Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Kebanggaan yang gagal
Mobil berhenti tepat di depan rumah Gina.
Rumah itu besar, terang, dan terlihat mewah. Lampu-lampu taman menyala rapi, pintu utama terbuka, beberapa pelayan sudah berdiri menyambut.
Suasananya hidup.
Ramai.
Tapi entah kenapa… bagi Gina, semuanya terasa dingin.
Sejak turun dari mobil, kedua orang tuanya tidak mengatakan apa-apa.
Tidak ada komentar tentang penampilannya.
Tidak ada pertanyaan seperti biasanya—tentang bagaimana acaranya, apakah ia lelah, atau apakah ia sudah makan.
Bahkan tidak ada sapaan kecil yang sekadar menandakan mereka menyadari ia ada di sana.
Mereka hanya berjalan lebih dulu.
Langkah kaki terdengar bergema di lantai marmer yang luas dan dingin, beradu pelan satu sama lain, memecah keheningan yang terasa terlalu tebal.
Gina mengikuti dari belakang.
Jarak beberapa langkah saja… tapi terasa jauh.
Lampu rumah menyala terang. Pelayan lalu-lalang seperti biasa. Semuanya tampak hidup—normal, rapi, seperti malam-malam sebelumnya.
Namun bagi Gina, suasana itu justru terasa dingin.
Kosong.
Tidak ada satu pun yang menoleh padanya.
Tidak ada yang menyambut.
Hanya suara langkah kaki, pintu yang terbuka, dan keheningan yang berjalan bersama mereka masuk ke dalam rumah.
Gina tahu.
Malam ini… ada yang tidak beres.
Bukan dari kata-kata—karena sejak tadi memang tidak ada yang bicara. Tapi justru dari diam itu. Dari cara ayah dan ibunya berjalan tanpa menoleh. Dari suasana rumah yang terasa terlalu tenang, terlalu rapi… seperti menunggu sesuatu.
Ia menunduk pelan.
Jemarinya saling bertaut, langkahnya otomatis mengarah ke tangga. Ia ingin segera masuk ke kamar. Menghilang sebentar. Menjauh dari tatapan, dari kemungkinan percakapan, dari apa pun yang mungkin terjadi setelah ini.
Namun bahkan sebelum kakinya sempat menginjak anak tangga pertama, perasaan itu sudah lebih dulu datang—
“Tunggu.”
Suara ayahnya menghentikannya.
Tegas. Pendek. Tidak memberi ruang untuk menolak.
Gina berhenti.
Ayahnya masih berdiri di ruang tamu, tangannya sibuk melepas jam dari pergelangan tangan, tapi tatapannya jelas tertuju padanya.
“Duduk di sana,” perintahnya lagi, dingin.
Tangannya terangkat, menunjuk sofa di ruang tamu.
Gerakannya singkat, tegas, tanpa banyak ekspresi.
Bukan ajakan.
Bukan pula permintaan.
Itu jelas sebuah perintah.
Gina menelan ludah pelan.
Jantungnya berdetak lebih cepat, sementara langkahnya terasa berat saat berbalik menuju sofa. Ia tahu… begitu duduk di sana, sesuatu akan dimulai. Dan ia tidak yakin siap mendengarnya.
Tanpa membantah, ia berjalan dan duduk di sofa yang ditunjuk.
Punggungnya tegak. Tangannya saling menggenggam di pangkuan.
Ruang tamu yang biasanya hangat… malam itu terasa berat.
Seolah udara di dalamnya ikut menahan napas.
“Sudah berapa kali ayah bilang… kamu jangan mau kalah dari keluarga Rosyid.”
Suara ayahnya terdengar berat, penuh tekanan yang ditahan sejak tadi.
“Kamu itu vokal utama. Tapi yang dipuji orang lain.”
Ia berhenti sebentar, menatap Gina lurus.
“Kalau tampil setengah-setengah… lebih baik tidak usah tampil sekalian.”
Gina menunduk pelan.
Ia tidak langsung merespons. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya sempat berkedip sekali—terlalu cepat, terlalu kaget.
Dadanya terasa kosong saat kalimat itu jatuh begitu saja di telinganya. Seolah ada sesuatu yang runtuh… tanpa suara.
Jemarinya refleks bergerak, saling menggesek di sela-sela jari.
Ia belum sempat menjawab.
Ibunya sudah lebih dulu bicara.
“Ibu sebenarnya bangga,” ucapnya pelan.
“Tapi… orang tua mana yang tidak kecewa kalau anaknya tidak maksimal?”
Nada suaranya lembut.
Hampir terdengar seperti dukungan.
Tapi Gina tahu—kalimat itu bukan untuk menguatkan. Hanya cara lain untuk menyalahkan… tanpa terlihat keras.
“Kamu tahu kan harapan ayah besar sekali ke kamu,” lanjut ibunya.
Gina mengangguk pelan.
Ia tahu.
Ia selalu tahu.
Sejak kecil, beban itu sudah ada di pundaknya.
Ia yang diharapkan membawa nama keluarga. Ia yang harus selalu unggul. Selalu paling terlihat. Selalu jadi yang bisa dibanggakan.
Semua orang terbiasa melihatnya begitu—termasuk dirinya sendiri.
Padahal malam ini… ia sudah memberikan yang terbaik yang ia punya. Latihan, tenaga, perasaan—semuanya ia taruh di atas panggung.
Namun di mata mereka, usaha itu seolah belum pernah benar-benar sampai.
Masih kurang. Masih belum cukup.
Seolah sia-sia.
Belum sempat suasana mereda, langkah kecil terdengar dari arah lorong.
Adiknya muncul, digendong pengasuh.
Wajahnya cerah, matanya berbinar polos—tidak tahu apa-apa tentang ketegangan yang baru saja memenuhi ruangan itu.
Ia hanya melihat kakaknya pulang.
Namun-
“Tadi aku lihat video live dari temen kakak,” katanya polos.
“Yang nyanyi suara tinggi itu keren banget.”
Ia menatap Gina.
“Kakak kok bisa kalah?”
Kalimat itu terdengar ringan. Polos. Tanpa niat menyakiti.
Namun bagi Gina, rasanya tetap menekan pelan di dada—seperti tusukan kecil yang datang diam-diam.
Tidak keras.
Tapi terasa.
Dan entah kenapa… terus berulang di kepalanya.
Ibunya mengangguk pelan.
“Kamu itu anak pertama,” katanya lagi.
“Seharusnya bisa memberi contoh.”
Gina tetap diam.
Tidak membantah.
Tidak menjelaskan.
Ia hanya mengangguk kecil—mengiyakan semua yang ditujukan padanya.
Seolah menerima.
Seolah memang begitu seharusnya.
Padahal di dalam dirinya, ada sesuatu yang pelan-pelan retak.
Bukan tiba-tiba hancur… tapi runtuh sedikit demi sedikit, tanpa suara.
Untuk pertama kalinya, ia merasa—
bahkan di rumah… tidak ada yang benar-benar berpihak padanya.
Pikirannya mulai kacau.
Ia merasa gagal.
Merasa tidak cukup.
Merasa bukan kebanggaan siapa-siapa.
Gina tidak menyalahkan mereka.
Tidak juga menyalahkan Siva.
Tidak menyalahkan siapa pun.
Ia hanya terus bertanya pada dirinya sendiri—
kenapa… selalu ada yang kurang dari dirinya?
“Sudah cukup. Ayah tidak mau bahas lagi. Pergi ke kamar kamu.”
Suara itu tegas. Final. Tidak memberi ruang untuk jawaban.
Gina mengangguk pelan.
Tanpa membalas apa pun, ia berdiri dan melangkah menjauh. Langkahnya ringan… tapi terasa berat di dalam.
Koridor rumah terasa panjang malam itu.
Sepi.
Sesampainya di kamar, Gina tidak langsung berbaring. Ia hanya duduk di lantai, bersandar di tepi kasur.
Diam.
Napasnya tersengal, tidak teratur.
Ia mencoba menahannya—menarik napas pelan, memaksa dadanya tenang, menelan semua yang terasa menyesakkan.
Tapi air mata jatuh lebih dulu.
Satu.
Lalu satu lagi.
Tangannya refleks menutup mulut, menahan agar tak ada suara yang lolos. Ia menunduk, bahunya sedikit bergetar, berusaha tetap diam meski dadanya terasa penuh.
Tidak ada isakan.
Tidak ada tangisan keras.
Hanya air mata yang terus mengalir… perlahan, tanpa suara.
Sunyi.
Di kamar yang luas, rapi, dan nyaman itu… Gina justru merasa semakin sendirian.
Tidak ada yang mengetuk pintu.
Tidak ada yang memanggil namanya.
Tidak ada yang datang memeluk… atau sekadar bertanya apakah ia baik-baik saja.
Malam ini, untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa—
tidak ada yang menunggunya.
Tidak ada yang mencari.
Dan mungkin… tidak ada yang benar-benar peduli.
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
maaf yaa nangis sedikittt
keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
di sini alur belum maju lagi 🤔
jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn
perhatikan dinamis Pace
baby shark doo dooo doo
chapter ini cukup menarik
slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
kayak mau deketin Azmi sama gina
kek nyaman bener
ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok
aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏
ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)
main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..
ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita
penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???