Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Pagi itu, Brian menaruh dagunya di atas meja, kedua tangannya menutupi mulutnya. Wajahnya tampak lemas, seolah kehilangan semangat hidup.
John yang duduk di sampingnya sontak kebingungan melihat pemandangan langka itu. Ia menoleh sambil mengernyit. "Tumben sekali kau tidak tidur."
"Itu bukan urusanmu," jawab Brian singkat tanpa mengubah posisinya.
John paham bahwa Brian sedang memikirkan sesuatu. Perilaku temannya itu jelas berbeda dari biasanya. Ia menyeringai kecil. "Kalau kau punya masalah, ceritalah padaku, kawanmu yang tampan ini."
"Menjijikan," ujar Brian datar. Ia kemudian mengangkat kepalanya sedikit. "Aku hanya kebingungan dengan kebijakan sekolah. Katanya setiap murid wajib mengikuti setidaknya satu ekstrakurikuler."
"Hmm, begitu ya." John mengangguk pelan. "Masuk akal sih. Soalnya kau memang tidak punya hobi lain selain bermain gim."
Brian meliriknya tajam. "Memangnya ekstrakurikuler apa saja yang kau ikuti?" tanyanya tiba-tiba.
"Oh, aku?" John tersenyum santai. "Klub voli, basket, sepak bola, dan renang."
Brian terdiam sejenak, lalu menatap John dari atas ke bawah. "Bagaimana bisa kau menjaga tubuhmu untuk mengikuti semua klub itu?"
"Tentu saja karena aku punya semangat juang!" jawab John berapi-api. "Tidak seperti seseorang yang hobinya cuma main gim dan tidur di kelas!"
"Berisik. Dasar maniak otot," gumam Brian kesal.
John tertawa kecil. "Kalau kau butuh saran, coba saja ke guru BK. Dia pasti membantumu memilih."
Brian tidak menjawab. Alih-alih menanggapi, ia justru kembali menundukkan kepala dan terlelap. Saran John terdengar samar di telinganya, namun rasa malas membuatnya enggan memikirkannya lebih jauh.
Saat jam istirahat kedua tiba, Brian terbangun tanpa sengaja. Sebagian besar murid sudah keluar kelas, sementara sisanya hanya mengobrol ringan atau duduk diam.
Merasa bosan, Brian mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi pesan.
"Apa kau sibuk?" tulisnya singkat.
Di sisi lain, Amayah yang sedang duduk di bangku taman sekolah tampak terkejut melihat nama Brian muncul di layar ponselnya.
"Brian... mengirimkanku pesan duluan?" batinnya bingung.
Tanpa menunda, ia segera membalas. "Ya, aku sedang makan."
"Ah, maaf mengganggumu. Aku hanya ingin bertanya soal ekstrakurikuler," balas Brian, merasa sedikit tidak enak.
"Aku belum kepikiran apa pun," jawab Amayah jujur.
Brian menatap layar ponselnya sejenak, lalu mengetik lagi. "Kalau begitu, mau menemui Pak William?"
---
Sepulang sekolah, Brian dan Amayah langsung menuju sebuah ruangan dengan papan bertuliskan Ruang Bimbingan Konseling, tempat William bekerja.
Keduanya berhenti tepat di depan pintu. Brian dan Amayah saling bertatapan, seakan berunding tanpa kata, sebelum akhirnya sadar bahwa pintu itu tak akan terbuka dengan sendirinya.
"Kau saja," bisik Brian singkat.
"Yang benar saja? Kau kan laki-laki," balas Amayah dengan bisikan yang justru terdengar cukup jelas.
"Memangnya harus laki-laki saja?" tanya Brian, nadanya sama pelannya.
Mendengarnya, Amayah semakin kesal. "Tentu saja. Bergunalah sedikit, jangan terus-terusan mengandalkanku."
"Hah?!"
Tanpa mereka sadari, seseorang telah berdiri di belakang sejak tadi. William rupanya mendengar seluruh bisikan mereka yang, sayangnya, sama sekali tidak rahasia.
Brian dan Amayah serempak menoleh ke belakang. Mereka mendapati William berdiri dengan ekspresi bingung, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana.
Suasana seketika menjadi canggung. Tak satu pun dari mereka bertiga membuka suara.
Hingga akhirnya, William memecah keheningan. "Seharusnya Brian yang mengetuk pintu. Aku setuju dengan Amayah."
Ia melanjutkan dengan ekspresi datar sambil memejamkan mata. "Tapi itu juga tidak adil bagi Brian, meskipun hal tersebut wajar bagi Amayah."
"Kalian berdebat untuk hal sepele. Itu hanya akan memperpanjang masalah. Seharusnya kalian menyadarinya."
William tersenyum tipis. "Jadi, apa keperluan kalian?"
Di dalam ruang BK, William duduk dengan santai sambil merokok. Asap tipis memenuhi ruangan, membuat Brian dan Amayah mengerutkan dahi, jelas merasa tidak nyaman.
"Mengapa Anda merokok di sekolah? Itu tidak diperbolehkan, kan?" tegur Brian datar, beberapa kali menahan napas.
"Ini hanya kebiasaanku saja. Tidak boleh ada yang mengatur," balas William santai sambil menghembuskan asap rokoknya.
Ia menyilangkan satu kaki, bersandar dengan nyaman. "Jadi, kalian ingin mengikuti sebuah ekstrakurikuler karena terpaksa, tapi tidak tahu harus memilih apa. Benar begitu?"
"Benar," jawab Amayah singkat.
"Hmm..." William memejamkan mata, seolah sedang memikirkan sesuatu yang berat dan rumit.
Menit demi menit berlalu. Brian dan Amayah mulai kehilangan kesabaran karena William belum juga memberikan jawaban.
"Pak, ini sudah semakin gelap," ucap Brian dengan nada kesal yang ditahan, berusaha tetap sopan.
"Ah, maaf, maaf..." William membuka matanya. "Kalau begitu, jika kalian ingin mengikuti ekstrakurikuler yang santai, ada satu pilihan..."
---
Keesokan harinya, tepat saat bel pulang berbunyi, Brian dan Amayah bersama-sama menuju sebuah ruangan yang sebelumnya diberitahukan oleh William.
Setibanya di sana, keduanya berhenti sejenak, memastikan papan nama di depan pintu.
"Benarkah yang ini?" tanya Brian datar.
"Ya, ini. Ruang klub sastra," jawab Amayah singkat.
Brian terlebih dahulu mengetuk pintu. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka, menampilkan seorang laki-laki berkacamata dengan raut wajah kebingungan.
"Kalian... siapa?" tanyanya.
"Aku Brian, dan ini Amayah," jawab Brian sambil menunjuk ke arah Amayah.
"Ah, pasti kalian titipan William, ya," ujar laki-laki itu santai, lalu tersenyum. "Silakan masuk."
Brian dan Amayah pun masuk dan duduk di kursi yang tersedia. Pandangan mereka menyapu seluruh ruangan—rak-rak buku memenuhi dinding, tersusun rapi dan tampak terawat, menciptakan suasana tenang yang berbeda dari klub lainnya.
"Namaku Larry, kelas 8-A. Aku ketua klub sastra," ujar laki-laki berkacamata itu. "Yang duduk di sampingku adalah wakil ketua dan bendahara."
"Namaku Calvin, wakil ketua klub sastra. Aku juga dari kelas 8-A," sapa seorang laki-laki berambut panjang yang hampir menutupi matanya. Nada suaranya tenang.
Seorang perempuan berambut pendek dengan kacamata bulat ikut tersenyum ramah. "Aku Monica, bendahara klub sastra. Kita sekelas. Salam kenal!"
Brian mengamati mereka bertiga. Ternyata seluruh anggota klub sastra adalah kakak kelasnya. "Apakah hanya kalian bertiga anggotanya?" tanyanya.
"Ya," jawab Larry sambil tersenyum tipis. "Tidak banyak yang tertarik bergabung dengan klub ini."
"Wajar saja, ketuanya tidak berani bersosialisasi," ejek Monica santai.
Larry langsung terdiam, ekspresinya melemah seolah terkena panah tepat di dada. Calvin tetap membaca buku dengan tenang, sementara Brian menilai suasana itu terasa aneh namun tidak canggung.
"Kalian akan bergabung dengan klub ini, jadi kami akan menjelaskan sedikit," ujar Monica antusias.
Brian dan Amayah pun mendengarkan dengan saksama. Mereka mendapat penjelasan tentang kegiatan klub, jadwal pertemuan, hingga aturan sederhana yang berlaku.
"Intinya, di sini kalian bisa membaca dengan santai. Semua buku ini milik Larry," jelas Monica. "Jangan heran, dia anak orang kaya!"
Monica menepuk punggung Larry cukup keras.
"Sakit!" keluh Larry. "Yang penting kalian bisa menikmati waktu di sini sebelum kami lulus."
Brian dan Amayah mengangguk bersamaan.
"Larry, aku haus," ucap Calvin datar, wajahnya tampak lesu meski sedari tadi hanya duduk mendengarkan.
Tiba-tiba Brian berdiri. "Bolehkah aku yang membelikan minuman untuk kalian?" usulnya.
Ketiganya terdiam sejenak.
"Boleh," jawab Monica. "Tapi jangan sendirian. Calvin, temani dia! Sekalian beli camilan."
"Eh, tidak. Aku malas," tolak Calvin.
"Jangan menyuruh junior membeli minuman sendirian di hari pertamanya!" protes Monica.
"Baiklah, baiklah," Calvin menyerah.
Dengan langkah malas, Calvin menemani Brian keluar ruangan. Mereka berjalan menyusuri lorong sekolah dalam keheningan, tanpa percakapan berarti.
"Apa kalian tidak keberatan jika kami bergabung?" tanya Brian tiba-tiba.
Calvin menoleh, sedikit terkejut. "Maksudmu?"
"Kami punya rumor buruk di sekolah. Aku khawatir itu berdampak pada reputasi klub," ujar Brian datar.
"Tidak masalah," jawab Calvin singkat.
Brian terdiam, menunggu.
Calvin meliriknya dengan tatapan tajam. "Anggota klub sastra ini pada dasarnya adalah orang-orang yang tidak pernah dianggap. Karena itu kami bisa bersama."
"Larry sering dimanfaatkan teman-temannya karena terlalu baik. Sampai akhirnya Monica datang dan menolongnya. Sejak itu mereka selalu bersama," lanjut Calvin.
"Aku sendiri dulu ditindas kakak kelas. Mereka berdua yang menolongku. Sekarang kami hidup damai di klub ini. Jika ada masalah, kami menghindarinya tanpa menyakiti siapa pun," katanya tenang.
"Maaf... aku jadi mengoceh," ujar Calvin setelahnya.
"Tidak masalah," jawab Brian.
"Yang penting, Larry dan Monica berharap kalian nyaman di sini. Anggap saja klub ini tempat bersantai. Lokasinya memang jauh dari ruang klub lain," tambah Calvin.
"Ya..." Brian mengangguk kecil.
Sejak hari itu, Brian dan Amayah sering menghabiskan waktu di ruang klub sastra. Membaca buku, mengobrol santai, bahkan sesekali bertengkar kecil.
Larry dan Monica kerap menguping pertengkaran mereka dengan senyum geli.
"Mereka seperti pasangan, ya," bisik Monica.
"Mungkin saja," jawab Larry ragu.
"Kau pikir punya pasangan itu menyenangkan?" goda Monica sambil mendekatkan wajahnya.
Larry segera mengalihkan pandangan. "Tidak... aku hanya merasa mereka seperti berteman sejak lama."
"Lagi-lagi aku jadi nyamuk," gumam Calvin pelan sambil membaca buku.
Brian dan Amayah perlahan merasa nyaman dan akrab dengan para senior. Mereka mengobrol ringan dan berbagi cerita sederhana, tanpa membahas hal terlalu pribadi.
Larry dan Monica selalu aktif menghidupkan suasana klub, sehingga ruangan itu tidak pernah terasa canggung. Meski sering terlihat seperti pasangan, kenyataannya mereka bukan—sesuatu yang diam-diam membuat Amayah sedikit iri.
Kecuali saat hanya berdua dengan Calvin, baik Brian maupun Amayah belum terlalu akrab dengannya. Calvin terlalu pendiam, namun selalu bisa menjadi penengah dalam percakapan. Sikapnya yang logis dan tenang membuat Brian merasa mereka sedikit mirip.
Hal lain yang mereka ketahui adalah guru pembimbing klub sastra ternyata William. Ia hanya muncul sesekali untuk pengecekan, sehingga para anggota tidak sungkan menegurnya. Di dalam ruang klub, tidak ada lagi jarak formal—semuanya terasa santai dan bebas.
---
Beberapa bulan kemudian, tibalah saat yang terasa paling menyedihkan bagi klub sastra. Larry, Monica, dan Calvin harus meninggalkan sekolah—sekaligus klub yang telah mereka jalani selama tiga tahun. Meski terselip rasa bangga karena pernah menjadi bagian darinya, perpisahan tetaplah perpisahan.
Larry menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tipis. Monica menangis tersedu-sedu tanpa bisa ditahan, sementara Calvin terlihat biasa saja, seolah telah menerima semuanya sejak awal. Perpisahan itu hanya dibalas dengan ekspresi datar dari Brian dan Amayah, meski hati mereka tak sepenuhnya tenang.
Pada akhirnya, hanya Brian dan Amayah yang tersisa sebagai anggota klub sastra. Sebelum pergi, Larry menyerahkan jabatan ketua klub kepada Brian, sementara Amayah ditunjuk sebagai wakil ketua. Soal anggota baru, Monica hanya tersenyum sambil menyarankan mereka berdua untuk mencarinya dengan cara masing-masing.
Namun kenyataannya tidak semudah itu.
Terlebih setelah William menyampaikan kabar bahwa pihak sekolah akan membubarkan ekstrakurikuler yang tidak memiliki minimal empat anggota, demi menghemat anggaran. Mendengar itu, harapan mereka perlahan runtuh.
Brian dan Amayah hanya bisa pasrah. Reputasi klub sastra telah terlanjur buruk di mata murid-murid lain. Tak ada satu pun yang berminat bergabung. Pada akhirnya, klub itu benar-benar dibubarkan.
Seluruh aset klub dibawa pulang oleh Brian, termasuk beberapa barang milik Larry yang sebelumnya dipercayakan kepadanya.
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Sepulang sekolah, setelah semua urusan klub sastra benar-benar berakhir, Brian dan Amayah pulang bersama.
"Sayang sekali harus bubar," ujar Amayah datar, namun nada suaranya menyimpan kekecewaan.
"Mau bagaimana lagi. Merepotkan, tapi ya begitulah," balas Brian dengan nada yang sama datarnya, kedua tangannya masuk ke saku celana.
Amayah menoleh ke arah Brian, menatapnya dengan lebih serius. "Apa kau tidak merasakan sesuatu? Seperti... sedih?"
"Tidak juga," jawab Brian santai. "Mungkin terasa agak kurang tanpa bersantai di ruang klub. Tapi tidak ada bedanya, karena aku akan selalu bersamamu—entah di rumah atau di sekolah."
Mendengar itu, hati Amayah terasa menghangat. Ia merasa senang, seolah Brian secara tidak langsung mengakui bahwa kebersamaan dengannya berarti.
"Begitu ya... Aku juga..." gumamnya pelan.
"Apa?" tanya Brian, sedikit penasaran.
"Tidak ada apa-apa!" seru Amayah panik. "Hanya saja... aku menikmati setiap waktu di klub. Semuanya akan selalu kuingat."
"Kau benar," kata Brian singkat. "Banyak momen berharga."
Beberapa langkah kemudian, Brian kembali membuka percakapan. "Ngomong-ngomong, ke mana para senior kita melanjutkan sekolahnya?"
"Larry katanya akan sekolah ke luar negeri. Monica juga," jawab Amayah santai. "Kalau Calvin, dia lanjut ke SMA Empire Heights."
"Berarti dia masih dekat," gumam Brian.
"Ya..."
Setelah itu, suasana kembali hening. Yang terdengar hanya suara kendaraan yang berlalu lalang, ditemani cahaya matahari senja yang perlahan tenggelam di ufuk barat.
"Kalau nanti ada perintah untuk bergabung ke sebuah ekstrakurikuler..." ucap Amayah ragu.
Brian menoleh sedikit. "Kenapa?"
Amayah menarik napas kecil sebelum melanjutkan. "Apakah kau... ingin... satu klub denganku...?"
Pipinya memerah. Ia menunduk, tak sanggup menatap wajah Brian.
"Tentu saja," jawab Brian datar tanpa ragu.
Hanya dua kata itu sudah cukup membuat Amayah merasa lega. Setidaknya, ia tidak sendirian. Brian akan tetap berada di sisinya.
"Aku takut kau lepas kendali dan mengamuk, jadi biar aku yang jadi pengendalinya," tambah Brian dengan nada mengejek ringan.
"Kau mengejekku, ya?!" Amayah mendengus kesal.
Sejak itu, mereka kembali berdebat kecil sepanjang perjalanan pulang, saling melempar ejekan yang terdengar akrab. Hingga matahari benar-benar tenggelam, dan langit berubah gelap—menutup satu bab, sekaligus membuka kisah baru bagi mereka berdua.
Bersambung.
semangat terus bang!!!