "Sekte Utara" yang mampu memanipulasi es dengan cara menghisap panas dari sekitarnya.

"Mereka tidak sedang menyerang kita, Kaelen. Mereka sedang menyerap energi dari perkemahan ini untuk memicu sesuatu di bawah tanah," gumam Elara, matanya menajam menembus kabut salju. "Cari tahu di mana titik terhangat di sekitar perimeter kita. Kita harus menemukan mereka sebelum mereka berhasil membuka segel apa pun yang ada di pegunungan ini."

"Aku akan membawa unit kecil untuk menyelidiki. Kau harus tetap di sini, Elara. Tubuhmu sedang tidak stabil," Kaelen menatap tangan Elara yang sedikit bergetar.

"Aku akan baik-baik saja setelah melakukan meditasi Void singkat. Pergilah. Dan Kaelen... jangan mati konyol hanya karena ingin melindungiku," Elara memberikan peringatan yang terdengar seperti perintah, namun ada nada kekhawatiran yang terselip di dalamnya.

Kaelen tersenyum tipis—sebuah pemandangan langka di tengah medan perang ini—lalu menghilang di balik keremangan salju. Elara tetap berdiri di sana sejenak, menatap bayangannya sendiri di atas salju. Ia merasakan lecet di kakinya kini sudah mati rasa karena dingin, sebuah pertanda bahwa sirkuit energinya mulai mematikan saraf-saraf sensorik demi mempertahankan fungsi vital. Ini adalah harga yang harus ia bayar setiap kali ia memaksakan penggunaan Void melebihi kapasitas tubuh Elara yang lemah.

Keadilan adalah milik pemegang kartu, batinnya mengulangi kalimat yang tadi ia ucapkan pada Vane. Ia tahu bahwa dalam permainan ini, ia bukan lagi seorang pemain yang hanya mengikuti aturan. Ia adalah penulis skenario yang sedang menyusun kehancuran bagi mereka yang telah membakar hidupnya di masa lalu.

Malam semakin larut, dan perkemahan itu kini tampak seperti pulau kecil yang dikepung oleh lautan kegelapan. Suara lolongan serigala di kejauhan bersahutan dengan desau angin, menciptakan atmosfer yang sangat mencekam. Elara duduk di dalam tendanya, melakukan meditasi untuk menstabilkan aliran energinya. Ia bisa merasakan setiap partikel salju yang jatuh di luar, setiap embusan napas prajurit yang berjaga, dan setiap detak jantung yang penuh ketakutan.

Tiba-tiba, sebuah getaran halus merambat melalui tanah, membuat cangkir teh di sampingnya bergetar pelan. Getaran itu bukan berasal dari alam. Itu adalah denyutan mana yang sangat spesifik, sebuah panggilan dari kegelapan yang sangat ia kenali.

Mereka sudah mulai, pikir Elara.

Ia berdiri, mengambil belati peraknya, dan bersiap untuk melangkah keluar. Namun, sebelum ia mencapai pintu tenda, ia melihat sesosok bayangan putih melintas di luar perimeter cahaya api unggun. Bayangan itu bergerak dengan keanggunan yang tidak manusiawi, tanpa suara, tanpa meninggalkan jejak. Elara tahu bahwa ini bukanlah pengintai biasa. Ini adalah peringatan bahwa permainannya dengan Vane dan Elena hanyalah pemanasan sebelum ia menghadapi monster yang sebenarnya di Utara ini.

"Kaelen benar," bisik Elara pada dirinya sendiri. "Musuhku bukan hanya manusia yang haus kekuasaan. Ada sesuatu di balik salju ini yang menginginkan jiwaku."

Ia melangkah keluar, menantang badai yang semakin mengganas. Di kejauhan, ia melihat Kaelen memberikan isyarat dengan lampu mananya. Mereka telah menemukan sesuatu. Sebuah kilatan cahaya biru pucat muncul dari balik hutan pinus, menandakan bahwa tabir antara dunia ini dan kekosongan Void mulai menipis.

Langkah Elara di atas salju kini terasa lebih berat, namun matanya tetap fokus pada cahaya biru itu. Ia tidak akan lari. Ia akan menghadapi kegelapan ini, menjadikannya senjata, dan menggunakannya untuk menghancurkan setiap mahkota yang dibangun di atas darah rakyatnya. Babak baru di tanah Utara telah dimulai, dan Elara siap menjadi badai yang paling mematikan di antara mereka semua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!