NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:819
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Krisis di Keluarga Ramiro

Malam di kediaman Ramiro biasanya tenang, sebuah simfoni sunyi yang menandakan kemewahan dan privasi. Namun malam ini, keheningan itu terkoyak oleh suara bariton Zefan yang meninggi dari dalam ruang kerja pribadinya. Pintu jati yang tebal itu tidak mampu meredam amarah dan keputusasaan yang meluap dari sana. Di koridor yang remang-remang, Leah berdiri mematung. Tangannya yang dingin memegang segelas susu hangat, niat awalnya adalah untuk menyapa kakaknya sebelum tidur, namun langkahnya terhenti oleh getaran suara yang belum pernah ia dengar sebelumnya.

"Aku tidak peduli apa alasan mereka! Proyek di Sudirman tidak boleh berhenti! Jika mereka menarik pendanaan sekarang, kita habis!" Zefan berteriak pada seseorang di ujung telepon. Suara hantaman telapak tangan ke meja kerja terdengar seperti ledakan kecil di telinga Leah.

"Dengar, dengarkan aku! Berikan aku waktu satu minggu. Aku akan bicara dengan bank Chevalier. Ya, aku tahu risikonya! Tutup teleponnya sekarang!"

Hening. Sunyi yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan tadi.

Leah mengatur napasnya yang memburu. Bank Chevalier? Apakah itu alasan Jeff begitu percaya diri masuk ke rumah ini dan menghina Denzel seolah-olah dia adalah pemilik nyawa mereka? Apakah kakaknya sedang menggadaikan kebebasan keluarga mereka demi beberapa digit angka di laporan keuangan?

Leah memberanikan diri mendekat. Pintu ruang kerja itu sedikit terbuka, menyisakan celah cahaya yang jatuh ke lantai koridor. Melalui celah itu, Leah melihat Zefan. Kakaknya yang biasanya selalu tampil rapi dengan setelan jas mahal kini tampak hancur. Dasi sudah dilepas paksa, kemejanya kusut, dan rambutnya berantakan karena terus-menerus disisir oleh jemari yang frustrasi. Zefan duduk dengan kepala tertelungkup di atas meja, di kelilingi oleh tumpukan map merah bertanda 'Peringatan'.

Dan di sana, di sudut ruangan yang paling gelap, berdiri Denzel.

Denzel tidak bicara. Ia hanya berdiri diam, menunggu instruksi, namun matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik Zefan dengan kekhawatiran yang mendalam. Di tangannya terdapat segelas air putih dan sebutir obat sakit kepala yang ia letakkan tanpa suara di dekat tangan Zefan.

"Denzel," suara Zefan terdengar serak, hampir seperti bisikan mayat.

"Iya, Tuan Zefan?"

"Apa aku gagal? Apa ayah akan mengutukku dari liang kubur karena membiarkan kerajaan properti ini runtuh?"

Denzel membungkuk sedikit, suaranya tetap tenang dan stabil, kontras dengan badai yang dialami bosnya. "Anda tidak gagal, Tuan. Pasar sedang tidak berpihak pada siapa pun. Anda sudah melakukan lebih dari yang bisa dilakukan orang lain. Kita hanya butuh strategi baru."

Zefan tertawa pahit, sebuah tawa yang terdengar menyakitkan. "Strategi baru? Jeff Chevalier adalah strategi baruku, Denzel. Dia menawarkan suntikan dana melalui konsorsium keluarganya. Tapi kau tahu harganya, bukan? Dia menginginkan Leah. Dia ingin akses penuh untuk menjaga adikku."

Leah yang menguping di balik pintu merasakan jantungnya berhenti berdetak sesaat. Gelas di tangannya bergetar hebat. Jadi, kecurigaannya benar. Jeff bukan hanya sekadar sahabat yang protektif; dia adalah predator bisnis yang memanfaatkan kejatuhan kakaknya untuk mendapatkan dirinya.

"Nona Leah bukan komoditas, Tuan Zefan," ucap Denzel. Suaranya kali ini sedikit lebih tajam, ada nada peringatan yang terselubung. "Anda tahu itu lebih baik dari siapa pun."

"Aku tahu! Tentu saja aku tahu!" Zefan bangkit dari kursinya, berjalan mondar-mandir dengan gelisah. "Tapi jika perusahaan ini bangkrut, Leah tidak akan punya masa depan. Dia akan kehilangan segalanya—kampusnya, rumah ini, keamanannya. Aku mencoba menyelamatkannya dengan cara yang paling pahit yang bisa kubayangkan!"

Zefan berhenti di depan Denzel, mencengkeram bahu asistennya itu dengan erat. "Denzel, kau sudah bersamaku sejak kita tidak punya apa-apa. Kau tahu betapa berartinya Leah bagiku. Tapi lihatlah aku sekarang... aku bahkan tidak bisa membayar bunga bank bulan depan jika proyek ini macet."

Denzel menatap mata Zefan yang memerah. Ia merasakan beban yang luar biasa menindih pundaknya sendiri. Ia ingin mengatakan bahwa ia memiliki solusi, namun ia hanyalah seorang asisten. Hartanya tidak sebanding dengan satu persen kekayaan Jeff Chevalier. Yang ia miliki hanyalah loyalitas dan nyawanya.

"Tuan," Denzel bicara dengan nada yang sangat rendah, "Jika ini soal dana, saya memiliki tabungan selama sepuluh tahun bekerja untuk Anda. Itu tidak banyak, tapi—"

"Simpan uangmu, Denzel!" Zefan memotong dengan kasar, namun matanya berkaca-kaca karena terharu. "Itu tidak akan cukup untuk membayar semen di satu lantai gedung itu. Aku butuh jutaan dolar. Dan Jeff... Jeff adalah satu-satunya pintu yang tersisa."

Zefan melepaskan cengkeramannya, lalu berbalik memunggungi Denzel. "Mulai besok, aku ingin kau lebih ketat menjaga Leah. Bukan hanya dari orang luar, tapi... pastikan dia tidak melakukan hal-hal bodoh yang bisa menyinggung Jeff. Jika Jeff ingin menemuinya, biarkan. Jika Jeff ingin menjemputnya, jangan halangi. Kita sedang berjalan di atas kulit telur, Denzel."

Denzel terpaku. Perintah itu terasa seperti pisau yang ditancapkan tepat ke ulu hatinya. Membiarkan Jeff mendekati Leah? Membiarkan pria yang menghina martabatnya untuk mengklaim wanita yang ia cintai secara diam-diam?

"Tuan Zefan, saya rasa itu—"

"Ini perintah, Denzel! Bukan saran!" Zefan berbalik dengan tatapan otoriter yang jarang ia tunjukkan pada Denzel. "Jaga adikku. Tapi jangan buat Jeff Chevalier marah. Mengerti?"

Denzel menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Mengerti, Tuan."

Di balik pintu, Leah tidak sanggup lagi mendengarkan. Ia berbalik dan berlari menuju kamarnya tanpa suara, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. Ia merasa dikhianati oleh keadaan. Kakaknya yang ia puja sebagai pahlawan kini harus bertekuk lutut pada keangkuhan Jeff. Dan Denzel... Denzel yang ia harapkan menjadi pelindungnya, kini justru diperintahkan untuk membukakan pintu bagi monster itu.

Leah membanting pintu kamarnya, menguncinya, dan melempar dirinya ke atas tempat tidur. Ia merasa tercekik. Ia merindukan masa-masa ketika masalah terbesarnya hanyalah nilai ujian akuntansi yang rendah. Sekarang, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari transaksi bisnis yang kotor.

Sementara itu, di ruang kerja, Denzel masih berdiri di posisi yang sama meski Zefan sudah memintanya keluar. Ia menatap meja kerja yang berantakan itu. Ia mengambil map merah yang terjatuh di lantai, merapikannya dengan telaten.

Pikirannya melayang pada Leah. Ia membayangkan wajah gadis itu jika tahu bahwa kebebasannya sedang dipertaruhkan. Denzel tahu ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa hanya menjadi penonton dalam tragedi ini. Namun, apa yang bisa dilakukan oleh seorang asisten pribadi melawan raksasa seperti keluarga Chevalier?

Denzel berjalan keluar dari ruang kerja Zefan dengan langkah yang berat. Saat ia melewati kamar Leah, ia berhenti sejenak. Ia bisa mendengar isakan kecil dari dalam sana. Tangannya terangkat, ingin mengetuk pintu itu, ingin membisikkan kata-kata penenang bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun, ia teringat perintah Zefan.

Jangan buat Jeff Chevalier marah.

Denzel menurunkan tangannya. Ia mengepalkan jemarinya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit di jiwanya. Ia adalah pelindung yang kini tangannya diikat oleh perintah majikannya sendiri.

Ia berjalan menuju kamarnya yang terletak di paviliun samping. Di sana, di atas meja kecil, terdapat sebuah foto lama—dirinya, Zefan, dan Leah kecil saat mereka baru saja memulai bisnis ini. Denzel mengusap debu di atas bingkai foto itu.

"Aku akan menjagamu, Leah," bisiknya pada keheningan malam. "Meskipun aku harus menjadi penjahat di matamu. Meskipun aku harus membiarkan hatiku hancur berkeping-keping."

Malam itu, krisis keluarga Ramiro bukan hanya soal angka dan aset properti yang merosot. Krisis yang sesungguhnya adalah tentang kepercayaan yang mulai retak dan cinta yang terpaksa dikorbankan di atas altar kebutuhan. Di bawah langit yang sama, di kediamannya yang mewah, Jeff Chevalier sedang tersenyum sambil menatap kontrak pendanaan yang sudah ia siapkan—kontrak yang akan mengunci takdir Leah Ramiro selamanya dalam genggamannya.

Badai besar baru saja dimulai, dan Denzel Shaquille tahu, ia harus menjadi karang yang lebih kuat dari sebelumnya, bahkan jika ia harus tenggelam di bawah amukan ombak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!