Queenza Celeste tidak pernah menyangka suami yang selama ini dia cintai, tega menduakan cintanya. Di detik terakhir hidupnya dia baru sadar jika selama ini Xavier hanya memanfaatkan dirinya saja untuk menghancurkan keluarganya. Saat Queenza terbangun kembali, dia memutuskan untuk membalas semuanya.
Bagaimana kisah selengkapnya? Simak kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tujuh. Bertemu Keluarga
Blake mengcengkeram ponselnya dengan erat. Matanya berkilat tajam. Sudah lama Queen tidak menghubungi dirinya, tetapi sekarang dia meneleponnya, pasti Xavier telah melakukan hal yang buruk pada adiknya.
"Apakah adikmu menghubungimu? Ada apa dengannya?" Martin sahabat dekat Blake bertanya.
"Aku tidak tahu, dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku." Blake kembali duduk. Dia mengambil gelas minumannya dan langsung meneguk habis isinya.
"Sudah dua tahun berlalu, tapi baru sekarang dia menghubungimu. Ku rasa dia sedang tidak baik-baik saja. Mengingat bagaimana dia dulu menentangmu dan juga ayahmu hanya demi membela laki-laki itu."
Blake mengangguk. Ucapan Martin ada benarnya. Memang sejak mengenal laki-laki itu, sikap Queen perlahan berubah. Dia menjadi mudah tersinggung dan selalu menentang keluarganya sendiri. Padahal dulunya dia tidak pernah seperti itu.
Martin mengisi lagi gelas Blake dengan minuman. Blake pun segera meneguk isinya. Setelah Queen menghubunginya, hatinya seketika menjadi kacau. Dia begitu menyayangi adiknya itu, tetapi demi orang luar, Queen berani menentangnya dan juga ayahnya hingga membuat ayahnya jatuh sakit.
Blake sebenarnya masih merasa kecewa terhadap Queen, tetapi dia juga tidak bisa marah pada gadis itu begitu saja. Apalagi sejak kecil mereka selalu bersama. Blake selalu menjaga dan melindungi adik satu satunya itu.
Selama ini dia tidak menghubungi Queen duluan karena dia pikir Queen membenci dirinya, tapi hari ini dia merasa sepertinya sudah sangat keterlaluan membiarkan adiknya berjuang sendirian.
Malam itu, Blake kembali ke kediamannya dengan kondisi mabuk berat. Martin dan Andreas asisten Blake memapah pria itu memasuki kamar.
Setelah menghubungi kakaknya, Queen berbaring. Setelah kejadian di masa lalu, dia kesulitan untuk tidur. Setiap memejamkan mata, Queen akan merasa seperti kehabisan napas. Queen hampir memejamkan matanya saat tiba-tiba Xavier masuk ke dalam. Queen seketika menjadi waspada. Mengingat masa lalunya dimana Sofia tewas tanpa dia tahu. Kini naluri Queen semakin tajam.
Xavier terkejut melihat Queen belum tidur. Dia yang awalnya ingin mencuri perhiasan milik Queen, akhirnya mengurungkan niatnya.
"Kamu tidak tidur?"
"Belum mengantuk," jawab Queen tak acuh. Dia berbaring menyamping memunggungi Xavier.
"Masih marah?"
"Tidak."
Xavier lantas berbaring di belakang Queen. Dia memeluk istrinya itu dengan erat. Queen mengepalkan tangannya. Dia merasa hina disentuh oleh suaminya. Namun, dengan sekuat tenaga dia menahan perasaan jijiknya.
Xavier memeluk Queen dengan harapan perempuan itu segera tidur. Akan tetapi, semuanya buyar karena tangisan putrinya. Queen segera bangun dan mengangkat Sofia. Xavier mendengus kesal. Dia pun memutuskan untuk menunda rencananya. Pria itu memilih tidur karena kebutuhan biologisnya telah terpenuhi. Queen melirik Xavier dengan ekspresi penuh penghinaan.
Keesokan harinya, Mia pergi tanpa berpamitan pada Queen. Tadi dia sudah mendapat pesan dari Xavier agar pulang terlebih dulu karena dia belum berhasil mengambil perhiasan milik Queen. Mia akhirnya pulang dengan kesal.
Sementara itu, Xavier dan Queen sedang sarapan. Xavier tiba-tiba bertanya tentang Mia.
"Apakah Mia mengalami kesulitan lagi? Mengapa dia pulang tanpa berpamitan padamu? Apakah dia marah? Tetapi kenapa?"
Tangan Queen yang sedang mengolesi roti dengan selai seketika berhenti. Dia menatap Xavier dengan mata menyipit. Queen tersenyum miring. Dia merasa akting Xavier benar-benar sempurna. Jika dia menjadi aktor, dia layak mendapat penghargaan.
"Kenapa kamu menanyakannya? Apakah kamu begitu peduli padanya?"
Xavier mendadak merasa gugup karena ditatap seperti itu oleh Queen. Dia berdehem sebelum kembali menjelaskan. "Yah, bagaimana pun juga kamu menempatkannya sebagai sekertarisku, dan dia juga sahabatmu. Sebagai atasannya aku hanya penasaran saja." Xavier terlihat salah tingkah saat menjelaskan alasannya.
Namun, tak lama dia kembali menambahkan kata-katanya, "Apakah dia mungkin benar-benar sedang mengalami kesulitan? Kamu tidak membantunya? Akhir akhir ini aku merasa dia bersikap agak aneh. Mungkin dia benar-benar memerlukan pertolongan."
Queen meletakkan rotinya dan menatap Xavier dengan serius. "Apa kamu tahu, terakhir kali dia memerlukan bantuan ku, dia datang meminjam kalungku seharga 20 ribu dollar. Dia berkata akan mengembalikannya padaku, tetapi dia lalu tidak pernah muncul lagi memberi kabar. Sekarang dia datang lagi dan ingin meminjam lagi. Aku bukan badan amal, Xavier.
Saat ia ingin meminjam dia bahkan tidak menyebutkan kalungku yang sebelumnya, tetapi saat aku tidak memberikannya, dia menuduhku perhitungan. Aku juga punya perasaan, Xavier. Jika kamu merasa kasihan padanya, kamu bisa meminjamkan uangmu. Lagi pula aku sudah lama menyarankan ia untuk melaporkan ayahnya pada polisi, tetapi dia tidak mau. Dia lebih suka disakiti dan diperas."
"Mungkin dia memiliki pemikiran lain. Bagaimana pun juga itu ayah kandungnya," ujar Xavier seolah membela Mia.
"Ya itu haknya jika dia memiliki pemikiran lain dan aku juga berhak untuk menolak membantunya. Oh, kenapa tidak kamu saja yang membantunya? Siapa tahu dia akan menganggapmu sebagai pahlawannya."
Xavier tidak menyangka Queen akan bersikap dingin terhadapnya. Namun, jika dia terus membicarakan hal ini, kemungkinan besar dia akan membuat Queen marah lagi. Queen meletakkan garpu dan pisaunya. Ia lantas berdiri meninggalkan ruang makan.
Sebuah kilatan membunuh melintas di mata Xavier. 'Kamu tunggu saja, Queen. Setelah aku dan Mia berhasil menguras seluruh hartamu dan menghancurkan keluargamu, aku akan membunuhmu dan bayi sialan itu.'
Xavier lantas pergi ke perusahaan, tanpa berpamitan pada Queen. Melihat mobil Xavier pergi, Queenza menghela napas lega. Ia lantas menggendong Sofia dan mengambil tasnya yang sudah dia persiapkan sejak semalam.
Queen sudah memesan taksi sebelum keluar rumah tadi. Begitu taksi datang, Queen segera pergi. Supir taksi ingin membantu Queen menaikkan tasnya, tetapi Queen menolak. Dia memang agak kewalahan, tetapi dia bisa melakukan semuanya sendiri.
Queen hendak menuju rumah sakit, tetapi pesan dari Blake membuatnya langsung putar arah. Rupanya Blake membawa ayahnya pulang ke rumah.
Mungkin kakak dan juga ayahnya memikirkan resiko dirinya yang membawa Sofia. Seulas senyum getir menghiasi wajahnya.
Tiba di depan kediaman yang begitu megah, taksi yang ditumpangi Queen berhenti. Seorang kepala pelayan menyambut kedatangan Queen dengan wajah penuh senyum.
"Nona, sudah lama sekali anda tidak pulang. Bagaimana kabar anda?" Pria paruh baya itu menyambut Queen dengan senyum paling ramah.
"Aku baik, paman Issac. Bagaimana kabarmu?"
"Saya juga baik-baik saja, Nona."
Kepala pelayan itu membantu membawakan tas milik Queen. Saat memasuki kediamannya, Langkah Queen terhenti. Sederet kenangan tiba-tiba menyeruak di pikirannya. Queen menarik napas panjang. Dia sengaja melirik ke atas agar air matanya tidak jatuh.
"Kamu sudah sampai?" Suara Blake begitu lembut terdengar di telinga Queenza. Meski semalam dia pulang dalam keadaan mabuk berat, tetapi demi menyambut adiknya, dia langsung mengusir rasa mabuk itu. Queenza menatap ke arah kakaknya, air mata yang semula dia tahan akhirnya luruh juga. Kemudian Queen segera berlari memeluk kakaknya.
"Kakak."
"Selamat datang, Queen. Selamat datang kembali ke rumah ini." Blake mencium puncak kepala Queen berkali-kali, seolah menyalurkan semua kerinduannya selama dua tahun belakangan.
Blake segera mengurai pelukannya, ia khawatir pada keponakan kecilnya yang terlihat masih tampak rapuh.
Sofia masih terlelap di dekapan Queenza. Gadis kecil itu seolah tidak terganggu dengan suasana sendu di rumah itu.
"Ayo kita temui ayah."
Blake berjalan di samping Queen, mereka naik untuk bertemu dengan ayahnya.
Begitu tiba di depan kamar ayahnya, Queen segera memanggilnya, "Pah."
Tuan Allan yang sedang duduk di kursi roda langsung menoleh. Dia tersenyum seperti biasanya, seolah melupakan rasa sakit hatinya karena dimusuhi oleh putrinya sendiri selama dua tahun terakhir ini.
Queenza berjalan mendekati kursi roda dan lalu bersimpuh di bawah kaki ayahnya. "Pah, maafkan aku. Aku terlalu jahat padamu selama ini."
Tuan Allan mengangguk dengan mata memerah. Bibirnya terisak lirih, ia bisa merasakan rasa bersalah putrinya yang begitu besar terhadapnya. Dengan lembut tuan Allan menepuk lembut puncak kepala Queen.
Sofia tiba-tiba merasa gelisah, mungkin dia merasakan emosi Queenza, sehingga tak lama gadis mungil itu pun menangis dengan kencang.
"Ada apa dengan cucuku? Apakah kamu tadi melemparkan diri terlalu kencang sehingga membuat dia terbentur dan kesakitan?" tuan Allan bertanya dengan nada cemas.
Queen tersenyum dan menggeleng, "Tidak apa-apa, Pah. Dia memang tidak suka mendengar aku menangis."
"Kalau begitu jangan menangis." Tuan Allan membungkuk sambil mengusap air mata Queen.
Blake hanya diam menatap adiknya dengan ekspresi rumit di wajahnya. Queenza berdiri dan menurunkan Sofia di atas ranjang ayahnya. Blake dan Tuan Allan sama-sama menatap Sofia dengan tatapan penuh kasih.
Tuan Allan menatap Queen untuk sesaat. Dia seperti ingin bertanya pada putrinya, tetapi ragu. Queen mengangkat pandangannya dan berkata, "Apa yang ingin papa tanyakan padaku?"
"Apakah rumah tanggamu baik baik saja?" Queenza tersenyum. Namun, senyum itu terasa sangat getir.
"Apa yang bisa aku harapkan dari pernikahan tanpa restu keluarga?" Queen menghela napas berat sebelum kembali berkata, "Pah, Kak, hari ini aku datang kepada kalian sebagai seorang anak yang sangat berdosa, aku telah menerima karmaku sendiri. Aku ditindas oleh suamiku. Ia ternyata tidak sebaik yang aku kira. Dia berselingkuh dengan sahabat baikku."
"Apa? Ba*ingan itu berani menyakitimu?" Blake mengepalkan tinjunya. Dia ingin menghajar Xavier saat ini juga. "Aku sudah menduganya, seharusnya sejak awal kamu tidak membiarkan perempuan itu bekerja dengan suamimu. Tenang saja, aku akan membuat mereka menyesal sudah menyakitimu," kata Blake penuh emosi.
"Kak, aku datang kemari bukan untuk meminta bantuan kalian. Aku ke sini hanya ingin memberitahumu, jika dalam waktu dekat ini, mungkin Bryan Lewis dari perusahaan Grup Lewis akan mengajukan kerja sama dengan perusahaan kita. Kakak harus menerimanya dan biarkan Xavier menangani proyek kerja sama ini."
"Bryan Lewis? Kamu ... apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu justru membiarkan Xavier menangani proyek besar? Jika sampai proyek ini gagal, konsekuensinya perusahaan kita tidak akan bisa menanggungnya."