NovelToon NovelToon
JANDA-JANDA UNDERCOVER

JANDA-JANDA UNDERCOVER

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Arsila

siapa sangka tiga janda dari latar belakang berbeda seorang Bella damayanti 28(mantan polwan) ,Siska Paramita 30(mantan koki) , dan Maya Adinda 29(mantan guru TK) tanpa sengaja membentuk tim detektif amatir. Mereka awalnya hanya ingin menyelidiki siapa yang sering mencuri jemuran di lingkungan apartemen mereka.

​Namun, penyelidikan itu malah membawa mereka ke jaringan mafia kelas teri yang dipimpin oleh seorang bos yang takut dengan istrinya. Dengan senjata sutil, semprotan merica, dan omelan maut, ketiga wanita ini membuktikan bahwa status janda bukanlah halangan untuk menjadi pahlawan (yang sangat berisik).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Arsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karnaval Kekacauan dan Irama Samba Maut

​Rio de Janeiro malam itu bukan lagi sebuah kota; ia adalah sebuah organisme raksasa yang berdenyut dalam balutan payet, bulu-bulu burung eksotis, dan dentuman drum yang bisa menggetarkan tulang rusuk. Karnaval Rio telah mencapai puncaknya di Sambadrome. Namun, di tengah lautan manusia yang menari, The Justice Widows sedang melakukan tarian yang jauh lebih mematikan.

​"Satu hal yang pasti," bisik Maya Adinda lewat mikrofon yang disamarkan sebagai tindik di telinganya. "Kostum ini adalah hal paling tidak praktis yang pernah kupakai dalam sejarah spionase."

​Maya berdiri di atas mobil pawai raksasa berbentuk naga emas. Ia mengenakan kostum penari samba yang megah sayap bulu raksasa berwarna merah menyala, mahkota permata yang beratnya hampir dua kilogram, dan tentu saja, daster "penyamaran" tipis berbahan serat karbon yang bisa berubah warna mengikuti lampu panggung. Wajah kuningnya untungnya sudah pudar berkat lulur kopi Siska, digantikan oleh riasan gliter yang membuatnya tampak seperti dewi matahari.

​"Berhenti mengeluh, May," sahut Bella Damayanti dari posisi tersembunyi. Bella menyamar sebagai operator lampu sorot di menara pengawas, memegang senapan bius jarak jauh yang disamarkan sebagai lensa kamera. "Gue sudah kunci posisi Silvia. Dia ada di mobil pawai utama milik kelompok 'Serpente de Ouro'. Dia memakai gaun perak yang memancarkan sinyal frekuensi tinggi."

​Siska Paramita bergerak di permukaan tanah, menyamar sebagai kru kebersihan jalanan yang mendorong gerobak sampah. Tentu saja, gerobak itu bukan berisi sampah, melainkan "Dapur Taktis Portabel" miliknya. Di tangannya, ia memegang tongkat pembersih yang sebenarnya adalah Sutil MK-II dengan jangkauan serangan yang sudah diperpanjang.

​"Bella, ada pergerakan aneh di bawah mobil pawai Silvia," lapor Siska sambil menyapu jalan dengan waspada. "Ada pipa-pipa kecil yang mengeluarkan uap bening. Aromanya... bukan asap panggung biasa. Ini bau bahan bakar roket cair!"

​Di atas mobil pawai utama, Silvia tampak anggun bak ratu kegelapan. Ia tidak menari; ia berdiri kaku sambil memegang tongkat komando yang ujungnya adalah sebuah antena pemancar.

​"Tamu-tamu terhormat Rio," suara Silvia terdengar masuk ke seluruh frekuensi radio di Sambadrome. "Kalian datang untuk melihat keindahan, tapi malam ini kalian akan melihat keabadian. Musik samba ini bukan sekadar irama ini adalah pemicu frekuensi resonansi yang akan mengaktifkan 'Benang Penidur' yang sudah kami tanam di seluruh sistem ventilasi kota."

​Bella terkejut melihat data di tabletnya. "Siska! Maya! Silvia bukan mau membunuh orang! Dia mau membuat seluruh kota Rio tertidur selama 48 jam agar timnya bisa menjarah seluruh cadangan emas di Bank Sentral Brasil tanpa ada yang menghalangi!"

​"Tidur 48 jam?! Kulitku bisa kering karena nggak pakai pelembab!" teriak Maya panik. "Aku harus hentikan musiknya!"

​Maya melakukan aksi nekat. Ia meloncat dari mobil naga emasnya menuju mobil pawai Silvia dengan bantuan tali sutra antipeluru yang terpasang di mahkotanya. Ia berayun di udara seperti pemain akrobat, bulu-bulu merahnya berkibar tertiup angin kencang.

​"Silvia! Berhenti berlagak jadi konduktor! Suaramu sumbang!" teriak Maya sambil mendarat dengan mulus di dek depan mobil Silvia.

​Silvia menoleh, matanya berkilat dingin. "Si Kunyit Kecil ternyata masih hidup. Pengawal! Bereskan dia!"

​Sepuluh penari latar Silvia yang ternyata adalah pembunuh bayaran wanita, segera mengepung Maya. Mereka mencabut kipas lipat yang bilahnya terbuat dari baja tajam.

​"Siska! Tolong!" teriak Maya sambil menangkis serangan kipas dengan mahkotanya yang berat.

​Siska meledakkan gerobak sampahnya. BOOM! Dari balik asap, ia meluncurkan puluhan "Bola Rasa" buatan tangannya ke arah mobil pawai. Bola-bola itu pecah dan mengeluarkan gas ekstrak cabai habanero yang paling pedas di dunia.

​"Nikmati pedasnya Rio, mas-mas dan mbak-mbak!" seru Siska. Ia menggunakan tongkat sapunya untuk memanjat sisi mobil pawai dengan kelincahan luar biasa. Begitu sampai di atas, ia langsung terlibat duel sutil melawan dua pengawal Silvia.

​TANG! TING! JEDUG!

​Siska menghantam salah satu pengawal dengan gerakan "Geprek Punggung", membuatnya terjatuh ke tumpukan bunga kertas. "May! Ambil antena itu! Bella, tembak pemancarnya!"

​Di menara pengawas, Bella bersiap menarik pelatuk. Namun, tiba-tiba pintu ruang operator didobrak. Seorang pria berbadan raksasa dengan tato jarum di wajahnya masuk.

​"Jangan bergerak, Sipir Janda," ujar pria itu sambil mengayunkan rantai besi.

​Bella tidak punya waktu. Ia menjatuhkan senapannya dan menarik payung titaniumnya. Perkelahian di ruang sempit menara sorot berlangsung brutal. Bella menggunakan payungnya sebagai tongkat biliar, menusuk ulu hati lawan, lalu menggunakan pegangan payung untuk mengunci leher raksasa itu.

​"Gue nggak punya waktu buat main rantai sama lo!" Bella membanting kepala pria itu ke konsol lampu sorot, menyebabkan lampu sorot di Sambadrome berputar liar.

​Bella segera mengambil kembali senapannya, menyesuaikan bidikan di tengah guncangan menara, dan... DOR!

​Peluru bius Bella mengenai antena di tangan Silvia, menghancurkannya menjadi kepingan logam. Musik samba yang tadinya berirama aneh pun kembali ke irama normal.

​Silvia murka. Ia menarik sebuah daster perak dari balik gaunnya sisa-sisa daster keabadian yang berhasil ia selamatkan dari Amazon. "Kalian tidak akan pernah menang! Dunia ini milik mereka yang berani menjahit takdir!"

​Silvia menyerang Maya dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Maya terdesak hingga ke pinggiran mobil pawai yang tinggi. Di bawah mereka, ribuan orang masih menari, tidak sadar ada duel maut di atas kepala mereka.

​"Maya, gunakan 'Mode Disko'!" teriak Bella lewat radio.

​Maya menekan tombol di ikat pinggang kostumnya. Tiba-tiba, kostum bulu merah Maya memancarkan cahaya LED ribuan watt yang berkedip dengan frekuensi stroboskopik. Silvia yang mengenakan daster perak reflektif justru terkena pantulan cahaya itu sendiri.

​Silvia silau dan kehilangan keseimbangan. Siska yang sudah berada di belakang Silvia, langsung mengayunkan sutil titaniumnya.

​"Satu porsi keadilan, matang sempurna!" Siska menghantam punggung Silvia dengan teknik "Tumis Balik".

​Silvia terpental dari mobil pawai dan jatuh tepat ke dalam gerobak sampah Siska yang terbuka. Siska segera menekan tombol pengunci otomatis di gerobaknya.

​"Selesai," ujar Siska sambil mengelap keringat di dahinya dengan ujung celemek.

​Saat fajar mulai menyingsing di Rio, kerumunan karnaval mulai membubarkan diri. Silvia sudah diamankan oleh kepolisian federal Brasil yang bekerja sama dengan agensi baru bentukan Master Tailor.

​Maya duduk di trotoar, sayap bulunya sudah rontok sebelah, dan riasannya luntur terkena keringat. "Bel... Sis... bisakah kita pulang sekarang? Aku kangen nasi uduk depan apartemen."

​Bella turun dari menara, pakaian operatornya sudah sobek di sana-sini. Ia duduk di samping Maya dan Siska. "Gue dapet kabar dari Master Tailor. Semua 'Benang Hitam' di Amerika Selatan sudah dibersihkan. Tapi..."

​"Tapi apa lagi, Bel?" tanya Siska lelah.

​"Master Tailor menemukan jejak pengiriman terakhir. Bukan ke Amerika, bukan ke Eropa. Tapi ke sebuah pulau tersembunyi di Samudra Pasifik. Namanya 'Pulau Benang Putus'. Di sana dikabarkan ada laboratorium terakhir yang memproduksi daster yang bisa mengendalikan pikiran orang lewat sinyal WiFi."

​Maya mengerang keras. "Daster WiFi?! Apa lagi itu?! Kalau daster itu bisa bikin sinyal HP lancar sih aku mau, tapi kalau buat cuci otak... aduh, capek!"

​Siska berdiri, memungut sutilnya yang sedikit lecet. "Satu misi lagi, Janda-janda. Setelah itu, kita beneran liburan. Gue yang masak, nggak ada yang boleh protes."

​Bella berdiri, menatap matahari terbit di atas Gunung Pão de Açúcar. "Bersiaplah. Kita berangkat ke Pasifik dalam tiga jam. Bang Jago sudah nyiapin kapal selam pribadi buat kita."

​Maya bangkit dengan susah payah, mencoba memperbaiki mahkotanya. "Kapal selam?! Semoga ada fasilitas spa-nya ya, Bel! Kalau nggak, aku mogok jadi pahlawan!"

​Tiga janda itu berjalan menjauhi Sambadrome, membelakangi kemeriahan yang baru saja mereka selamatkan. Mereka lelah, mereka berisik, dan mereka berantakan, tapi mereka adalah satu-satunya hal yang berdiri di antara dunia dan kegilaan para penjahit takdir.

1
yumin kwan
baru nemu, langsung marathon....
seru kocak... walau ga masuk akal 🤣🤣🤣
yumin kwan
astaga.... kok bisa kepikiran ide begini.... salut....
yumin kwan
astaga.... seru bgt ini 3 janda.... 😄
yumin kwan
kayaknya kocak ini cerita..... save ah...
Marley
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!