Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tahap kedua
Ryan membuka pintu apartemennya perlahan. Ia menghela napas panjang, lalu membuka mantelnya dan meletakkannya di rak baju kotor.
"Baru pulang?"
"Astaga!" Ryan terkejut.
Pria itu hampir serangan jantung saat melihat adiknya, Sella sudah berdiri dihadapannya. Rambutnya yang panjang terurai tak beraturan, dan gadis itu memakai dress putih. Jika lampu ruang tamu sedang mati, bisa saja Ryan mengira dia sedang melihat arwah gentayangan di dalam apartemen.
"Sella! Kamu bikin kakak kaget saja!" ucap Ryan.
Gadis itu terkekeh. Ia memandangi kakaknya itu dari atas hingga bawah. "Wajah kakak kusut banget, kayak ngga mandi 3 bulan,"
Ryan menatap tajam dengan wajah kesal. Bisa-bisanya Sella bilang seperti itu, padahal wajahnya ini bahkan tetap tampan meski terlihat kusut. "Ah, sudah tidur saja kamu! Kakak lagi capek, nih!"
Sella mendengus kesal. Ia berbalik dan hendak menuju kamarnya, namun Ryan kembali memanggil namanya.
"Eh, Sell!"
Gadis itu menoleh sambil memasang wajah malas, "Kenapa?"
"Ekhem! Gini.." Ryan tampak ragu untuk melontarkan kalimat selanjutnya.
Sella yang tak sabaran menjadi gemas, ia ingin segera ke kamar dan menonton series favoritnya. "Aduh, yang cepet dong ngomongnya! Ada apa?"
"Kalau misalnya kamu itu teman kakak, trus kakak tiba-tiba nembak kamu.. Kamu mau ngga?" tanya Ryan polos.
"Enggak," satu kata itu langsung menghantam Ryan dengan keras. Adiknya itu memang ceplas-ceplos sekali kalau menjawab pertanyaannya.
"Yang bener dong! Masa langsung nolak!" ucap Ryan tak terima.
Sella menghela napas sejenak, kemudian berbicara. "Ya gimana ya, soalnya kakak tuh orangnya ragu-ragu sih! Coba kakak lebih berani gitu tindakannya, ya aku mau terima."
Sella pun berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Sementara Ryan sendiri masih berdiri diposisinya, ia hanya diam sambil mencerna ucapan sang adik barusan.
Ya, dirinya terlalu takut. Itu masalahnya, jika dari dulu, bahkan mungkin jika sejak SMA Ryan memiliki sedikit keberanian.. Mungkin kini Arini sudah menjadi miliknya. Arini bisa saja tak akan ke Indonesia dan kemudian bertemu dengan Adrian hingga memiliki kisah akhir yang seperti ini.
"Keberanian ya..." liriknya pelan.
...****************...
Amsterdam, kediaman Arini
Malam mulai larut, jam terus berputar tanpa henti. Namun Arini masih tetap duduk di kursinya, memandang layar laptop yang terbuka lebar dihadapan wajahnya.
Sejauh ini semua berjalan lancar, tahap pertama berhasil. Ia sudah membocorkan perselingkuhan Adrian ke publik. Namun rasanya semua itu belum cukup baginya.
Erina. Nama itu kembali muncul di kepalanya. Mungkin ini akan terdengar kejam, namun Arini tak ingin gadis itu masih bersenang-senang disaat hubungannya dengan Adrian kini sudah terkuak ke media dan publik.
Rentetan video bahkan kasus dari gadis itu suah berasa di tangan Arini. Video yang memperlihatkan Erina bermesraan debgan Adrian, bahkan rekaman suara mereka di hotel yang sempat Gio rekam, serta beberapa bukti bahwa Erina pernah menyogok beberapa dosen kampusnya untuk mendapatkan nilai A di mata kuliahnya.
"Kamu cantik, hanya saja kamu bodoh," ucap Arini.
Jari-jemarinya mulai mengetik dengan cepat diatas keyboard laptop. Deretan kalimat demi kalimat mulai muncul. Setelah beberapa saat ia menulis, akhirnya artikel itu selesai.
"Selamat membaca, Erina."
"Let's see,"
Klik!
Hanya dengan satu tombol tekan enter, artikel itu terkirim ke website serta media sosial. Arini menarik senyuman senang. Ia lalu mematikan laptop itu dan kemudian segera naik ke ranjangnya untuk tidur manis.
Sementara itu, jauh dari malam di Kota Amsterdam. Ribuan kilometer, tepatnya di Jakarta. Sebuah artikel muncul di salah satu email perusahaan jurnalistik ternama.
Salah seorang staf yang sedang lembur malam itu sontak terkejut. Matanya yang mengantuk mendadak segar saat membaca subjek email tersebut yang menarik atensinya. Berjudul "Sisi Gelap Erina: Skandal, Suap, dan Rahasia di Balik Layar."
"Gila..."
"Inj akan jadi bom mendadak di dunia hiburan" bisik staf itu pelan.
Tangannya gemetar saat mengunduh lampiran berisi rekaman suara dan foto-foto yang sangat jernih. Tanpa menunggu persetujuan pemimpin redaksi yang sedang tidur, ia tahu berita ini harus segera naik sebelum didahului portal media lain.
Kecepatan adalah segalanya di dunia digital.
Hanya dalam waktu sepuluh menit, artikel itu meledak.
Cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden apartemen Erina terasa lebih menyengat dari biasanya. Namun, bukan itu yang membangunkannya. Bunyi notifikasi ponselnya yang tak berhenti seperti rentetan tembakan seolah memaksanya membuka mata dengan paksa.
Erina mengerang pelan, matanya masih setengah terpejam saat meraih ponselnya. Ia mengira itu hanya telepon dari asistennya yang cerewet soal jadwal pemotretan. Namun, pemandangan di layarnya membuat kantuknya hilang seketika.
99+ Missed Calls. 99+ WhatsApp Messages.
Tangannya mulai gemetar. Ia membuka salah satu pesan dari manajernya.
ERINA
LIHAT BERITA SEKARANG! KAMU DI MANA? JANGAN KELUAR APARTEMEN
Jantung gadis itu berdebar tak karuan. Tangannya gemetar. Ia lalu membuka salah satu aplikasi media sosial. Jari telunjuknya kaku saat menekan kolom pencarian.
Di sana, di urutan teratas, namanya terpampang jelas. Bukan karena prestasi, bukan karena kecantikannya, melainkan sebuah kata yang paling ia takuti, skandal.
Matanya berkaca-kaca. Ia mengklik sebuah tautan artikel yang sudah dibagikan ribuan kali.
"Eksklusif: Sisi Gelap Erina. Dari Suap Akademik hingga Rekaman Rahasia di Hotel Bersama A.”
Napas Erina tercekat. Ia membaca baris demi baris artikel itu dengan mata membelalak. Di sana ada foto dirinya. Foto yang ia pikir sudah ia hapus, sedang menyodorkan sesuatu kepada seorang dosen.
Lalu, ada transkrip rekaman suara. Ia mengenali suaranya sendiri. Suara manjanya saat merayu Adrian, suara yang kini terdengar seperti lonceng kematian bagi kariernya.
"Nggak mungkin... ini dari mana?" bisiknya parau. Suaranya pecah.
Ia mencoba me-refresh laman komentarnya, berharap semua ini hanya mimpi buruk. Namun, yang muncul justru cacian yang semakin deras.
Satu per satu notifikasi masuk ke emailnya. Surat pemutusan kontrak dari brand kosmetik ternama. Pembatalan sepihak dari rumah produksi film. Semuanya runtuh dalam hitungan menit. Dunia yang ia bangun dengan susah payah,meski dengan cara yang kotor kini hancur lebur seperti istana pasir yang dihantam ombak.
Erina melempar ponselnya ke dinding hingga layarnya retak. Ia meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lututnya. Ruangan mewah itu tiba-tiba terasa sangat sempit, seolah-olah dinding-dindingnya mulai menghimpitnya.
Erina dirudung rasa takut dan cemas. Ia meremas ujung selimutnya. Satu nama muncul dikepalanya, nama yang familiar.
"Arini..." desisnya dengan penuh kebencian sekaligus ketakutan.
"Pasti ini ulah kamu..."
"S*ALAN!"
...****************...
Amsterdam, 06:00 AM
Di belahan dunia yang lain, Arini sedang menyesap teh chamomile hangatnya di dekat jendela. Ia melihat pantulan wajahnya di kaca kamarnya.
Ia memandangi suasana jalanan diluar kediamannya dengan wajah tenang. Di tengah keheningan itu, ponselnya menyala dan menunjukkan notifikasi. Ada pesan masuk dari Gio.
Gila
Lo harus denger ini
Si Erina sekarang jadi bahan bullyan netizen
Tadi pagi beritanya nyebar
Dan sekarang semua kasus dia terungkap ke publik
Arini tersenyum penuh kemenangan. Tahap kedua sudah berhasil. Setelah Adrian, kini adalah Erina.
"Tidur manis, Erina. Karena sekarang orang-orang sudah tahu tentang kebohongan kamu,"
Diumumkan kepada khalayak bahwa akan ada seorang yg akan merasa menyesal dikemudian hari karena kesalahanya sendiri.
Demikian... ttd😁