NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 22: runtuhnya sayap manusia

Langit di atas Pegunungan Himalaya yang biasanya hanya dihiasi oleh awan putih dan salju abadi, mendadak dipenuhi oleh deru mesin yang memekakkan telinga. Aliansi Hunter Dunia (WHA) telah mengerahkan segalanya. Di bawah komando langsung dari Jenderal Silas dari Amerika Serikat, sebuah armada udara yang disebut 'Operation Icarus' telah tiba. Armada ini terdiri dari lima kapal induk mana kelas 'Olympus', puluhan jet tempur siluman yang dilengkapi dengan rudal pelacak partikel, dan ratusan Hunter elit yang terbang menggunakan zirah pendorong mekanis.

"Target terdeteksi di koordinat 88.4, ketinggian sepuluh ribu meter di atas rata-rata," suara operator di kapal induk pusat bergema. "Visual menunjukkan sebuah struktur kristal merah raksasa yang melayang. Itu tidak mungkin secara fisik, namun radar mana kita mencatat kepadatan energi yang setara dengan sepuluh Gerbang Kelas S."

Jenderal Silas menatap layar monitor dengan tatapan penuh kebencian. Di sampingnya, Alice Pendragon berdiri dengan wajah pucat. Ia yang memberikan koordinat ini, namun saat melihat langsung kemegahan 'The Blood Fortress', ia menyadari bahwa tindakannya mungkin adalah kesalahan terbesar dalam sejarah manusia.

"Tembakkan Meriam Partikel Mana sekarang!" perintah Silas. "Hancurkan sombongnya benteng itu!"

Di dalam aula utama The Blood Fortress, Arkan tetap duduk tenang di takhta tulangnya. Ia memegang sebuah kristal kecil yang menampilkan pergerakan armada manusia di luar kubahnya. Di sampingnya, Julian sedang sibuk melakukan kalkulasi akhir.

"Ayah, mereka sudah melepaskan tembakan pertama. Meriam Partikel Mana berkekuatan 500 gigawatt," lapor Julian tanpa rasa takut sedikit pun.

"Biarkan," jawab Arkan pendek. "Bastian, ini adalah kesempatanmu untuk mencoba zirah barumu. Pergilah dan tunjukkan pada mereka mengapa langit ini bukan milik manusia."

Bastian berdiri, matanya berkilat merah. Ia tidak lagi membutuhkan pintu. Dengan satu hentakan kaki, ia melesat menembus kubah kristal benteng tanpa merusaknya—sebuah kemampuan manipulasi fase darah yang baru ia pelajari.

Di luar, Bastian berdiri di udara, tepat di depan moncong meriam kapal induk 'Olympus'. Sinar biru raksasa melesat ke arahnya, namun Bastian hanya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"BZZZZZTTTTT—DUAAAAARRRR!"

Ledakan energi itu menyelimuti tubuh Bastian, menciptakan bola cahaya yang menyilaukan. Para Hunter di kapal induk bersorak, menyangka Vanguard telah musnah. Namun, saat cahaya itu memudar, Bastian masih berdiri tegak. Zirah hitamnya menyerap sisa-sisa energi biru tersebut, mengubahnya menjadi garis-garis merah yang bercahaya di sepanjang lengannya.

"Hanya segitu?" suara Bastian terdengar melalui sistem radio militer mereka—sebuah peretasan langsung dari Julian. "Sekarang, giliranku."

Bastian mengepalkan tinjunya. Ia tidak menyerang kapal induk itu dengan pukulan biasa. Ia memanipulasi tekanan darahnya sendiri untuk menciptakan medan gravitasi buatan di sekitar kapal induk 'Olympus' yang paling besar.

"Sanguine Art: Supernova Crush!"

Seketika, kapal induk raksasa sepanjang lima ratus meter itu mulai mengerut. Baja-bajanya terlipat seperti kertas, mesin-mesinnya meledak karena tekanan atmosfer yang mendadak meningkat satu juta kali lipat. Ribuan Hunter di dalamnya berteriak saat gravitasi di dalam ruangan mereka berubah arah secara acak. Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, kapal induk kebanggaan WHA itu hancur menjadi sebuah bola logam padat seukuran mobil.

"Satu jatuh," gumam Bastian sambil menoleh ke arah empat kapal induk lainnya.

Sementara Bastian mengamuk di depan, Hana (Phantom) bergerak dalam senyap. Ia sudah berada di dalam kapal induk kedua melalui celah dimensi. Ia bergerak seperti virus di dalam sistem saraf kapal tersebut. Setiap kali ia melewati seorang penjaga, penjaga itu akan jatuh tanpa sempat menyadari lehernya telah teriris oleh benang darah yang setipis rambut.

"Target utama: Reaktor Inti Mana," bisik Hana.

Hana sampai di ruang mesin utama. Ia menyentuh reaktor kristal raksasa itu. "Tuan bilang, energi kalian terlalu kotor. Mari kita murnikan."

Hana menyuntikkan esensi Sanguine-nya ke dalam reaktor. Seketika, energi biru mana yang stabil berubah menjadi merah liar. Reaktor itu meledak, namun bukan ke luar, melainkan seluruh energinya terserap ke dalam tubuh Hana, membuatnya semakin kuat sementara kapal tersebut mati total dan jatuh menghantam pegunungan di bawahnya.

Di kapal induk ketiga, Rehan (Plague) telah mendarat di dek penerbangan. Ia tidak perlu memukul siapapun. Ia hanya melepaskan kabut ungu yang sangat pekat. Kabut itu masuk ke dalam sistem ventilasi kapal.

"Kematian yang tenang untuk mereka yang sombong," ucap Rehan.

Seluruh kru di kapal induk ketiga mendadak tertidur lelap. Jantung mereka melambat hingga berhenti total tanpa rasa sakit. Kapal itu kini melayang tanpa awak, menjadi peti mati raksasa di atas langit Himalaya.

Elara (Seer) berdiri di puncak menara The Blood Fortress, menarik tali busurnya. Setiap kali sebuah jet tempur mencoba mendekat, satu anak panah cahaya merah akan melesat dan meledakkan jet tersebut tepat di tangki bahan bakarnya, bahkan dari jarak lima puluh kilometer. Akurasinya mencapai seratus persen; tidak ada satu pun peluru yang berhasil menyentuh dinding benteng.

Melihat armadanya dihancurkan hanya dalam waktu lima belas menit, Jenderal Silas jatuh terduduk di kursi komandonya di kapal induk terakhir yang masih berfungsi. "I-ini mustahil... Kita mengirimkan kekuatan terbaik dunia... bagaimana mereka bisa sekuat ini?!"

Alice Pendragon, yang berada di sampingnya, hanya bisa menatap pemandangan itu dengan air mata. Ia melihat Arkan muncul di udara, melayang di atas sisa-sisa armada mereka.

Arkan tidak menggunakan jubah tempurnya kali ini. Ia mengenakan pakaian yang mirip dengan seragam SMA-nya, seolah-olah ingin mengejek mereka bahwa anak sekolah yang mereka cari adalah dewa yang sedang menghancurkan mereka.

Arkan mengangkat tangan kanannya ke arah kapal induk terakhir. Seluruh darah yang tumpah dari para korban di kapal-kapal sebelumnya melayang ke arahnya, membentuk sebuah pusaran raksasa yang menutupi matahari.

"Kalian datang mencari Sovereign?" suara Arkan menggelegar di seluruh saluran frekuensi bumi. "Kalian datang membawa senjata untuk menghancurkan tempat tinggalku? Sekarang, saksikanlah bagaimana senjata kalian berbalik melawan penciptanya."

Arkan memutar tangannya. Sisa-sisa reruntuhan logam kapal induk yang hancur, bercampur dengan darah yang memadat, membentuk ribuan tombak raksasa yang diarahkan tepat ke arah pangkalan-pangkalan militer WHA di seluruh dunia melalui portal-portal kecil yang dibuka oleh Julian secara serentak.

"Ini adalah peringatan terakhir," ucap Arkan. "Jangan pernah lagi mencoba menatap langitku."

Arkan mengepalkan tangannya, dan kapal induk terakhir milik Silas meledak berkeping-keping. Sebelum Silas dan Alice terjatuh menuju kematian, Arkan membuka portal di bawah kaki mereka, mengirim mereka kembali ke markas WHA di Swiss dalam kondisi hancur secara mental.

The Blood Fortress kembali sunyi. Awan-awan mulai berkumpul kembali, menutupi kemegahan benteng kristal merah itu dari mata dunia.

Arkan kembali duduk di takhtanya. Kelima bawahannya mendarat di aula, berlutut dengan tubuh yang kini dipenuhi energi yang meluap-luap.

"Tuan, pembersihan selesai. Tidak ada satu pun sisa dari armada mereka yang lolos," lapor Bastian.

"Kerja bagus," ucap Arkan. "Julian, hapus semua rekaman satelit yang berhasil merekam wajahku secara jelas selama pertempuran tadi. Biarkan dunia hanya melihat Crimson Eclipse, bukan Arkan."

"Melaksanakan, Ayah," jawab Julian. "Namun, ada satu data yang menarik. Alice Pendragon... sebelum kapalnya hancur, dia mengirimkan pesan terenkripsi ke sebuah koordinat di Abyss. Sepertinya dia bersekutu dengan pihak ketiga untuk menjatuhkan kita."

Arkan menyipitkan matanya. "Abyss? Jadi manusia mulai berani bernegosiasi dengan monster untuk membunuhku? Menarik sekali."

Arkan menatap ke arah bola kristal yang menampilkan Seoul. Di sana, Liora tampak sedang duduk di meja belajarnya, menatap foto kelas mereka di mana Arkan masih ada di sana.

"Fase ketiga baru saja dimulai, anak-anakku," ucap Arkan sambil berdiri. "Kita tidak lagi hanya membersihkan dunia ini. Kita akan menyerang rumah para monster itu. Kita akan membawa perang ini ke jantung Abyss."

Malam itu, di seluruh dunia, layar televisi hanya menampilkan satu gambar: logo Crimson Eclipse yang bersinar merah di langit Himalaya yang gelap. Pemerintah dunia runtuh dalam ketakutan, dan era kekuasaan Hunter resmi berakhir. Kini, dunia hanya mengenal satu penguasa, satu ayah bagi para dewa perang, sang Sanguine Sovereign.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!