NovelToon NovelToon
Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Ketika Putri Istana Menjadi Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:869
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.

Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.

Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anak pembunuh

Kejadian itu begitu cepat, Selir Hua yang menyadari akal-akalan putrinya hanya menghela nafas kasar sambil mengeratkan pelukan mereka.

"Bisa-bisanya kamu menipu semua orang," bisik Selir Hua di telinga putrinya. "Tapi sepertinya pengawal itu sudah menyadarinya."

"Aku sangat merindukan ibu," balas Ruoling tidak peduli pengawal menyadari sandiwaranya. "Ibu... apa mereka memberikanmu makan yang layak?"

"Tentu," sahut Selir Hua berbohong.

"Bohong! Setiap kali sidang aku melihat ibu selalu pucat dan sangat kurus. Kadang, bibir ibu juga pecah dan penuh luka." Ruoling mengurai pelukan, tapi tidak memberikan jarak lalu tangannya membingkai kedua pipi Selir Hua dengan mata berkaca-kaca. "Bicaralah dengan jujur, apakah rumor itu benar? Selama di sana mereka menyiksa ibu?"

"Ti–"

"Kita harus segera pergi," kata Pengawal tiba-tiba saja sambil menarik pelan tali yang mengingat tangan Selir Hua. "Cepat berdiri, kita harus secepatnya kembali ke penjara!"

"Tapi aku..." Ruoling tidak sempat mengajukan protesnya karna pengawal memaksa Selir Hua berdiri lalu mereka meninggalkan tempat itu bersama Ruoling yang gerakannya di tahan oleh satu pengawal.

"Lepaskan aku! Ibu! Aku tidak ingin berpisah dengan ibu!" Tidak ada tanggapan dua pria yang tetap membawa pergi ibunya tanpa memperdulikan tangisan dari Ruoling.

Setelah hari itu Ruoling semakin sulit bertemu dengan ibu bahkan keluar dari kediamannya saja setiap kali persidangan di mulai Pengawal yang berjaga tidak mengizinkannya.

Pria itu awalnya menjaga di gerbang hingga membuatnya bisa kabur, kini berjaga tepat di depan pintu kediamannya.

Tapi di hari-hari biasa saat tidak ada sidang pengawal-pengawal itu kembali melakukan tugasnya seperti biasa serta tidak melarang Ruoling untuk keluar.

Namun, semakin lama Ruoling semakin merasa berbeda. Seperti saat ini, Ruoling melihat ada tiga anak perempuan sedang bercerita dengan seru, tapi begitu dirinya mendekat mereka langsung menghentikannya.

"Ada apa?" Tanya Ruoling tidak bisa menyembunyikan keheranannya. "Dari jauh aku melihat keseruan kalian jadi aku mau ikut."

"Kedatanganmu membuat keseruan itu berubah jadi buruk!"

"Jangan bicara dengannya," larang salah satu anak perempuan. "Nanti kita mengalami hal yang sama seperti Pangeran Ruolan, Pangeran Ruofan dan putri-putri dan anak-anak lainnya, tapi beruntungnya Putri Ruoyi kuat jadi masih bertahan."

"Benar, ayo kita segera pergi dari sini." Balas satu anak perempuan lainnya lalu mereka pergi meninggalkan Ruoling yang menatap kepergian mereka dengan sedih.

"Aku hanya ingin bermain, ibuku juga tidak salah. Semua orang salah karna menuduh ibuku menjadi pelakunya," katanya dengan sedih.

Mereka semua adalah adik-adik Ruoling yang turun menjadi korban, tapi beruntungnya Ruoyi selamat, tapi sayangnya mengalami trauma sementara yang lainnya menyerah.

Hal itu membuat kediaman anak-anak Kaisar jadi sepi hingga setiap hari Ruoling tidak memiliki teman lagi.

Selain mereka para Selir, sebagian besar penjabat penting serta keluarga dan anak mereka hampir semua tamu menjadi korban semakin memberatkan ibunya yang di tuduh menjadi pelakunya.

Hari-hari yang di lewati Ruoling juga berbeda, karna banyak teman yang menjadi korban jadi sekolah menjadi sepi. Tapi sama dengan di luar anak-anak di sekolah tidak ingin berteman dengannya bahkan ada yang mengatakannya sebagai anak pembunuh yang sudah membunuh orang tua mereka.

Julukan anak pembunuh beberapa bulan ini sudah sering di dengarnya, tapi Ruoling tidak berani melawan karna mereka banyak. Akan tetapi setiap Putra mahkota menyempatkan diri di sela kesibukannya membantu Permaisuri mengatur kembali politik kerajaan, anak-anak di kelas memperlakukannya dengan baik.

"Sebenarnya apa lagi yang di tunggu oleh penegak hukum? Selir itu sudah jelas bersalah, tapi belum juga di tetapkan hukumannya." Kata seorang pelayan dengan geram tepat saat Ruoling berjalan melewati mereka.

"Aku juga berpikir yang sama padahal bukti sudah jelas mengarah dia adalah pelakunya!"

"Menurutku hukuman yang pantas dia dapatkan adalah hukuman mati!

"Ibuku tidak salah!" Teriak Ruoling sambil menatap ketiga pelayan itu dengan marah. "Jaga sopan santun kalian selama bekerja di sini!"

"Ma-maafkan hamba, tuan Putri." Kata ketiga pelayan itu bersamaan.

Ruoling mendengus. "Kalian harus ingat, ibuku tidak salah maka dari itu penegak hukum tidak bisa memutuskan hukuman untuknya!"

Setelahnya Ruoling meninggalkan tempat itu sambil menahan emosinya. Di sekolah ia masih bisa bersabar karna menghormati anak-anak yang bersekolah di sana karna status mereka cukup penting di kerajaan, tapi di luar apa lagi pada seorang pelayan, ia tidak akan diam saja.

Setiap sidang berlangsung ibu selalu mengatakan dirinya tidak bersalah dan hal itu tidak berubah sekalipun sudah tidak terhitung sidang di lakukannya.

Namun setiap jawaban itu justru menjadi alasan baru bagi banyak pejabat yang selamat dari racun atau tidak sempat memakan jamuan itu menuduhnya tidak kooperatif, melawan, menyangkal, dan mencoba mempermainkan keputusan pengadilan.

Kaisar yang selamat dengan kondisi lemah hanya bisa menghadiri sebagian kecil persidangan. Setiap kali ia hadir, ia menatap Selir Hua dengan campuran kebingungan, tekanan, dan rasa sakit yang sulit dibaca.

Tekanan dari Permaisuri, para bangsawan, dan pejabat tinggi terlalu kuat. Kekacauan besar ini membutuhkan satu “pelaku”, seseorang yang harus disalahkan agar ketertiban istana kembali.

Pada akhirnya, demi meredam kemarahan semua pihak, Kaisar—dengan suara berat dan nyawa yang seperti tertinggal separuh—menetapkan hukuman penjara dengan banyak penyiksaan sampai ibu mengakui kesalahannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!