NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Us

---

Baby shower telah usai. Hadiah-hadiah sudah rapi tersusun di kamar bayi yang mulai dipersiapkan. Tapi ada satu pekerjaan rumah yang belum selesai: memilih nama untuk calon buah hati.

Jane dan Mario sudah berdiskusi berkali-kali sejak kehamilan memasuki bulan kelima. Tapi setiap kali mau memutuskan, selalu ada keraguan. Namanya kurang pas, kurang bermakna, atau kurang doanya.

"Mas, kita harus segera mutusin," ucap Jane suatu malam. "Bentar lagi lahiran."

"Iya, Sayang. Aku tahu." Mario menghela napas. "Tapi ini nama anak kita. Harus yang terbaik."

"Terbaik menurut siapa? Menurut kita atau menurut semua orang?"

Mario diam. Pertanyaan bagus.

Besoknya, saat kumpul di taman, Jane membuka topik ini pada para sahabat.

"Teman-teman, aku butuh saran. Kami masih bingung milih nama bayi."

Mata Irene langsung berbinar. "Wah, boleh! Aku punya banyak usulan!"

"Aku juga!" Chaeyoung angkat tangan. "Leon udah siapin daftar nama internasional!"

Leon mengangguk bangga. "I have a list. Very long list."

Soo Young tersenyum. "Di Korea, nama itu penting. Harus penuh makna."

Jisoo mengelus kepala Amora. "Aku dulu milih nama Amora karena artinya cinta."

Amora mendengar namanya disebut, langsung berlari ke pangkuan Jisoo. "Mama panggil Amora?"

"Iya, Sayang. Mama lagi cerita soal nama kamu."

"Amo bangga punya nama Amora!" serunya lucu.

Semua tertawa. Suasana taman sore itu hangat dan penuh tawa.

---

Putaran 1: Usulan dari Irene

Irene membuka buku catatan kecil—kebiasaannya sejak dulu—dan mulai membaca.

"Oke, ini daftar nama Islami yang bagus. Untuk laki-laki: Muhammad, Ahmad, Ibrahim, Yusuf, Rayyan. Untuk perempuan: Aisyah, Fatimah, Khadijah, Hannah, Zalfa."

Jane mengangguk-angguk. "Bagus-bagus, Mba."

"Maknanya juga bagus. Rayyan itu pintu surga. Hannah itu istri tercinta." Irene menjelaskan dengan semangat.

Mario mencatat. "Rayyan... bagus juga, ya."

"Tapi inget, nanti dipanggilnya apa?" Jisoo menimpali. "Jangan sampe nama bagus tapi panggilannya susah."

"Iya, bener. Harus dipikirin." Irene setuju.

---

Putaran 2: Usulan dari Soo Young

Soo Young berpikir sejenak. "Di Korea, biasanya nama terdiri dari dua suku kata. Dan maknanya dari huruf Hanja."

"Hanja apa?" tanya Leon.

"Aksara China yang dipake di Korea. Setiap huruf punya arti." Soo Young menjelaskan. "Misalnya, nama aku, Soo Young. Soo itu berarti 'panjang umur', Young itu 'bunga'."

"Cantik banget artinya!" Chaeyoung terkesima.

"Aku punya usulan: untuk perempuan, Hana (satu), Nari (bunga lili), Bora (warna ungu). Untuk laki-laki, Minho (berani dan luas), Joon (tampan), Seok (batu)."

Jane mencatat dengan antusias. "Hana... bagus. Simpel, pendek."

"Di Indonesia juga ada yang namanya Hana," tambah Irene. "Jadi nggak terlalu asing."

"Bora juga lucu," Chaeyoung menimpali. "Kayak warna kesukaan aku."

Leon mengerutkan dahi. "Bora? Itu partikel di fisika."

Semua tertawa. Leon lagi-lagi bikin suasana cair.

---

Putaran 3: Usulan dari Jisoo

Jisoo yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Aku lebih ke makna yang kuat. Karena... kita nggak pernah tahu masa depan."

Suasana sedikit berubah. Mereka tahu Jisoo bicara dari pengalaman.

"Aku kasih nama Amora karena artinya cinta. Biar dia tumbuh dengan cinta, meski tanpa ayah." Jisoo tersenyum getir. "Dan amanah itu—membesarkan dia—itu berat. Tapi aku jalani."

Jane meraih tangan kakaknya. "Kak..."

"Untuk anak kamu, Jan, pilih nama yang bawa doa. Doa biar dia kuat, biar dia baik, biar dia dikelilingi orang-orang yang sayang." Jisoo menatap Jane. "Kaya kita di sini."

Semua terharu. Amora, yang tidak mengerti, ikut memeluk Jisoo.

"Amora sayang Mama."

Jisoo tersenyum, mengusap air mata. "Mama juga sayang Amora."

---

Putaran 4: Usulan dari Chaeyoung dan Leon

Chaeyoung dan Leon sudah siap dengan daftar panjang. Leon membuka ponselnya, membaca dengan aksen Australia khasnya.

"Untuk laki-laki: Ethan, Liam, Noah, Oliver, William. Untuk perempuan: Olivia, Charlotte, Amelia, Isla, Mia."

"Wah, internasional banget," komentar Elgi.

"Iya, biar gampang disebut orang dari mana aja." Chaeyoung menjelaskan. "Soalnya Leon kan bule, siapa tahu anaknya nanti sering ke Australia."

Leon mengangguk. "And they're easy to pronounce. In English and Indonesian."

Mario mencoba mengucapkan. "Ethan... Ethan. Iya, gampang."

"Liam juga," tambah Jane. "Lucu."

"Tapi inget, nanti di sekolah, teman-temannya panggil apa?" Irene mengingatkan. "Jangan sampe jadi bahan ledekan."

Leon mengernyit. "Ledekan? Apa itu?"

"Bullying. Godain." Chaeyoung menjelaskan.

"Ah, I see. Good point."

---

Putaran 5: Usulan dari Endy dan Elgi

Endy yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Gue saranin, jangan terlalu mikirin nama. Yang penting anaknya sehat."

"Iya, Om, tapi nama kan doa." Elgi menimpali. "Gue dulu dikasih nama Elgi sama orang tua, sampai sekarang nggak tahu artinya apa."

Irene tertawa. "Lo belum tanya?"

"Udah, tapi orang tua lupa."

Semua tertawa. Elgi jadi bahan ledakan.

"Tapi gue bersyukur," sambung Elgi. "Orang tua gue doain gue baik-baik aja. Itu yang penting."

Endy mengangguk setuju. "Bener. Nama itu cuma label. Yang penting isinya."

Mario merenung. "Tapi kita tetep pengen yang terbaik, Om."

"Ya, cari aja. Nanti ketemu sendiri."

---

Setelah diskusi panjang, Jane dan Mario pulang dengan kepala penuh usulan. Mereka duduk di ruang tamu, membuka catatan masing-masing.

"Mas, ini banyak banget." Jane menghela napas. "Aku malah tambah bingung."

Mario memijit pelipisnya. "Iya, Sayang. Aku juga."

"Gimana kalau kita bikin sendiri? Gabungin beberapa nama?"

Mario mengangkat alis. "Gabungin gimana?"

"Misalnya, ambil satu dari usulan Mba Irene, satu dari Tante Soo Young, gitu."

Mario berpikir. "Boleh juga. Coba kita bikin daftar pendek dulu."

Mereka mulai menulis. Irene: Rayyan, Hannah. Soo Young: Hana, Minho. Jisoo: (nggak ngasih usulan spesifik). Chaeyoung-Leon: Ethan, Olivia.

"Dari semua ini, mana yang paling lo suka?" tanya Mario.

Jane memandangi daftar itu lama. "Hannah... aku suka Hannah."

"Hannah. Bagus. Simple, familiar, ada di Al-Quran juga."

"Tapi panggilannya apa? Hannah? Han?"

"Bisa dua-duanya."

Mario menulis HANNAH di kertas dengan huruf besar. "Satu."

"Lo suka yang mana, Mas?"

Mario melihat daftar. "Aku suka Rayyan. Tapi kalau untuk perempuan?"

"Rayyan untuk laki-laki doang kali."

"Iya, sih. Berarti kalau laki-laki, Rayyan. Perempuan, Hannah."

Jane tersenyum. "Jadi kita siapin dua nama?"

"Iya. Siapa tahu Allah kasih kejutan."

---

Malam harinya, mereka telepon Jisoo untuk minta pendapat. Jisoo setuju dengan pilihan itu.

"Hannah bagus. Artinya istri tercinta, dikasih sayang." Jisoo menjelaskan. "Rayyan juga bagus, pintu surga. Doa biar anak masuk surga."

"Makasih, Kak."

"Terus, nama tengahnya? Mau ditambah?"

Jane dan Mario saling pandang. Mereka belum kepikiran sampai situ.

"Kita pikirin lagi, Kak."

"Iya, yang penting kalian berdua cocok."

---

Seminggu kemudian, Jane dapat ide. "Mas, gimana kalau nama tengahnya dari orang-orang yang berarti buat kita?"

Mario mengerutkan dahi. "Maksudnya?"

"Misalnya, untuk Hannah, kita tambah Irene. Hannah Irene."

Mario tersenyum. "Dari Mba Irene?"

"Iya. Dia kan udah kayak kakak sendiri buat aku. Selalu ada, selalu bantu."

Mario mengangguk setuju. "Bagus. Terus kalau laki-laki? Rayyan...?"

"Rayyan Elgi?"

Mario tertawa. "Elgi bakal bangga."

"Atau Rayyan Endy?"

"Wah, Om Endy pasti terharu."

Mereka tertawa, membayangkan reaksi para sahabat.

Tapi kemudian Jane punya ide lain. "Mas, gimana kalau Rayyan Soo Young? Atau Rayyan Jisoo?"

Mario berpikir. "Soo Young... Jisoo... semuanya berarti. Sulit milih."

"Iya. Mungkin kita pakai satu aja? Atau dua nama tengah?"

"Nanti panjang banget, Sayang."

Mereka akhirnya memutuskan untuk tidak memaksakan. Yang penting, anak mereka tahu suatu hari nanti, betapa banyak orang baik di sekelilingnya.

---

Bulan kesembilan tiba. Jane sudah tidak sabar menanti kelahiran buah hatinya. Suatu sore, saat kumpul di taman, Jane mengumumkan.

"Teman-teman, kami sudah punya nama untuk calon bayi."

Semua perhatian tertuju padanya.

"Kalau perempuan, kami kasih nama Hannah." Jane berhenti sejenak. "Hannah Irene."

Irene terbelalak. "Apa? Irene? Namaku?"

"Iya, Mba. Lo kan udah kayak kakak buat aku."

Irene menangis haru. "Jane... ini..."

"Lo rela, kan, namanya dipake?"

"Rela banget!" Irene memeluk Jane erat.

"Kalau laki-laki?" tanya Elgi penasaran.

Mario menjawab, "Rayyan. Tapi nama tengahnya belum kami putusin."

"Kenapa belum?" tanya Jisoo.

"Karena banyak yang pengen kami masukin." Mario tersenyum. "Soo Young, Jisoo, Chaeyoung, Endy, Elgi, Leon. Semua berarti."

Mereka terdiam, terharu.

Leon berkata, "That's beautiful. He will have many names from many people who love him."

"Iya." Jane mengelus perutnya. "Biar dia tahu, dia lahir ke dunia yang penuh cinta. Bukan cuma dari kami, tapi dari kalian semua."

Amora berlari ke arah Jane. "Tante Jane, adiknya kalau lahir, Amora bisa gendong?"

"Nanti kalau udah agak gede, ya, Sayang."

"Asik! Amora mau gendong adik!"

Semua tertawa. Sore itu, di taman Griya Asri, kebahagiaan terasa begitu nyata. Nama mungkin hanya rangkaian huruf. Tapi di baliknya, ada doa, harapan, dan cinta dari banyak hati.

Cinta yang akan menemani sang buah hati sepanjang hidupnya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!