NovelToon NovelToon
Poena

Poena

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#30

Rumah Sakit St. Mary’s mulai tenggelam dalam kesunyian malam. Lampu-lampu di koridor diredupkan, menyisakan pendar pucat yang dingin. Di kamar VIP nomor 402, Nikolas Martinez terjaga. Napasnya masih terdengar pendek, dibantu oleh desisan halus dari masker oksigen yang menempel di wajahnya.

Pikirannya adalah sebuah labirin yang kacau. Seminggu tanpa informasi terasa seperti siksaan fisik bagi Nik. Setiap kali ia bertanya tentang Salene, semua orang—Mommy, Dion, Clark—memberikan jawaban yang terlalu rapi, terlalu sinkron, seolah mereka sedang membaca naskah yang sama.

“Dia di New York, Nik. Dia sedang belajar.”

Kebohongan itu mulai terasa amis di telinga Nik. Ia adalah seorang mekanik; ia tahu kapan sebuah mesin sedang dipaksa bekerja, dan ia tahu kapan sebuah cerita sedang dipaksakan untuk dipercaya.

Kesempatan itu datang saat seorang perawat muda masuk untuk mengganti cairan infus Nik. Perawat itu tampak terburu-buru, dan saat ia membungkuk untuk memeriksa selang, ponselnya yang diletakkan di atas nampan medis tertinggal ketika ia dipanggil oleh rekan sejawatnya melalui interkom.

Dengan gerakan gemetar—otot-otot lengannya masih terasa sangat lemah akibat atrofi selama lima tahun—Nikolas meraih ponsel itu. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya yang masih rapuh. Ia menyembunyikan ponsel itu di balik selimut tebalnya.

Layar ponsel itu menyala. Tidak ada kata sandi. Keberuntungan yang pahit.

Jari Nik yang kurus dan pucat gemetar saat menyentuh ikon peramban Google. Ia menarik napas dalam, merasakan sesak yang mulai menghimpit paru-parunya. Dengan napas tersengal, ia mengetik nama yang selama lima tahun ini menjadi satu-satunya alasan otaknya tetap berfungsi di alam bawah sadar.

S-A-L-E-N-E L-U-M-I-E-R-E.

Nik menekan tombol cari. Ia mengharapkan artikel tentang pameran seni di Manhattan, atau mungkin profil mahasiswi berprestasi di New York University. Namun, algoritma internet di tahun 2026 memberikan hasil yang jauh berbeda.

Mesin pencari itu memberikan saran otomatis: “Did you mean: Salene Johnson?”

Darah Nik seolah berhenti mengalir. Sebuah guncangan hebat menghantam kesadarannya. Johnson? Siapa Johnson?

Ia menekan hasil pencarian teratas. Halaman pertama dipenuhi oleh berita-berita dari majalah sosialita kelas atas, Vogue, dan Daily Mail.

“Pernikahan Abad Ini: Salene Lumiere dan Taylor Johnson Menikah di Paris.”

“Salene Johnson: Menemukan Kebahagiaan di California Bersama Sang Suami.”

Nikolas merasakan dunianya berputar. Ia menggulir layar dengan napas yang semakin tidak beraturan. Masker oksigennya mulai berembun karena napasnya yang memburu.

Foto pertama muncul. Sebuah foto pernikahan yang sangat megah. Salene berdiri di depan gereja katedral di Paris. Ia mengenakan gaun pengantin putih yang sangat indah, begitu elegan, namun matanya... Nik mengenal mata itu. Mata itu tampak kosong, sama kosongnya dengan porselen yang kehilangan jiwanya. Di sampingnya berdiri seorang pria tampan berambut pirang dengan setelan tuksedo yang sempurna. Taylor Johnson.

“Tidak... tidak mungkin...” bisik Nik. Suaranya pecah, tenggelam oleh bunyi bip mesin monitor jantung yang mulai berdetak lebih cepat. Bip. Bip. Bip.

Nik terus menggulir. Ia butuh jawaban. Ia butuh ini semua menjadi sebuah kesalahan teknis. Namun, foto berikutnya menghancurkan sisa-sisa pertahanannya.

Sebuah foto yang diambil Beberapa bulan lalu. Salene duduk di balkon sebuah mansion mewah yang menghadap ke laut lepas. Ia tidak lagi terlihat kurus dan pucat. Ia tampak cantik, matanya lebih hangat, dan ia sedang menggendong seorang bayi laki-laki yang mungil.

“Salene Johnson Memperkenalkan Putra Pertamanya: Axel ‘Baby A’ Johnson.”

Nikolas merasakan dadanya seperti dihantam oleh palu godam. Anak? Salene memiliki anak?

Di layar itu, Salene tampak mencium kening bayi itu dengan penuh kasih sayang. Ada foto lain di mana Taylor Johnson merangkul pinggang Salene, dan mereka bertiga tampak seperti keluarga kecil yang paling bahagia di dunia.

Kenyataan itu menghujam Nik lebih dalam daripada kecelakaan truk lima tahun lalu. Selama ini, saat ia berjuang di ambang kematian, saat otaknya membangun delusi indah tentang janji di depan altar, Salene ternyata sudah membangun altar itu dengan pria lain.

Salene tidak di New York untuk study. Salene tidak sedang menunggunya.

Salene sudah melangkah pergi. Salene sudah disentuh oleh pria lain. Salene sudah melahirkan kehidupan baru yang tidak melibatkan namanya sama sekali.

BIP! BIP! BIP! BIP!

Mesin monitor jantung berbunyi sangat nyaring. Grafik di layar menunjukkan lonjakan yang tidak normal.

Nikolas menjatuhkan ponsel itu ke lantai. Ia mencengkeram sprei rumah sakit dengan tangan gemetar. Rasa sesak yang luar biasa menghimpit paru-parunya. Masker oksigen itu terasa seperti mencekiknya. Ia menarik masker itu hingga lepas, mencoba menghirup udara secara langsung, namun yang masuk hanyalah rasa sakit yang membakar.

“Sal...” rintih Nik. Air mata pertamanya dalam lima tahun ini jatuh, membasahi pipinya yang cekung.

Setiap potongan memori tentang janji di balkon markas kini terasa seperti racun. “Semoga cinta kita sampai pada janji di depan altar, Sal.” Janji itu ditepati, tapi bukan dengannya.

Hancur. Nikolas Martinez hancur berkeping-keping. Bukan fisiknya, tapi jiwanya. Ia merasa bodoh karena telah bangun. Ia merasa dikhianati oleh waktu, dikhianati oleh takdir, dan dikhianati oleh satu-satunya orang yang ia percayai.

Pintu kamar terbuka dengan keras. Raquel, Mommy Nik, masuk dengan wajah pucat diikuti oleh dua orang perawat. Mereka melihat ponsel yang tergeletak di lantai dan Nikolas yang sedang berjuang bernapas dengan wajah yang basah oleh air mata kehancuran.

“Nik! Nikolas! Tenang, Nak! Pakai maskernya!” teriak Raquel histeris. Ia segera memungut ponsel itu dan melihat layar yang masih menyala, menampilkan wajah Salene dan Taylor Johnson.

Raquel menutup mulutnya, air matanya tumpah. Rahasia itu telah terbongkar dengan cara yang paling kejam.

“Kenapa, Mom...?” tanya Nik dengan suara yang hampir habis. Matanya yang merah menatap ibunya dengan luka yang sangat dalam. “Kenapa kalian berbohong? Kenapa membiarkan aku bangun untuk melihat ini?”

“Maafkan Mommy, Nik... maafkan kami...” tangis Raquel sambil mencoba memasangkan kembali masker oksigen ke wajah Nik.

Nikolas menggeleng lemah. Ia tidak lagi peduli pada oksigen. Ia tidak lagi peduli pada rehabilitasi berjalan minggu depan. Untuk apa ia belajar berjalan jika tujuannya telah hilang? Untuk apa ia bernapas jika udara di dunia ini sudah tidak lagi menyisakan ruang untuknya?

“Dia... dia punya bayi, Mom...” bisik Nik. Napasnya mulai pendek, matanya perlahan mulai meredup karena syok yang luar biasa pada sistem sarafnya. “Dia punya anak... dia sudah bahagia.”

Nikolas merasakan kegelapan mulai merayap kembali di sudut matanya. Kali ini, ia tidak ingin melawannya. Ia ingin kembali ke dalam koma. Ia ingin kembali ke dalam mimpi di mana Salene masih menunggunya dengan air lemon dan jaket kulitnya.

Tubuh Nikolas melemas. Mesin monitor jantung mengeluarkan bunyi satu nada panjang yang mengerikan. BIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIP.

“DOKTER! CEPAT! DIA BERHENTI BERNAPAS!”

Di tengah kekacauan itu, di lantai rumah sakit yang dingin, foto di ponsel itu masih menyala. Menampilkan wajah Salene yang tersenyum di California, sementara di London, pria yang pernah menjadi seluruh dunianya baru saja menyerah pada detak jantungnya sendiri karena patah hati yang tak tertahankan.

Kebebasan yang ia dambakan—Rhyddid—ternyata bukan tentang bangun dari koma. Tapi tentang bagaimana melepaskan seseorang yang sudah tidak lagi berada di pelukannya. Dan malam itu, Nikolas Martinez belajar bahwa kebebasan adalah hal yang paling menyakitkan di dunia.

1
winpar
thorrrrr update lgi plissssss
Ros🍂: Ashiappp kak🙏🥰
total 1 replies
ren_iren
sukaknya bikin huru hara dirimu kak.... 🤭😁😂
Ros🍂: Auuuw🥰🤣
total 1 replies
winpar
terus kk 💪💪💪💪
Ros🍂: Ma'aciww kak🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!