NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Api Cemburu

Pagi itu, gedung pencakar langit Bramasta Group tampak seperti biasa; sibuk, dingin, dan penuh dengan aura kekuasaan yang kaku. Namun, di lantai teratas, di dalam ruang kerja utama yang berdinding kaca antipeluru, sebuah pertemuan sedang berlangsung yang akan mengubah dinamika hidup seorang Bramasta selamanya.

Bram sedang duduk di kursi kebesarannya, meninjau laporan akuisisi lahan, ketika pintu jati besarnya diketuk. Masuklah Tuan Wijaya, salah satu rekan bisnis paling senior dan paling berpengaruh yang bekerja sama dengan perusahaannya. Namun, Tuan Wijaya tidak datang sendiri. Di sampingnya, berdiri seorang gadis muda yang tampak sangat berkelas, mengenakan setelan blazer berwarna krem yang membalut tubuhnya dengan proporsi sempurna.

"Bram, maaf mengganggu waktumu yang berharga," ujar Tuan Wijaya dengan senyum lebar penuh kebanggaan. "Ini putriku, Clara. Dia baru saja menyelesaikan semester akhirnya dengan nilai luar biasa di London. Aku ingin dia belajar langsung dari singa bisnis yang paling tangguh sebelum dia memegang kendali di perusahaanku sendiri. Aku harap kau bersedia menerimanya magang sebagai sekretaris pribadimu selama beberapa bulan ke depan."

Bram mendongak, dan untuk sesaat, detak jantungnya seolah terhenti. Dunianya yang penuh perhitungan mendadak membeku. Di depannya berdiri gadis yang sama—gadis yang menolongnya di lorong kampus yang gelap saat ia dikepung massa mahasiswi tempo hari.

"Clara?" gumam Bram, tak mampu menyembunyikan keterkejutan yang sangat jarang ia perlihatkan pada siapa pun.

Clara tetap tampak sangat tenang, nyaris tanpa ekspresi yang berlebihan. Ia tidak menunjukkan binar mata genit, tidak tersipu, dan tidak juga tampak gugup berhadapan dengan pria paling berkuasa di ruangan itu. Ia memberikan anggukan kecil yang sangat sopan dan anggun.

"Senang bertemu dengan Anda kembali dalam suasana yang lebih formal dan profesional, Pak Bramasta," ujar Clara. Suaranya halus, namun mengandung ketegasan yang cerdas.

Clara sama sekali tidak mengungkit kejadian di kampus. Ia bersikap seolah-olah pertemuan mereka sebelumnya hanyalah insiden kecil yang tidak perlu dibahas di meja kerja. Sikap profesionalnya yang luar biasa ini justru membuat Bram merasa sedikit "terhutang budi" dan merasa perlu mencairkan suasana.

"Terima kasih sekali lagi atas bantuanmu di kampus kemarin, Clara. Saya belum sempat berterima kasih dengan layak karena... situasi saat itu sangat kacau," ujar Bram, berusaha mengembalikan wibawanya. Ia menoleh ke arah Tuan Wijaya. "Putri Anda memiliki ketenangan yang luar biasa di bawah tekanan, Tuan Wijaya. Saya dengan senang hati menerimanya di sini. Dia bisa mulai hari ini jika dia siap."

Satu minggu berlalu dengan sangat cepat. Kehadiran Clara di kantor membawa efisiensi yang bahkan membuat Anwar terkesan. Clara tidak seperti sekretaris-sekretaris sebelumnya yang sering kali mencoba mencari perhatian Bram dengan pakaian ketat atau parfum menyengat. Clara adalah definisi dari profesionalitas; ia tahu jadwal Bram luar dalam, ia mengatur setiap dokumen dengan presisi, dan ia selalu menjaga jarak fisik yang sangat sopan.

Namun, bagi Aluna, ketenangan Clara adalah ancaman paling mematikan yang pernah ada. Aluna, yang sejak kejadian di kampus menjadi sepuluh kali lebih posesif, mulai merasa tidak tenang di rumah. Ia merasa ada "sesuatu" yang disembunyikan Bram darinya. Akhirnya, siang itu, Aluna memutuskan untuk ikut ke kantor dengan alasan klasik: ia merindukan Daddy-nya dan ingin makan siang bersama.

Di dalam ruang kerja yang luas, Aluna sedang melakukan rutinitas "menandai wilayahnya". Ia duduk di pangkuan Bram, melingkarkan lengan mungilnya di leher pria itu sambil menyesap jus jeruk dari gelas kristal. Bram, yang merasa bersalah karena belakangan ini terlalu sibuk, hanya terkekeh pelan. Ia menganggap perilaku Aluna sebagai bentuk rasa sayang yang menggemaskan, sebuah kompensasi setelah ledakan cemburu di kampus minggu lalu.

Tok! Tok!

Pintu terbuka tanpa menunggu jawaban lama. Clara masuk dengan langkah kaki yang teratur, membawa map laporan kulit berwarna biru tua. Saat pintu itu terbuka dan mata Aluna serta Clara bertatapan, suhu di ruangan itu seketika turun ke titik beku.

Aluna langsung menggeram rendah, sebuah suara yang nyaris menyerupai ancaman binatang kecil. Matanya mendelik tajam, nyaris keluar, saat ia menyadari bahwa wanita "pengganggu" dari kampus itu kini berada tepat di jantung kekuasaan Daddy-nya.

"Maaf mengganggu, Pak Bramasta. Ini jadwal pertemuan Anda untuk sore ini dengan investor dari Singapura, dan ada laporan audit yang memerlukan tanda tangan segera sebelum jam dua," ujar Clara dengan suara yang sangat tenang dan indah.

Clara berdiri tegak di depan meja besar itu. Ia tidak menunjukkan kegugupan sedikit pun melihat pemandangan intim di depannya—Aluna yang duduk di pangkuan Bram dengan posisi yang sangat tidak profesional. Bagi Clara, pemandangan itu seolah-olah hanyalah bagian dari dekorasi ruangan yang tidak penting.

Amarah Aluna membuncah hingga ke ubun-ubun. Ia merasa wilayah pribadinya sedang diinvasi secara brutal. Untuk menegaskan posisinya, Aluna sengaja mempererat pelukannya pada leher Bram. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Bram dengan sangat posesif, sementara matanya terus menatap Clara dengan delikan yang penuh permusuhan.

"Daddy... siapa dia? Kenapa dia masuk tanpa izin?" tanya Aluna dengan nada manja yang dibuat-buat, namun mengandung racun.

Bram merasa sangat canggung. "Aluna, ini Clara. Sekretaris magang baruku. Dia putri Tuan Wijaya."

Aluna tidak peduli. Ia mulai melakukan aksi yang lebih nekat untuk memprovokasi Clara. Di depan mata sekretaris itu, Aluna mulai menciumi lekuk leher Bram, memberikan kecupan-kecupan basah dan hangat di sana. Ia bahkan menggigit kecil kulit leher Bram, membuat pria itu secara refleks mengeluarkan erangan rendah yang serak—setengah karena terkejut, setengah karena gairah yang tidak pada tempatnya.

Namun, reaksi Clara sungguh di luar dugaan. Ia tetap berdiri diam, matanya tetap tertuju pada dokumen di tangannya. Ia bahkan tersenyum tipis—sebuah senyum yang tampak sangat tulus namun terasa merendahkan bagi Aluna. Seolah-olah Clara sedang menonton tingkah kekanak-kanakan yang tidak berarti baginya.

"Semua sudah saya jadwalkan, Pak. Saya permisi kembali ke meja saya untuk mengonfirmasi pihak Singapura," ujar Clara setelah selesai memberikan penjelasan dengan nada bicara yang tetap anggun. Ia membungkuk sopan, lalu berbalik dan melangkah keluar dengan keanggunan yang sangat terjaga, tanpa menoleh sedikit pun.

Begitu pintu jati itu tertutup rapat, Aluna langsung melepaskan pelukannya dan melompat turun dari pangkuan Bram. Ia berdiri tegak, berkaca pinggang dengan wajah yang merah padam karena emosi yang tidak tertahankan lagi.

"JELASKAN PADAKU! KENAPA WANITA ITU BISA ADA DI SINI?!" teriak Aluna, suaranya menggema di ruangan kedap suara itu.

"Aluna, dengarkan dulu. Ini murni urusan bisnis. Tuan Wijaya memohon padaku agar putrinya bisa belajar di sini. Aku tidak bisa menolak rekan bisnis sepenting dia hanya karena alasan pribadi," jelas Bram, ia bangkit dari kursinya dan mencoba mendekati Aluna.

"Belajar?! Kenapa dari ribuan perusahaan di kota ini, dia harus magang di sini sebagai sekretaris pribadimu?! Daddy membiarkan dia melihat jadwal Daddy, Daddy membiarkan dia berada di ruangan ini sendirian saat aku tidak ada!" Aluna menghentakkan kakinya dengan keras ke lantai marmer. "Aku merasa dikhianati! Daddy menyembunyikannya dariku! Daddy sengaja mempekerjakannya karena Daddy tertarik padanya di kampus kemarin, kan?!"

"Aluna, jaga bicaramu! Itu tidak benar!" Bram mencoba meraih tangan Aluna, namun gadis itu menepisnya dengan kasar.

"Jangan sentuh aku! Daddy pembohong! Daddy bilang hanya aku yang boleh ada di dekat Daddy, tapi Daddy membawa 'ular' itu masuk ke kantor!" Air mata kekecewaan dan cemburu buta mulai mengalir deras di pipi Aluna. "Rasanya seperti diselingkuhi di depan mataku sendiri! Aku benci Daddy!"

Aluna tidak menunggu jawaban lagi. Baginya, penjelasan apa pun sekarang hanyalah kebohongan. Ia merasa dikhianati secara emosional. Dengan langkah yang penuh amarah, ia berbalik dan berlari menuju pintu.

Saat melewati meja kerja Clara di area depan, Aluna berhenti sejenak. Ia memberikan delikan yang sangat tajam, penuh dengan dendam dan rasa jijik, seolah-olah ia sedang menandai musuh bebuyutannya. Clara, yang sedang mengetik di komputernya, hanya menoleh sekilas dan memberikan tatapan tenang yang sejuk, yang justru membuat Aluna semakin merasa kalah secara mental.

"Awas kau!" desis Aluna lirih sebelum akhirnya berlari menuju lift pribadi.

Bram keluar dari ruangannya dengan langkah terburu-buru, wajahnya tampak sangat kewalahan. Ia mengabaikan tatapan bingung para stafnya. "Aluna! Tunggu! Kita bicara di mobil!"

Bram terus mengejar, namun pintu lift sudah tertutup. Ia memukul pintu lift itu dengan tangan mengepal. Di belakangnya, Clara berdiri dari kursinya dengan tenang.

"Perlu saya pesankan taksi untuk Nona Aluna, Pak? Atau Anda ingin saya menjadwalkan ulang pertemuan Singapura agar Anda bisa mengejarnya?" tanya Clara dengan nada yang sangat membantu, namun matanya memancarkan kilatan yang menunjukkan bahwa ia sangat menikmati kekacauan kecil ini.

Bram menoleh ke arah Clara dengan tatapan yang sulit diartikan. "Diam, Clara. Urus saja tugasmu."

Bram segera berlari menuju tangga darurat, berharap bisa mencegat Aluna di lobi bawah. Ia menyadari bahwa sangkar emas yang ia bangun kini sedang diguncang oleh badai cemburu yang ia ciptakan sendiri, dan "malaikat" kecilnya kini sedang terbang menjauh dengan hati yang hancur karena merasa dikhianati.

1
Lfa🩵🪽
yey akhirnya up lagi 😍😍
ollyooliver🍌🥒🍆
aluna terlalu lemah, dia mudah menujukkan rasa cemburu.
Lfa🩵🪽: semangat update nya Thor 🫶❤️‍🔥
total 2 replies
Hilag
semangatt kak 👍Bram Luna lope
Senja_Puan: siap kak💪
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
mengungkapkan cinta dengan gairah? itu bukan cinta..nafsu iya🙃
Yasa: terlalu terobsesi juga Bram nya. Ngeri sih, kalau ada yang kaya gini di dunia asli.

tapi perbedaan usia 15 tahun, masih oke-oke aja.
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
tiga hari sdh berlalu dan bram bekerja diruang kerjanya bahkan menginzinkan aluna menemaninya..kok baru ketahuan bau parfum clara..mereka flu parah kh🙃 kalau anting" wajar gk keliatan. lalu emng masuk akal clara datang kerumah bram tanpa bram ketahui?🙂
Senja_Puan: 2. Untuk yang Clara, sudah dijelaskan ya Kak. Clara ini cukup 'cerdas' dan 'ngeyel' ya, jadi dia tetap datang walau dilarang. Dan Anwar tetap memperbolehkannya masuk karena tahu dia putri rekannya Bram.
total 4 replies
Anom
team second lead a.k Rio😍
Senja_Puan: wah keren kak, sudah siap memilih akmj
total 1 replies
Anom
waduh disadap
Anom
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!