Apa jadinya jika seorang Scientist Gila mendapatkan Sistem Pertanian?
Elena adalah seorang ilmuwan kimia gila yang mati dalam ledakan laboratorium dan terbangun di tubuh gadis desa yang tertindas. Berbekal "Sistem Petani Legendaris", ia tidak lagi bermain dengan cairan asam, melainkan dengan cangkul dan benih ajaib. Di tangan seorang jenius gila, ladang pertanian bukan sekadar tempat menanam padi, melainkan laboratorium maut yang bisa mengguncang kekaisaran!
Ingin mencuri hasil panennya? Bersiaplah menghadapi tanaman karnivora dan ledakan reaksi kimia di ladangnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
telulikur (23)
Feng Shura menahan napas bukan karena sedang meditasi, tapi karena menahan tawa saat ia menurunkan "Buruh Tani Lanjutan" Han Jia dari atap kandang ayam. Gadis jenius itu kini memiliki beberapa helai bulu ayam yang menempel di rambutnya, merusak citra ilmuwan agungnya.
"Jangan tertawa, Shura," ancam Han Jia sambil membersihkan bajunya dengan kasar. "Itu tadi adalah kesalahan kalkulasi koordinat spasial akibat... emmm... akibat angin yang terlalu kencang!"
"Tentu, Profesor. Anginnya memang nakal," jawab Shura sambil menyeringai.
Han Jia mendengus, lalu duduk di bangku kayu reyot di depan gubuk. "Sudah cukup main-mainnya. Hera! Tampilkan saldo akhirku! Aku menderita selama dua hari, aku ingin melihat bayaran yang setimpal!"
Sebuah layar hologram emas muncul di depan Han Jia, menampilkan rincian hadiah misi kultivasi mereka.
[Laporan Penyelesaian Misi: Sinkronisasi Bio-Energi]
[Hadiah Poin Pengalaman (XP): +5.000 XP]
[Hadiah Mata Uang:]
- Poin Sistem: 500 Poin
- Uang Tunai: 50 Tael Perak (Tersimpan di Inventaris)]
Mata Han Jia melotot menatap angka itu. Hening sejenak.
"Lima ratus?" suara Han Jia bergetar pelan.
"Hanya... lima ratus poin?"
Shura ikut mengintip. "50 Tael Perak itu lumayan banyak, Han Jia. Kita bisa membeli beras untuk setahun."
"Beras?!" Han Jia berdiri dan menggebrak meja (yang untungnya tidak patah karena dia sudah menahannya dengan hati-hati). "Shura, untuk membangun laboratorium standar saja aku butuh alat sentrifugasi yang harganya 10.000 Poin! Dengan 500 poin ini aku cuma dapat apa? Tabung reaksi bekas?!"
Han Jia menunjuk layar itu dengan berang. "Hera! Jelaskan padaku! Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan akumulasi kapital yang masif?! Kalau cuma mengandalkan misi harian menanam padi, aku baru bisa jadi Master saat aku sudah jadi fosil!"
Hera muncul, kali ini mengenakan kacamata berantai emas dan memegang sempoa digital, bergaya seperti bendahara judes.
"Profesor, harap tenang. Misi utama memang memberikan hadiah standar. Namun, ada fitur 'Penghasilan Sampingan' yang sangat menguntungkan."
"Apa itu? Katakan!" desak Han Jia.
"Fitur: Perdagangan Flora dan Fauna. Anda bisa menjual hasil panen kualitas tinggi ke Toko Sistem. Dan yang paling menguntungkan: Anda bisa menjual bangkai hewan buruan dari hutan (Monster/Binatang Buas) untuk ditukar dengan Poin dan Uang Tunai."
Hera menampilkan daftar harga:
Babi Hutan Biasa: 100 Poin / 10 Tael Perak
Serigala Angin (Mutasi): 1.500 Poin / 150 Tael Perak
Beruang Tanah Besi: 5.000 Poin / 500 Tael Perak
Mata Han Jia dan Shura membelalak membaca daftar harga itu.
"Tunggu sebentar..." Han Jia memijat pelipisnya. Wajahnya mulai memerah, urat lehernya menonjol. "Kau bilang... aku bisa dapat 1.500 poin hanya dengan membunuh satu serigala?"
"Benar, Profesor," jawab Hera santai.
"DAN KAU BARU BILANG SEKARANG?!"
Teriakan Han Jia begitu keras hingga si mata-mata di kandang ayam pingsan lagi karena kaget.
Han Jia mulai mencak-mencak. Ia berjalan mondar-mandir seperti setrika panas. "Hera! Kau tahu berapa banyak babi hutan yang lewat di depan pagar kita minggu lalu?! Kau tahu berapa banyak kelinci yang kulihat?! Kita malah makan ubi rebus selama seminggu padahal hutan di belakang itu adalah gudang uang berjalan!"
"Profesor, harap jaga tekanan darah Anda..."
"JANGAN SURUH AKU TENANG!" potong Han Jia ganas. "Kenapa?! Kenapa kau tidak memberitahuku dari Bab 1?! Kita bisa kaya raya! Aku bisa beli AC portabel! Aku bisa beli kasur empuk! Kenapa kau menyembunyikan informasi vital ini, Sistem Sialan?!"
Hera membetulkan letak kacamata hologramnya dengan gaya angkuh. "Mohon maaf, Profesor. Sesuai Protokol Bab 3 Pasal 1: Fitur 'Penjualan Hasil Buruan' terkunci untuk pemula. Fitur ini hanya terbuka otomatis setelah Host mencapai pangkat... Buruh Tani Tingkat Lanjutan."
Han Jia terdiam. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Alasan birokratis itu sangat sempurna dan sangat menyebalkan.
"Jadi..." Han Jia meremas rambutnya sendiri dengan frustasi. "Jadi selama ini aku miskin karena pangkatku terlalu rendah?"
"Secara teknis, ya. Anda tidak punya lisensi jualan," jawab Hera tanpa rasa bersalah.
Shura, yang sejak tadi diam, tiba-tiba tersenyum lebar. Matanya berbinar menatap daftar harga hewan buruan itu. Tangannya secara otomatis meraba gagang pedangnya.
"Han Jia," panggil Shura dengan suara bersemangat. "Lupakan soal ubi rebus. Kau lihat harga Beruang Tanah Besi itu? 500 Tael Perak. Itu setara gaji jenderal selama tiga bulan."
Han Jia menoleh menatap Shura. Ia melihat semangat membara di mata asisten kulinya itu. Perlahan, kemarahan Han Jia mereda, digantikan oleh kilatan mata duitan yang tak kalah mengerikan.
"Kau benar, Shura," Han Jia menyeringai licik. "Hutan di belakang kita bukan hutan biasa. Itu adalah ATM... maksudku, itu adalah Gudang Harta Karun."
Han Jia menepuk bahu Shura dengan keras (kali ini Han Jia tidak sakit tangan karena fisiknya sudah naik level).
"Dengar, Asisten Kuli Menengah! Misi kita berubah! Persetan dengan menanam padi hari ini. Kita akan pergi ke hutan! Kita akan melakukan... emmm... Ekspedisi Pengambilan Sampel Biologis Bernilai Tinggi!"
"Berburu maksudmu?" Shura tertawa renyah, ia menarik pedangnya setengah keluar. "Akhirnya! Sesuatu yang aku ahli di dalamnya! Tidak ada cangkul, tidak ada rumus kimia. Hanya aku, pedangku, dan binatang buas yang mahal harganya."
"Tepat!" Han Jia mengepalkan tangan ke udara.
"Hera! Siapkan karung penyimpanan! Kita akan menguras isi hutan itu sampai poin kita cukup untuk membeli Bibit Jumbo!"
"Siap, Profesor. Tapi ingat, hutan itu berbahaya. Jangan sampai Anda yang justru dijual oleh beruang di sana," peringatan Hera diabaikan begitu saja oleh dua orang yang sedang mabuk bayangan uang itu.
Han Jia menatap hutan lebat di kejauhan dengan tatapan lapar. "Tunggu aku, Poin... Othor boleh saja mengirim lalat pengganggu, tapi kali ini aku akan memburu monster-monster ciptaannya dan menjualnya demi sains!"