Lana hanyalah gadis desa bersahaja yang membawa koper tua ke ibu kota demi sebuah cita-cita. Namun, ia tak menyangka bahwa beasiswa dari paman jauhnya datang dengan "syarat" tak tertulis: tinggal satu atap dengan tujuh pria elit di sebuah penthouse mewah.
Arka sang CEO dingin, Bumi si dokter lembut, hingga Kenzo sang aktor idola—ketujuh sahabat ini memiliki dunia yang terlalu berkilau bagi Lana. Awalnya ia dianggap gangguan, namun perlahan kepolosan Lana memicu persaingan panas di antara mereka. Saat perjanjian persahabatan mulai retak demi satu cinta, siapakah yang akan Lana pilih? Ataukah ia hanya bidak dalam permainan para Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Film Malam dan Remote Tak Dikenal
Malam di Jakarta selalu tampak lebih hidup dari ketinggian lantai lima puluh lima. Kerlip lampu kendaraan di bawah sana terlihat seperti barisan semut api yang tidak pernah tidur. Di dalam penthouse, suasana jauh lebih tenang. Arka sedang sibuk dengan berkas di ruang kerjanya, sementara Bumi baru saja berangkat untuk tugas malam.
Lana duduk sendirian di sofa raksasa ruang keluarga. Ia ingin menonton berita atau mungkin sekadar mencari hiburan, tapi matanya tertuju pada sebuah benda panjang berwarna perak mengilap yang terletak di atas meja kopi marmer. Bentuknya sangat minimalis, hanya ada satu lingkaran besar di tengah dan tiga tombol kecil di bawahnya. Tidak ada angka 1 sampai 9 seperti remote TV di balai desa.
"Ini beneran remote TV? Kok nggak ada angkanya?" gumam Lana.
Ia menoleh ke depan, ke arah dinding kosong yang sangat luas. Tidak ada kotak televisi hitam besar di sana. Hanya ada dinding putih bersih dengan tekstur elegan. Lana semakin bingung. Ia mengambil remote perak itu, mencoba membolak-baliknya.
"Apa televisinya diumpetin ya? Takut dicuri maling?" pikir Lana polos.
Lana mencoba menekan tombol lingkaran di tengah remote tersebut. Tit!
Tiba-tiba, suara dengung halus terdengar dari langit-langit. Sebuah kain putih raksasa perlahan-lahan turun dari celah plafon, membentang lebar menutupi hampir seluruh dinding depan. Di saat yang sama, sebuah kotak hitam kecil di belakang sofa mengeluarkan sinar biru yang sangat terang, menembak ke arah kain putih tersebut.
"Aduh! Ada layar hantu jatuh dari langit-langit!" pekik Lana kaget. Ia refleks menjatuhkan remote itu ke lantai dan meringkuk di pojok sofa, menutupi kepalanya dengan bantal. "Tolong! Kak Arka! Kak Jeno! Rumahnya mau roboh!"
"Woi! Gila! Lo kenapa lagi sih, Lan? Teriak kayak liat kecoa raksasa aja!"
Jeno muncul dari arah dapur dengan sekaleng soda di tangan kirinya dan sebungkus besar keripik kentang impor di tangan kanannya. Ia tertawa terbahak-bahak saat melihat Lana yang gemetaran di balik bantal, sementara layar proyektor sudah menyala menampilkan logo aplikasi streaming film.
"Hahaha! Sumpah ya, Lan! Lo itu komedi banget!" Jeno meletakkan camilannya di meja dan mengambil remote yang dijatuhkan Lana. "Layar proyektor turun aja lo kira kiamat. Gak asik banget lo, beneran!"
Lana mengintip sedikit dari balik bantal. "Itu... itu televisi, Kak Jeno? Kok tipis banget kayak kain jemuran?"
Jeno menarik tangan Lana agar duduk tegak kembali. "Ini namanya Smart Projector dengan layar otomatis, Lan. Hari gini siapa yang masih pakai TV tabung yang pantatnya gede itu? Kuno tau nggak!"
Jeno duduk di samping Lana, sangat dekat hingga bahu mereka bersentuhan. Ia menyodorkan remote perak tadi ke tangan Lana. "Sini lo, deketan. Gue ajarin cara 'jinakin' remote ini. Jangan lo lempar lagi, harganya bisa buat beli motor seken di desa lo."
Lana menerima remote itu dengan jari-jari yang masih sedikit gemetar. "Maafin Lana, Kak Jeno. Lana kaget, tiba-tiba ada yang turun dari atas. Lana pikir plafonnya copot."
"Dih, parnoan banget sih lo," ledek Jeno sambil nyengir. Ia memegang tangan Lana yang sedang memegang remote. "Dengerin gue. Lingkaran ini namanya scroll wheel. Lo nggak usah pencet-pencet angka kayak mau main kalkulator. Lo tinggal usap-usap aja jempol lo di sini buat milih film. Kayak gini nih."
Jeno menuntun jempol Lana untuk mengusap permukaan lingkaran perak itu. Di layar raksasa di depan mereka, kotak-kotak poster film mulai bergeser dengan sangat cepat dan mulus. Lana terpana melihat gambar-gambar yang begitu jernih dan besar.
"Wah! Gambarnya gede banget, Kak! Kayak di bioskop yang pernah Lana liat di koran!" seru Lana takjub.
"Emang ini bioskop pribadi gue, Lan," sombong Jeno. "Nah, sekarang lo pilih. Mau nonton apa? Horor? Action? Atau lo mau nonton kartun bocil?"
"Lana mau nonton yang ada pemandangan alamnya aja, Kak. Yang ijo-ijo biar adem," usul Lana malu-malu.
Jeno mencari kategori dokumenter alam. "Yaudah, ini aja nih, 'Our Planet'. Gambarnya 4K, lo bisa liat semut lagi kawin saking jernihnya."
Jeno menekan tombol tengah. Seketika, suara musik yang sangat megah menggelegar dari seluruh sudut ruangan. Lana kembali terlonjak, tangannya refleks mencengkeram lengan Jeno yang berotot.
"Suaranya... suaranya di belakang telinga Lana, Kak! Ada orang sembunyi di belakang sofa ya?!" tanya Lana dengan mata membulat ketakutan.
Jeno tertawa lagi, kali ini ia tidak melepaskan tangan Lana yang mencengkeram lengannya. "Itu namanya Surround Sound 7.1, nyet! Speakernya ada di mana-mana, di plafon, di tembok, di bawah meja. Biar lo ngerasa ada di dalem filmnya. Udah, diem lo, nggak usah takut. Kan ada gue di sini."
Jeno meraih bungkus keripik kentang dan menyodorkannya ke arah Lana. "Nih, makan. Nonton dokumenter alam sambil makan keripik itu vibes-nya juara dunia."
Lana mulai tenang. Ia mencicipi keripik itu. "Enak banget, Kak! Tapi bumbunya aneh, nggak kayak keripik singkong di desa."
"Iyalah, ini impor dari Jepang. Harganya seratus ribu satu bungkus kecil gini," ucap Jeno santai sambil terus mengunyah.
Mereka menonton dalam diam selama beberapa menit. Layar menampilkan pemandangan hutan hujan tropis yang sangat indah. Lana benar-benar terpesona. Sesekali ia menunjuk ke layar dengan penuh semangat saat melihat burung berwarna-warni.
"Kak Jeno, makasih ya udah sabar banget ngajarin Lana yang bego ini," bisik Lana tulus. Ia menoleh ke arah Jeno yang ternyata sedang menatapnya, bukan menatap layar.
Jeno tertegun. Di bawah cahaya biru dari proyektor, wajah Lana tampak sangat lembut. Mata gadis itu berkilau mencerminkan pemandangan hutan di layar. Jeno merasakan jantungnya berdegup tidak beraturan. Ia, yang biasanya lincah dan cerewet saat bermain game, mendadak merasa lidahnya kelu.
"Gue... gue kan udah bilang, Lan. Di sini lo nggak usah ngerasa bego. Lo cuma butuh adaptasi aja," gumam Jeno, suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya. "Lagian, kalau lo nggak ada, gue nggak punya temen nonton yang ekspresinya selucu lo."
Jeno memberanikan diri. Ia merangkul bahu Lana, menarik gadis itu agar bersandar di pundaknya. "Udah, lo sandaran aja di sini. Sofa ini emang didesain buat pacar—maksud gue, buat santai."
Lana tidak menolak. Ia merasa pundak Jeno sangat nyaman. Bagi Lana, Jeno adalah kakak yang paling seru dan selalu bisa membuatnya tertawa. Ia menghirup aroma tubuh Jeno yang seperti wangi sabun jeruk dan sisa kopi.
"Kak Jeno wangi ya," celetuk Lana polos.
Wajah Jeno langsung memerah padam. "Dih, apa sih lo! Gak asik banget tiba-tiba muji wangi. Semua cowok di rumah ini juga wangi kali, Lan. Kita nggak pakai minyak nyong-nyong kayak dukun."
Lana tertawa kecil, suara tawa yang membuat hati Jeno semakin tidak keruan. Jeno menunduk, menatap puncak kepala Lana. Ia merasa ingin melindungi gadis ini dari apa pun, termasuk dari teman-temannya sendiri yang ia tahu diam-diam juga mulai menaruh hati pada Lana.
Tiba-tiba, Kenzo muncul dari arah koridor, sudah rapi dengan pakaian mewahnya, mungkin mau pergi ke acara pesta. Ia berhenti sejenak saat melihat Jeno dan Lana yang berduaan di sofa dalam keadaan lampu redup.
"Wih, si bocah game lagi simulasi pacaran ya?" ledek Kenzo sambil memperbaiki tatanan rambutnya di depan cermin besar. "Gak asik lo, Jen. Nyolong kesempatan pas Arka lagi sibuk."
Jeno langsung melepaskan rangkulannya, wajahnya salah tingkah. "Apaan sih lo, Ken! Julid banget jadi orang! Lana tuh kepanasan, makanya gue ajak nonton biar adem!"
Kenzo terkekeh sinis. "Kepanasan tapi nempel kayak perangko. Hebat juga alasan lo." Kenzo berjalan mendekati mereka, lalu mengacak rambut Lana dengan gemas. "Lan, jangan percaya sama Jeno. Dia itu buaya darat versi digital. Nanti kalau lo diajak main game terus kalah, lo disuruh bayar pakai ciuman loh."
"Ih! Kak Kenzo bohong ya?" seru Lana kaget.
"Bercanda, sayang," ucap Kenzo sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Jeno hampir melempar remote peraknya ke arah Kenzo. "Gue cabut dulu ya. Jen, jagain dia. Kalau lecet, Arka bakal hapus akun E-Sport lo selamanya."
Kenzo pergi sambil bersiul santai. Jeno mendengus kesal, namun ia kembali menatap Lana yang tampak bingung dengan ucapan Kenzo tadi.
"Jangan dengerin si Kenzo, Lan. Dia itu aktor, hidupnya penuh drama," ucap Jeno sambil mencoba menenangkan diri. "Udah, lanjutin nontonnya. Kalau lo ngantuk, tidur aja di sini. Gue bakal jagain lo sampai filmnya habis."
Lana mengangguk, lalu kembali menyandarkan kepalanya di pundak Jeno. Di tengah kemewahan home theater yang canggih itu, Lana merasa sangat aman. Ia tidak peduli seberapa rumit remote televisinya, selama ada Jeno yang bersedia menuntun jarinya. Sementara bagi Jeno, malam itu adalah skor tertinggi yang pernah ia raih dalam hidupnya—bukan di dalam game, melainkan di dunia nyata bersama gadis yang kini tertidur pulas di pundaknya.